Anda di halaman 1dari 65

PENGAWASAN

LINGKUNGAN KERJA
Pengertian Pengawasan Lingkungan Kerja

Pengawasan Lingkungan Kerja adalah


serangkaian kegiatan pengawasan dari semua
tindakan yang dilakukan oleh pegawai
pengawas ketenagakerjaan atas pemenuhan
pelaksanaan peraturan perundang-undangan
atas objek pengawasan Lingkungan Kerja.  

Lingkungan kerja adalah istilah generik yang


mencakup identifikasi dan evaluasi faktor-faktor
lingkungan yang memberikan dampak pada
kesehatan tenaga kerja (ILO)   
FAKTOR-FAKTOR
FAKTOR-FAKTOR ANCAMAN
ANCAMAN
RESIKO
RESIKO KECELAKAAN
KECELAKAAN KERJA
KERJA

TENAGA
KERJA
PAK Kec. Kerja
KESEHATAN KESELAMATAN
APD APM
PROSES
PROSES
BAHAN ALAT
POLUSI
POLUSI
LINGKUNGAN
LINGKUNGAN
NAB
NAB
Objek pengawasan
Lingkungan Kerja meliputi :

 Faktor-faktor bahaya Lingkungan Kerja


 Hygiene Perusahaan
 Pengendalian bahaya besar
 Pestisida
 Bahan kimia berbahaya
 Sanitasi lingkungan
 Alat pelindung diri (APD)
 Limbah industri
t
Ruang Lingkup Pengawasan
Lingkungan Kerja
1. Penanganan Bahan Kimia Berbahaya.
2. Pemeriksaan Lingkungan Kerja
3. Pemeriksaan Penggunaan Pestisida
4. Pemeriksaan Limbah Industri di
tempat kerja
5. Pemeriksaan Hygiene Industri
6. Pemeriksaan Alat Pelindung Diri

ts@utps-k3
Dasar Hukum Pengawasan
Lingkungan Kerja.
 
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan
kerja pasal 2, pasal 3 ayat 1, f, g, i, j, k, l, m
pasal 5, pasal 8, pasal 9 dan pasal 14.
2. UU No. 3 tahun 1969 tentang persetujuan
Konvensi ILO No.120 mengenai Hygiene
dalam Perniagaan dan Kantor-kantor pasal 7
3. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 tahun
1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan
serta penerangan dalam tempat kerja.
4. Permenaker No. 3/Men/1985 tentang
keselamatan dan kesehatan kerja Pemakaian
asbes.
Reward Discipline

t
5. Permenaker No. 03/Men/1986 tentang syarat
keselamatan dan kesehatan di tempat kerja
yang mengelola Pestisida
6. Permenaker No. 13/Men/X/2011 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di
Tempat Kerja
7. Kepmenaker No. 187/Men/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di
Tempat Kerja.
8. Instruksi Menteri Tenaga Kerja No.
2/M/BW/BK/1984 tentang Pengesahan alat
Pelindung Diri

Reward Discipline
Dasar Hukum Pengawasan
Lingkungan Kerja.
1. UU No. 1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja
 Syarat-syarat keselamatan kerja berisi
lebih 50% berkaitan dengan syarat-
syarat kesehatan kerja
 Melindungi pekerja, orang lain dan
bahan serta alat produksi
 Mencegah dan mengurangi kecelakaan
dan PAK
 Menciptakan lingkungan kerja aman
 Pemantauan dan evaluasi lingkungan
kerja
Undang-undang No. 1 tahun
1970
Syarat-syarat Keselamatan Kerja dikaitkan dengan
Pengawasan Lingkungan Kerja (Psl. 3 ayat 1) :
 Mencegah & mengurangi kecelakaan
 Mencegah & mengurangi bahaya peledakan
 Memberikan alat2 perlindungan diri pada para pekerja
 Mencegah & mengendalikan timbul atau menyebar luasnya
suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, gas, hembusan
 Mencegah & mengendalikan timbulnya PAK baik physik
maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan
 Memperoleh penerangan yg cukup & sesuai
 Menyelenggarakan suhu & lembab udara yg baik
 Menyelenggarakan penyegaran udara yg cukup
 Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban
 Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, lingkungan,
cara & proses kerjanya
UU NO. 1 TAHUN 1970 TENTANG KESELAMATAN KERJA

Pasal 2 ayat 2 Pasal 3 ayat 1


(18 butir) (18 butir)

