Anda di halaman 1dari 50

KIMIA KATALIS

HOW DOES A CATALYST WORK &


CATALYST SUPPORT

DISUSUN OLEH :
1. Elviera (1906320802)
2. Selena Bunga (1906452656)
3. Rendi Mahardika (1906413144)
4. Muhammad Alija Izetbigovic
(1906413094)
Proses
Katalitik

Unimolekuler Bimolekuler
Proses Bimolekuler

• A + B ⟶ Aads + Bads⟶ (AB)ads ⟶ Cads + Dads⟶ C + D


• Reaksi terjadi secara eksotermis.
• Untuk membentuk produk C dan D, reaktan A dan B bereaksi membentuk kompleks teraktivasi (keadaan transisi) yang akan
terdekomposisi untuk membentuk suatu produk. Energi aktivasinya adalah E1.
• Ketika C dan D terbentuk, mereka dapat berubah kembali menjadi A dan B melalui reaksi balik, energi aktivasi untuk perubahan tersebut
adalah E2.
• Reaksi di permukaan terjadi dalam fasa gas
• Kurva (i) menunjukkan tidak adanya energi aktivasi pada adsobsi spesi A maupun B
• Kurva (ii) menunjukkan adanya energi aktivasi pada adsorbs spesi A dan B
• Ketika A dan B teradsorbsi, mereka dapat berubah melalui kompeks teradsorbsi (AB) menjadi C dan D teradsorbsi dan spesi permukaan
ini akan berdesorbsi untuk membentuk produk.
• Tipe diagram diatas menyediakan rute alternatif untuk reaksi dan rute ini lebih disukai secara energetika daripada dalam reaksi fasa gas.
Reaksi Pertukaran Hidrogen

• Perkembangan awal dari reaksi bimolekuler awalnya didasarkan pada reaksi dari
spesi hidrogen: pertukaran hidrogen orto (o-) ke para (p-) dan pertukaran H 2/D2.
• Hidrogen orto adalah molekul hidrogen yang memiliki spin proton parallel (arah
yang sama), sedangkan hidrogen para memiliki spin yang antiparallel.
• Modifikasi para lebih disukai pada temperatur rendah (80 K) dan perubahan ke
bentuk ini dapat di katalis dengan grafit.
• Modifikasi ini telah diujikan ke beberapa katalis berbeda
• Logam transisi dari film evaporasi
• o-H2 ⟶ 2Hads ⟶ p-H2
• H2 + D2 ⟶ 2Hads + 2Dads ⟶ 2DH
• Perubahan hidrogen orto ke para membutuhkan perhitungan konduktivitas
termal yang cukup kompleks untuk membedakan keduanya.
Proses Unimolecular
• Reaksi dekomposisi unimolekuler juga dapat dikatalisis di
permukaan.
• Gambar 3.3  dekomposisi oleh molekul A menjadi produk.
• Kurva atas menunjukkan reaksi tanpa katalis
• Untuk reaksi dalam fasa gas, energi aktivasi untuk reaksi
langsung (maju) tersebut ditunjukkan oleh E1 dan reaksi balik
ditunjuukan oleh E2.
• Karena E2 lebih besar dari E1, maka nilai △H adalah negative.
• Ketika reaktan dapat teradsorbsi ke permukaan, spesi baru
terbentuk Aads, dengan entalpi adsobsi nya △H(A)ads
• Ketika spesi A teradsorbsi, ia dapat berubah menjadi Pads
melalui proses reaksi permukaan dengan energi adsorbs △HPads.
• Produk di desorbsi dengan energi aktivasi Edes.
• Keadaan awal dan akhir untuk reaksi dengan katalis dan tanpa
katalis adalah sama, katalis hanya menyediakan rute alternative
dari reaktan ke produk dengan mengubah energetikanya.
Dekomposisi Asam Format

• HCOOH ⟶ H2 + CO2 ………………………………………….(△Hº = 32 kJ/mol)


• Karena terdapat 2 spesi produk, gambar 3.3 tidak seluruhnya dapat
menjelaskan desorpsi dari masing-masing spesi yang terbentuk.
• Produk alternatif juga dapat terbentuk, CO dan H2O, maka selektifitas
katalis menjadi penting.
• Produk yang terbentuk tergantung dari kemudahan pembentukan dari
spesi permukaan yang berbeda dan kemudahan untuk berubah ke
bentuk yang lain.
Reversibilitas dalam Proses Katalisis

