Anda di halaman 1dari 30

ASKEP LANSIA DENGAN

INKONTINENSIA URINE

D i su s u n o l e h :
S i s k a Wu l a n d a r i
Nurul Faidah
H ya s i n t a F e r n a n d a K a r t i k a M a h a r d i k a

Kelompok 3
Anatomi Fisiologi
Ginjal
Lokasi ginjal berada dibagian bel
akang dari kagum abdominalis, a
rea retroperitoneal bagian atas p
ada kedua sisi vertebra lumbalis
III, dan melekat langsung pada di
nding abdomen. Bentuknya seper
ti biji buah kacang merah (kara/e
rcis), jumlahnya 2 buah yang terl
etak pada bagian kiri dan kanan,
ginjal kiri lebih besar daripada gi
njal kanan. Pada orang dewasa b
erat ginjal ± 200 gram. Pada umu
mnya ginjal laki-laki lebih panjan
g dari pada ginjal wanita.
(Nuari & Widayati, 2017)
Ureter
Terusir dari 2 saluran pipa masi
ng-masing bersambung dari gin
jal ke kandung kemih (vesika u
rinaria) panjangnya ± 25-30 cm
dengan panjang penampang ±
0.5 . Ureter sebagian terletak d
alam rongga abdomen dan seb
agian terletak dalam rongga pel
vis. Lapisan dinding ureter terd
iri dari: dinding luar jaringan ik
at (jaringan fibrosa), lapisan te
ngah otot polos dan lapisan se
belah dalam lapisan mukosa.(N
uari & Widayati, 2017)
Vesika urinaria
Kandung kemih dapat mengemban
g dan mengempis seperti balon kar
et , terletak di belakang simfasis Lu
bis di dalam rongga panggul. Bent
uk k andung kemih seperti kerucut
yang dikelilingi oleh otot yang kuat
, berhubungan ligament um vesika
umbikalis medius. Dinding kandung
kemih t erdiri dari beberapa lapisan
yaitu, peritonium (lapisan sebelah l
uar), t imika muskularis, t imika sub
mukosa, dan lapisan mukosa (lapis
an bagian dalam). Bagian vesika u
rinaria t erdiri dari : Fundus, Korpu
s, Vert eks.

(Nuari & W idayat i, 2017)


Uretra
Uretra merupakan saluran sem
pit yang berpangkal pada kand
ung kemih yang berfungsi meny
alurkan air kemih keluar. Uretra
pada laki-laki terusir dari lapisa
n mukosa (lapisan paling dala
m) dan lapisan submukosa. Lap
isan uretra pada wanita terdiri
dari Timika muskularis (sebela
h luar), lapisan spongeosa mer
upakan pl3ksus dari vena-vena
, dan lapisan mukosa (lapisan
sebelah dalam).(Nuari & Widay
ati, 2017)
Patofisiologi
Perubahan yang terkait dengan usia pada sistem Perkemihan Vesika Urina
ria (Kandung Kemih) Kapasitas kandung kemih yang normal sekitar 300-60
0 ml. Dengan sensasi keinginan untuk berkemih diantara 150-350 ml. seda
ngkam menurut miller (1999) Dalam kondisi yang nyaman, lansia mampu
menyimpan 250-300 ml urin, dibandingkan dengan kapasitas tamping urin
dalam kandung kemih orang dewasa muda sebanyak 350-400 ml. Pada lan
sia tidak semua urine dikeluarkan, tetapi residu urine 50 ml atau kurang di
anggap adekuat. Jumlah yang lebih dari 100 ml mengindikasikan adanya r
etensi urine. Perubahan yang lainnya pada peroses penuaan adalah terjad
inya kontrasi kandung kemih tanpa disadari. Pada wanita yang lanjut usia,
terjadi penurunan produksi esterogen menyebabkan atropi jaringan uretra
dan efek akibat melahirkan mengakibatkan penurunan pada otot-otot dasar
(Stanley M & Beare G Patricia, 2006) dalam (Elizabeth, 2014)
Fisiologi
Pusat pengaturan refleks berkembih diatur di medula spinalis se
gmen sakral.Proses berkemih dibagi menjadi 2 fase yaitu fase p
engisian dan fase pengosongan.Pada fase pengisian kandung k
emih, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom simpatis yang
menyebabkan penutupan katup leher kandung kemih, relaksasi
dindingkandung kemih, serta penghambatan saraf parasimpatis.
Pada fase pengosongan,aktifitas simpatis dan somatik menutun,
sedangkan parasimpatis meningkat sehinggaterjadi kontraksi ot
ot detrusor dan pembukaan leher kandung kemih.(Elizabeth, 20
14)
Inkontinensia Urine
Definisi
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk menah
an urine yang keluar dari buli-buli, baik disadari ataupun tidak disada
ri. Terdapat beberapa macam inkontinensia urine, yaitu inkontinensia
true atau continuous (urine selalu keluar), inkontinensia stress (Teka
nan abdomen meningkat), inkontinensia Urge (ada keinginan untuk k
encing) dan inkontinensia paradoksal (buli-buli penuh) (Nuari & Widaya
ti, 2017)

