Anda di halaman 1dari 22

Diare Akut Enterovasif

akibat Bakteri pada


Dewasa
Prahasta Listianing Renny 102012144
Andyno Sanjaya 102013313
Dola Lonita 1020342
Andi Akhmad Riskal 102014067
Aldesy Yustika Indriani 102014076
Isalin Silvanny Homer 102014155
Elizabeth Anastasya 102014175
Intan Novia Sari 102014189 E6
Fakultas Kedokteran
Universitas Kedokteran Krida Wacana
Skenario 4
Seorang laki-laki berusia 25 tahun datang ke
poliklinik umum dengan keluhan BAB cair 5 kali
sehari sejak 2 hari yang lalu.

Rumusan Masalah
• Seorang laki-laki 25 tahun BAB cair 5 kali
sehari, sejak 2 hari yang lalu.

Hipotesis
• Laki-laki tersebut mengalami diare akibat
enteroinvansif bakteri.

#
Anamnesis
Anamnesis

Prognosis
Prognosis Pemeriksaan
Pemeriksaan Fisik
Fisik

Pemeriksaan
Pemeriksaan
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Penunjang
Penunjang

ANALISIS
MASALAH
RM (MIND
Gejala
Gejala Klinis
Klinis Working
Working Diagnosis
Diagnosis

MAP)

Differentials
Differentials
Patofisiologi
Patofisiologi Diagnosis
Diagnosis

Etiologi
Etiologi Epidemiologi
Epidemiologi

#
ANAMNESIS
PERTANYAAN
Apakah yang dikonsumsi Makan di pinggir jalan 2 hari
(makanan, minuman, obat- yang lalu.
obatan) pasien selama 6-24
jam terakhir sebelum diare?

Apakah ada mual, muntah? Ada mual dan muntah

Warna feses? Lendir? Darah? Feses bercampur darah


Nanah? Lemak?

Frekuensi BAB? Volume feses? Frekuensi BAB 5 kali sehari


Bau?

Apakah sempat berpergian


jauh?

Apakah sudah berobat?


#
PEMERIKSAAN FISIK
• KU: sakit sedang
• Kesadaran: compos mentis
• TTV:
Normal Pasien
TD 120/80 mmHg 110/80 mmHg
Frek. Nadi 60-80 kali/menit 88 kali/menit
Frek. Napas 16-20 kali/menit 18 kali/menit
Suhu 36-37oC 38oC (demam)

#
PEMERIKSAAN FISIK
• Inspeksi
• Palpasi
• Perkusi: hipertimpani
• Auskultasi: peningkatan bising
usus

#
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
• Enzyme – linked immunosorbent assay
(ELISA)
• Pembiakan tinja/kultur tinja
• Pemeriksaan mikroskopik tinja
• Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam
basa dalam darah
• Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin
• Pemeriksaan elektrolit
• Pemeriksaan intubasi duodenum
#
WORKING DIAGNOSIS
• Diare Akut e.c Enterovasif Bakteri:
karena ada demam dan darah pada
tinja.

#
Diare Akut e.c Enterovasif
Bakteri
• Bakteri menempel pada mukosa -> kerusakan
dinding usus (nekrosis dan ulserasi).
• Sifat diare: sekretorik eksudatif. Cairan
diare ini dapat tercampur dengan lendir dan
darah. Ada demam.
• Pemeriksaan lab: banyak leukosit di tinja
dan kultur tinja akan menemukan bakteri
seperti Enteroinvasive E. coli (EIEC),
Salmonella, Shigella dan Campylobacter.

#
Tanda dan gejala E.coli E.coli
Enterotoksigenik Enterovasif
Mual dan muntah - -
Panas - +
Sakit Kadang–kadang Tenesmus kolik
Gejala lain Sering distensi Hipotensi
abdomen
Sifat tinja Berair Berdarah
Volume Banyak Sedikit
Frekuensi Sering Sering
Konsistensi Cair Kental
Mukus + +
Darah - +
Bau Tinja Tidak spesifik
Warna Tidak berwarna Hijau #
DIFFERENTIALS
DIAGNOSIS
• Diare Akut e.c Enterotoksigenik
Bakteri
• Diare oleh bakteri non – invasif disebut juga diare
sekretorik atau watery diarrhea.
• Penyebab: bakteri yang memproduksi enterotoksin
yang bersifat tidak merusak mukosa. (V. cholera,
Enterotoksigenik E. coli (ETEC), C. perfringens,
Stap. aureus, B. cereus, Aeromonas spp).
• Diare cair, volume besar tanpa darah dan lendir.

