Anda di halaman 1dari 20

SOSIAL BUDAYA

DASAR PADA KB &


KES REPRODUKSI
KELUARGA BERENCANA
Apa Itu Keluarga Berencana(KB)?
Pencanangan program keluarga berencana(KB)
pertama kali di canangkan pada tahun 1970 dengan
dibentuknya suatu badan yang mempunyai tugas
mensukseskan program tersebut. Badan tersebut
adalah badan koordinasi keluarga berencana
Nasional (BKKBN). Program keluarga berencana
merupakan sarana untuk menurunkan tingkat
fertilitas, salah satunya melalui pemakaian alat
kontrasepsi. Dengan pemakaian alat kotrasepsi ini
diharapkan akan dapat mengatur jumlah anak yang
diinginkan.(Rusli Chaniago, 2000
Pemerintah melalui BKKBN menyarankan
penggunaan alat kontrasepsi untuk
mengontrol memiliki anak. Alat kontrasepsi yang
digunakan dalam program keluarga
berencana adalah:
a. Cara mekanik kontrasepsi intra unterine
devince/ spiral kondom.
b. Cara kimiawi pil KB, suntik
TUJUAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA
(KB)
Target atau sasaran dalam program keluarga berencana adalah pasangan
usia subur yaitu pasangan usia 15-49 tahun, kemudian anggota
masyarakat, institusi dan wilayah.
Program keluarga brencana ini memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan
umum dan tujuan khusus. Tujuan umum kecil dan sejahtera adalah
secara bertahap dalam rangka perkembangan dan pembudayaan
norma keluarga kecil keluarga bahagia dan sejahtera.(BKKBN).
Adapun tujuan khususnya adalah;
1.      Penurunan tingkat kelahiran.
2.      Meningkatkan jumlah peserta KB.
3.      Mengembangkan usaha-usaha untuk membantu peningkatan
kesejahteraan ibu dan anak, memperpanjang tingkat harapan hidup,
menurunkan kematian bayi.
4.      Meningkatkan kesadaran kepada masyarakat terhadap
masalah kependudukan dalam melembagakan NKKBS.
5.      Meningkatkan dan memantapkan peran dan
tanggungjawab pasangan usia subur dan generasi muda
dalam penanggulangan masalah kependudukan.
 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUI PEMAKAI ALAT KONTRASEPSI.
Sebagai seorang tenaga kesehatan, apakah perawat atau bidan, kita tentu nya memiliki
kepentingan untuk membantu masyarakat mencapai tingkat kesehatan yang baik, salah
satunya adalah membantu masyarakat menggunakan alat kontrsepsi untuk mengontrol
memiliki anak. Hal yang penting perlu disadarioleh para tenaga kesehatan adalah bahwa
penggunaan alat kontrasepsi pada masyarakat tidak hanya ditentukan oleh faktor
kesehatan itu sendiri, akan tetapi terdapat faktor lain seperti sosial budaya, serta program
KB itu sendiri. Seringkali program kesehatan mengalami banyak kegagalan karena tidak
memperhatikan faktor luar tersebut yang memilki pengaruh yang besar.
1.      Faktor Sosial Budaya
Faktor pertama yang mempengaruhi masyarakat menggunakan alat kontrasepsi adalah faktor
sosial budaya, aspek sosial budaya yang mempengaruhi adalah:
1)      Alasan pribadi , misal nya kurang dari 20 tahun, atau lebih dari 35 tahun.
2)      Ingin menjarangkan kehamilan
3)      Ingin membatasi anak
4)      Pendidikan meningkat
2.      Faktor kesehatan
Faktor kedua yang mempengaruhi masyarakat menggunakan alat
kontrasepsi adalah faktor kesehatan. Alasan kesehatan yang
mempengaruhi adalah :
1)      Terlalu sering hamil tidak baik untuk kesehatan ibu.
3.      Faktor Program KB
Faktor ketiga yang mempengaruhi masyarakat menggunakan alat
kontrasepsi adalah faktor program KB itu sendiri, aspek program
yang mempengaruhi adalah :
Pemahaman masyarakat yang baik akan program KB
4.      Kemudahan untuk memperoleh
5.      Jarak rumah mereka dengan lembaga yang bertanggungjawab
terhadap program.
Beberapa factor yang menghambat penggunaan alat kontrasepsi adaalah
faktor sosial budaya, adat istiadat, agama, pilihan jenis kelamin,
pandangan nilai anak, pendidikan yang rendah, serta ekonomi.
1.      Faktor sosial budaya
Tidak dapat kita hindari bahwasanya faktor sosial budaya memegang
peranan penting dalam perilaku masyarakat. Perilaku masyarakat untuk
tidak menggunakan alatkontrasepsi ternyata dipengarui oleh adat
istiadat dan atau kepercayaan dalam budaya tertentu. Misalkan saja:
1)      Senang banyak anak sebagai aset.
2)      Mengawinkan anak pada usia muda untuk memperoleh keturunan
3)      Kurangnya pendidikan
4)      Ekonomi yang sulit(tidak punya uang)
5)      Pilihan jenis kelamin(laki/perempuan)
Contoh pada masyarakat bugis, harus ada anak perempuan, sehingga jika belum
memiliki anak perempuan,mereka mencoba terus memiliki anak sampai
mendapatkan anak perempuan.

