Anda di halaman 1dari 32

MATA MERAH VISUS NORMAL

Pembimbing : dr. H. Djarizal, Sp.M.,MPH


KEPANITERAAN KLINIS SENIOR
BAGIAN MATA RSUD RADEN MATTAHER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
PENDAHULUAN

• Terjadi akibat perubahan warna bola mata


• Normalnya sklera terlihat putih
• Terjadi akibat :
• Bertambahnya asupan  Pada kasus infeksi/peradangan
• Berkurangnya pengeluaran  Terganggunya pengeluaran
seperti pada perdarahan subkonjungtiva
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUN
PUSTAKA Mata Merah dengan Visus Normal

1. Pterigium
2. Pseduopterigium
3. Pinguektela
4. Episkleritis - Skleritis
5. Konjungtivitis
6. Perdarahan subkonjungtiva
PTERIGIUM

Definisi Pterigium merupakan suatu pertumbuhan


fibrovaskular konjungtiva yang bersifatdegeratif dan
invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada
celah kelopak bagian nasal ataupun temporal
konjungtiva yang meluas ke daerah kornea

Penyebab Terkena paparan sinar matahari yang berlebihan,


Paparan berlebihan pada lingkungan yang keras
seperti debu, kotoran, panas, angin, kekeringan dan
asap, Paparan berlebihan pada alergen seperti
bahan kimia
PTERIGIUM

Gejalanya termasuk :
• Mata merah
• Mata kering
• Iritasi
• Keluar air mata (berair)
• Sensasi seperti ada sesuatu dimata
• Penglihatan yang kabur

Pterygium juga dapat dibagi ke dalam 4 derajat yaitu :

Derajat 1 : jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea.


Derajat 2 : jika sudah melewati limbus kornea tetapi tidak
lebih dari 2 mm melewati kornea.
Derajat 3 : sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi
pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (pupil
dalam keadaan normal sekitar 3 – 4 mm)
Derajat 4 : pertumbuhan pterygium melewati pupil sehingga
mengganggu penglihatan
PTERIGIUM

Observasi
• Pemeriksaan mata secara berkala,
Medikamentosa
• Dapat diberikan antibiotik untuk mencegah
infeksi, kortikosteroid untuk mengurangi
inflamasi, lubrikasi okular seperti air mata
buatan.
• Apabila penglihatan menjadi kabur, maka
pterygium harus dioperasi.
Pencegahan
• Secara umum, lindungi mata dari paparan
langsung sinar matahari, debu, dan angin,
misalnya dengan memakai kacamata hitam.
PSEUDOPTERIGIUM

Pseudopterigium merupakan perlekatan


konjungtiva dengan kornea yang cacat.
pseudopterigium sering terjadi pada proses
penyembuhan tukak kornea, sehingga konjungtiva
menutupi kornea. Letak pseudopterygium ini pada
daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses
kornea sebelumnya.
  PTERIGIUM PSEUDOPTERIGIUM
1. Lokasi Selalu di fisura palpebra Sembarang lokasi
2.Progresifitas Bisa progresif atau Selalu stasioner
stasioner
3.Riwayat Ulkus kornea (-) Ulkus kornea (+)
peny.
4.Tes Negatif Positif
sondase

Pseudopterygium tidak memerlukan


pengobatan, serta pembedahan, kecuali sangat
mengganggu visus, atau alasan kosmetik.
PINGUEKULA

Definisi
Pinguekula merupakan benjolan pada
konjungtiva bulbi yang merupakan
degenerasi hialin jaringan submukosa
konjungtiva.

Patogenesis
belum jelas, tetapi umumnya bahwa
rangsangan luar mempunyai peranan
pada timbulnya pinguekula seperti panas,
debu, sinar matahari, udara kering.
PINGUEKULA

Pengobatan
Biasanya tidak diperlukan, jika terjadi
inflamasi/ radang akut yang disebut
pinguekulitis, maka diberikan steroid.

