Anda di halaman 1dari 22

PARADIGMA BARU

PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHAN
Dalam perspektif Undang-Undang Administrasi Pemerintahan
dan Kaitannya Dengan Perkembangan Hukum Acara Peradilan Tata usaha negara

Ditulis oleh:
Tiyo Prihantiyono, SH.
Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan  menjamin hak-
hak dasar dan memberikan
pelindungan kepada Warga
Masyarakat serta menjamin
penyelenggaraan tugas-tugas
negara sebagaimana dituntut
oleh suatu negara hukum
sesuai dengan Pasal 27 ayat
(1), Pasal 28 D ayat (3), Pasal
28 F, dan Pasal 28 I ayat (2)
Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
menggunakan wewenang harus mengacu pada
asas-asas umum
pemerintahan yang baik dan berdasarkan
ketentuan peraturan
perundang-undangan;
2.   bahwa untuk menyelesaikan permasalahan dalam

penyelenggaraan pemerintahan, pengaturan


mengenai
administrasi pemerintahandiharapkan dapat
menjadi solusi
dalam memberikan pelindungan hukum, baik bagi
warga
masyarakat maupun pejabat pemerintahan;
3.   bahwa untuk mewujudkan pemerintahan yang
baik, khususnya
bagi pejabat pemerintahan, undang-undang
tentang administrasi
pemerintahanmenjadi landasan hukum yang
dibutuhkan guna
Administrasi
Pemerintahan;
b. menciptakan kepastian hukum;
c. mencegah terjadinya penyalahgunaan
Wewenang;
d. menjamin akuntabilitas Badan
dan/atau Pejabat
Pemerintahan;
e. memberikan pelindungan hukum
kepada Warga
Masyarakat dan aparatur
pemerintahan;
f.   melaksanakan ketentuan peraturan
perundang-
undangan dan menerapkan AUPB; dan
g.  memberikan pelayanan yang sebaik-
menyelenggarakan Fungsi Pemerintahan
dalam lingkup
lembaga eksekutif;
b.  Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang
menyelenggarakan
Fungsi Pemerintahan dalam lingkup lembaga
yudikatif;
c.  Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang
menyelenggarakan
Fungsi Pemerintahan dalam lingkup lembaga
legislatif; dan
d.  Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan lainnya
yang
menyelenggarakanFungsi Pemerintahan yang
disebutkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun
1945 dan/atau undangundang.
Sistem dan prosedur
penyelenggaraan tugas
pemerintahan dan pembangunan
harus diatur dalam undang-undang
Oleh karena itu diperlukan peraturan yang
dapat mengarahkan penyelenggaraan
Pemerintahan menjadi lebih sesuai dengan
harapan dan kebutuhan masyarakat (citizen
friendly), guna memberikan landasan dan
pedoman bagi Badan dan/atau Pejabat
Pemerintahan dalam menjalankan tugas
penyelenggaraan pemerintahan.
Secara kontruksi hukum UU No 30 tahun
2014 adalah hukum materil dari Hukum Tata
Usaha Negara
Artinya warga masyarakat juga dapat
mengajukan gugatan terhadap
Keputusan dan/atau Tindakan Badan
dan/atau Pejabat Pemerintahan kepada
Peradilan Tata Usaha Negara, karena
Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan merupakan hukum
materiil dari sistem Peradilan Tata Usaha
Negara.
Secara hak konsutusional keberadaan
Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan mengaktualisasikan secara
khusus norma konstitusi hubungan antara
negara dan Warga
Maka pengaturan Masyarakat
Administrasi Pemerintahan
           
