Anda di halaman 1dari 23

ANEMIA DEFISIENSI

BESI
DIPRESENTASIKAN OLEH :
Isma Dewi Masithah
Carissa Putri Irnanda
Nancy Priscilla Bria
Nur Balqis Bt M. Azwar I.

SUPERVISOR :
dr. Djoko Heri H., Sp PD-KHOM
PENDAHULUAN
Prevalensi
tinggi di
negara
ane berkembang
26,9 40,1
mia 47% %
%

balita ibu hamil


wanita usia
subur Menstru
asi, Low
intakeBurner, 2012; Arisman, 2007
Cegah
anemia
BBLR
Tatalaksana
malais
e
anemia
Penuruna
n kognitif
Yehuda, 2010
DOKTER UMUM:
Mendiagnosis dan
melakukan

SD penatalaksanaan
anemia defisiensi
besi secara mandiri

KI dan tuntas

KKI, 2012
Distribusi Besi Dalam Tubuh Anemia defisiensi besi (ADB
anemia yang timbul akibat berkurangnya
penyediaan besi untuk eritropoesis, karena
cadangan besi kosong yang pada akhirnya
mengakibatkan pembentukan haemoglobin
berkurang,
atau akibat perdarahan menahun  kehilangan
besi, atau kebutuhan besi meningkat 
kompensasi  cadangan besi makin menurun

(sumber: Andrews, N. C., 1999. Disorderof


iron metabolism. N Engl J Med; 26: 1986-
95)
Bakta, 2009; Andrew, 1999
Keseimbangan
Fe negatif
(Iron depleted
state)
Ferritin serum
Iron deficiency
Absorpsi Fe dalam anemia
Hemoglobin
usus Anemia hipokromik
Pengecatan Fe dalam mikrositer
sumsum tulang (-)

Iron deficient
erythropoiesis
Sediaan Fe untuk
eritropoiesis
Gangguan bentuk eritrosit
(+)
Klinis (-)
Saturasi transferin , TIBC , Reseptor
transferin
ETIOLOGI
Anemia defisiensi Fe  Kemampuan absorpsi Fe
Diet mengandung Fe
Jumlah Fe
Kebutuhan Fe
1. Kebutuhan 6. Kehamilan
fisiologis 7. Malabsorpsi
2. Fe yang fetomaternal
terserap 8. Hemoglobinuria
3. Malabsorpsi Fe 9. Iatrogenik
4. Perdarahan (1 cc 10. Idiopathic blood loss
= Fe 0,5mg) 11. Latihan berlebihan
5. Faktor nutrisi
FAKTOR RISIKO

wan balita & vegetaria


ita anak n
DIAGNOSIS
1.Anamnesis
2.Pemeriksaan Fisik
3.Pemeriksan Penunjang
ANAMNESIS
Simtom/gejala : 1. Badan lemah, lesu
2. Cepat lelah
3. Mata berkunang
4. Telinga berdenging
PEMERIKSAAN FISIK
Sign/tanda : 1. Pucat (konjungtiva & bawah kuku
2. Tanda khusus
1. Koilonychias
2. Atrofi papil lidah
3. Stomatitis angularis
(cheilosis)
4. Disfagia
5. Atrofi mukosa gaster
6. Pica
7. (Anemia
Sindrom Plummer
hipokromik mikrositer,
atrofi papil lidah, disfagia)
Vinson/Paterson Kelly
MENDIAGNOSIS ANEMIA DEFISIENSI FE (Pemeriksaan
Penunjang)
I. Menentukan adanya anemia (Hb & Hct)
II. Memastikan adanya defisiensi Fe*
III. Menentukan penyebab defisiensi Fe

*ANEMIA DEFISIENSI FE :
1. ANEMIA HIPOKROMIK MIKROSITER (MCV
<80, MCHC <31%)
2.a. Salah
Serum iron <50 mg/dL, TIBC >350 mg/dL, Sat. Transferrin <15%
satu dari kriteria berikut :
(minimal 2 memenuhi)
b. Serum Ferritin <20 mg/dL
c. Pengecatan sum-sum tulang biru prusia (Perl’s stain)  hemosiderin (-)
d. Dengan pemberian sulfas ferosus 3x200mg/hari selama 4 minggu  Hb
naik >2 g/dL
PAPDI, 2015
PERHATIAN KHUSUS
Pada pasien dewasa  fokus : mencari sumber perdarahan
Pada pasien wanita  anamnesis menstruasi hingga pemeriksaan
ginekologi
Pada pasien pria  pemeriksaan feses
(direct smear, semi kuantitatif, occult blood test,
endoskopi saluran cerna atas/bawah)
TERAPI
I. Kausal/penyebab perdarahan
II. Iron replacement therapy
a. Terapi besi peroral
b. Terapi besi parenteral
c. Terapi lainnya : diet tinggi protein,
III. vitamin
Transfusi C 3x100mg
darah
TERAPI BESI PERORAL
I. First line drug: SULFAS FERROUS 3 x 200mg, ante coenam
Absorpsi besi 50 mg/hari  eritropoiesis
II. meningkat
Terapi dilanjutkan sampai 2-3x
6-12 bulan post koreksi
III. Efek samping : GASTOINTESTINAL DISTRESS