#
DIFFERENTIALS
DIAGNOSIS
• Amoebiasis coli
• Infeksi usus besar akibat invasi suatu
parasit yaitu Entamoeba histolytica.
• Setelah  masa inkubasi yang pendek (1-3
hari) secara mendadak timbul nyeri  perut,
demam, dan tinja encer.
• Diare volume banyak, bau busuk yang
menusuk, ada darah.

#
EPIDEMIOLOGI

• Di Indonesia menunjukkan diare akut karena


infeksi terdapat di peringkat pertama
sampai ke empat pada pasien dewasa.
• Penyebab utama diare akut dengan sindrom
disentri di Indonesia adalah Shigella,
Salmonella, Campylobacter jejuni,
Escherichia coli, dan Entamoeba
histolytica.
• Disentri berat disebabkan Enteroinvasive
E.coli (EIEC).

#
ETIOLOGI

• Faktor infeksi • Faktor non-infeksi:


(enterovasif dan 1. Malabsorbsi
enterotoksigenik): 2. Obat-obatan
1. Virus 3. Intoksikasi Makanan
2. Bakteri 4. Riwayat Operasi
3. Protozoa 5. Faktor Psikologis
4. Helmiths

#
Vibrio E. coli E. coli
Rotavirus Salmonella Shigella
cholera enterotoksigenik enteroinvasif

Gejala
Mual & Dari
Jarang + Jarang - -
muntah permulaan
Panas + - + + - +
Tenesmus Tenesmus Kadang- Tenesmus
Sakit Tenesmus Kolik
Kolik Kolik kadang Kolik
Sifat Tinja

Sangat
Volume Sedang banyak
Sedikit Sedikit Banyak Sedikit
Hampir
Sampai Sering
Frekuensi terus Sering Sering Sering
10/ lebih menerus sekali

Konsistensi Berair Berair Berlendir Kental berair Kental

Mukus Jarang Flacks + Sering + +


Kadang-
Darah - - Sering - +
kadang
Bau telur Tidak
Bau - Anyir Tak berbau Bau tinja
busuk spesifik
Seperti air
Hijau Tidak
Warna cucian Hijau Hijau Hijau
kuning beras berwarna

Leukosit - - + + - + #
PATOFISIOLOGI

#
GEJALA KLINIS
• BAB > 3 kali dan > 200 g.
• Suhu tubuh biasanya meningkat.
• Nafsu makan menurun.
• Anoreksia.
• Vomiting/muntah.
• Feces encer, dapat disertai darah dan atau
lendir.
• Terjadi perubahan tingkah laku.
• Respirasi cepat dan dalam (pernapasan
Kussmaul).
• Penurunan tekanan darah.
• Kehilangan cairan/dehidrasi. #
PENATALAKSANAAN
• Medikamentosa • Non Medikamentosa:
1. Rehidrasi : terapi awal yang 1. Hindari makanan/minuman
harus diberikan. yang mengandung susu
2. Diet sampai diarenya
3. Obat anti diare membaik.
– Anti motilitas : loperamid 2. Makanan yang pedas atau
– Pengeras tinja : banyak mengandung lemak
dapat memperberat
atapulgite (4x2 tab/hari)
penyakitnya
4. Obat antimikroba
 Siprofloksasin 2 x 500 mg (3-
5 hari )
 Levofloksasin 1 x 500 mg (3 –
5 hari)
#
KOMPLIKASI

• Dehidrasi
• Asidosis metabolik
• Hipokalemia
• Hipoglikemia
• Gangguan gizi
• Gangguan sirkulasi
• Kejang
#
PROGNOSIS

• Prognosis baik:
Morbiditas dan mortalitas minimal.

#
KESIMPULAN

• Berdasarkan gejala, PF, PP,


hipotesis dinyatakan benar.
Pasien mengalami diare akut e.c
enterovasif bakteri.