dalam Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan merupakan instrumen penting
dari negara hukum yang demokratis, dimana
Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan
dan/atau dilakukan oleh Badan dan/atau
Pejabat Pemerintahan atau penyelenggara
negara lainnya yang meliputi lembaga-
lembaga di luar eksekutif, yudikatif, dan
legislatif yang menyelenggarakan fungsi
pemerintahan yang memungkinkan untuk diuji
melalui Pengadilan.
Tugas pemerintahan adalah untuk
mewujudkan tujuan negara sebagaimana
dirumuskan dalam pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 dan tugas tersebut
merupakan tugashukum
Secara konstruksi yang sangat luas Undang-
keberadaan
Undang Nomor 30 Tahun 2014 dimaksudkan
sebagai payung hukum bagi penyelenggaraan
pemerintahan, tetapi juga sebagai instrumen
untuk meningkatkan kualitas pelayanan
pemerintahan kepada masyarakat sehingga
keberadaan Undang-Undang tersebut benar-
benar dapat mewujudkan pemerintahan yang
baik bagi semua Badan atau Pejabat
Pemerintahan di Pusat dan Daerah
Warga Masyarakat tidak lagi hanya
menjadi objek, melainkan subjek yang
aktif terlibat dalam penyelenggaraan
Pemerintahan.
Dalam rangka memberikan jaminan
pelindungan kepada setiap Warga
Masyarakat, maka Undang-Undang
Administrasi Pemerintahan
memungkinkan Warga Masyarakat untuk
mengajukan keberatan dan banding
terhadap Keputusan dan/atau tindakan,
kepada Badan dan/atau Pejabat
Pemerintahan atau Atasan Pejabat yang
bersangkutan
Keberadaan UU No 30 Tahun 2014
hakekatnya merupakan implementasi
Dengan demikian dapat diartikan bahwa
nilai-nilai ideal kekuasaan
penyelenggaraan dari sebuah negara
negara hukum
harus lebih
banyak berpihak kepada warganya, karena
undang-Undang Administrasi Pemerintahan
diperlukan dalam rangka memberikan jaminan
kepada Warga Masyarakat yang semula sebagai
objek menjadi subjek dalam sebuah negara hukum
yang merupakan bagian dari perwujudan
kedaulatan rakyat. Kedaulatan Warga Masyarakat
dalam sebuah negara tidak dengan sendirinya
dapat terwujud. Pengaturan Administrasi
Pemerintahan dalam Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan menjamin bahwa Keputusan
dan/atau Tindakan Badan dan/atau Pejabat
Pemerintahan terhadap Warga Masyarakat tidak
dapat dilakukan dengan semena-mena, yang
artinya warga masyarakat tidak akan mudah
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014
 merupakan transformasi dari asas-asas
umum yang baik.
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014
 merupakan transformasi dari asas-asas umum
yang baik yang telah dipraktikkan selama
berpuluh-puluh tahun dalam penyelenggaraan
Pemerintahan, dan dikonkretkan ke dalam
norma hukum yang mengikat. Asas-asas umum
yang baik akan terus berkembang, sesuai
dengan perkembangan dan dinamika
masyarakat dalam sebuah negara hukum.
Karena itu penormaan asas ke dalam Undang-
Undang berpijak pada asas-asas yang
berkembang dan telah menjadi dasar dalam
penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia
selama ini
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 menjadi
dasar hukum dalam penyelenggaraan
pemerintahan di dalam upaya meningkatkan
pemerintahan yang baik (good governance)
Undang-Undang Administrasi Pemerintahan sebagai
upaya untuk mencegah praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Undang-Undang Administrasi Pemerintahan
harus mampu menciptakan birokrasi yang semakin baik,
transparan, dan efisien. Secara konsepsional, bahwa
pengaturan terhadap Administrasi Pemerintahan pada
dasarnya adalah upaya untuk membangun prinsip-
prinsip pokok, pola pikir, sikap, perilaku, budaya dan
pola tindak administrasi yang demokratis, objektif, dan
profesional dalam rangka menciptakan keadilan dan
kepastian hukum. Selain itu Undang-Undang
Administrasi Pemerintahan  merupakan keseluruhan
upaya untuk mengatur kembali Keputusan dan/atau
Tindakan Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan asas-asas umum pemerintahan yang baik.
UU No 30 Tahun 2014 sangat mendasar
dan memperluas administrasi
Pemerintahan, karena lingkupnya tidak
hanya di eskekutif, tetapi juga yudikatif
dan legislatif (Pasal 4 UU Nomor 30 Tahun
2014).
Sebagai contoh, gugurnya kapasitas penyidik dalam
menilai suatu perbuatan termasuk dalam ranah
penyalahgunaan wewenang karena telah beralih
kepada Pengadilan Tata Usaha Negara untuk diuji
terlebih dahulu. Hal tersebut seiring dengan telah
diundangkannya UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan pada tanggal 17
Oktober 2014, yang diperkuat dengan bunyi
ketentuan Pasal 21 ayat (1) UU Administasi
Pemerintahan, yaitu:
Pengadilan berwenang menerima, memeriksa, dan
memutuskan ada atau tidak ada unsur
penyalahgunaan Wewenang yang dilakukan oleh
Pejabat Pemerintahan