Inkontinensia urin adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam juml


ah dan frekuensi yang cukup, sehingga berakibat timbulnya masalah
gangguan kesehatan, sosial, psikologis, fisik dan seksual.(Tjokropra
wiro, 2015)
Inkontinensia Urine Akut
Inkontinensia Akut atau transient adalah inkontinensia yang terjadi a
kibat adanya gangguan kesehatan atau muncul akibat intervensi dari
suatu gangguan penyakit. Inkontinensia Akut dapat disebabkan oleh
D : Delirium
R : Restricted mobility (hambatan mobilitas), retensi
I : Infeksi, inflamasi, impaksi
P: Pharmaceutical (obat-obatan), poliuria, psikologis
(Dewi & Rhosma, 2014)
Inkontinensia Urine Kronis
Ada empat jenis inkontinensia kronis atau inkontinensia per
sisten. Inkontinensia dikatakan persisten jika inkontinensia t
idak menghilang setelah penyakit dasar telah diatasi. Inkont
inensia persisten terjadi secara bertahap, semakin memburu
k, dan terjadi jika terdapat kegagalan dalam mengeluarkan
atau mengosongkan urine. (Dewi & Rhosma, 2014)
4 Jenis inkontinensia urine kronis:
Inkontinensia Urge:

Merupakan bentuk inkontinensia yang paling banyak terjadi di fasilitas perawatan lansi
a. Inkontinensia ini kerap dihubungkan dengan penyakit stroke dan alzheimer. Lansia
yang me halaman inkontinensia Urge akan merasakan keinginan berkemih yang cukup
kuat dan merasa tidak mampu menahan urin hingga sampai ke toilet. (Dewi & Rhosm
a, 2014)
Inkontinensia Stres:

Inkontinensia ini terjadi jika terdapat pengeluaran urin dalam jumlah kecil setelah terja
di peningkatan tekanan intraabdominal akibat batuk, bersin, tertawa atau ketika meng
angkat sesuatu. Inkontinensia Stres terjadi karena terdapat inkompetensi atau pelema
han Sfingter kandung kemih. Inkontinensia ini banyak terjadi pada wanita dan dapat p
ula terjadi akibat kerusakan otot dasar panggul saat melahirkan (Dewi & Rhosma, 20
14)
Inkontinensia Overflow:

Inkontinensia Overflow terjadi akibat obstruksi outlet karena gangguan pen


gosongan kandung kemih. Ketika pengosongan kandung kemih tidak terjad
i secara sempurna. Lansia akan mengalami peningkatan frekuensi berkemi
h. (Dewi & Rhosma, 2014)

Inkontinensia Fungsional:

Inkontinensia Fungsional terjadi ketika individu tidak mampu memenuhi at


au melakukan eliminasi urin. Lansia memiliki fungsi kandung kemih dan ur
etra yang normal, namun mengalami gangguan kognitif, fisik, psikologis at
au lingkungan yang menyebabkan lansia mengalami kesulitan dalam mem
enuhi kebutuhan eliminasi. Inkontinensia Fungsional dapat disebabkan jar
ak toilet yang terlalu jauh, tidak adanya perawat yang membantu, depresi,
Pengukuran Inko
ntinensia Urine
Tujuan & Cara Pengukuran
International Consul tation on Incontinence QuestionnaireShort Form (ICIQ-SF) dan The Thr
ee Incontinence Questions (3IQ)merupakan salah satu contoh alat ukur yang berisi pertanyaan
penapisdiagnosis Inkontinensia urin. ICIQ-SF merupakan instrumen yang telahditerima setelah
perkembangan dari beberapa seri kuesioner yang dapatdiaplikasikan pada pasien dengan inkont
inensia. Pertanyaan pada kuesioner, ICIQSF telah secara penuh tervalidasi. ICIQ-SF ini mengg
ambarkan usaha untuk menangkap dan merefleksikan pandangan pasien,serta disusun untuk m
engevaluasi kondisi pasien secara tepat (Abrams,2003).