Aspek Safety 14 10
Aspek Health 15 9
Aspek HI 11 9
Aspek Ergonomi - 3
Aspek Environment 1 -
Dasar Hukum Pengawasan
Lingkungan Kerja.
2. UU No. 3 tahun 1969
tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120 Mengenai
Hygiene Dalam Perniagaan dan Kantor-kantor
 Ventilasi
 Penerangan
 Suhu
 Susunan tempat duduk
 Penyediaan air
 Sanitair
 Tempat duduk yang cukup dan sesuai
 Confine space
 APD dan sarana perlindungan
 Pengendalian lingkungan kerja (bising,
getaran)
 Penyediaan apotik dan pelaksanaan P3K
Asas-asas Umum UU No. 3
tahun 1969
Semua bangunan yg digunakan oleh pekerja
& perlengkapannya harus :
 Dipelihara baik & dijaga kebersihannya
 Memp. ventilasi yg cukup & sesuai (alami atau
buatan atau ke-dua2nya)
 Memp. penerangan yg cukup & sesuai
 Mempertahankan suhu yg nyaman
 Semua tempat kerja disusun serta semua
tempat duduk hrs diatur sedemikian shg tdk
ada pengaruh yg berbahaya bagi kesehatan
kerja
 Memp. persediaan air minum yg cukup & sehat
 Memp. perlengkapan utk mencuci & saniter
 Memp. tempat duduk yg cukup & sesuai
Asas-asas Umum UU No. 3 tahun
1969
Semua bangunan yg digunakan oleh pekerja &
perlengkapannya harus :
 Tersedia fasilitas yg sesuai utk mengganti, menyimpan dan
mengeringkan pakaian yg tdk dipakai pd waktu bekerja
 Memenuhi standar hygiene yg baik terutama bagi bangunan
dibawah tanah atau tdk berjendela
 Dikurangi sebanyak mungkin pengaruh2 yg berbahaya akibat
kegaduhan dan getaran2 yg mungkin terjadi
 Tersedia apotik atau pos PPPK sendiri
 Tersedia lemari, kotak atau perlengkapan PPPK

ts@utps-k3
Dasar Hukum Pengawasan
Lingkungan Kerja.
3. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 tentang
Syarat Kesehatan, Kebersihan Serta Penerangan Dalam
Tempat Kerja.
 Pencegahan kebakaran
 Pencegahan keracunan, penularan penyakit dan PAK
 Housekeeping
 Penerangan
 Suhu
 Kadar udara
 Bangunan
 Sampah
 Ruang udara dan ruang kerja
 Kakus
 Dapur
 Air,
 Penyelenggaraan makanan bagi TK
 Ergonomi dll
PMP 7 tahun 1964
Syarat Kesehatan
Setiap bangunan perusahaan
memenuhi syarat untuk : (psl 2)
 Menghindarkan kemungkinan bahaya kebakaran
dan kecelakaan
 Menghindarkan kemungkinan bahaya keracunan,
penularan peny. atau timbulnya peny. jabatan
 Memajukan kebersihan & ketertiban
 Mendpt penerangan yg cukup & memenuhi syarat
utk melakukan pekerjaan
 Mendpt suhu yg layak & peredaran udara yg cukup
 Menghindarkan gangguan debu, gas, uap dan
bauan yg tdk menyenangkan
PMP 7 tahun 1964
Syarat Kebersihan

 Halaman hrs bersih, teratur & tdk becek


 Jalan di halaman tdk blh berdebu
 Hrs cukup saluran yg kuat & bersih utk keperluan aliran air (riolering)
 Saluran air yg melintasi halaman hrs tertutup
 Sampah2 & buangan lainnya hrs terkumpul pd suatu tempat yg rapi & tertutup
 Sampah hrs dibuang pd waktunya atau dibakar