2.      Agama.
Berkaitan dengan penggunaan alat kontrasepsi, terdapat kelompok masyarakat
agama yang menerima dan menolak program tersebut. Dalam konteks ini
tentunya sebagai tenaga kesehatan, kita perlu memahami pandangan
kepercayaanatau agama pada masyarakat yang menjadi sasaran program KB.
Tentunya kepercayaan agama bukanlah suatu yang dapat kita paksakan, tetapi
yang terpenting adalah kita memahaminya. Sebagai seorang tenaga kesehatan
yang memiliki tugas mensukseskan program ini, tentunya kita menjadi paham
bahwa kesuksesan suatu program kesehatan masyarakat tidak hanya di
pengarui oleh program itu sendiri, akan tetapi oleh faktor lain. Seperti sosial
budaya tersebut ditemukan oleh LIPSET dalam penelitiannya yang
menunjukkan bahwa pendapatan, pendidikan, dan status sosial merupakan
factor yang penting dalam partisipasi dalam program keluarga berencana (KB)
KESEHATAN REPRODUKSI
Kesehatan reproduksi menurut (IBG. Manuaba, 1998) adalah
kemampuan seseorang untuk dapat memanfaatkan alat
reproduksi dengan mengukur kesuburannya dapat menjalani
kehamilannya dan persalinan serta aman mendapatkan bayi
tanpa resiko apapun (Well Health Mother Baby) dan
selanjutnya mengembalikan kesehatan dalam batas normal.

Kesehatan Reproduksi menurut (Depkes RI,2000) adalah suatu


keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan
kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta
proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi
bukannya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan
bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang
aman dan memuaskan sebelum dan sesudah menikah.
Pengertian Kesehatan Reproduksi menurut (BKKBN,1996)
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sehat
mental, fisik dan kesejahteraan sosial secara utuh pada
semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi
serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang
bebas dari penyakit dan kecacatan serta dibentuk
berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi
kebutuhan spiritual dan material yang layak, bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, spiritual yang memiliki
hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antara
anggota keluarga dan antara keluarga dengan
masyarakat dan lingkungan.
Tujuan Kesehatan Reproduksi
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 Kesehatan
Reproduksi yang menjamin setiap orang berhak
memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi yang
bermutu, aman dan dapat dipertanggung jawabkan,
dimana peraturan ini juga menjamin kesehatan
perempuan dalam usia reproduksi sehingga mampu
melahirkan generasi yang sehat, berkualitas yang nantinya
berdampak pada penurunan Angka Kematian Ibu.
Didalam memberikan pelayanan Kesehatan
Reproduksi ada dua tujuan yang akan dicapai, yaitu tujuan
utama dan tujuan khusus :
Tujuan Utama
Memberikan pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif
kepada perempuan termasuk kehidupan seksual dan hak-hak
reproduksi perempuan sehingga dapat meningkatkan kemandirian
perempuan dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya
yang pada akhirnya dapat membawa pada peningkatan kualitas
kehidupannya.

