Anda di halaman 1dari 55

SMA NEGERI BANYUMAS

MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Drs.SLAMET RIYADI
Guru PKn SMA N BANYUMAS
TH.PEL.2017/2018
Email : riyadismuba@ymail.com
TELP : 081 391 447 278
Kasus-kasus pelanggaran hak asasi
manusia dalam prespektif Pancasila.
1. Konsep Hak dan Kewajiban Asasi Manusia
2. Substansi Hak dan Kewajiban Asasi Manusia
dalam Pancasila
3. Kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia
4. Upaya Penegakan Hak Asasi Manusia
DASAR PENEGAKKAN HAM
Bahwa manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa yang mengemban tugas mengelola
dan memelihara alam semesta dengan penuh
ketaqwaan dan penuh tanggung jawab untuk
kesejahteraan umat manusia, oleh penciptaNya
dianugerahi hak asasi untuk menjamin keberadaan
harkat dan martabat kemuliaan dirinya serta
keharmonisan lingkungannya;
bahwa
bahwahakhakasasi
asasimanusia
manusiamerupakan
merupakanhak hakdasar
dasaryang
yangsecara
secara
kodrati
kodrati melekat
melekat pada
pada diri
diri manusia,
manusia, bersifat
bersifat universal
universal dan
dan
langgeng,
langgeng, oleh
oleh karena
karena ituitu harus
harus dilindungi,
dilindungi, dihormati,
dihormati,
dipertahankan,
dipertahankan, dandan tidak
tidak boleh
boleh diabaikan,
diabaikan, dikurangi,
dikurangi, atau
atau
dirampas
dirampasoleh
olehsiapapun;
siapapun;
Bahwa
Bahwaselain
selainhak
hakasasi,
asasi,manusia
manusiajugajugamempunyai
mempunyaikewajiban
kewajiban
dasar
dasar antara
antara manusia
manusia yang
yang satu
satu terhadap
terhadap yang
yang lain
lain dan
dan
terhadap
terhadap masyarakat
masyarakat secara
secara keseluruhan
keseluruhan dalam
dalam kehidupan
kehidupan
bermasyarakat,
bermasyarakat,berbangsa,
berbangsa,dan danbernegara;
bernegara;
bahwa
bahwabangsa
bangsaIndonesia
Indonesiasebagai
sebagaianggota
anggotaPerserikatan
Perserikatan
Bangsa-Bangsa
Bangsa-Bangsamengemban
mengembantanggung
tanggungjawab
jawabmoral
moraldan
dan
hukum
hukumuntuk
untukmenjunjung
menjunjungtinggi
tinggidan
danmelaksanakan
melaksanakan
Deklarasi
DeklarasiUniversal
Universaltentang
tentangHak
HakAsasi
AsasiManusia
Manusiayang
yang
ditetapkan
ditetapkanoleh
olehPerserikatan
PerserikatanBangsa-Bangsa,
Bangsa-Bangsa,serta
serta
berbagai
berbagaiinstrumen
instrumeninternasional
internasionallainnya
lainnyamengenai
mengenaihak
hak
asasi
asasimanusia
manusiayang
yangtelah
telahditerima
diterimaoleh
olehnegara
negaraRepublik
Republik
Indonesia;
Indonesia;
PENGERTIAN HAM

Hak
Hak Asasi
Asasi Manusia
Manusia adalah
adalah seperangkat
seperangkat hak
hak yang
yang
melekat
melekat pada
pada hakikat
hakikat dan
dan keberadaan
keberadaan manusia
manusia
sebagai
sebagai mahluk
mahluk Tuhan
Tuhan Yang
Yang Maha
Maha EsaEsa dan
dan
merupakan
merupakan anugerahNya
anugerahNya yangyang wajib
wajib dihormati,
dihormati,
dijunjung
dijunjungtinggi
tinggidan
dandilindungi
dilindungioleh
olehnegara,
negara,hukum,
hukum,
Pemerintah,
Pemerintah, dandan setiap
setiap orang
orang demi
demi kehormatan
kehormatan
serta
sertaperlindungan
perlindunganharkat
harkatdan
danmartabat
martabatmanusia.
manusia.
KEWAJIBAN ASASI MANUSIA