kewenangan” sebagaimana tersebut dalam
Pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diartikan
memiliki pengertian yang sama dengan
“penyalahgunaan kewenangan” sebagaimana
disebut dalam Pasal 21 ayat (1) UU RI Nomor
30 Tahun 2014 tentang Administrasi
Pemerintahan, atau lebih jauh lagi bahwa
ketentuan dalam Pasal 21 ayat (1) UU RI
Nomor 30 Tahun 2014 tersebut dianggap telah
mencabut kewenangan yang dimiliki penyidik
dalam melakukan penyidikan dalam rangka
mengetahui apakah telah terjadi
penyalahgunaan wewenang yang dilakukan
oleh seorang tersangka selaku pejabat
pemerintahan yang mana menurut hal tersebut
seharusnya menjadi objek untuk diuji terlebih
dahulu di Peradilan Tata Usaha Negara.
Keterkaitan tersebut menimbulkan
kesulitan dalam membedakan
kapan seorang aparatur negara itu
melakukanperbuatan melawan
hukum yang masuk dalam ruang
lingkup hukum pidana dan kapan
dapat dikatakan
melakukan penyalahgunaan
wewenang yang masuk dalam
ruang lingkup hukum administrasi
negara.
(specialialiteit beginsel) mengandung makna
bahwa setiap kewenangan memiliki tujuan
tertentu. Penyimpangan terhadap asas ini akan
melahirkan penyalahgunaan kewenangan
(detournement de pouvoir). Parameter
peraturan perundang-undangan maupun asas-
asas umum pemerintahan yang baik
dipergunakan untuk membuktikan
instrumen atau modus penyalahgunaan
kewenangan (penyalahgunaan kewenangan
dalam Pasal 3 UUPTPK). Sedangkan
penyalahgunaan kewenangan baru dapat
diklasifikasikan sebagai tindak pidana apabila
berimplikasi terhadap kerugian negara atau
perekonomian negara (kecuali untuk tindak
pidana korupsi suap, gratifikasi, dan
pemerasan), tersangka mendapat keuntungan,
masyarakat tidak dilayani, dan perbuatan
tersebut merupakan tindakan tercela.
prinsip “personal responsibility” yang artinya
tanggung jawab pidana adalah tanggung jawab
pribadi. Hal ini secara langsung telah memberi
garis batas yang jelas dalam hal ditemukan
adanya “wilayah abu-abu” dalam peririsan
antara hukum administrasi dengan hukum
pidana. Pada hukum administrasi berlaku prinsip
pertanggungjawaban jabatan (liability jabatan),
sedangkan dalam hukum pidana berlaku prinsip
pertanggungjawaban pribadi (personal
responsibility). Dalam hal ini penyalahgunaan
wewenang yang dilakukan oleh aparatur negara
dengan tujuan-tujuan yang tidak dibenarkan dan
khususnya untuk tindak pidana korupsi
penyalahgunaan wewenang tersebut
mengakibatkan kerugian negara atau
perekonomian negara maka hal tersebut
merupakan perbuatan melawan hukum yang
dipertanggung jawabkan secara pribadi dan
Pada akhirnya, berujung pada kompetensi  
(kewenangan)   suatu   badan   pengadilan   untuk
mengadili suatu perkaradapat dibedakan
atas kompetensi relatif dan kompetensi  absolut. 
Kompetensi  relatif  berhubungan  dengan
kewenangan pengadilan untuk mengadili suatu
perkara sesuai dengan wilayah hukumnya. 
Sedangkan
kompetensi absolut adalah kewenangan
pengadilan untuk mengadili suatu perkara
menurut obyek, materi atau pokok sengketa atau
wewenang badan pengadilan dalam memeriksa
jenis perkara tertentu yang secara mutlak tidak
dapat diperiksa oleh badan pengadilan dalam
lingkungan pengadilan lain.
Sehingga, kompetensi absolut atau kewenangan
mutlak memberi jawaban atas pertanyaan:
peradilan apa yang berwenang mengadili suatu
perkara tertentu. 
Kehadiran Undang-undang No.30 Tahun 2014
tentang Administrasi Pemerintahan yang
disahkan pada tanggal 17 Oktober 2014, telah
membawa perubahan yang signifikan terhadap
kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara,
karena kompetensi absolut Peradilan Tata
Usaha Negara yang semula terbatas, menjadi
diperluas.  Pengertian Keputusan dan cakupan
Keputusan dalam Undang-undang No. 30 Tahun
2014 lebih luas dari Keputusan sebagai obyek
sengketa Peradilan Tata Usaha Negara menurut
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara
Peradilan Tata Usaha Negara

Perubahan yang terjadi dengan diundangkannya UU


Administarsi Pemerintahan, adalah menyangkut hal-hal
sebagai berikut:
1.    Perluasan Pemaknaan Keputusan TUN (pasal 1 angka 7
UU AP)
2.    Kompetensi Peradilan TUN terhadap Tindakan
administrasi
pemerintahan  /tindakan factual pejabat TUN. (pasal 1
angka 8 UUAP).
3.    Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara  terhadap
Pengujian tentang
ada atau tidaknya penyalah gunaan wewenang dalam
penerbitan
Keputusan Tata Usaha Negara. ( Pasal 21 UU AP)
4.    Kompetensi Peratun untuk mengadili/mengabulkan
tuntutan ganti rugi,
tanpa pembatasan jumlah tertentu.
5.    Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negata Tingkat satu
untuk mengadili
gugatan pasca Upaya Administratif .
6.    Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara untuk
Terima
kasih…