• Salah satu hal penting yang diilustrasikan gambar 3.3 adalah katalis
untuk reaksi maju, dalam beberapa kondisi, mengkatalis reaksi balik
dan langkah-langkahnya menentukan laju reaksi maju juga akan
menentukan laju reaksi baliknya
• Dalam reaksi permukaan, ditemukan bahwa :
• Aads ⟶ Pads adalah rate determining step (rds) untuk reaksi maju
dan,
• Pads ⟶ Aads adalah rate determining step (rds) untuk reaksi baliknya.
Selektivitas dalam Proses Katalisis
• Kemampuan katalis untuk mempengaruhi selektivitas reaksi membuat katalisis menjadi
penting dalam praktiknya.
• Reaksi oksidasi non-katalitik biasanya menghasilkan hanya 2 produk terpilih secara
termodinamika, CO2 dan H2O; bagaimanapun juga, sistem katalitik selektif diketahui dari yang
mana yang dapat menghasilkan molekul seperti aldehid dan atau keton, dengan
penambahan selektif oksigen, olefin, dengan penghilangan selektif hydrogen (oksidatif
dehidrogenasi)
Katalis dan Sisi Aktif
• Ada beberapa tipe katalis yang digunakan dalam beberapa proses
berbeda.
• Yang paling umum dipakai sebagai katalis adalah logam, oksida, dan
sulfida.
• Walaupun tiap komponen muncul sebagai komponen material
tunggal, material aktif juga didampingi oleh komponen lain sebagai
support atau promotor.
• Katalis dapat memiliki beberapa komponen aktif (logam dan oksida)
Katalis logam

• Hampir semua logam dalam tabel periodik dapat digunakan sebagai


katalis
• Paling umum ditemui dalam formulasi katalis umum adalah logam
transisi karena ini cenderung lebih reaktif sebagai hasil dari pita d yang
tidak terisi
• Sejumlah proses katalitik dapat dilakukan pada logam murni. Namun,
media pendukung logam paling umum adalah oksida. Karena oksida
tidak hanya merupakan media pendukung inert tetapi juga berkontribusi
terhadap aktivitas dan selektivitas katalis.
Katalis logam

• Permukaan logam menjadi parameter yang cukup penting karena laju


reaksi katalitik sebagian besar sebanding dengan jumlah atom yang
terpapar
• Namun, ada pengecualian; misalnya, katalitik sifat-sifat katalis emas
sangat bergantung pada cara pembuatan dan pembuatan katalis
sering hanya aktif jika nanopartikel emas ada pada support
Katalis logam

• Banyak reaksi yang dikatalisis logam adalah reaksi yang dilakukan secara
keseluruhan dengan pengurangan kondisi,
• Yang paling dikenal dari proses-proses ini seperti sintesis amonia atau
parafin isomerisasi  tidak ada oksigen maupun sulfur yang merupakan
komponen reaksi campuran.
• Dalam kondisi ini, semua logam akan stabil secara termodinamika dan
banyak mereka adalah kandidat potensial sebagai katalis
• Kelemahannya selektivitas rendah dan stabilitas rendah
Unsupported Metal Catalysts

• Sebagian besar katalis logam terdiri dari partikel logam yang didukung pada
bahan oksida untuk memberikan luas area permukaan logam setinggi mungkin
• Salah satu contoh terkenal dari tipe yang terakhir adalah penggunaan kasa Pt /
Rh yang halus untuk oksidasi ammonia:
Supported Metal Catalysts

• Pada reaksi dimana laju ditentukan oleh laju reaksi permukaan, logam area
katalis menjadi faktor terpenting.
• Karena itu, penting untuk membuat dan menstabilkan area permukaan logam
setinggi mungkin dan mudah diakses
• Seperti namanya, katalis logam yang didukung (supported metal catalyst)
adalah salah satu di mana kristalit logam ada di permukaan media pendukung
• Media pendukung yang paling umum digunakan adalah oksida tunggal seperti
alumina atau silika, oksida kompleks seperti silika-alumina atau zeolit ​dan
karbon aktif.
Supported Metal Catalysts
• Kristalit logam dari katalis logam yang didukung umumnya terletak didalam pori-pori
pendukung dan cukup besar untuk memungkinkan difusi reaktan dan produk yang
jauh dari logam permukaan.
• Katalis logam pendukung yang umum : Pt / Alumina (katalis dalam proses gas buang
mobil)
• Media pendukung tidak hanya menjadi bahan inert di mana logam diposisikan namun
juga berkontribusi pada aktivitas, selektivitas dan stabilitas katalis dalam kondisi
operasi
Partisipasi Oksigen dari Media Pendukung

