Anda di halaman 1dari 31

WACANA

A M M A D R A F I P R A MONOPUTRA
I L A , H U R I Y A M A U L IESTARI, MUH
ALSAB
BY: QOTRUNNADA S
WACANA
WACANA MERUPAKAN BANGUN SEMANTIK YANG TERBENTUK DARI HUBUNGAN
SEMANTIK ANTARSATUAN BAHASA SECARA PADU DAN TERIKAT PADA KONTEKS.
SEBAGAI KESATUAN YANG ABSTRAK, WACANA DIBEDAKAN DARI TEKS, TULISAN,
BACAAN, TUTURAN, ATAU INSKRIPSI, YANG MENGACU PADA MAKNA YANG
SAMA, YAITU ‘WUJUD KONKRET YANG TERLIHAT, TERBACA, ATAU TERDENGAR’.
HUBUNGANNYA DENGAN KONTEKS

TERIKAT PADA KONTEKS MENDAPAT PENEKANAN DISINI, YANG MEMBEDAKAN


WACANA SEBAGAI PEMAKAIAN BAHASA DALAM KOMUNIKASI DENGAN
PEMAKAIAN BAHASA BUKAN UNTUK TUJUAN KOMUNIKASI.
• KONTEKS IALAH SITUASI ATAU LATAR TERJADINYA SUATU KOMUNIKASI.
KONTEKS DAPAT DIANGGAP SEBAGAI SEBAB DAN ALASAN TERJADINYA SUATU
PEMBICARAAN DIALOG. SEGALA SESUATU YANG BERHUBUNGAN DENGAN
TUTURAN, APAKAH ITU BERKAITAN DENGAN ARTI, MAKSUD, MAUPUN
INFORMASINYA, SANGAT TERGANTUNG PADA KONTEKS YANG
MELATARBELAKANGI PERISTIWA TUTURAN ITU

• WACANA ADALAH WUJUD ATAU BENTUK BAHASA YANG BERSIFAT KOMUNIKATIF,


INTERPRETATIF, DAN KONTEKSTUAL. ARTINYA, PEMAKAIAN BAHASA INI SELALU
MENGANDAIKAN TERJADI SECARA DIALOGIS, PERLU ADANYA KEMAMPUAN
MENGINTERPRETASIKAN, DAN MEMAHAMI KONTEKS TERJADINYA WACANA.
PEMAHAMAN TERHADAP KONTEKS WACANA DIPERLUKAN DALAM PROSES
MENGANALISIS WACANA SECARA UTUH.
• BERIKUT INI ADALAH PENGGAMBARAN PROSES TERJADINYA LANGUAGE
EVENT (PERISTIWA TUTURAN), DENGAN MENGETAHUI PROSES INI, KITA AKAN
DAPAT MEMAHAMI HUBUNGAN KONTEKS DAN WACANA DENGAN LEBIH
MUDAH.
• MENURUT ANTON M. MOELIONO (1988:336) DAN SAMSURI (1987:4),
KONTEKS TERDIRI ATAS BEBERAPA HAL, YAKNI SITUASI, PARTISIPAN, WAKTU,
TEMPAT, ADEGAN, TOPIK, PERISTIWA, BENTUK, AMANAT, KODE, DAN
SALURAN. DALAM KAJIAN SOSIOLINGUISTIK, DELL HYMES (1972)
MERUMUSKAN DENGAN BAIK SEKALI IHWAL FAKTOR-FAKTOR PENENTU
PERISTIWA TUTUR TERSEBUT, MELALUI AKRONIM SPEAKING (SETTING AND
SCENE, PARTICIPANTS, ENDS, ACT SEQUENCES, KEY, INSTRUMENTALITIES,
DAN NORMS).
JENIS WACANA
• BERDASARKAN FUNGSI BAHASA
• BERDASARKAN SALURAN KOMUNIKASI
• BERDASARKAN TANGGAPAN MITRA TUTUR ATAU PEMBACA
• BERDASARKAN PEMAPARAN
• BERDASARKAN BANYAKNYA PESERTA KOMUNIKASI
Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber
pada gagasan penutur atau penulis sebagai
sarana ekspresi, seperti wacana pidato

Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada


saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti
wacana perkenalan dalam pesta;

FUNGSI BAHASA Wacana informasional, apabila wacana itu


bersumber pada pesan atau informasi, seperti
wacana berita dalam media massa;

Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber


pada pesan dengan tekanan keindahan pesan,
seperti wacana puisi dan lagu;

Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan


pada ditindakan atau reaksi dari mitra tutur atau
pembaca, seperti wacana khotbah.
Wacana lisan, memiliki ciri antara lain
adanya penutur dan mitra tutur, bahasa
yang dituturkan, dan alih tutur (turn taking)
yang menandai pergantian giliran bicara.

SALURAN KOMUNIKASI

Wacana tulis, ditandai oleh adanya penulis


dan pembaca, bahasa yang dituliskan, dan
penerapan sistem ejaan.
CONTOH
Dosen : “Kumpulkan
pekerjaan rumah ini Wacana Transaksional, bercirikan adanya
minggu depan ya?”
pemenuhan oleh mitra tutur/ pembaca atas
Mahasiswa : “Baik,
Pak” harapan atau keinginan penutur/penulis, sperti
dalam perintah atau surat permohonan.

TANGGAPAN MITRA
TUTUR / PEMBACA
Wacana Interaksional, bercirikan adanya
tanggapan timbal-balik dari penutur dan
CONTOH
Penumpang : Stasiun, berapa, mitra tutur, seperti dalam jual-beli.
Bang?
Tukang Becak : Lima ribu
Penumpang : Wah, mahal amat,
Bang. Tiga ribu, biasa.
Tukang becak: Kan jauh dari sini,
Mbak
Wacana naratif, dicirikan oleh adanya alur, peristiwa, dan
tokoh, seperti pada narasi faktual (berita, contohnya) dan
narasi fiktif (cerpen, contohnya).

Wacana deskriptif, dicirikan oleh adanya detail


suatu hal, seperti pada profil.

Wacana ekspositoris, dicirikan oleh kuatnya


paparan informasi, seperti pada karangan khas
(feature).
PEMAPARAN
Wacana argumentatif, dicirikan oleh kuatnya argumentasi
karena didukung oleh eksplorasi bukti dan prosedur
metodologis, seperti pada tesis dan disertasi.

Wacana persuasif, dicirikan oleh menonjolnya rangsangan


dan bujukan dari penutur atau penulis agar mitra tutur
atay pembaca mengikuti apa yang diharapkan penutur
atau penulis, seperti pada iklan.
Wacana hortatoris, dicirikan oleh kuatnya amanat
yang dikandung dalam bahasa, seperti pada
khotbah keagamaan.
Wacana prosedural, dicirikan oleh menonjolnya
proses, langkah, atau tahap, seperti dalam rapat
dan konferensi.
Wacana monolog, dicirikan oleh adanya
satu orang saja yang terlibat dalam
peristiwa komunikasi, seperti siaran berita
di televisi dan radio.

BANYAKNYA PESERTA
KOMUNIKASI Wacana dialog, dicirikan oleh adanya dua orang
yang terlibat dalam peristiwa komunikasi, seperti
dalam komunikasi melalui telepon dan surat-
menyurat di antara dua orang.