Pencegahan
Mencegah rangsangan luar sangat
dianjurkan.
EPISKLERITIS - SKLERITIS

Episkleritis
Merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskular yang
terletak antara konjungtiva dan permukaan sklera.

Keluhannya dapat berupa :


 unilateral
 mata terasa kering
 rasa sakit yang ringan
 Mengganjal

Pengobatan yang diberikan adalah vasokonstriktor


• pada keadaan yang berat diberi kortikosteroid tetes
mata atau sistemik atau salisilat.
• Pada episkleritis penglihatan normal, dapat sembuh
sempurna
EPISKLERITIS - SKLERITIS

Skleritis
Adalah reaksi radang yang mempengaruhi bagian luar berwarna putih yang
melapisi mata (sklera).
Penyakit ini biasanya disebabkan kelainan atau penyakit sistemik.

Gejala
 Kemerahan pada sklera dan konjungtiva
 Terdapat perasaan sakit yang berat yang dapat menyebar
 Fotofobia
 Mata berair
 Penglihatan menurun
EPISKLERITIS - SKLERITIS

Klasifikasi Skleritis :

Skleritis Anterior Skleritis Posterior

Pengobatan
Pada skleritis dapat diberikan steroid atau salisilat. Apabila ada penyakit yang
mendasari, maka penyakit tersebut perlu diobati.
KONJUNGTIVITIS
Your Picture Here Your Picture Here Your Picture Here
ANATOMI KONJUNGTIVA

Konjungtiva terdiri atas 3 bagian


yaitu :
1. Konjungtiva palpebra: melapisi
permukaan posterior palpebra
dan melekat erat ke tarsus.
2. Konjungtiva bulbaris :
menutupi sklera
3. Konjungtiva forniks : peralihan
konjungtiva palpebra dan
konjungtiva bulbaris
KONJUNGTIVITIS

Konjungtivitis →
peradangan konjungtiva
yang ditandai oleh
dilatasi vaskular, infiltrasi
selular dan eksudasi
Patofisiologis
• Konjungtiva yang terinfeksi oleh mikroorganisme atau penyebab lain akan
terjadi
 kerusakan epitel
 sembab epitel
 kematian sel dan eksfoliasi
 hipertropi epitel atau granulom
 stroma kinjungtiva juga bisa sembab ( chemosis )
 hipertropi lap adenoid ( folikel )
 adanya sel radang neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit dan
selplasma menandakan adanya proses karena kuman
 sel sel radang akan pindah dari stroma ke konjungtiva
melalui epitel permukaan kemudian bergabung dengan fibrin dan lendir yan
dihasilkan sel goblet aklan membentuk eksudat konjungtiva sehingga akan
mengakibatkan kelopak mata lengketr pada waktu bangun tidur
KONJUNGTIVITIS
Gejala dan tanda Bakteri Viral Alergi Klamidial
Mata Merah ++ + + +
Kongesti +++ ++ +/++ ++
Kemosis ++ ± ±± ±
Perdarahan
subkonjungtiva ± ± ± -
Discharge Purulen Cair Cair Mukopurulen
Papil ± _ ++ ±
Folikel - + + ++
Pseudomembran ++ ++ - -
(kec.kec
Pannus - - vernal_ +

Nodul Kelenjar ±
Limfa preauricula +  + + -   
Keratitis berulang± ± - +
Demam ± ± - -
Differentiation of the common type of
conjungtivitis
KONJUNGTIVITIS
Klasifikasi Konjungtivitis Etiologi Terapi
Bakteri Diphtheric • Topikal: antibiotik spektrum luas
• Penasilin/tetrasiklin
Gonoccal • Topikal, (gentamisin, kloramfenikol)
• Sistemik sefriakson 1 gr intramuskular
sampai hari 3 kali berturut-turut
Hemophilus • Topikal: antibiotik spektrum luas
aegyptius
Moraxella • Topikal: Antibiotik spektrum luas
• 0.25-2.5% zinc sulfate (spesific terapi)
Chlamydia Trakoma Topikal : eritromisin atau tetrasiklin 2-3
minggu
Virus Epidemic Tidak ada terapi spesifik
Kera
Herpes simplex Topikal asiklovir
atau
Herpes zoster
parasit Onchocerdiais Sistemik terapi
Loa-loa Bedah untuk menghilangkan cacing diperut
I. KONJUNGTIVITIS BAKTERIALIS