Adamson, 2012
TERAPI BESI PARENTERAL
I. Fungsi: mengembalikan kadar Hb
dan mengisi besi 500-1000 mg

Kebutuhan besi (mg) = (1 – Hb sekarang) x


BB x 2,4 + 500 atau 1000
II. Agent: Iron dextran complex, iron
sorbitol citric acid complex, iron
fenic gluconate, iron sucrose
(IM/IV pelan)
III. Efek samping: nyeri &
kehitaman pada kulit (IM), reaksi
anafilaksis (jarang), flebitis, sakit
kepala, flushing, mual, muntah,
nyeri perut, sinkop
Adamson, 2012
TRANSFUSI DARAH
INDIKASI:
1. Adanya penyakit jantung anemic dengan ancaman Payah
jantung
2. Sangat simtomatik
3. Kehamilan trimester akhir
4. Preoperasi

Sudoyo, 2009
PROGNOSIS

Bila kausa teratasi + nutrisi baik 


prognosis BAIK

PPKDI, 2014
RINGKASAN
• Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang
paling banyak dijumpai di masyarakat.
• Anemia defisiensi besi ditegakkan dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
• Anamnesis: didapatkan keluhan badan lemah,
merasa cepat lelah, mata berkunang-kunang
dan telinga berdenging.
• Pemeriksaan fisik : konjungtiva dan jaringan
dibawah kuku tampak pucat.
• Tanda khas anemia defisiensi besi : kuku
berbentuk seperti sendok (koilonychias), atrofi
papil lidah, peradangan sudut mulut (cheilosis),
disfagia, dan pica.
• Pemeriksaan penunjang diagnosis anemia ini
yaitu dengan hapusan darah, darah lengkap,
TIBC, Fe serum, dan feses.
• Anemia defisiensi dapat diterapi dengan cara
menghilangkan penyakit yang mendasari terjadinya
anemia ini dan memberikan suplemen Fe baik
peroral maupun parenteral.
• Terapi lainnya : dengan memberikan makanan yang
tinggi protein, vitamin c untuk absorbi besinya dan
juga dapat dilakukan transfusi darah.
• Prognosis : pada umumnya baik jika penyakit yang
mendasari dapat diatasi.
DAFTAR PUSTAKA
• Adamson, John W. 2012. Harrison’s : Principle o Internal Medicine 18 th Edition. New York : McGraw-Hill Companie. Hlm 848-49.

• Arisman. 2007. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC. hal.63-66.

• Bakta, I. M., Ketut Suega, Tjokorda Gde Dharmayuda. Anemia Defisiensi Besi. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setia S. Buku Ajar Penyakit
Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2009.

• Burner. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri. Jurnal Ilmu Pendidikan (Online), ( http://repository.usu.ac.id), diakses
pada tanggal 3 Agustus 2016 pukul 11.00

• Bruce M. Camitta. Nelson Textbook of Pediatric,”Anemia”. 17th edition. United State of America;Saunders;2004

• Distribusi Besi Dalam Tubuh Dewasa (sumber: Andrews, N. C., 1999. Disorderof iron metabolism. N Engl J Med; 26: 1986-95)

• Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). 2012. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta.

• Raspati H., Reniarti L., Susanah S. Buku Ajar Hematologi Onkologi Anak. “Anemia”. Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2005.

• Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II edisi V. Jakarta: Interna Publishing; 2009.

• Ikatan Dokter Indonesia. 2014. Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Hlm 76.

• Iron-deficiency anemia. American Society of Hematology. http://www.hematology.org/Patients/Anemia/Iron-Deficiency.aspx. Diakses


pada tanggal 7 Agustus 2016.

•  Yehuda S., Mostofsky DI. 2010. Iron Deficiency and Overload: From basic biology to clinical medicine. Springer Science & Business Media.
TERIMA KASIH