Wacana polilog, melibatkan banyak


peserta komunikasi, seperti dalam
rapat dan konferensi.
STRUKTUR WACANA
SUATU RANGKAIAN KALIMAT DIKATAKAN MENJADI STRUKTUR WACANA BILA
DIDALAMNYA TERDAPAT UBUNGAN EMOSIONAL (MAKNAWI) ANTARA BAGIAN
YANG SATU DENGAN BAGIAN LAINNYA. SEBALIKNYA, SUATU RANGKAIAN
KALIMAT BELUM TENTU BISA DISEBUT SEBAGAI WACANA APABILA TIAP-TIAP
KALIMAT DALAM RANGKAIAN ITU MEMILIKI MAKNA SENDIRI-SENDIRI DAN
TIDAK BERKAITAN SECARA SEMANTIS (MULYANA, 2005:25)
SATUAN BAHASA SECARA • MORFEM
LINGUISTIK MEMPUNYAI
URUTAN DARI YANG
• FONEM

TERKECIL SAMPAI YANG • KATA


TERBESAR, URUTAN
TERSEBUT ADALAH
• KLAUSA; KALIMAT;

SEBAGAI BERIKUT : • WACANA.

• KALIMAT • (TARIGAN, 1987:26)

• WACANA

• FONEM;

• KLAUSA

• MORFEM; KATA;

• FRASE

• FRASE;
KEPADUAN WACANA : KOHESI
• KOHESI DALAM DIARTIKAN SEBAGAI KEPADUAN BENTUK YANG SECARA
STRUKTURAL MEMBENTUK IKATAN SINTAKTIKAL. ANTON M. MOELIONO
(1988:34) MENYATAKAN BAHWA WACANA YANG BAIK DAN UTUH
MENSYARATKAN KALIMAT-KALIMAT YANG KOHESIF.

• KOHESI WACANA TERBAGI KE DALAM DUA ASPEK, YAITU KOHESI GRAMATIKAL


DAN KOHESI LEKSIKAL. KOHESI GRAMATIKAL ANTARA LAIN ADALAH
REFERENSI , SUBSTITUSI, ELIPSIS, KONJUNGSI, SEDANGKAN, YANG TERMASUK
YANG TERMASUK KOHESI LEKSIKAL ADALAH SINONIM, REPETISI, KOLOKASI
(HALLIDAY, 1976:21).
KOHESI GRAMATIKAL
Referensi Subtitusi Elipsis Konjungsi

• penghilangan
• hubungan • hubungan • dengan bantuan
kata (-kata)
antara kata dan antara kata (- kata sambung
yang dapat
objeknya kata) dan kata (- atau konjungsi
dimunculkan
kata) lain yang besar pula
kembali dalam
digantikannya’. peranannya
pemahamannya
dalam
mewujudkan
kohesi
gramatikal-
perhatikan
bahwa disini
kata konjungsi
digunakan
sebagai salah
satu jenis kohesi
gramatikal
skaligus alat
gramatikalnya
REFERENSI
• REFERENSI DENGAN OBJEK ACUAN DI LUAR TEKS DISEBUT REFERENSI EKSOFORIS, SEDANGKAN REFERENSI
DENGAN OBJEK ACUAN DI DALAM TEKS DISEBUT REFERENSI ENDOFORIS. CONTOH REFERENSI EKSOFORIS
ADALAH SAYA DALAM SAYA BELUM SARAPAN PAGI INI. YANG MENGACU PADA DIRI PENUTUR. CONTOH
REFERENSI ENDOFORIS ADALAH MEREKA DALAM BAPAK DAN IBU SUDAH BERANGKAT. MEREKA NAIK
TAKSI.