Tujuan Khusus
a. Meningkatnya kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan
fungsi reproduksinya.
b. Meningkatnya hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam
menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan.
c. Meningkatnya peran dan tanggung jawab sosial pria terhadap
akibat dari perilaku seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan
kesejahteraan pasangan dan anakanaknya
SASARAN KESEHATAN REPRODUKSI
Terdapat dua sasaran Kesehatan Reproduksi
yang akan dijangkau dalam memberikan
pelayanan, yaitu sasaran utama dan sasaran
antara.
1. Sasaran Utama. Laki-laki dan perempuan usia
subur, remaja putra dan putri yang belum
menikah. Kelompok resiko: pekerja seks,
masyarakat yang termasuk keluarga
prasejahtera. Komponen Kesehatan Reproduksi
Remaja.
a. Seksualitas.
b. Beresiko/menderita HIV/AIDS.
c. Beresiko dan pengguna NAPZA.
2. Sasaran Antara Petugas kesehatan :
Dokter Ahli, Dokter Umum, Bidan,
Perawat, Pemberi Layanan Berbasis
Masyarakat.
a. Kader Kesehatan
b. Tokoh Masyarakat
c. Tokoh Agama
FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN REPRODUKSI :

1. Faktor Demografis - Ekonomi Faktor ekonomi


dapat mempengaruhi Kesehatan Reproduksi yaitu
kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan
ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan
proses reproduksi, usia pertama melakukan
hubungan seksual, usia pertama menikah, usia
pertama hamil
2. Faktor Budaya dan Lingkungan Faktor budaya dan
lingkungan yang mempengaruhi praktek tradisional
yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi,
kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi
tentang fungsi reproduksi yang membingungkan
anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan
yang lain, pandangan agama, status perempuan,
ketidaksetaraan gender, lingkungan tempat tinggal dan
cara bersosialisasi, persepsi masyarakat tentang
fungsi, hak dan tanggung jawab reproduksi individu,
serta dukungan atau komitmen politik.
3. Faktor Psikologis Sebagai contoh rasa rendah diri
(“low self esteem“), tekanan teman sebaya (“peer
pressure“), tindak kekerasan dirumah/ lingkungan
terdekat dan dampak adanya keretakan orang tua dan
remaja, depresi karena ketidak seimbangan hormonal,
rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang membeli
kebebasan secara materi
4. Faktor Biologis Faktor biologis mencakup ketidak
sempurnaaan organ reproduksi atau cacat sejak lahir,
cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular
seksual, keadaan gizi buruk kronis, anemia, radang
panggul atau adanya keganasan pada alat reproduksi.
RUANG LINGKUP KESEHATAN
REPRODUKSI

Ruang lingkup kesehatan reproduksi


mencakup keseluruhan kehidupan manusia
sejak lahir sampai mati (life cycle approach)
agar di peroleh sasaran yang pasti dan
komponen pelayanan yang jelas serta
dilaksanakan secara terpadu dan berkualitas
memperhatikan hak reproduksi perorangan
dan bertumpu pada program pelayanan yang
tersedia :
1. Konsepsi Perlakuan sama antara janin laki-
laki dan perempuan, Pelayanan ANC,
persalinan, nifas dan BBL yang aman.
2. Bayi dan Anak PemberianASI eksklusif dan
penyapihan yang layak, an pemberian
makanan dengan gizi seimbang, Imunisasi,
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan
Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM),
Pencegahan dan penanggulangan kekerasan
pada anak, Pendidikan dan kesempatan untuk
memperoleh pendidikan yang sama pada anak
laki-laki dan anak perempuan.
3. Remaja Pemberian Gizi seimbang,
Informasi Kesehatan Reproduksi yang
4. Usia Subur Pemeliharaan Kehamilan dan
pertolongan persalinan yang aman, Pencegahan
kecacatan dan kematian pada ibu dan bayi,
Menggunakan kontrasepsi untuk mengatur jarak
kelahiran dan jumlah kehamilan, Pencegahan
terhadap PMS atau HIV/AIDS, Pelayanan kesehatan
reproduksi yang berkualitas, Pencegahan
penanggulangan masalah aborsi, Deteksi dini
kanker payudara dan leher rahim, Pencegahan dan
manajemen infertilitas.
5. Usia Lanjut Perhatian terhadap
menopause/andropause, Perhatian terhadap
kemungkinan penyakit utama degeneratif termasuk
rabun, gangguan metabolisme tubuh, gangguan
morbilitas dan osteoporosis, Deteksi dini kanker
rahim dan kanker prostat.