Anda di halaman 1dari 41

PALPITASI

• Palpitasi adalah sebuah keluhan subjektif pada ritme jantung


• Palpitasi bisa didapatkan ketika seseorang dalam keadaan stress,
berolahraga, drug induced, dan suatu kondisi medis khusus.
• Palpitasi juga bisa menjadi berbahaya apabila didapatkan pada suatu
kondisi jantung yang serius, seperti aritmia yang membutuhkan
penanganan khusus
ETIOLOGI

• Aritmia jantung (41%) • Gangguan psikiatrik (31%)


• Supraventricular/ventricular extrasystoles • Cemas, serangan panik
• SVT/VT • Depresi, gangguan somatisasi
• Bradyarrhythmias severe sinus bradycardia, sinus pauses,
second and third-degree atrioventricular block • Penyebab sistemik (4%)
• Kesalahan dalam menggunakan pacemaker • Hipertiroid, hipoglikemia, sindrom postmenopausal, fever,
anemia, kehamilan, hipovolemik, hipertensi ortostatik,
• Kelainan struktur jantung (3%) postural orthostatic tachycardia syndrome,
• Prolaps katup mitral pheochromocytoma, arteriovenous fistula
• Regurgitasi katup mitral berat • Efek dari obat-obatan (6%)
• Regurgitasi katup aorta berat • Sympathicomimetic agents in pump inhales, vasodilator,
• Kelainan jantung kongenital dengan significant shunt antikolinergik, hydralzine
• Kardiomegali dan/atau gagal jantung dengan berbagai • Recent withdrawal of beta blockers
penyebab • Alkohol, kokain, heroin, amphetamine, kafein, nikotin,
• Hyperthrophic cardiomyopathy cannabis, synthetic drugs
• Mechanical prosthetic valves • Weight reductions drugs
PATOFISIOLOGI

Kontraksi jantung terlalu cepat, ireguler, atau sangat pelan


• Aritmia, gangguan mental, penyakit sistemik, obat

Kontraksi intens dan gerakan abnormal dari jantung


• Penyakit jantung struktural dengan  SV
Kelainan dalam persepsi subjektif mengenai denyut
jantung
• Psikosomatis
Tanda dan Gejala Klinis
• Rasa berdebar-debar atau jika palpitasi yang berkepanjangan, bisa ada perasaan penuh di dada.
• Penurunan kesadaran (AMS/loss of consciousness), nyeri dada, gagal jantung dan dyspnea,
serta tanda-tanda syok. Hal tersebut berkontribusi terhadap menurunnya cardiac output yang
disebabkan oleh disritmia
Klasifikasi Palpitasi Jantung

• TACHYCARDIA adalah aritmia cepat (denyut jantung lebih cepat dari 100 detak/menit).
• BRADYCARDIA adalah aritmia lambat (denyut jantung lebih lambat dari 60 detak/menit).
• FIBRILLATION atau fibrilasi adalah irama jantung yang tidak teratur.
• PREMATURE CONTRACTION adalah satu detak jantung yang terjadi lebih dini dari normal
dan ini dapat menyebabkan perasaan denyut jantung yang dipaksakan.
• KELAINAN (ABNORMALITIES) pada serambi (atrium), bilik (ventricle) dan sistim
penghantar listrik jantung (SA, Sino-Atrial Node dan AV, Atrio-Venticular Node) dapat
menjurus ke aritmia yang menyebabkan palpitasi (jantung berdebar).
Gambaran Klinis Palpitasi
Tipe Aritmia
Takikardi Denyut Jantung Situasi Pencetus Gejala Penyerta Manuver Vagal

AVRT, AVNRT Onset mendadak, Aktivitas fisik, perubahan Poliuri Berhenti mendadak
peningkatan denyut jantung posisi tubuh
periodik

Fibrilasi Atrium Irregular, denyut jantung Aktifitas fisik, makan, Poliuri Penurunan denyut
bervariasi alkohol sementara

Takikardia atrial atau Regular (irregular bila - - Penurunan denyut


flutter konduksi AV bervariasi), sementara
peningkatan denyut jantung

Takikardia ventrikular Regular dengan peningkatan Aktivitas fisik Tanda-gejala Tidak berefek
denyut jantung gangguan
hemodinamik
Klasifikasi EKG pada Takidisritmia
Narrow Complex Wide Complex

Regular Irregular Regular Irregular

Sinus takikardia Atrial Fibrillation Monomorphic VT Polymorphic VT


Supraventrikular takikardi Trial flutter with varying SVT with abberancy Any irregular, narrow
blocks complex tachycardia with
BBB or WPW syndrome

Atrial flutter with 1:1 or 2:1 Multifocal atrial Any regular, narrow complex
conduction tachycardia tachycardia w/ bundle
branch block or Wolff-
Parkinson White
PAC dan PVC
• PAC (Premature Atrial Contraction), SA node memberi sinyal
sebelum denyut sebelumnya selesai.
• PVC (Premature Ventricle Contraction), otot ventrikel
berkontraksi saat masih ada darah tersisa di ventrikel.
• PAC-PVC: terasa ada lompatan atau ketukan kecil di dada 
variasi normal, tidak berbahaya.