• I.1. KONJUNGTIVITIS BAKTERIALIS


• I.1.a. Konjungtivitis katarrhalis :
akut
 subakut
 kronis
• I.1.b. Konjungtivitis purulenta
• I.1.c. Konjungtivitis membranacea
I.1.a.KONJUNGTIVITIS KATARRHALIS AKUT

 Dapat mengenai satu atau kedua mata


 Keluhan :
 mata sakit, perih dan panas
 mata merah.
 Tanda – tanda / Pemeriksaan :
 fornix konj superior sulit diperiksa
 kelopak mata sedikit membengkak ( chemosis )
 konjungtiva tarsalis hiperemis
 gambaran pembuluh darah konj tidak terlihat
 edema konj tarsalis, terkadang memberi gambaran kasar seperti
beludru
 adanya injeksi konjungtiva
 Sekret mukopurulen, harus diperiksa untuk mengetahui penyebabnya
I.1.b. Konjungtivitis katarrhalis
subakut
Diagnosa sulit ditegakkan
 Keluhan : hampir sama
 Tanda – tanda / Pemeriksaan :
 palpebra tak tampak tanda radang
 konj tarsalis hiperemis tapi tak seberat akut
 gambaran pembuluh darah masih dapat dilihat
 injeksi konjungtiva
 Etiologi :
 lanjutan conjungtivitis katarrhalis akut
 Infeksi Haemophylus influenzae
 Terapi : sama seperti konjungtivitis
katarrhalis
I.1.c. Konjungtivitis Katarrhalis Kronis

 Biasanya keluhan nya tak hebat shg penderita tidak


segera ke dokter,ketika tidak mau sembuh2 baru ke dokter
( ber - ulang 2 )
 Etiologi
 lanjutan bentuk akut
 Neisseria catarrhalis
 Movox Axenfeld diplobacillus
 Tanda – tanda/pemeriksaan
tak begitu nyata
Palpebra tak jelas tanda radang
Conjungtiva tarsalis sedikit hiperemis
Gambaran pemb darah masih terlihat
Injeksi conjungtiva
Sekret mukopurulent
I.2. KONJUNGTIVITIS PURULENTA
 Diagnosa mudah ditegakkan
 Tanda – tanda conjungtivitis akut
 Sekret yang purulent warna kuning kehijauan
 sering kelopak mata menutup terus
 kalau dibuka paksa maka sekret meningkat
 Etiologi ;
 paling sering oleh Gonococcus, ok itu sering disebut
Conjungtivitis gonnorhoica
 Ada 3 stadium :
 stadium infiltratif
 stadium suppuratif
 stadium convalescens
I.2. KONJUNGTIVITIS PURULENTA

a. Stadium Infiltratif :
 Kelopak mata bengkak, hyperemis
 Mata sukar dibuka
 Conj tarsalis hiperemis hebat,oedema(chemosis )
 Conj bulbi , injeksi conj dan oedema
 Sekret masih serous
 Biasanya berlangsung 1 - 3 hari
b. Stadium Suppurativa :
 Sekret purulent
 Pembengkakaqn kelopak mata berkurang
 Chemosis berkurang dan mata mudah dibuka
 Conj tarsalis mudah berdarah, shg bila sering dimanipulasi akan terlihat campuran
pus dan darah
 Kadang terdapat komplikasi kornea
I. 2 KONJUNGTIVITIS PURULENTA