 Tempat pengumpulan sampah tdk blh menjadi sarang lalat atau binatang/serangga yg
lain
 Lantai, dinding, loteng & atap hrs selalu berada dlm keadaan terpelihara & bersih serta
tdk basah & lembab
 Tersedia tempat mandi, tempat cuci muka & tangan, tempat ludah, tempat pakaian
menurut kepentingan masing2 bagi tempat kerja yg dianggap perlu
 Lantai hrs dibersihkan pd waktu2 tertentu, sehingga selalu dlm keadaan bersih
PMP 7 tahun 1964
Syarat Kebersihan
 Lantai tempat kerja hrs terbuat dr bhn yg keras, tahan air & bhn
kimia yg merusak, datar & tdk licin
 Alat & bhn hrs selalu disusun atau disimpan secara rapi & tertib
 Susunan tsb hrs sedemikian rupa shg tdk menimbulkan bahaya
tertimpa atau mungkin menyebabkan buruh terjatuh
 Buruh/tenaga kerja dlm perusahaan2 tertentu dpt diwajibkan
memakai pakaian kerja menurut syarat2 yg ditetapkan &
disediakan oleh majikan
 Dapur, kmr makan & alat keperluan makan hrs selalu bersih &
rapi
 Dapur & kmr makan serta kakus tdk blh berhubungan langsung
dgn tempat kerja & letaknya hrs dinyatakan jelas
 Alat2 makan atau masak sesudah dipakai hrs dibersihkan dgn
sabun & air panas & dikeringkan. Alat2 tsb hrs dibuat dr bahan2
yg mudah dibersihkan
 Kakus-kakus hrs selalu bersih terutama lantai & dinding serta
dibersihkan oleh pegawai tertentu
t
PMP 7 tahun 1964
Syarat Khusus
 Gedung hrs kuat buatannya & tdk blh ada bagian yg mungkin
rubuh
 Tangga hrs kuat buatannya, aman & tdk blh licin & hrs cukup
kuat
 Setiap tempat kerja hrs dibuat & diatur sedemikian rupa,
sehingga tiap org yg bekerja dlm ruangan mendpt ruang
udara (cubic space) yg sedikit-dikitnya 10m – 15m
 Tinggi tempat kerja paling sedikit 3 m
 Luas tempat kerja hrs sedemikian rupa shg tiap pekerja paling
sedikit mendpt 2m utk bergerak secara bebas
 Atap tempat kerja hrs dibuat sedemikian rupa shg dpt
memberikan perlindungan yg baik kepada pekerja dr panas &
hujan. Atap tdk blh bocor dan berlobang
 Dinding tidak boleh basah atau lembab
PMP 7 tahun 1964
Syarat Khusus
 Makanan yg disediakan utk buruh hrs menurut menu yg memenuhi
syarat2 kesehatan
 Air yg digunakan utk makan dan minum hrs memenuhi syarat2 sbb :
 Air tdk blh berbau & hrs segar
 Air tdk blh berwarna & berasa
 Air tdk blh mengandung binatang atau bakteri yg berbahaya
 Semua pegawai yg mengerjakan & melayani makanan & minuman
hrs bebas dr salah satu penyakit menular & selalu hrs menjaga
kebersihan badannya
 Kakus-kakus hrs disediakan utk buruh & terbuat dr bhn yg kuat
 Kakus-kakus hrs terpisah utk laki-laki & perempuan sehingga tidak
memungkinkan terjadinya gangguan kesusilaan
 Dinding kakus setinggi 1,5 meter dr lantai hrs terbuat dr bhn yg
mudah dibersihkan
PMP 7 tahun 1964
Syarat Khusus
 Jumlah kakus disesuaikan juga dengan jumlah buruh laki2
atau perempuan
 Kakus yg bersih ialah yg memenuhi syarat sbb :
 Tidak blh berbau & ada kotoran yg terlhat

