Anda di halaman 1dari 16

KELOMPOK 1

Nama kelompok :
1. Iis Ayu Nadhifah (52019050029)
2. Nur Aini Ika Febriani (52019050030)
3. Annisa Salsabila (52019050031)
4. Nilawati (52019050032)
5. Muhammad Ulin Nuha (52019050034)
6. Avinda Putri Parantika (52019050035)
7. Yumna Nabila Amanah (52019050037)
Kelas : IB
SEDIAAN GEL
Definisi
Gel merupakan sediaan semi padat yang jernih, temb
us cahaya dan mengandung zat aktif, merupakan disp
ersi koloid mempunyai kekuatan yang di sebabkan ole
h jaringan yang saling berkaitan pada fase terdispersi.
Dalam industri farmasi, sediaan gel banyak di gunaka
n pada produk obat-obatan, kosmetik dan makanan.
Keuntungan

Dapat di gunakan untuk berbagai rute pemakaian


Kompatibel dengan berbagai macam obat
Gel yang mengandung enhancer pada umumnya di
gunakan sebagai antiinflamasi
Mudah di gunakan dan cepat menimbulkan efek ter
api
Kerugian

Banyak mengandung air, berpotensi terkontaminasi ol


eh mikroba
 Terjadi penguapan air sehingga dapat menyebabkan
kulit menjadi kering
 Dengan menggunakan bahan pembentuk gel atau ge
lling agent organik dapat menjadi sumber nutrisi mikr
oba sehingga memiliki potensi sebagai media pertum
buhan mikroba.
Penggolongan
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV
1. Gel sistem dua fase
Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi r
elatif besar , massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai mag
ma misalnya magma bentonit. Baik gel maupun magma dapat b
erupa tiksotropik, membentuk semipadat jika dibiarkan dan menj
adi cair pada pengocokan. Sediaan harus dikocok dahulu sebelu
m digunakan untuk menjamin homogenitas.
2. Gel sistem fase tunggal
Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar
sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adany
a ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel f
ase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik misalnya kar
boner atau dari gom alam misanya tragakan.
Basis Gel
Ada 2 macam basis gel yaitu gel hidrofobik dan gel hidrofilik :
1. Gel hidrofobik (oleogel)
Adalah sediaan dengan basis yang biasanya mengadung
parafin cair dengan polietilen atau minyak lemak membent
uk gel dan silika koloidal atau aluminium atau sabung seng
.
2. Gel hidrofilik (hidrogel)
Adalah sediaan dengan basis yang biasanya mengandung
air,gliserol atau propilen glikol membentuk gel dengan gelli
ng agent(pembentuk gel) yang sesuai seperti tragakan, pa
ti, derivat selulosa, polimer karboksivinil, dan magnesium-
aluminium silikat.
Bahan yang Tidak Tercampur dan
Cara Mengatasinya