PVC

Couplet : 2 PVC
Takikardia atrial: 3 atau lebih PVC
Bigemini : 1 kompleks sinus diikuti 1 PVC
Trigemini : 2 kompleks sinus diikuti 1 PVC
• Seluruh sel otot atrium menjadi pacemaker 
kontraksi atrium tidak beraturan  detakan
“bergetar”. Saat sinyal diteruskan ke ventrikel,
ventrikel berusaha menyamakan kecepatan atrium
Atrial Fibrillation  denyut jantung sangat tidak beraturan
• Gelombang P tidak teratur, frekuensi 350-600x/m

& Flutter • Gelombang QRS tidak teratur, frekuensi 140-


200x/m
• Fibrilasi atrial halus: defleksi gel. P < 1 mm
• Fibrilasi atrial kasar: defleksi gel. P > 1 mm
Atrial Flutter
• Denyut atrium cepat teratur, frekuensi 250-
350/menit
• Gelombang seperti gergaji
• Biasanya konduksi 2:1, karena AV node tak
dapat meneruskan semua impuls dari atrium
SVT (Supraventricular Tachycardia)
• Gangguan sistem listrik  atrium memompa
sangat cepat (bisa sampai 150 kali per
menit), menjalar ke ventrikel yang mengikuti
kecepatan pompa atrium. 
• Karena berawal dari SA node, maka sering
dinamakan sebagai sinus tachycardia.
• Regular, narrow QRS, takikardi ± 200/menit,
tidak ada gelombang P.
PSVT (Paroxymal
Supraventricular Tachycardia)

Dapat terjadi antara hitungan detik sampai jam, karena dipicu oleh
konsumsi tinggi kafein atau alkohol, kelebihan hormon tiroid, dan
abnormalitas level elektrolit.
Fibrilasi Ventrikel
• VF lebih berbahaya dibandingkan
VT  karena jantung tidak berfungsi
baik dan dapat menyebabkan
kematian seketika seperti pada
serangan jantung.
• Heart rate : 300-500x/m
• Rhythm : irregular
• P wave : none
• PR wave : none
• QRS complex : irregularly shaped,
rounded and markedly dissimilar
fibrillation (f) wave
• FV halus ( fine ) : gelombang f < 3
mm
• FV kasar ( coarse ) : gelombang f >
3 mm
Ventricular • otot ventrikel berdetak sendiri, tidak mengikuti
atrium. Palpitasi yang mengancam jiwa. Terjadi pada
Tachycardia dan PJK, saat otot jantung tidak cukup mendapat suplai
darah.
Torsade de Pointes
Blok AV Derajat I

•Heart rate : the atrial and


ventricular rates are typically the
same
•P wave : QRS complex following
each P wave
•PR interval : abdnormal (greater
than 0.20 sec)
•R-R interval : those of the
underlying rhythm
•QRS complexes : usually normal
(-.10 sec or less)
•AV conduction ratio : the AV
conduction ratio is 1:1
Blok AV Derajat Dua

Blok AV derajat dua dapat dibagi


menjadi :
• Blok AV tipe Mobitz I
Interval PR makin memanjang,
suatu saat ada gelombang QRS
yang hilang.

• Blok AV tipe Mobitz II


Interval PR tetap, suatu saat ada
gelombang QRS yang hilang.
• Pada blok AV total, atrium dan ventrikel berdenyut
sendiri-sendiri, yang disebut disosiasi AV komplit.
Blok AV Derajat III
• EKG menunjukkan letak gelombang-gelombang P
(Blok AV Total) yang tak ada hubungannya dengan gelombang-
gelombang QRS.
PENDEKATAN
DIAGNOSTIK
• Tujuan utama evaluasi pasien dengan palpitasi adalah
menentukan apakah gejala yang disebabkan aritmia
mengancam jiwa atau tidak.
(Loscalzo, 2010)
• Evaluasi pada pasien dimulai dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang lengkap sebelum melakukan
pemeriksaan tambahan.
(Chaitman, 2012)
Penilaian Awal -
Anamnesa
• Tanyakan mengenai kondisi yang terjadi saat
terjadinya palpitasi.
• Bagaimana deskripsi dari palpitasi yang dirasakan
• Seberapa sering pasien mengalami gejala palpitasi,
durasi tiap episode, dan seberapa parah gejalanya.
• Aktivitas yang dapat memicu dan menghentikan
terjadinya palpitasi.
• Riwayat penggunaan obat-obatan dan diet.
• Riwayat keluarga dengan gangguan irama jantung.