Sedangkan tipe inkontinensia urin dapat di ketahui denganmenggunakan 3IQ. Alat ukur 3IQ i
ni terdiri dari tiga pertanyaan dengan pilihan jawaban dimana dari masing-masing pilihan jawab
an tersebut merupakan petunjuk dari gejala tipe inkontinensia urin yang terjadi.Dari pemeriksaa
n dengan menggunakan kuesioner diagnosis inkontinesia urin kita dapat menentukan jenis inko
ntinensia (Brown et al.,2006).
Penyebab:
Beberapa penyebab terjadinya inkontinensia urin dorongan disebabkan oleh pen
urunan kapasitas kandung kemih, iritasi pada reseptor rengangan kandung kemi
h yang menyebabkan spasme (inspeksi saluaran kemih), minuman alcohol atau k
afein, peningkatan konsentrasi urin, dan distensi kandung kemih yang berlebiha
n. (Hidayat, 2006) dalam (Elizabeth, 2014)

Secara umum penyebab inkontinensia dapat berupa proses penuaan, pembesara


n kelenjar prostat, penurunan kesadaran, dan penggunaan obat narkotik atau se
datif. Inkontinensia tidak harus dikaitkan dengan lansia (Hidayat, 2006). Inkontin
ensia dapat dialami setiap individu pada usia berapa pun walaupun kondisi ini le
bih umum dialami oleh lansia.(Elizabeth, 2014)
Faktor Resiko
Seiring dengan meningkatnya usia, prevalensi dari inkontinensia jug
a meningkat. Wanita lebih banyak daripada pria dengan ratio tiga be
rbanding dua.
Kondisi medik dari usia lanjut sendiri seringkali memungkinkan timb
ulnya gangguan fungsi berkemih secara langsung, gangguan mobilit
as serta perubahan baik dari ekskresi ataupun volume urine.
Keadaan depresi, TIA dan stroke, CHF, konstipasi, inkontinensia fec
es, gangguan mobilitas, batuk, COPD dan kegemukan sering dihubu
ngkan dengan keadaan inkontinensia urin di masyarakat.
PENATALAKSANAAN
Non Farmakologis
Pengurangan Kafein :
Pengubahan jenis makanan dan minuan dengan cara membatasi mi
numan yang mengandung kafein. Kafein dapat mengiritasi kandung
kemih dan meningkatkan frekuensi untuk berkemih yang akan mem
perburuk inkontinensia (Parker, 2007) dalam (Elizabeth, 2014). Men
urut Newman (2004, dalam Howard, et.al. 2008) kafein dan alkohol
yang terdapat dalam makanan dan minuman dapat menyebabkan di
uresis atau iritasi kandung kemih yang berkontribusi terhadap over
active bladder.
Bladder Training:

Bladder training dilakukan untuk mengembalikan pola BAK normal dengan me


nghambat stimulasi miksi. Tujuannya adalah untuk memperpanjang waktu ant
ara miksi. Teknik ini dilakukan dengan menginstruksikan dan membantu lansi
a untuk menekankan rasa ingin bak untuk meningkatkan kapasitas urin yang
ditampung oleh kandung kemih. Teknik ini ditujukan untuk lansia yang mampu
memahami dan mengingat instruksi, dalam arti memiliki kognitif utuh

Teknik bladder training biasanya dimulai dengan memberikan jeda jadual berk
emih tiap 2 jam dan kemudian meningkat waktunya secara bertahap.(Elizabet
h, 2014)
Latihan Kegel :
Melatih kegel dilakukan dengan caram melakukan kontraksi
pada otot pubococcygeus dan menahan kontraksi tersebut d
alam hitungan 10 detik, dan kontraksi dilepaskan. Pada taha
p awal bisa dimulai dengan menahan kontraksi selama 3 hin
gga 5 detik. Latihan ini bisa dilakukan secara bertahap supa
ya otot semakin kuat, latihan ini diulang 10 kali setelah itu m
encoba berkemih dan menghentikan urin ditengah (Johnson
, 2002) dalam (Elizabeth, 2014)
ASKEP
ANALISIS DATA
INTERVENSI
IMPLEMENTASI