• Eksperimen dilakukan menggunakan reflektansi difusi Fourier mengubah spektroskopi


inframerah (DRIFTS) telah menunjukkan bahwa mekanisme untuk CO2 reformasi metana
di atas Pt / ZrO2 katalis mungkin terjadi seperti yang ditunjukkan dalam skema di atas.
• Karbon terbentuk oleh dekomposisi metana di sisi aktif Pt yang bereaksi dengan oksigen
dari media pendukung di dekat Pt kristalit dan akang mengurangi kinerja media
pendukung. Oksigen kemudian diisi kembali dengan reaksi dengan CO2 dari fase gas
Oksida

• Dalam reaksi oksidasi selektif, oksida aktif katalitik sering bertindak


sesuai dengan mekanisme MarseVan Krevelen  oksidasi urutan reduksi
terjadi pada permukaan oksida
• Mengharuskan ion logam oksida yang membentuk fase aktif memiliki
berbagai kemungkinan tingkat oksidasi.
• Contoh-contoh oksida yang ditemukan dalam katalis tersebut : V2O5
(dapat direduksi menjadi biloks +4 dan +3) dan MoO3 (dapat direduksi
menjadi biloks +5 dan +4)
Oksida

• Oksida yang tidak dapat direduksi umumnya berfungsi sebagai


pendukung lembam yang membantu menstabilkan partikel logam.
Contohnya alumina (Al2O3), silika (SiO2), magnesia (MgO) dan zirkonia
(ZrO2).
• Dengan oksida yang relatif stabil ini, ada beberapa bukti yang
menunjukkan antara logam dan penopang menyediakan jenis tempat
khusus dan reaksi katalitik terjadi pada katalis yang didukung tergantung
pada situs pada logam dan permukaan oksida dekat antarmuka &
memanfaatkan ion oksigen dari pendukung dalam reaksi.
Pengurangan Selektif Katalis NOx terhadap V2O5 / TiO2

• Reduksi katalitik selektif dari emisi NOx pada gas residu yang
mengandung oksigen dari pembangkit listrik menggunakan amoniak
sebagai reduktor biasanya dilakukan menggunakan katalis V2O5 / TiO2
• Reaksi tersebut mungkin melibatkan pengurangan sisi aktif permukaan
V5+ secara bertahap (i) dan (ii) dan re-oksidasi dalam langkah (iii) dan
(iv):
Sulfida

• Penggunaan sulfit yang paling umum adalah dalam reaksi di mana senyawa
belerang hadir pada kondisi reaksi yang mendukung pembentukan sulfida
dari logam atau oksida yang ada di katalis. Misalnya katalis Co/ Mo / Al2O3
yang digunakan untuk hidrodesulfurisasi (HDS):
RSH + H2 RH + H2S
• Katalis yang dibuat terdiri dari campuran CoO dan MoO3 didukung di daerah
yang luas permukaannya tinggi misalnya γ-Al2O3
• Pada kondisi hidrodesulfurisasi, permukaan Co dan spesi permukaan Mo
bertransformasi untuk memberikan struktur sulfur yang stabil
Catalyst Support

ALUMINA & SILIKA


KIMIA KATALIS
CATALYST SUPPORT

• Sisi aktif katalis heterogen terletak pada bagian


permukaan.
• Katalis yang efisien akan memiliki permukaan aktif
katalitik yang besar. Cara memaksimalkan permukaan
aktif katalitik ini misalnya dengan menjadikannya
berbentuk fine powder.
• Faktor yang mempengaruhi lingkungan katalis
terdispersi pada material pendukung (catalyst
support) yaitu :
– Jumlah material aktif terkatalitik
– Asal dan jenis support
– Kekuatan interaksi antara support & katalis
CATALYST SUPPORT
Pemanasan (Δ)

Sintering
Pembentukan spesi permukaan yang
mudah menguap (vapor phase) pada
media reaksi