(Loscalzo, 2010 ; Abbot, 2005)


Penilaian Awal - Pemeriksaan Fisik
-Mendengarkan frekuensi dan ritme dari jantung
-Palpasi denyut arteri
-Vagal Manuver
+
-Gangguan ritme jantung (Tekanan darah,tanda
gagal jantung)
- Status Kardiovaskuler
Palpitasi -Penyakit sistemik yang menyertai

Pemeriksaan fisik yang dapat menjadi kunci untuk


- mengkonfirmasi ada tidaknya aritmia sebagai penyebab
palpitasi serta konsekuensi hemodinamiknya seperti
pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan pulsasi,
tekanan vena jugularis serta auskultasi jantung
(murmur, kardiomegali), goiter, exophtalmus, dan
edema tungkai.

(Loscalzo, 2010 ; Reviele, 2010)


Pemeriksaan Penunjang

• Lab:
• Darah lengkap
• Elektrolit
• Enzim jantung
• Fungsi tiroid
• EKG 12 lead  Gold stx
• CXR
• Echocardiography
• Ambulatory rhythm monitor
• Electrophysiology
Terapi Awal
• Cari penyebab palpitasi
• Pasien di KIE apabila pada pasien tersebut penyebabnya ringan.
• KIE tidak mengkonsumsi bahan adrenergik, seperti kafein atau alkohol
• Kontrol faktor resiko kardiovaskular
• Konseling ke psikiatri apabila terdapat masalah psikis yang mengganggu
• Aritmia --> obat antiaritmia, ablasi, defibrilator implan
• Penyebab sistemik --> terapi penyakit yang mendasari
Raviele, et al. Management of patients with palpitations: a position
paper from the European Heart Rhythm Association. Europace
(2011) 13, 920–934 doi:10.1093/europace/eur130
FARMAKOLOGI

• Adenosine  ultra-short-acting AV nodal blocker.


• Dosis : 6 mg iv bolus cepat pada vena proksimal, diikuti secepatnya dengan aliran 20 ml
saline dan elevasi lengan. Dapat diulang 2x pada dosis 12 mg IV sampai 30 mg.

• Verapamil (CCB) sama efektifnya dengan adenosine.


• Kerugiannya: onset lebih lama, efek samping yang bermakna dari penurunan
kontraktilitas miokard dan vasodilatasi perifer.

(Loscalzo, 2010 ; Chaitman, 2012)


FARMAKOLOGI

• Amiodarone digunakan jika adenosine gagal dan terdapat tanda gagal jantung kongestif.
• Dosis: 150 mg IV selama 10 menit, dapat diulang 1x

• Diltiazem (CCB) sama efektifnya dengan verapamil untuk Narrow Complex SVT.
• Dosis: 10-20 mg IV selama 2 menit. Jika tidak efektif, diikuti 15 menit kemudian dengan
bolus yang kedua sebanyak 0,25 mg/kg IV.

(Loscalzo, 2010 ; Chaitman, 2012)


PROGNOSIS

• Umumnya tidak berbahaya


• Tingkat mortalitas rendah (1,6% pertahun)
• Rekurensi gejala sangat sering (hingga 77%)
• Kualitas hidup sangat terganggu (menyebabkan kecemasan dan frekuensi ke IGD menjadi
sering)

(Raviele et al., 2011)


LAPORAN KASUS
IDENTITAS PENDERITA
• Nama : Ny. P
• Usia : 64 tahun
• Pekerjaan : IRT
• Alamat : Jl. A. Yani sentul purwodadi
• Status : Menikah
• No RM : 1146xxxx
• Triage : P1
PRIMARY SURVEY
A: Paten, suara nafas tambahan (-)

B : Ekspansi dada simetris, RR 30 x/menit, regular, sat O2 96%, retraksi dinding dada (-)

C : TD: 114/68 mmHg, Nadi : 122x/menit, iregular, akral hangat dan kering, CRT <2 detik

