Anda di halaman 1dari 19

GEVIA AULIA GHAISANI - 023164061

HALILAH NAJLA - 023164074


DANI SETIAWAN - 023164075
SYAHRA FARADIKA ISYAFPUTRI - 023164071
ANISA SAFIRA UTAMI - 023164077
AZHARI MUNIIF - 023164078
TRISNA NOVITA SARI - 023164079
FARAH NADIAH SYAKIRAH - 023164035
Tata Kelola Etis Perusahaan
dan Akuntabilitas
TUJUAN
Para pemimpin organisasi atau perusahaan
profesi akuntansi diharapkan untuk
memasukkan program-program tata kelola yang
menyediakan bimbingan etis akuntabilitas yang
memaai dan program yang memenuhi harapan
Ekspektasi Baru-Kerangka Kerja
untuk Mengembalikan Kredibilitas
Setelah bencana Enron, Arthur Andersen, dan
WorldCom, maka Sarbanes-Oxley Act (SOX) disahkan
tanggal 30 Juli 2002. SOX telah mereformasi tata kelola
dan kerangka kerja akuntabilitas bagi perusahaan yang
ingin meningkatkan dana dari masyarakat Amerika
Serikat dan/atau yang ingin agar saham mereka
diperdagangkan di pasar saham AS.
Ekspektasi Baru-Kerangka Kerja
untuk Mengembalikan Kredibilitas
SOX berlaku untuk :
 Pendaftar SEC
 Akuntan professional dan pengacara luar yang
melayani mereka
 Perusahaan asing dan auditor mereka dan
penasihat hukum lainnya
Seiring waktu, itu akan menjadi standar yang
menjadi dasar untuk tata kelola dan kerangka kerja
akuntabilitas di seluruh dunia.
 GEVIA
Proses Tata Kelola Berorientasi kepada
Akuntabilitas Pemangku Kepentingan
Penilaian Risiko Perusahaan

Mengidentifikasi Menilai & Mengintegrasi ke


seluruh membuat dalam sistem
pemangku peringkat semua nilai dan aksi
kepentingan kepentingan perusahaan

Budaya Perusahaan

Tindakan Motivasi Keyakinan Nilai


Kepentingan Identifikasi Peringkat
Pemangku Sistem Nilai
Penilaian
Kepentingan Korporat

Budaya Perusahaan

Tindakan Motivasi Keyakinan Nilai


Mekanisme Pedoman-Budaya Etis
dan Kode Etis
Nilai nilai yang diinginkan ditanamkan oleh
direktur sebuah perusahaan dalam rangka
memotivasi keyakinan dan tindakan personil
perlu dismpaikan untuk memberikan bimbingan
yang diperlukan biasanya berbentuk
 Nilai nilai yang dipilih
 Prinsip-prinsip yang mengalir dari nilai-nilai
 Peraturan yang harus diikuti
Kesalah pahaman tujuan dan
tugas fidusia
 Ketika budaya yang berbeda tidak menjadi masalah, personil
dapat salah memahami tujuan organisasi dan peran mereka
sendiri dan tugas fidusia saalah satu contohnya kasus enron
jelas percaya bahwa tujuan perusahaan yang paling
diuntungkan oleh tindakan yang membawa keuntungan
jangka pendek yaitu
1. Melakukan ketidak jujuran etika memanipulasi pasar energi
di california atau pura pura memanipulasi pandangan
2. Semua itu merupakan transaksi SPE -TIDAK NYA
3. memebrikan keuntungan diri sendiri dan mengorbankan
banyak pemangku kepeningana.
Kesimpulan Kasus

 Dalam kasus tersebut Enron, perusahaan telah


melanggar etika pengungkapan dalam laporan
keuangan. Terdapat hal-hal yang tidak diungkapkan
oleh perusahaan dengan tujuan untuk mencari
keuntungan sepihak. Selain itu ArthurAndersen
sebagai konsultan tidak menjunjung nilai-nilai
integritas yang seharusnya mereka jaga.
Sesungguhnya Arthur andersen mengetahui apa yang
dilakukan oleh Enron tidaklah benar. Namun, Arthur
Andersen memberikan penilaian bahwa Enron telah
menyajikan laporan keuangan dengan akurat.
Analisa Kasus Enron dalam
Sudut Pandang Murphy
 Menurut Murphy, tiga pendekatan yang dapat
diterapkan untuk menanamkan prinsip-prinsip
etika ke dalam bisnis, yaitu:
1. Credo perusahaan yang mendefinisikan dan
mengarahkan kepada nilai-nilai perusahaan
2. Program etika dimana perusahaan berfokus
pada isu-isu etika
3. Kode etik yang memberikan panduan spesifik
untuk karyawan di area bisnis fungsional
Analisa Kasus Enron dalam
Sudut Pandang Murphy
 Penelitian Murphy tentang etika dalam manajemen
menghasilkan kesimpulan yang harus diingat manajer
perusahaan yaitu:
1. Tidak ada pendekatan ideal tunggal untuketika perusahaan
2. Manajemen puncak harus berkomitmen
3. Pengembangan suatu struktur tidak cukup untuk perusahaan itu
sendiri
4. Meningkatkan kesadaran etis dari suatu organisasi tidak mudah
 Presiden Bush dan pimpinan-pimpinan perusahaan
memulai reformasi di aspek tata kelola perusahaan. Pada
tanggal 30 Juli 2002 lahirlah Sarbanes Oxley Act (SOX).
Kerangka baru yang termuat dalam SOX dimasukkan oleh
Securities and Exchange Commision (SEC). kerangka baru
ini berlaku bagi seluruh perusahaan anggota SEC dan
para akuntan dan pengacara yang berhubungan dengan
perusahaan tersebut.
 SOX dirancang untuk memfokuskan kembali tata kelola
perusahaan pada tanggung jawab terhadap kewajiban
fidusia diluar kepentingan mereka sendiri dan lebih
kepada kepentingan shareholders dan kepentingan
masyarakat.
Kegagalan untuk
Mengidentifikasi dan
Mengelola Risiko Etika
 Seiring dengan meningkatnya kompleksitas, volatilitas,
dan risiko yang melekat pada kepentingan dan operasi
perusahaan, maka risiko harus dapat diidentifikasi,
dinilai, dan dikelola dengan hati-hati. Prinsipnya yaitu,
risiko etika terjadi ketika terdapat kemungkinan
harapan stakeholder tidak terpenuhi. Menemukan dan
memperbaikinya adalah sangat penting untuk
menghindari krisis atau kehilangan dukungan dari para
pemangku kepentingan. Hal itu dapat dilakukan dengan
menetapkan tanggung jawab, mengembangkan proses
tahunan, dan tinjauan dari dewan organisasi.
Konflik Kepentingan

 Konflik antara kepentingan diri para pengambil keputusan


dan kepentingan para pemegang saham mengganggu
penilaian yang sedang diterapkan, menyebabkan
kepentingan pemegang saham harus tunduk kepada
kepentingan sendiri para pengambil keputusan.

 Konflik kepentingan terjadi ketika penilaian independen


seseorang bergoyang, dari mengambil keputusan demi
kepentingan terbaik dari orang lain yang bergantung
pada penilaian itu.
Konflik Kepentingan
CONTOH KASUS: KASUS SUAP BPK
OLEH OKNUM KEMENDES
 Kasus suap terkait opini yang diberikan oleh oknum Kementerian
Desa terhadap auditor BPK, hal ini terungkap oleh aksi operasi
tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK, dalam kasus ini sudah
ditetapkan 4 orang tersangka oleh KPK

Sumber: www.tempo.co.id
 HALILA