C.Stadium Convalecens
 palpebra tidak edema lagi
Conjungtiva tarsalis masih hiperemis
Masih ada injeksi conjungtiva
Chemosis tak ada lagi
Sekret berkurang banyak
Mungkinada komplikasi pada cornea
TERAPI :
Periksa sekret dan cari penyebab
Jika bayi sebaiknya dirawat
Isolasi krn dapat menular
Berikan antibiotik
I.3. KONJUNGTIVITIS
MEMBRANACEA
 ditandai dengan adanya membrana ( suatu masa putih melekat pada
conjungtiva tarsalis/ bulbi/ fornices dan sulit diangkat , dan bila dipaksa akan
berdarah
Merupakan koagulasi dan nekrosis epitel konjungtiva
Yang perlu diperhatikan apakah penederita panas, karena sebagai penyebab
mungkin C. Diphtheriae yang dapat primer di mata atau sekunder sudah ada
di tenggorokan
Perlu dilakukan pemeriksaan kuman pada membran tadi, karena kuman
diphteri msangat toksis
Penyebab lain dari conjungtivitis membranacea adalah streptococcus b
hemoliticus..
Conjungtiviitis membranacea dapat menyertai Stephen johson syndrome (
kelainan kulit, mukosa kulit,genitalia dan kelainan mata )
2. KONJUNGTIVITIS VIRAL
Umumnya bermanifestasi sebagai
conjungtivitis follicularis acut
Follikel adalah tonjolan bulat berwarna
abu-abu, permukaan landai dan bila
diperhatikan terlihat pembuluh darah dari
perifer ke sentral, besarnya 1 – 2 mm
Folikel terdiri dari kumpulan / infiltrasi
limfosit dibawah epitel
PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVA

Definisi
Pembuluh darah pada konjungtiva yang rapuh dan pecah yang mengakibatkan
perdarahan subkonjungtiva (daerah dibawah konjungtiva) . Tampak sebagai patch merah terang
(paling banyak) atau merah gelap.

Etiologi
1.  Spontan/idiopatik biasanya yang ruptur adalah pembuluh darah konjungtiva.
2.  Batuk, berusaha, bersin, muntah.
3.  Hipertensi. Pembuluh darah konjungtiva merupakan pembuluh darah yang rapuh,sehingga
jika ada kenaikan tekanan mudah ruptur sehingga menyebabkan perdarahan subkonjungtiva.
4.  Gangguan perdarahan yang diakibatkanoleh penyakit hati, diabetes, SLE, dan kekurangan
vitamin C, gangguan faktor pembekuan.
5.  Penggunaan antibiotik, NSAID, steroid, vitamin D, kontrasepsi.
6.  Infeksi sistemik yang menyebabkan demam seperti meningococcal septicemia, scarlet fever,
typhoid fever, cholera, rickettsia, malaria, dan virus (misal influenza, smallpox, measles, yellow
fever, sandfly fever).
7.  Trauma.
PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVA

Tanda dan Gejala

Pasien datang dengan keluhan matanya yang bagian putih merah, pusing, berair, dalam
waktu 24 jam sejak munculnya warna merah, bentuknya semakin membesar, kemudian
mengecil, awalnya merah cerah lama-lama berwarna agak gelap . Hal yang harus ditanyakan
adalah adanya riwayat trauma, mengangkat benda berat, batuk kronis, hipertensi.
 
Tanda yang tampak pada pemeriksaan antara lain:
Tampak adanya perdarahan di sklera dengan warna merah terang (tipis) atau merah tua
(tebal).

Pengobatan
Perdarahan subkonjungtiva sebenarnya tidak memerlukan pengobatan karena darah
akan terabsorbsi dengan baik selama 3 -4 minggu. Tetapi untuk mencegah perdarahan yang
semakin meluas beberapa dokter memberikan vasacon (vasokonstriktor) dan multivitamin.
Airmata buatan untuk iritasi ringan dan mengobati faktor risikonya untuk mencegah risiko
perdarahan berulang.
 
TERIMA KASIH