• Ibuprofen
Kelarutan praktis tidak larut dalam udara, sangat mudah lar
ut dalam etanol, metanol, aseton dan dalam kloroform, suka
r larut dalam etil asetat (Ditjen POM, 1995).
• Nipagin (Metil paraben)
Bahan ini sukar larut dalam air, dalam benzen dan dalam ka
rbon tetraklorida, mudah larut dalam etanol dan dalam eter.
• HPMC (Hidroksipropil metilselulosa)
Daya larutnya yaitu dapat larut di dalam air dingin, membent
uk satu larutan koloid merekat, pada kenyatannya tidak dap
at larut di dalam kloroform, etanol (95%) dan eter.
• Karbopol (carbomer)
Karbopol merupakan basis gel yang kuat, sehingga pemggunaannya h
anya sekitar 0,5-2,0 %. Karbopol bersifat higroskopis pada temperatur
yang berlebih dapat mengakibatkan kekentalannya menurun sehingga
mengurangi stabilitas (Barel et al , 2009).
• Propilenglikol
Propilenglikol larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial, n
amun tidak dapat bercampur dengan minyak lemak.
• Trietanolamin (TEA)
Trietanolamin dapat bereaksi dengan asam mineral menjadi bentuk ga
ram kristal dan ester dengan adanya asam lemak tinggi. Zat ini harus
disimpan dalam wadah tertutup rapat karena dapat berubah warna me
njadi coklat akibat dari adanya cahaya dan udara (Anonim, 2014).
• Gliserin/ gliserol dapat campur dengan air, dan etanol (95%), praktis ti
dak larut dalam kloroform dalam eter, dan dalam minyak lemak (Anoni
m, 1985).
• Tragakan yang tidak larut terhidratasi agal lambat oleh karena itu lebih
baik jika didiamkan dahulu selama beberapa hari sebelum digunakan u
ntuk meningkatkan viskositasnya (Drutama, 2012).
Cara Pembuatan
Menurut Khristantyo (2010), pada prinsipnya metode pembuatan
sediaan semisolid dibagi menjadi dua :
• Metode pelehan (fusion)
Disini zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersamadan
diaduk sampai membentuk fasa yang homogen. Dalam hal ini p
erlu diperhatikan stabilitas zat berkhasiat terhadap suhu yang ti
nggi pada saat pelelehan.
• Trirurasi
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan di
pakai atau dengan salah satu zat pembantu, kemudian dilanjutk
an dengan penambahan basis. Dapat juga digunakan pelarut or
ganik untuk melarutkan terlebih dahulu zat aktifnya,kemudian b
aru dicampur dengan basis yang akan digunakan.
Evaluasi
• Uji Organoleptik
Dilakukan secara visual dan dilihat secara langsung bentuk,
warna, bau, dari gel yang dibuat. Gel biasanya jernih dengan
konsentrasi setengah padat (Ansel,1998).
• Uji pH
Dilakukan dengan menimbang 10 gram sediaan dilarutkan d
alam 50 mL aquadest dalam beaker glass, ditambahkan aqu
adest hingga 100 mL lalu aduk hingga merata. Larutan diuku
r pH nya dengan pH meter yang sudah distandarisasi (Sudar
madji, 1984). Ukur dengan pH meter dan catat pH yang ditun
jukkan. Hasil pengukuran menunjukan target pH pada kulit, y
aitu 4,5 – 6,5 (Naibaho, 2013).
• Uji Viskositas
Uji viskositas dilakukan dengan cara sebanyak 100 mL gel dimasukkan
ke dalam wadah berbentuk tabung lalu dipasang spindle 64. Spindle ha
rus terendam dalam sediaan uji. Viskometer dinyalakan dan dipastikan
rotor dapat berputar pada kecepatan 60 rpm. Diamati jarum penunjuk d
ari viskometer yang mengarah ke angkan pada skala viskositas lalu dic
atat dan dikalikan faktor 100 (Zuklarnanin, 2013).
• Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan cara sampel gel dioleskan pada sek
eping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, sediaan harus men
unjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasa
r (Ditjen POM,1985).
• Uji Kesukaan
Uji kesukaan dilakukan terhadap 20 orang sukarelawan dengan mengg
unakan angket. Pengujian dilakukan dengan cara sukarelawan menggu
nakan gel antiseptik dengan berbagai formulasi kemudian diminta tangg
apannya dari warna, aroma, tekstur dan kesan tidak lengket.
Formula
• Gel antiseptik tangan minyak atsiri bunga lavender (Lavandula ang
ustifolia Miller) dibuat dalam tiga formula dengan konsentrasi carbo
pol yang berbeda yaitu 0,2 (F1); 0,3(F2) dan 0,4(F3).
• Bahan yang digunakan adalah minyak atsiri bunga lavender, carbo
pol 940, gliserin, metil paraben, trietanolamin, aquadest, etanol 70
%.
• Metode Dilakukan sterilisasi alat terlebih dahulu untuk membunuh
mikroba. Cara pembuatan formula yaitu semua bahan yang diguna
kan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan formula. Pembuatan
gel antiseptik tangan dari minyak atsiri lavender dilakukan dengan
cara carbopol dilarutkan dalam 50 mL aquadest panas sampai larut
ditambah larutan metil paraben. Minyak atsiri bunga lavender dilaru
tkan dalam gliserin, dimasukkan ke dalam larutan carbopol. Trietan
olamin ditambahkan sedikit demi sedikit dengan kecepatan pengad
ukan yang lebih tinggi sampai terbentuk gel yang homogen ditamb
ah sisa aquadest.
Daftar Pustaka

Syamsuri, A. 2006. “Ilmu Resep”. Penerbit Buku Kedokteran EG


C.Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Departemen Kese
hatan Republik Indonesia. Jakarta.
Dwi P.A, dkk. Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Antis
eptik Tangan Minyak Astiri Bunga Lavender (Lavandula angustifo
lia Miller). Jurnal Ilmiah Farmasi., UNPAD., Vol 15 N0 1.
Terima Kasih…