• BERDASARKAN TIPE OBJEKNYA, REFERENSI DIGOLONGKAN MENJADI ATAS REFERENSI PERSONAL,


REFERENSI DEMONSTRATIF, DAN REFERENSI KOMPARATIF. (YUWONO, 2005:96)
• REFERENSI PERSONAL, DITANDAI DENGAN PEMAKAIAN PRONOMINA PERSONA, SEPERTI SAYA DAN ANDA.
• REFERENSI DEMONSTRATIF, DITANDAI DENGAN PENGGUNAAN DEMONSTRATIVA ITU, SITU, SANA, DAN SINI.
• REFERENSI KOMPARATIF, DITANDAI DENGAN PEMAKAIAN KATA YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMBANDINGKAN, SEPERTI
SAMA, SERUPA, DAN BERBEDA.
(YUWONO, 2005:96-97)
SUBTITUSI
• CONTOH ALAT GRAMATIKAL YANG DIGUNAKAN UNTUK MENCIPTAKAN SUBSTITUSI
ADALAH :
• DEMONSTRATIVA INI, BEGINI, DI BAWAH INI, DAN BERIKUT INI UNTUK MENGGANTIKAN
KATA YANG AKAN DISEBUT.
• DEMONSTRATIVA ITU, BEGITU, DEMIKIAN, TERSEBUT, DAN DI ATAS UNTUK
MENGGANTIKAN KATA YANG SUDAH DISEBUT.
• PRONOMINA PERSONA UNTUK MENGGANTIKAN NOMINA PERSONA YANG SUDAH
DISEBUT.

(YUWONO, 2005:97)
• ADAPUN HUBUNGAN SUBSTITUSI ITU DAPAT TERJADI SECARA NOMINAL
(SUBSTITUSI NOMINAL), VERBAL (SUBSTITUSI VERBAL), DAN KLAUSAL
(SUBSTITUSI KLAUSAL). (YUWONO, 2005:97)
• CONTOH SUBSTITUSI NOMINAL, ARLOJI YANG SAYA BELI KEMARIN RUSAK, TAPI,
UNTUNGNYA ITU BISA CEPAT DIIGANTI. DALAM KALIMAT TERSEBUT TERDAPAT ITU
YANG MENGGANTIKAN FRASA NOMINAL ARLOJI.
• CONTOH SUBSTITUSI VERBAL, MEREKA BEKERJA KERAS. KAMI JUGA BEGITU. DALAM
KALIMAT TERSEBUT TERDAPAT BEGITU YANG MENGGANTIKAN FRASA VERBAL BEKERJA
KERAS.
• CONTOH SUBSTITUSI KLAUSAL, INDONESIA KALAH DI FINAL. YA SAYA DENGAR
DEMIKIAN. DALAM KALIMAT TERSEBUT TERDAPAT DEMIKIAN YANG MENGGANTIKAN
KLAUSA INDONESIA KALAH DI FINAL.

(YUWONO, 2005:97)
ELIPSIS
• BERIKUT INI ADALAH CONTOH ELIPSIS. (YUWONO, 2005:98)
• YUNA MENGIKUTI KULIAH ANALISIS WACANA. AGUNG JUGA [MENGIKUTI ANALISIS WACANA].
DALAM KALIMAT TERSEBUT, YANG DATANG DARI BAHASA LISAN, MENGIKUTI KULIAH ANALISIS
WACANA DILESAPKAN (DALAM KURUNG SIKU), NAMUN TETAP TERPAHAMI APA YANG DILESAPKAN.
• KARENA [WIDYA] SAKIT, WIDYA TIDAK DAPAT MENGIKUTI KULIAH HARI INI. DEMIKIAN PULA DALAM
KALIMAT TERSEBUT YANG DATANG DARI BAHASA TULIS, WIDYA DILESAPKAN DALAM ANAK KALIMAT
KARENA TELAH DIMUNCULKAN DALAM INDUK KALIMAT.

(YUWONO, 2005:98)
PELESAPAN ATAU ELIPSIS DENGAN CARA YANG DEMIKIAN LEBIH MEMADUKAN DAN
MEWAJARKAN KALIMAT. (YUWONO, 2005:98)
KONJUNGSI
KONJUNGSI TERBAGI MENJADI DUA YAITU KONJUNGSI INTRAKALIMAT DAN KONJUNGSI ANTARKALIMAT.
(YUWONO, 2005:98)

• KONJUNGSI INTRAKALIMAT, ADALAH KONJUNGSI YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGHUBUNGKAN SATU


GAGASAN DENGAN GAGASAN DI DALAM SEBUAH KALIMAT. CONTOH : SAYA INGIN MEMPERDALAM
BIDANG SAYA DI UNIVERSITAS LUAR NEGERI, TETAPI KESEMPATAN ITU BELUM ADA. DALAM KALIMAT
TERSEBUT TETAPI DISINI SEBAGAI KONJUNGSI INTRAKALIMAT.