• Katalis berbentuk bubuk (powder) yang dipanaskan rentan mengalami


sintering / aglomerasi  ukuran lebih besar, kurang efisien.
• Sintering diamati pada T < 100oC, namun katalis oksida dapat
menggunakan T lebih tinggi tanpa kehilangan daerah permukaan aktif
secara signifikan
• Kekuatan migrasi spesi aktif terkatalitik bergantung pada kekuatan ikatan
katalis terhadap support
• Makin rendah catalyst load dan makin tinggi luas permukaan support 
mencegah sintering
CATALYST SUPPORT

3
Augustine (1995)
CATALYST SUPPORT

• Jumlah katalis sedikit ukuran kristalit katalis sangat kecil,


tersebar di permukaan support  dispersi tinggi, lebih
efisien (9.1C)
• Jumlah katalis banyak  jarak antar kristal makin dekat
ukuran makin besar  permukaan aktif katalis menurun
(9.1B)
• Makin jauh jarak kristalit  makin tahan terhadap thermal
sintering
• Kehadiran thermostable support membatasi jumlah partikel
yang mengalami sintering (9.1c)
Sifat fisika support yang berperan
penting dalam kinerja supported catalyst

Ukuran pori
Densitas
Distribusi
Bentuk/pori
Kekerasan
Volume pori
hardness
pori
Ukuran & Distribusi Pori

Ukuran & distribusi pori  pengaturan ukuran initial building block A & final particle D
Penggunaan silika gel  sebagai initial building block
Bentuk pori

Ukuran partikel besar dan tak beraturan  mendorong ukuran pori besar
Jika bentuk basic building block A tidak seragam  ukuran pori bergantung pada
perpanjangan polimerisasi linear & percabangan komponen

Penambahan aditif untuk mengontol distribusi pori, misalnya selulosa, katun, material
karbon lain yang dapat dihilangkan dengan pemijaran  meninggalkan suatu celah yang
berkaitan dengan bentuk material aditif
Pengaruh pH pada muatan permukaan catalyst support

• Permukaan oksida yang mengandung oksigen dapat bereaksi dengan asam / basa
sehingga jenis muatan pada permukaan oksida bergantung pada pH larutan di
sekitar partikel.
• Medium asam memprotonasi oksigen  permukaan bermuatan(-), dan
sebaliknya
Titik Isoelektrik (IEP/ ZPC)

IEP  memaksimalkan adsorpsi


terhadap prekursor katalis

IEP Gibbsite
= 7.5
ALUMINA
Ƴ –AlO(OH)

Ƴ –Al(OH)3

Ƴ –AlO(OH)

α –Al(OH)3

α –AlO(OH)

Luas permukaan 0.1 - 400 m2/g


ALUMINA
Volume pori 0.1 – 1.5 cm3/g
Al2O3.xH2O
Ukuran pori 2 - 170 nm
REAKSI PEMBENTUKAN ALUMINA

• Catalyst support paling umum  ƴ –alumina


• ƴ –alumina dipreparasi dengan memanaskan Ψ boehmite.
• Hidroksi oksida, Ψ boehmite, memiliki sifat mudah bergabung 
pembentukan pellet dan granul support yang besar
• Ψ boehmite digunakan untuk menyediakan permukaan berpori
yang besar pada adhesi katalis terhadap material tak berpori (logam
& keramik)
α –Al2O3.xH2O ƴ –Al2O3.xH2O

Luas permukaan 0.1 - 5 m2/g Luas permukaan 150-300 m2/g


Efek pH pada Potensial Zeta Alumina
• IEP alumina dipengaruhi oleh
derajat hidroksilasi permukaannya
• Makin sedikit gugus hidroksi, IEP
makin meningkat begitu pula nilai
pH untuk interaksi optimum kation
& anion

• Metode untuk mengubah IEP


Alumina :
• 1. Penambahan modifier
• IEP naik : kation Li+ & Na+
• IEP turun : F-
2. Peningkatan T dimana suspensi
alumina berinteraksi dengan
prekursor katalis

Alumina dapat bereaksi & terlarut


dalam media reaksi asam kuat/basa
kuat karena alumina bersifat amorf
SILIKA
Pembuatan silika
• Silika dihasilkan oleh reaksi alkali metasilikat dengan suatu
asam
• Umumnya dengan cara meniupkan CO2 pada larutan natrium
metasilikat (water glass) atau dengan penambahan asam
encer hingga pH 7 kemudian dipanaskan