 Tidak blh ada lalat, nyamuk atau serangga yg lain

 Hrs selalu tersedia air bersih yg cukup

 Hrs dpt dibersihkan dgn mudah dan paling sedikit 2

– 3x sehari
Syarat Khusus Penetapan WC
Sesuai OSHA – 29 CFR
* Sanitasi – 1910.141(c)(1)(i)

 Jumlah kakus / WC adalah sebagai berikut :


 Untuk 1 – 15 orang buruh = 1 kakus
 Untuk 16 – 35 orang buruh = 2 kakus
 Untuk 36 – 55 orang buruh = 3 kakus
 Untuk 56 – 80 orang buruh = 4 kakus
 Untuk 81 – 110 orang buruh = 5 kakus
 Untuk 111 – 150 orang buruh = 6 kakus

Dan selanjutnya jika buruh lebih dari 150 orang maka


pada setiap kelipatan 40 orang ditambah 1 kakus
PMP 7 tahun 1964
Syarat Khusus
 Hrs disediakan tempat duduk bagi buruh yg bekerja sambil
duduk
 Bagi buruh yg bekerja sambil berdiri, berjalan merangkak,
jongkok, atau berbaring hrs disediakan tempat duduk pd
waktu ia membutuhkan
 Tempat duduk tsb hrs memenuhi syarat2 sbb :
 Hrs memenuhi ukuran yg sesuai dgn tubuh orang Indonesia
umumnya dan cocok utk buruh yg memakainya
 Hrs memberi kesenangan duduk & menghindari ketegangan otot2
 Hrs memudahkan gerak-gerik utk bekerja
 Hrs ada sandaran utk punggung
 Jika mempergunakan banyak tenaga kerja wanita hrs
diadakan beberapa tempat istirahat & berhias yg cukup
luas, memenuhi syarat2 kebersihan, penerangan&
peredaran udara utk dipergunakan pd waktu2 yg diperlukan
PMP 7 tahun 1964
Syarat Penerangan dlm tempat kerja
 Setiap tempat kerja hrs mendapat penerangan yg cukup utk
melakukan pekerjaan
 Jarak antara gedung2 atau bangunan2 lainnya hrs
sedemikian rupa shg tdk mengganggu masuknya cahaya
siang ketempat kerja
 Jendela2, lobang2 atau dinding gelas yg dimaksudkan utk
memasukkan cahaya hrs selalu bersih & luas seluruhnya hrs
1/6 dr pd luas lantai kerja & minimum 1/10 luas lantai
kerja serta dibuat sedemikian rupa shg memberikan
penyebaran cahaya yg merata
 Bila ada penyinaran matahari langsung menimpa para
pekerja hrs diadakan tindakan2 utk menghalangi
 Apabila jendela sbg jalan cahaya matahari, mk jarak antara
jendela & lantai tdk blh melebihi 1,2 meter
 Jendela2 hrs ditempatkan sedemikian rupa shg
dimungkinkan cahaya siang mencapai dinding tempat kerja
yg terletak diseberang
PMP 7 tahun 1964
Syarat Penerangan dlm tempat kerja
 Jika cahaya matahari tdk mencukupi atau tdk dpt dipergunakan mk hrs diadakan
penerangan dgn jln lain sbg pengganti cahaya matahari
 Jika pekerjaan dilakukan pd malam hari, mk hrs diadakan buatan yg aman & cukup
intensitasnya, tdk menyebabkan panas yg berlebihan atau merusak susunan udara
serta tdk melebihi 320 C
 Sumber cahaya yg dipergunakan hrs menghasilkan kadar penerangan yg tetap &
menyebar serata mungkin, tdk blh berkedap-kedip, tdk menyilaukan atau
menimbulkan bayangan contrast yg mengganggu buruh
 Dapur & kmr makan serta kakus-kakus hrs mendpt penerangan yg baik dan
peredaran udara yg cukup
 Tiap tempat kerja yg dipakai pd malam hari hrs menyediakan alat2 penerangan
darurat yg mempunai sumber tenaga yg bebas dr instalasi umum, ditempatkan pd
tempat2 yg tdk mungkin menimbulkan bahaya
 Jalan2 keluar spt pintu, gang2 dll hrs mempunyai alat penerangan darurat & diberi
tanda pengenal dgn cat luminous, bahan2 reflectie atau bahan2 fluorescence
PMP 7 tahun 1964
Syarat Penerangan dlm tempat kerja
 Kadar penerangan diukur dgn alat2 pengukur cahaya yg
baik setinggi tempat kerja atau setinggi perut utk
penerangan umum (+ 1 meter)
 Kekuatan penerangan ditentukan untuk :
 Darurat min. 5 lux (0,5 foot candles)
 Halaman2 & jalan2 dlm lingkungan perusahaan min. 20 lux (2
foot candles)
 Pekerjaan2 yg hanya membedakan barang kasar min. 50 lux
(5 foot candles)
 Pekerjaan2 yg membedakan barang2 kecil sepintas lalu min.
100 lux (10 foot candles)
 Pekerjaan2 yg membedakan barang2 kecil agak teliti min. 200
lux (20 foot candles)
 Pekerjaan2 pembedaan yg teliti drpd barang2 kecil min. 300
lux (30 foot candles)
 Pekerjaan membeda2kan barang2 halus dgn contras yg
sedang & dlm waktu yg lama min. 500 sampai 1000 lux (50
sampai 100 foot candles)
 Pekerjaan membeda2kan barang yg sangat halus dgn contrast
yg sangat kurang utk waktu yg lama min. 1000 lux (100 foot
cadles)
PMP 7 tahun 1964
Syarat Penerangan dlm tempat kerja
 Jenis pekerjaan2 yg hanya membedakan barang kasar spt :
 Mengerjakan bahan2 yg kasar
 Mengerjakan arang atau abu
 Menyisihkan barang2 yg besar
 Mengerjakan bahan tanah atau batu
 Gang2, tangga didlm gedung yg selalu dipakai
 Gudang2 utk menyimpan barang2 besar & kasar
 Jenis pekerjaan2 yg membedakan barang2 kecil sepintas lalu
spt :
 Mengerjakan barang2 besi & baja yg ½ selesai
 Pemasangan yg kasar
 Penggilingan padi
 Pengupasan/pengambilan & penyisihan bahan kapas
 Mengerjakan bahan2 pertanian lain
 Kamar mesin & uap
 Alat pengangkut orang & barang
 Ruang2 penerimaan & pengiriman dgn kapal
 Tempat menyimpan barang2 sedang & kecil
 Kakus, tempat mandi dan tempat kencing
PMP 7 tahun 1964
Syarat Penerangan dlm tempat kerja