• KONJUNGSI ANTARKALIMAT, ADALAH KONJUNGSI YANG DIPAKAI UNTUK MENGHUBUNGKAN SATU


GAGASAN DENGAN GAGASAN LAIN DI DALAM KALIMAT YANG BERBEDA. CONTOH : PEMERINTAH
BERENCANA MEMPERLUAS JARINGAN TELEPON TANPA KABEL. OLEH KARENA ITU, PEMERINTAH MEMBUKA
KESEMPATAN BAGI PERUSAHAAN SWASTA YANG BERMINAT DAN MAMPU MEWUJUDKAN RENCANA
TERSEBUT. DALAM KALIMAT TERSEBUT OLEH KARENA ITU DISINI SEBAGAI KONJUNGSI ANTARKALIMAT.
(YUWONO, 2005:98)
2. KOHESI LEKSIKAL
• MULYANA (2005:134) MENYATAKAN BAHWA KOHESI LEKSIKAL ATAU PERPADUAN LEKSIKAL ADALAH
HUBUNGAN LEKSIKAL ANTARA BAGIAN-BAGIAN WACANA UNTUK MENDAPATKAN KESERASIAN
STRUKTUR SECARA KOHESIF. UNSUR KOHESI LEKSIKAL TERDIRI ATAS SINONIM (PERSAMAAN),
ANTONYM (LAWAN KATA), HIPONIM (HUBUNGAN BAGIAN ATAU ISI), REPETISI (PENGULANGAN),
KOLOKASI (SANDING KATA), DAN EKUIVALENSI. TUJUAN DIGUNAKANNYA ASPEK-ASPEK LEKSIKAL ITU
DIANTARANYA IALAH UNTUK MENDAPATKAN EFEK INTENSITAS MAKNA BAHASA, KEJELASAN
INFORMASI, DAN KEINDAHAN BAHASA LAINNYA.

• MENURUT YUWONO (2005:98-99) KOHESI LEKSIKAL DAPAT DIWUJUDKAN DENGAN REITERASI DAN
KOLOKASI.

• REITERASI ADALAH PENGULANGAN KATA-KATA PADA KALIMAT BERIKUTNYA UNTUK


MEMBERIKAN PENEKANAN BAHWA KATA-KATA TERSEBUT MERUPAKAN FOKUS
PEMBICARAAN’. REITERASI DAPAT BERUPA REPETISI, SINONIMI, HIPONIMI, METONIMI,
DAN ANTONIMI.
Contoh :
• SEDANGKAN KOLOKASI ADALAH HUBUNGAN ANTARKATA YANG BERADA PADA
Petani di Palembang terancam gagal
LINGKUNGAN ATAU BIDANG YANG SAMA. memanen padi. Sawah yang mereka
garap terendam banjir selama dua
hari.
REPETISI pengulangan kata yang sama. Repetisi dilakukan untuk menandai kata
yang dipentingkan

SINONIM hubungan antarkata yang memiliki sama makna. Dengan sinonimi,


penggunaan kata dalam wacana lebih bervariasi dan menarik.
I
HIPONIM hubungan antara kata yang bermakna spesifik dan kata yang bermakna
generik. Penggunaan hiponimi membuat wacana menjadi efisien.
I
METONI hubungan antara nama untuk benda lain yang berasosiasi atau yang
menjadi atributnya. Metonimi membuat wacana lebih menarik dan
MI efisien.