Evaporasi dari larutan air Evaporasi suspensi alkohol


Luas permukaan 200-800m2/g Luas permukaan 500-800m2/g
PEMBUATAN SILIKA

• Pembuatan koloid silika (10-


500 nm) hidrolisis
tetraetoksilan dengan amonia
cair
• Pembuatan silika tak berpori
(luas area 50-400m2/g)
hidrolisis nyala SiCl4  untuk
penelitian dasar
• Tanah
diatomaceaous/Kieselguhr
(70-90% SiO2, luas area 15-40
IEP Silika = 1 (bersifat asam)
m2/g  fosil material
Bila permukaan menjadi (-) pada pH
diatomaceae  umum rendah, muatan permukaan hanya
digunakan sebagai support signifikan pada pH > 7, sehingga silika
katalis Ni dalam skala besar dapat menyerap kation pada pH> 7
Titania (TiO2)

• Disintesis dengan cara : Hidrolosis garam titanium dan flame


hydrolysis TiCl4 .
• Kristal titania ditemukan dalam bentuk mineral rutil, anatase yang
bergantung pada perubahan suhu lingkungan.
• Anatase dapat digunakan dalam proses katalitik sehingga baik
digunakan sebagai support, sedangkan rutile kurang mampu
digunakan sebagai katalis karena luas permukaan lebih rendah
daripada anatase.
• Anatase disintesis dengan proses flame hydrolysis TiCl4 yang
memiliki luas permukaan sekitar 40-80 m2/g dan diameter pori rata-
rata sekitar 50 nm.
• Titania dihasilkan dari reaksi hidrolisis asam tetrabutoxytitanium
yang memiliki luas permukaan 190-200 m2/g dan diameter pori
sekitar 15-20 nm.
Titania (TiO2)
• Terdapat 4-5 gugus hidroksi pada permukaan anatase dan memiliki 2 perbedaan.
– permukaan secara alami dan dapat bertukar dengan ion F-. Jenis ini
berfungsi sebagai adsorpsi spesi yang bersifat asam ke permukaan dan
inisiasi adsorpsi senyawa sensitive base seperti MoO2(acac)2.
– Hidroksida yang kedua yaitu bersifat asam. Hidroksi akan berinteraksi kuat
dengan basa dan akan inisiasi pada proses adsorpsi senyawa sensitive acid
seperti Fe(acac)3.

• Sifat amfoter titania dapat dilihat


dari grafik zeta potensial vs pH.
Prekursor katalitik kationik
teradsorpsi pada pH lebih dari 7-8
dan pH spesi ionik dari larutan
kurang dari 5.
Titania (TiO2)

• Terdapat 2 perbedaan titania terhadap silika dan alumina, yaitu :


– Silika dan alumina merupakan oksida yang bersifat isolator
sedangkan titania merupakan material semikonduktor sehingga
bermanfaat dalam reaksi fotokatalitik.
– Permukaan Ti4+ mudah direduksi menjadi Ti3+ dengan
menggukan agen pereduksi, salah satunya yaitu hidrogen yang
teradsorpsi pada permukaan logam katalitik. Hidrogen akan
menyebar ke seluruh permukaan support dan mereduksi Ti4+ .
Reduksi akan menyebabkan perubahan sifat dari support.
Karbon

• Support katalis yang mengandung karbon ialah black carbon,


charcoal dan graphite.
• Karbon dihasilkan dari reaksi dehidrogenasi termal senyawa
hidrokarbon, seperti metana.
• Black Carbon memiliki luas permukaan antara 70-250 m2/g dan
struktur pori yang tidak teratur.
• Charcoal dihasilkan dari pirolisis senyawa polimer organik dengan
menggunakan suhu 700-900°C tanpa adanya udara.
• senyawa-senyawa tersebut diaktifasi (physical activation) dengan
karbon dioksida/dipanaskan pada suhu 400-600°C proses ini untuk
membentuk struktur pori pada charcoal.
• Tahapan selanjutnya ialah aktivasi kimia dengan menggunakan ZnCl 2
atau asam pospat. Luas permukaan charcoal bergantung kepada
jenis material yang dibuat.
Luas permukaan beberapa support karbon
Karbon Luas Permukaan (m2/g)
Graphite, natural 0.1-20
Graphite, synthetic 0.3-25 • Pemanasan lebih lanjut hingga 1000°C
dapat meningkatkan pembentukan
Graphite carbon 20-100 grafit dan menghasilkan graphitized
blacks charcoals.
Carbon blacks 70-250 • Tingkat pembentukan grafit tergantung
pada sifat bahan baku.
– Selulosa, sulit meleleh dalam
karbonisasi, maka grafit sulit
Activated carbons Luas Permukaan (m2/g) dihasilkan.
Wood charcoal 300-900 – Lignin, dapat menghasilkan
graphitized charcoal lebih banyak
Peat charcoal 350-1000
saat karbonisasi.
Coal carbon 300-1000
Nutshell charcoals 700-1500
Karbon