 Jenis pekerjaan2 yg membedakan barang2 kecil agak teliti
spt :
 Pemasangan alat2 yg sedang (tdk besar)
 Pekerjaan mesin & bubut yg kasar
 Pemeriksaan atau percobaan kasar terhadap barang2
 Menjahit tekstil atau kulit yg berwarna muda
 Pemasukan & pengawetan bahan2 makanan dlm kaleng
 Pembungkusan daging
 Mengerjakan kayu
 Melapis perabot
 Jenis pekerjaan2 pembedaan yg teliti drpd barang2 kecil spt :
 Pekerjaan mesin yg teliti
 Pemeriksaan yg teliti
 Percobaan2 yg teliti & halus
 Pembuatan tepung
 Penyelesaian kulit & penenunan bahan2 katun atau wol
berwarna muda
 Pekerjaan kantor yg berganti2, menulis & membaca, pekerjaan
arsip & seleksi surat2
PMP 7 tahun 1964
Syarat Penerangan dlm tempat kerja
 Jenis pekerjaan2 membeda2kan barang2 halus dgn contras
yg sedang & dlm waktu yg lama spt :
 Pemasangan yg halus
 Pekerjaan2 mesin yg halus
 Pemeriksaan yg halus
 Penyemiran yg halus & pemotongan gelas kaca
 Pekerjaan kayu yg halus (ukir-ukiran)
 Menjahit bahan2 wol yg berwarna tua
 Akuntan, pemegang buku, pekerjaan steno, mengetik atau
pekerjaan kantor yg lama & teliti
 Jenis pekerjaan2 membeda2kan barang yg sangat halus
dgn contrast yg sangat kurang utk waktu yg lama spt :
 Pemasangan yg ekstra halus (arloji dll)
 Pemeriksaan yg ekstra halus (ampul obat)
 Percobaan alat2 yg ekstra halus
 Tukang mas & intan
 Penilaian & penyisihan hasil2 tembakan
 Penyusunan huruf & pemeriksaan copy dlm percetakan
 Pemeriksaan & penjahitan bahan pakaian berwarna tua
t
Syarat Penerangan dlm tempat kerja
Sesuai OSHA – 29 CFR
* Illumination. - 1926.56
 Untuk pekerjaan2 konstruksi maka ditentukan tersendiri kekuatan
penerangan yaitu :
 General construction area lighting min. 50 lux (5 foot candles)
 General construction areas, concrete placement, excavation and
waste areas, access ways, active storage areas, loading platforms,
refueling, and field maintenance areas. min. 30 lux (3 foot candles)
 Indoors: warehouses, corridors, hallways, and exitways min. 50 lux
(5 foot candles)
 Tunnels, shafts, and general underground work areas: (Exception:
minimum of 10 foot-candles is required at tunnel and shaft heading
during drilling, mucking, and scaling. Bureau of Mines approved cap
lights shall be acceptable for use in the tunnel heading) min. 50 lux
(5 foot candles)
 General construction plant and shops (e.g., batch plants, screening
plants, mechanical and electrical equipment rooms, carpenter shops,
rigging lofts and active store rooms, mess halls, and indoor toilets
and workrooms.) min. 100 lux (10 foot candles)
 First aid stations, infirmaries, and offices min. 300 lux (30 foot
candles)
t
PERMENAKER No. PER-13/Men/X/2011
* NAB Faktor Fisika & Kimia di Tempat Kerja
 NAB adl std faktor tempat kerja yg dpt diterima tenaga kerja
tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan
dlm pekerjaan utk waktu tdk melebihi 8 jam sehari/40 jam
seminggu
 Faktor fisika adl faktor didlm tempat kerja yg bersifat fisika
terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang
mikro & sinar ultra ungu
 Iklim kerja adl hsl perpaduan antara suhu, kelembaban,
kecepatan gerakan udara & panas radiasi dgn tkt
pengeluaran panas dr tubuh tenaga kerja sbg akibat
pekerjaannya
 Kebisingan adl semua suara yg tdk dikehendaki yg
bersumber dr alat2 proses produksi atau alat2 kerja yg pd
tkt tertentu dpt menimbulkan gangguan pendengaran
 Getaran adl gerakan yg teratur dr benda atau media dgn
arah bolak-balik dr kedudukan keseimbangannya
 NAB iklim kerja menggunakan parameter ISSB
 ISSB (Indeks Suhu Basah & Bola) adl parameter utk menilai
tkt iklim kerja yg merupakan hsl perhitungan antara suhu
udara kering, suhu basah alami & suhu bola
Permenaker No. Per-13/Men/X/2011
* NAB Faktor Fisika & Kimia di Tempat Kerja
 Radiasi frekuensi radio & gelombang mikro
(mikrowave) adl radiasi elektromagnetik dgn
frek. 30 khz – 300 Ghz
 Radiasi ultra ungu (ultraviolet) adl radiasi
elektromagnetik dgn panjang gelombang 180
– 400 nm
 Suhu kering (dry bulb temp) adl suhu yg
ditunjukkan oleh termometer kering
 Suhu basah alami (natural wet bulb temp)
adl suhu yg ditunjukkan oleh termometer
bola basah alami
 Suhu bola (globe temp) adl suhu yg
ditunjukkan oleh termometer bola
Permenaker No. Per-13/Men/X/2011
* NAB Faktor Fisika & Kimia di Tempat Kerja
 NAB kebisingan = 85 dBA
 NAB getaran alat kerja yg kontak langsung
maupun tdk langsung pd lengan & tangan tk = 4
m/det2
 NAB radiasi frekuensi radio & gel mikro (lht lamp
IV)
 NAB radiasi sinar ultra ungu = 0,1 mikro watt per
centimeter persegi (uw/cm2)
 Pengukuran & penilaian faktor fisika di tempat
kerja dilaksanakan oleh Pusat dan atau Balai
Hyperkes atau pihak2 lain yg ditunjuk
 Hasil pengukuran & penilaian disampaikan
kepada pengusaha atau pengurus dan Kantor
Dinas Tenaga Kerja setempat
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA &
TRANSMIGRASI
NOMOR : PER-13/MEN/X/2011, NAB IKLIM
ISBBKERJA
(0 C)