ANTONI hubungan antarkata yang beroposisi makna. Kata-kata yang


beroposisidengan selaras membuat pemahaman mitra tutur atau
MI pembaca lebih cepat memahami wacana
REPETISI

CONTOH REPETISI (PENGULANGAN KATA YANG SAMA) :


KPK MENETAPKAN SUMARDI SEBAGAI TERSANGKA DALAM KASUS
TINDAK PIDANA KORUPSI DI PERUSAHAAN BESAR ITU. TERSANGKA
SAAT INI DITAHAN DI RUMAH TAHANAN SALEMBA
SINONIM

CONTOH SINONIM DALAM WACANA ADALAH :


SETELAH 34 TAHUN MEMENDAM CINTA MEMBARA, AKHIRNYA
PANGERAN CHARLES DAN CAMILLA RESMI MENJADI SUAMI-ISTRI.
PASANGAN PENGANTIN INI MENIKAH PADA SABTU, 9 APRIL 2005
HIPONIMI

CONTOH HIPONIMI:
MAMALIA MEMPUNYAI KELENJAR PENGHASIL SUSU. MANUSIA
MENYUSUI ANAKNYA. PAUS PUN DEMIKIAN
METONIMI

CONTOH METONIMI :
MASKAPAI PENERBANGAN GARUDA MENINGKATKAN FREKUENSI
PENERBANGAN UNTUK RUTE TERTENTU. GARUDA JAKARTA-BATAM
SEKARANG AKAN TERBANG ENAM KALI SEHARI.
ANTONIMI
CONTOH ANTONIMI :
SAAT MENYAKSIKAN PELAKU KEJAHATAN YANG BERASAL DARI
KALANGAN MISKIN DALAM BERITA DI TELEVISI, KADANG-KADANG
MUNCUL PERASAAN SIMPATI. NAMUN, PADA SAAT YANG LAIN,
MUNCUL PERASAAN ANTIPATI.
KEPADUAN WACANA: KOHERENSI
• KOHERENSI MENGANDUNG MAKNA ‘PERTALIAN’. DALAM KONSEP
KEWACANAAN, BERARTI PERTALIAN MAKNA ATAU ISI KALIMAT (HG TARIGAN,
1987:32).

• KOHERENSI JUGA BERARTI HUBUNGAN TIMBAL BALIK YANG SERASI


ANTARUNSUR DALAM KALIMAT (GORYS KERAF, 1984:38).

• KOHERENSI IALAH KETERKAITAN ANTARA BAGIAN YANG SATU DENGAN


BAGIAN LAINNYA SEHINGGA SUATU KALIMAT MEMILIKI KESATUAN MAKNA
YANG UTUH. (HS WAHYUDI 1989:6)
KESIMPULAN
BERDASARKAN PEMAPARAN DIATAS, DAPAT DISIMPULKAN BAHWA, WACANA ADALAH
SALAH SATU BIDANG DALAM LINGUISTIK SEPERTI FONOLOGI, MORFOLOGI, DAN
SINTAKSIS. SEPERTI BIDANG-BIDANG LINGUISTIK YANG LAIN, WACANA JUGA MEMILIKI
SATUAN ANALISIS. WACANA DIBEDAKAN DARI TEKS, TULISAN, BACAAN, TUTURAN,
ATAU, INSKRIPSI, YANG MENGACU PADA MAKNA YANG SAMA, YAITU ‘WUJUD
KONKRET YANG TERLIHAT, TERBACA, ATAU TERDENGAR’. DENGAN ADANYA SATUAN
MAKNA ANTARBAGIAN, YAITU ANTARKATA, ANTARKALIMAT, ANTARPARAGRAF,
ANTARA JUDUL DAN ISI, ANTARA TERAS TEKS (LEAD) DAN TUBUH TEKS (BODY),
PEMBACA TEKS ITU TENTU DAPAT MEMAHAMI TEKS DENGAN LEBIH MUDAH.
THANK YOU🤗
- R A F I , S A L S A , H U R I YA