D : GCS 456, reflek cahaya +/+, pupil bulat isokor ϴ 3mm / 3mm

E : Suhu aksila 36,8ºC

Pasien masuk triage p1


INITIAL TREATMENT

A: Bedrest semifowler

B : O2 via NRBM 10 lpm

C : IV line NaCl 0,9% loading 500 ml

D : -

E : Selimut
Anamnesis (autoanamnesis)
• KU : berdebar-debar
• Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien merasa dada berdebar-debar sejak 1 hari SMRS, keluhan dada berdebar
disertai dengan nyeri pada dada. Nyeri dada dirasakan menjalar. Pasien juga
mengeluhkan terdapat nyeri pada ulu hati sejak 1 hari SMRS dan nyeri
tidak membaik dan semakin memberat sampai tadi malam. Pasien
mengeluhkan terdapat sesak, sesak memberat 1 hari SMRS. Sesak
membaik dengan istirahat dan memberat saat aktivitas. DOE (+), PND (-),
orthopnea (-), syncope (-), demam (-), batuk (+).
• Riwayat Penyakit Dahulu : HT(-), DM (+), pasien melakukan PCI tanggal 1 Desember
2019, dan baru KRS 5 hari yang lalu
• Riwayat Penyakit Keluarga : DM (+), HT (-),
• Riwayat Pengobatan : pasien rutin kontrol ke dokter jantung dan rutin
meminum obat ASA, Atorvastatin, Lisinopril, Bisoprolol, Levemir
• Riwayat Sosial : pasien seorang IRT dan berjualan gorengan di rumahnya
• Riwayat Alergi : pasien tidak ada riwayat alergi
PHYSICAL EXAMINATION

General Appearance: severely ill Looked normoweight

GCS: 456 BP : 1143/68 mmHg PR: 122 bpm, reguler RR: 30 tpm Tax: 37,4

Head anemic conjunctiva -, icteric sclerae -, lnn enlargment (-),

Neck JVP R+3 cm H2O,

Heart
Chest Ictus invisible, palpable at ICS V 2cm lateral MCL S Thrill: - Heaves: -
RHM ~ SL D LHM ~ ictus

Stem Fremitus D=S Sonor Sonor vv Rh - - Wh --


Lung Sonor Sonor vv -- --
Sonor Sonor vv ++ --

Abdomen soefl, bowel sound normal, tendernes -, liver span 8 cm, Traube’s space tympany, shifting dullness -

Warm, edema (+) esktremitas inferior bilateral


Extremities
LABORATORY FINDING (19-1-2020)
Lab Value (Normal) Lab Value (Normal)
Leukocyte 13.830 4.700 – 11.300 /µL Natrium 131 136-145 mmol/L

Haemoglobine 10 11,4 - 15,1 g/dl Kalium 4,5 3,5-5,0 mmol/L


PCV 32,2 38 - 42% Chlorida 108 98-106 mmol/L

Trombocyte 205.000 142.000 – 424.000 /µL Ureum 31,3 16,6-48,5 mg/dL


Creatinine 0,91 <1,2 mg/dL
MCV 89,4 80-93 fl procalcitonin 3,34 <0,5

MCH 27-31 pg Asam laktat 0,5-2,2


27,8 2,3

MCHC 32-36
31,1

Eo/Bas/Neu/limf/Mon 1,6/0,2/80,5/5,9/ 0-4/0-1/51-67/25-33/2-5


7,3
BGA (19-01-2020)
Parameter Nilai Normal
pH 7,30 7,35-7,45
PCO2 30,7 35-45
PO2 105 80-100
HCO3 15,3 21-28
Base excess -11,3 -3 s/d +3
Saturasi O2 97,5 >95

Kesimpulan: Alkalosis respiratorik terkompensasi


EKG (19-01-2020)
Kesimpulan EKG
Aritmia pada irama ventrikel dengan HR 150-300x/menit
 Frontal Axis : Normal
 Horizontal Axis : Normal
 PR interval : 0,12-0,20’’
 QRS complex : 0,03” (< 1 kotak kecil)
 QT interval : > 2 kotak besar

Kesimpulan: VT
CXR (19-01-2020)
Cor : Ukuran membesar dengan CTR 65%
Aorta : Elongasi (-), dilatasi (-), kalsifikasi (-)
Trachea : Ditengah
Pulmo : Corakan vascular normal, Hillus
normal, Tidak tampak infiltrat/kavitas/nodul
Sudut Costophrenicus : Lancip
Hemidiaphragma : Domeshaped
Skeleton : intak
Soft tissue : Normal

Kesimpulan : Cardiomegaly
DIAGNOSIS KERJA

1. Chest Pain dt CAD post PCI


2. VT with pulse
3. HF st C FC II dt CAD

DISPOSITION  Cardiology Departement


TERAPI

Terapi (P1 ED):


1. O2 10 lpm via NRBM
2. Bedrest semifowler
3. Loading NaCl 0,9% 500 ml
4. Inj. Amiodaron ditunda
5. Inj. Lansoprazole 1x30mg
6. Inf. Furosemide 1x20mg mg
7. Per-oral :
ASA 0-0-20mg
Atorvastatin 0-0-40mg
Lisinopril 1x10mg
Bisoprolol 1x5mg
8. SC Levemir 0-0-12IU
PEMBAHASAN