Beban Kerja
Pengaturan Waktu Kerja
Setiap Jam Ringan Sedang Berat

75 % - 100 % 31,0 28,0 -

50 % - 75 % 31,0 29,0 27,5

25 % - 50 % 32,0 30,0 29,0

0 % - 25 % 32,2 31,0 30,5


NILAI AMBANG BATAS ( NAB )

NAB. UNTUK KEBISINGAN DI


INDUSTRI MENURUT
PERMENAKERTRANS NO. 13
/MEN/X/2011 ADALAH 85 dB(A)
SELAMA 8 JAM PER-HARI ATAU
40 JAM PER MINGGU.
Waktu Pemaparan Per hari Intensitas Kebisingan dalam (dBA)

8 Jam 85
4 88
2 91
1 94

30 Menit 97
15 100
7,5 103
3,75 106
1,88 109
0,94 112

28,12 Detik 115


14,06 118
7,03 121
3,52 124
1,76 127
0,88 130
0,44 133
0,22 136
Permenakertrans No. 13/MEN/X/2011, NAB Getaran
Lengan Tangan
Jumlah Waktu Pemaparan Nilai Percepatan pada Frekuensi
Per hari kerja Dominan

Meter per detik Gravitasi


kuadrat (m/det2)
4 jam dan kurang dari 8 jam 4 0,40

2 jam dan kurang dari 4 jam 6 0,61

1 jam dan kurang dari 2 jam 8 0,81

Kurang dari 1 jam 12 1,22

Catatan : 1 Gravitasi = 9,81 m/det2

NAB Getaran yang kontak langsung maupun tidak langsung


ditetapkan = 0,5 m/det2)
Faktor-faktor Bahaya Lingkungan Kerja

Terdapat lima faktor penyebab


kecelakaan dan penyakit akibat kerja
yaitu :
1. Faktor fisika
2. Faktor kimia
3. Faktor biologi
4. Faktor fisiologi (ergonomi)
5. Faktor psikologi
Faktor-faktor Bahaya
Lingkungan Kerja
1. Faktor fisika
 Kebisingan, temperatur, cahaya,
radiasi, getaran dll
2. Faktor kimia
 Padat, cair, gas
3. Faktor biologi
 Serangga, bakteri, virus, parasit dll.
4. Faktor fisiologi (ergonomi)
 Cara kerja, alat
5. Faktor psikologi
 Upah, kerja monoton, lokasi kerja
yang terpencil dll t
Sumber bahaya lingkungan kerja
di Industri
 Temperatur : tanur, cold storage, perkantoran.
 Tekanan udara : keg. penyelaman, konstruksi.
 Penerangan : perkantoran, pekerjaan yang teliti.
 Kebisingan : konstruksi, mesin press, bubut dll.
 Radiasi : pengelasan, rumah sakit, telekomunikasi ,
kantor.
 Faktor kimia : industri kimia, tekstil, baterai, sepatu,
migas.
 Faktor biologi : makanan, kehutanan, pertanian.
 Faktor ergonomi : perkantoran, konstruksi.
 Faktor psikologi : mercusuar, pengawas gunung api,
tambang.
Faktor Fisika
1. Faktor Kebisingan
 Kebisingan, temperatur, cahaya,
radiasi, getaran dll
2. Faktor kimia
 Padat, cair, gas
3. Faktor biologi
 Serangga, bakteri, virus, parasit dll.
4. Faktor fisiologi (ergonomi)
 Cara kerja, alat
5. Faktor psikologi
 Upah, kerja monoton, lokasi kerja
yang terpencil dll
Faktor Fisika
1. Faktor Kebisingan
 Kebisingan adl bunyi yg didengar sbg suatu rangsangan
pd telinga & manakala bunyi2 tsb tdk dikehendaki
 Kualitas bunyi dtentukan oleh frekuensi dan intensitasnya
 Intensitas bunyi adl besarnya tekanan yg dipindahkan
oleh bunyi satuan desibel (dB)
 Frekuensi adl jlh getaran per detik (hertz) yaitu jlh gel yg
diterima oleh telinga setiap detiknya. Range yg bisa
didengar adl 20 s/d 20.000 hz dan frekuensi manusia
berkomunikasi adl 250 s/d 3000 hz
 Kebisingan berdasarkan sifat bunyi :
 Kebisingan continue
 Kebisingan impulsif
 Kebisingan terputus-putus
 Kebisingan impaktif
Faktor Fisika
1. Faktor Kebisingan
 Pengaruh kebisingan terhadap tenaga kerja &
lingkungan :
 Pengaruh terhadap alat pendengaran yaitu Tuli
konduktif & Tuli perseptif
 Efek kebisingan kepada daya kerja
 Alat pengukur intensitas kebisingan adl “Sound
Level Meter”
 Pengendalian kebisingan utk mengurangi tingkat
intensitas kebisingan atau lamanya pemaparan
selama kerja dgn cara :
 Menurunkan pada sumbernya dgn menempatkan alat
peredam pd sumber getaran
 Menempatkan penghalang pd jln transmissi dgn
mengisolasi mesin atau tenaga kerja
 Menggunakan APD yi sumbat telinga (ear plug) atau
tutup telinga (ear muff)
 Mengatur waktu kerja
Faktor Fisika
2. Iklim Kerja
 Kombinasi dari suhu kerja, kelembaban udara,
kecepatan gerakan udara & suhu radiasi pd suatu
tempat kerja
 Suhu udara sekitar 24 – 26 oC dengan selisih suhu
diluar & didalam tdk lebih dari 5 oC
 Faktor-faktor yg menyebabkan pertukaran panas
antara tubuh dgn sekitarnya :
 Konduksi  antara tubuh dgn benda atau lingkungan
sekitarnya melalui kontak langsung
 Konveksi  gerakan molekul2 gas/cairan dgn suhu yg
rendah
 Radiasi  energi gelombang dr kedua benda akan
saling berpengaruh
 Evaporasi/penguapan  keringat yg dihasilkan pd
permukaan kulit melalui pelepasan uap air
Faktor Fisika
2. Iklim Kerja
 Faktor yg mempengaruhi toleransi tubuh terhadap