• Gugus fungsional dalam charcoal = fenol, asam karboksilat, kuinon,


keton, dan lakton → acidic supports.
• Sifat dan fungsionalitas partikel charcoal bergantung pada material dan
waktu selama proses karbonisasi dan aktivasi.
• Selain itu, perlakuan charcoal dengan agen pengoksidasi seperti asam
nitrat atau hidrogen peroksida akan meningkatkan jumlah spesi asam.
Karbon

• Jenis charcoal yang umum ialah


Norit → decolorizing agent.
• Norit memiliki nilai IEP pada pH
sekitar 4.5 dan dapat
mengadsorbsi kation dari suatu
larutan yang memiliki pH 6-8.
• Grafik potensial zeta Norit vs pH
dapat dilihat pada grafik
disamping.
Grafit

• Kristalin, terdiri dari bidang cincin aromatis


yang terdapat pada jarak 0.335 nm.
• Partikel grafit non-porous, sehingga jarang
digunakan sebagai support katalis.
• Namun jika grafit direaksikan dengan
oksidator kuat seperti asam nitrat, hidrogen
peroksida atau natrium hipoklorit, ujung
bidang pada struktur grafit akan teroksidasi
dan menghasilkan gugup fungsi yang bersifat
asam → modifikasi grafit dapat
mengadsorpsi kation dari suatu larutan.
• Interkalasi = karakter elektron pada struktur
aromatik yang ditumpuk (stacked), yang
dapat menyebabkan atom/molekul luar
masuk dari lapisan dan akan
menerima/menyumbangkan elektron pada
sistem karbon.
Grafit

• Interkalasi grafit logam platina telah disintesis dengan


menghilangkan interkalasi grafit halida platinum. →
katalis ini berguna untuk hidrogenasi asetilena
menjadi cis alkena.
Interaksi Katalis-Support

• Efek support dapat diilustrasikan dalam 2 cara yang


berbeda.
– Support dapat memodifikasi sifat elektronik partikel
katalis → mempengaruhi karakteristik dan reaksi
adsorpsi pada sisi aktif katalis.
– Mempengaruhi bentuk geometri partikel katalis.

• Interaksi katalis dan support dipengaruhi oleh ukuran


partikel logam.
– Weak metal-support Interactions (WMSI)
– Strong metal-support Interactions (SMSI)
Interaksi Katalis-Support

• Oksida logam yang tidak dapat


direduksi (non-reducible metal
oxides) seperti silika, alumina,
magnesium, karbon serta grafit
hanya akan memberi pengaruh
lemah pada logam. → Weak metal-
support interaction (WMSI).
• Logam dengan oksida logam yang
dapat direduksi pada suhu tinggi
menunjukkan Strong metal-support
interaction (SMSI).
2. Support Effect

1. Electronic effect
Transfer elektron terjadi pada antarmuka, sifat elektronik dapat
dimodifikasi dengan mengubah sifat interaksi logam dan support.
MgO dan SiO2, di mana kation tidak memiliki orbital d untuk
berinteraksi dengan anion oksida. Akibatnya, ikatan yang jauh lebih
lemah, sebagian besar bersifat elektrostatik, ditemukan antara logam
dan pendukung.
2. Support Effect

2. Geometry effect
Efek geometri pada SMSI melibatkan enkapsulasi pada
permukaan logam, baik sebagian menutupi permukaan logam,
atau enkapsulasi yang menutupi seluruh permukaan logam,
kemudian oleh reduksi support oksida dengan suhu tinggi ,
dengan kondisi reduksi seperti pada ilustrasi dibawah ini :
2. Support Effect

2. Geometry effect
Sebagai contoh, katalis titania-support, akan mengalami reduksi
TiO2 menghasilkan spesi TiOx (x <2) yang akan bergerak dan
menutupi permukaan partikel logam yang akan mengalami
enkapsulasi/decoration, tanpa perubahan signifikan pada ukuran
partikel logam.