panas
 Aklimatimasi
 Ukuran badan
 Umur
 Jenis kelamin
 Kesegaran jasmani
 Suku bangsa
 Suhu yg tinggi dpt menyebabkan penyakit a.l. heat
cramps, heat exchaustion, heat stroke dan miliaria
 Pencegahan panas dpt dilakukan dgn cara :
 Memperbaiki aliran udara atau sistem ventilasi yg lbh
sempurna
 Mereduksi tek. panas dilingkungan kerja yg ada sumber
panasnya
 Menerapkan teknologi pengendalian & teknis perlindungan
 Memelihara kesegaran jasmani
 Menyediakan air minum yg cukup
 Menyesuaikan berat ringan pekerjaan
Faktor Fisika
3. Pencahayaan
 Pencahayaan/penerangan merupakan salah satu
komponen yg dpt mempengaruhi lingkungan kerja
 Faktor yg mempengaruhi intensitas penerangan :
 Sumber cahaya  lampu pijar, lampu neon atau lampu
penerangan darurat (flourscent tube)
 Daya pantul (reflektivitas) 
 Permukaan kasar & hitam mk semua cahaya diserap
 Permukaan halus & mengkilap mk cahaya akan
dipantulkan sejajar
 Permukaan tdk rata mk cahaya akan dipantulkan
diffus
 Ketajaman penglihatan  dpengaruhi beberapa faktor
yi :
 Ukuran obyek/benda
 Cahaya pantul benda (brightness)
 Kontras – waktu pengamatan
Faktor Fisika
3. Pencahayaan
 Pencahayaan/penerangan ruangan yg baik
memungkinkan pekerja melihat pekerjaan dgn
teliti, cepat, jelas serta membantu menciptakan
lingkungan kerja yg nikmat & menyenangkan
 Sifat-sifat penerangan ditentukan oleh:
 Pembagian lumenisasi dlm lapangan penglihatan
 Pencegahan kesilauan
 Arah sinar
 Warna & panas
 Pedoman yg perlu diperhatikan :
 Permukaan dr semua bidang & obyek memp kecerahan
yg merata
 Kontras & kecerahan permukaan dr bgn pusat &
tengah bid visual tdk blh melampaui rasio 1 : 3
 Kontras bgn pusat & pelatarannya atau didlm bgn luar
dr bid visual tdk blh melampaui rasio 1 : 10
 Permukaan yg cerah hrs berada di pusat bid visual &
menggelap kearah pinggiran
 Kontras akan lbh mengganggu jika melampaui bgn
bawah atau samping bid visual dan lbh baik pd bgn
atas
Faktor Fisika
3. Pencahayaan
 Hrs dihindari jendela yg terang sekali, papan
hitam yg menempel pd dinding putih atau benda-
benda yg memantulkan/mengkilap
 Pengukuran intensitas penerangan dgn
menggunakan lux meter
 Pencegahan kesilauan dilakukan dgn :
 Pemilihan lampu yg tepat
 Penempatan sumber2 cahaya terhdp meja atau mesin
serta memperhitungkan letak jendela
 Penggunaan alat pelapis yg mengkilat atau tidak
 Penyaringan sinar matahari langsung
 Pengaruh pencahayaan terhdp kesehatan :
 Kelelahan mata  berkurang daya & efisiensi kerja
 Kelelahan mental
 Keluhan pegal didaerah mata & sakit kepala disekitar
mata
 Kerusakan indera mata
 Meningkatnya kecelakaan kerja
Faktor Fisika
4. Tekanan Udara Tinggi & Rendah
5. Getaran Mekanis
 Getaran seluruh badan (Whole Body
Vibration)
 Getaran terhadap lengan (Tool hand
vibration)
 Getaran terhadap kesehatan
 Kelainan peredaran darah & syaraf
 Kerusakan pd persendian & tulang
 Pencegahan dgn :
 Isolasi sumber getaran
 Isolasi pekerja atau operator
 Mengurangi pemaparan
 Melengkapi peralatan mekanis
 Pemeriksaan kesehatan
Faktor Kimia
1. Bahan kimia berbahaya yg dipakai dlm industri :
1. Bhn kimia yg mdh terbakar  benzene, aseton, eter &
hexan
2. Bhn kimia yg mdh meledak ammonium nitrat,
nitrogliserin
3. Bhn kimia beracun  asam klorida
4. Bhn kimia korosif  asam klorida
5. Bhn kimia yg bersifat oksidator  peroksida organik
6. Bhn kimia yg peka/reaktif terhdp air  natrium hibrida,
karbit
7. Bhn kimia yg bersifat asam kuat
8. Bhn kimia yg disimpan dlm tek tinggi spt gas nitrogen
diokside, hydrogen klorida didlm sylinder penyimpan
9. Bhn kimia yg bersifat radioaktif
2. Bentuk fisik bahan kimia
 Padat spt debu atau partikel
 Cair spt liquid
 Gas spt O2, N2, CO2, H2S
 Uap spt pelarut cat, pelarut perekat, pelarut pencuci
dipercetakan dll
Faktor Kimia
3. Sifat fisik bahan kimia :
1. Bhn bersifat partikel (awan, asap, kawat &
fume) spt :
 Perangsang (kapas, sabun)
 Toksik (partikel Pb, As,Mn)
 Penyebab fibrosisi (deu asbes, quarst)
 Penyebab demam (fume)
 Inert (Al, kapur dll)
2. Bhn non partikel (gas & uap) spt :
 Aspisian (N2, CO2)
 Perangsang (HCl, H2S)
 Racun organik & anorganik (Nikel, carbonyl)
 Bhn kimia yg mdh menguap
 Merusak alat2 tubuh
 Berefek anaestesia
 Merusak susunan darah (benzene)
 Merusak syaraf
 Iritan & bahan2 korosif terhdp jaringan
Hygiene Perusahaan
    
1. Hygiene perusahaan adalah ilmu
pengenalan, penilaian dan pengendalian
faktor-faktor bahaya, sehingga masyarakat
tenaga kerja dan masyarakat terhindar dari
efek sampingan kemajuan teknologi.

2. Konsep hygiene perusahaan terdiri dari 3


tahapan kegiatan, yaitu :
 Pengenalan lingkungan
 Penilaian lingkungan
 Pengendalian lingkungan
       
Pengenalan terhadap bahaya faktor-
faktor lingkungan kerja

Pengenalan terhadap bahaya faktor-faktor


yang ada dilingkungan kerja yang timbul
sebagai akibat penggunaan terhadap
teknologi proses produksi akan meliputi
pengetahuan dan pengertian tentang
berbagai jenis bahaya dan pengaruh atau
akibat yang dapat ditimbulkan kepada
kesehatan tenaga kerja.
Untuk Pengenalan Lingkungan
perlu mempelajari
 Flow diagram dari kegiatan proses dan operasi.
 Kondisi operasi tiap tahap dalam rangkaian
operasi dan proses.
 Bahan baku, bahan pembantu, hasil antara,
hasil samping, hasil ( produk ) dan sisa
produksi atau bahan buangan.
 Jurnal – jurnal teknik
 Keluhan dari tenaga kerja
DALAM PENGENALAN LINGKUNGAN PERLU
DIPERHATIKAN :

1. Alat – alat teknis penanggulangan apa yang


sudah tersedia / dipergunakan
2. Bentuk bahan baku yang dipergunakan dan
bagaimana digunakan
3. Jumlah orang yang terpapar dan bekerja
disetiap tahapan proses
Penilaian Lingkungan

Penilaian lingkungan dimaksudkan


untuk mengetahui secara kualitatif
tingkat bahaya dari suatu faktor bahaya
lingkungan yang timbul dengan Metoda
pengukuran, pengambilan sample serta
analisa dilaboratorium, kemudian
dibandingkan dengan Standar baku.
Manfaat dari penilaian lingkungan
adalah :

 Dasar utk menyatakan kondisi lingkungan kerja

 Penerapan teknik pengendalian dan penenggulangan


merupakan dasar utama.

 Perencanaan alat – alat penanggulangan

 Dokumen untuk inspeksi


Pengendalian Lingkungan

 Penerapan metode teknik tertentu untuk


menurunkan tingkat faktor bahaya
lingkungan sampai batas yang masih dapat
ditolerir oleh manusia dan lingkungannya
dengan Nilai Ambang Batas (NAB).

 Nilai Ambang Batas Bahan Kimia adalah


kadar rata-rata dari bahan kimia dalam
lingkungan kerja agar tenaga kerja yang
bekerja paling lama 8 jam perhari dan 40 jam
perminggu tidak mengalami gangguan
kesehatan atau gangguan kenyamanan kerja.
PERMENAKER No. 13/men/x/2011
NAB Faktor Fisika &Kimia di Udara Lingk Kerja

 Kategori :
 NAB rata2 selama jam kerja  8 jam/hari atau 40

jam/minggu dpt terpajan bhn kimia berulang-ulang tanpa


mengakibatkan gangguan kesehatan maupun PAK
 NAB batas pemaparan singkat (PSD= pemajanan singkat yg

diperkenankan)  15 menit & tdk lbh dr 4 kali pemejanan


per hari kerja tanpa menderita gangguan iritasi,
kerusakan/perubahan jaringan yg kronis serta efek narkosis
 NAB tertinggi (KTD= kadar tertinggi yg diperkenankan)
PERMENAKER No. 13/men/x/2011
NAB Faktor Fisika &Kimia di Udara Lingk Kerja

 Kegunaan NAB
 Sbg kadar standar utk perbandingan

 Sbg pedoman utk perencanaan produksi & perencanaan teknologi

pengendalian bahaya
 Menentukan substitusi bahan proses produksi terhdp bhn yg lbh

beracun dgn bhn yg kurang beracun


 Membantu menentukan diagnosis gangguan kesehatan, timbulnya

penyakit2 & hambatan2 efisiensi kerja akibat faktor kimiawi dgn


bantuan pemeriksaan biologik
METODE –METODE TEHNIS
PENGENDALIAN LINGKUNGAN

• PENGENDALIAN TEHNIS

• PENGENDALIAN ADMINISTRASI

• ALAT PELINDUNG DIRI


Pengendalian Lingkungan

 Metode pengendalian lingkungan


 Substitusi
 Ventilasi
 Perubahan proses
 Pengeluaran setempat (lokal
exhauster)
 Pemencilan proses/proteksi
perorangan
Sanitasi Lingkungan
Sanitasi adalah usaha kesehatan yang
menitikberatkan pada pengawasan terhadap
berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi
atau mungkin mempengaruhi derajat kesehatan
manusia.

Tujuan upaya sanitasi lingkungan:


1. Melakukan koreksi, yakni memperkecil dan
memodifikasi terjadinya bahaya dari lingkungan
2. Melakukan pencegahan, dalam arti
mengefisienkan pengaturan sumber-sumber
lingkungan

t
Sanitasi Lingkungan
Ruang lingkup :
1. Penyediaan air bersih dpt diminum &
cukup
2. Menjamin kebersihan penyediaan
makanan
3. Pencegahan & pembasmian serangga &
binatang mengerat
4. Ketatarumahtanggaan yg baik di industri
5. Limbah industri
6. Sarana sanitasi/kakus dan lain2
Surat Edaran Menakertrans
No. SE. 01/Men/1979
Tentang Pengadaan Kantin & Ruang Makan

• Tersedianya ruang tempat makan di


perusahaan bagi perusahaan yg
mempekerjakan buruh 50 – 200 orang
• Tersedianya kantin di perusahaan bagi
perusahaan yg mempekerjakan buruh > 200
orang
• Ketentuan tehnis dalam pelaksanaannya
harus memenuhi PMP No. 7 tahun 1964
khususnya pasal 8

ts@utps-k3
TERIMA KASIH