Kewajiban
Kewajiban dasardasar manusia
manusia adalah
adalah
seperangkat
seperangkat kewajiban
kewajiban yang
yang apabila
apabila
tidak
tidak dilaksanakan,
dilaksanakan, tidak
tidak memungkinkan
memungkinkan
terlaksana
terlaksana dandan tegaknya
tegaknya hak
hak asasi
asasi
manusia.
manusia.
Diskriminasi
adalah
adalah setiap
setiap pembatasan,
pembatasan, pelecehan,
pelecehan, atauatau pengucilan
pengucilan
yang
yang langsung
langsung ataupun
ataupun taktak langsung
langsung didasarkan
didasarkan padapada
pembedaan
pembedaan manusia
manusia atas
atas dasar
dasar agama,
agama, suku,
suku, ras,
ras, etnik,
etnik,
kelompok,
kelompok, golongan,
golongan, status
status sosial,
sosial, status
status ekonomi,
ekonomi, jenis
jenis
kelamin,
kelamin, bahasa,
bahasa, keyakinan
keyakinan politik,
politik, yang
yang berakibat
berakibat
pengurangan,
pengurangan, penyimpangan
penyimpangan atau atau penghapusan
penghapusan
pengakuan,
pengakuan, pelaksanaan
pelaksanaan atauatau penggunaan
penggunaan hak hak asasi
asasi
manusia
manusia dan
dan kebebasan
kebebasan dasar
dasar dalam
dalam kehidupan
kehidupan baik baik
individual
individual maupun
maupun kolektif
kolektif dalam
dalam bidang
bidang politik,
politik,
ekonomi,
ekonomi, hukum,
hukum, sosial,
sosial, budaya,
budaya, dandan aspek
aspek kehidupan
kehidupan
Penyiksaan
adalah
adalah setiap
setiap perbuatan
perbuatan yang yang dilakukan
dilakukan dengan
dengan sengaja,
sengaja,
sehingga
sehingga menimbulkan
menimbulkan rasa rasa sakit
sakit atau
atau penderitaan
penderitaan yang
yang hebat,
hebat,
baik
baikjasmani
jasmanimaupun
maupunrohani,
rohani,pada
padaseseorang
seseoranguntuk
untukmemperoleh
memperoleh
pengakuan
pengakuan atauatau keterangan
keterangan daridari seseorang
seseorang atau
atau dari
dari orang
orang
ketiga,
ketiga,dengan
denganmenghukumnya
menghukumnyaatas atassuatu
suatuperbuatan
perbuatanyang
yangtelah
telah
dilakukan
dilakukanatau
ataudiduga
didugatelah
telahdilakukan
dilakukanoleholehseseorang
seseorangatau
atauorang
orang
ketiga,
ketiga, atau
atau mengancam
mengancam atau atau memaksa
memaksa seseorang
seseorang atau
atau orang
orang
ketiga,
ketiga, atau
atau untuk
untuk suatu
suatu alasan
alasan yang
yang didasarkan
didasarkan pada
pada setiap
setiap
bentuk
bentukdiskriminasi,
diskriminasi,apabila
apabilarasa
rasasakit
sakitatau
ataupenderitaan
penderitaantersebut
tersebut
ditimbulkan
ditimbulkan oleh,
oleh, atas
atas hasutan
hasutan dari,
dari, dengan
dengan persetujuan,
persetujuan, atau
atau
sepengetahuan
sepengetahuansiapapun
siapapundandanatau
ataupejabat
pejabatpublik.
publik.
Anak adalah setiap manusia
yang berusia di bawah 18
(delapan belas) tahun dan
belum menikah, termasuk anak
yang masih dalam kandungan
apabila hal tersebut adalah
demi kepentingannya
Pelanggaran hak asasi manusia
menurut UU No 39 Tahun 1999, Pasal 1 ayat
(6)
adalah
adalah setiap
setiap perbuatan
perbuatan seseorang
seseorang atau
atau kelompok
kelompok
orang
orang termasuk
termasuk aparat
aparat negara
negara baik
baik disengaja
disengaja maupun
maupun
tidak
tidak disengaja
disengaja atau
atau kelalaian
kelalaian yang
yang secara
secara melawan
melawan
hukum
hukummengurangi,
mengurangi,menghalangi,
menghalangi,membatasi,
membatasi,dan danatau
atau
mencabut
mencabut hak
hak asasi
asasi manusia
manusia seseorang
seseorang atau
atau kelompok
kelompok
orang
orang yang
yang dijamin
dijamin oleh
oleh Undang-undang
Undang-undang ini,ini, dan
dan tidak
tidak
mendapatkan,
mendapatkan, atau atau dikhawatirkan
dikhawatirkan tidak tidak akanakan
memperoleh
memperoleh penyelesaian
penyelesaian hukum
hukum yang
yang adil
adil dan
dan benar,
benar,
berdasarkan
berdasarkanmekanisme
mekanismehukum
hukumyang
yangberlaku.
berlaku.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
yang selanjutnya disebut Komnas HAM adalah
lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat
dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi
melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan,
pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia
Menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok
bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara:
1.Membunuh anggota kelompok;
2.Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap
anggota-anggota kelompok;
3.Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan
kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;
4.Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di
dalam kelompok; dan
5.Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke
kelompok lain (Pasal 28 UU No. 26 Tahun 2000)
KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN
Perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas dan sistematik.

1.Pembunuhan
2.Pemusnahan
3.Perbudakan
4.Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa
5.Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-
wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional
6.Penyiksaan
7.Pemerkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan,
pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang
setara
8.Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari
persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin, atau
alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum
internasional
9.Penghilangan orang secara paksa
10.Kejahatan apartheid (Pasal 9 UU Nomor 26 Tahun 2000)
Kasus Pelanggaran Hak Asasi
Manusia di Indonesia
1. Kerusuhan Tanjung Priok tanggal 12 September
1984. Dalam kasus ini 24 orang tewas, 36 orang luka
berat dan 19 orang luka ringan. Keputusan majelis
hakim kasus ini menetapkan 14 terdakwa
seluruhnya dinyatakan bebas.
2. Penyerbuan Kantor Partai Demokrasi Indonesia
tanggal 27 Juli 1996. Dalam kasus ini lima orang
tewas, 149 orang luka-luka dan 23 orang hilang.
Keputusan majelis hakim kasus ini menetapkan
empat terdakwa dinyatakan bebas dan satu orang
terdakwa divonis 2 (dua) bulan 10 hari
3. Penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada
tanggal 12 Mei 1998. Dalam kasus ini 5 (lima)
orang tewas. Mahkamah Militer yang
menyidangkan kasus ini memvonis dua
terdakwa dengan hukuman 4 (empat) bulan
penjara, empat terdakwa divonis 2 - 5 bulan
penjara dan 9 orang anggota Brimob dipecat
dan dipenjara 3-6 tahun.
4. Tragedi Semanggi I pada tanggal 13 November
1998. Dalam kasus ini lima orang tewas.
Kemudian terjadi lagi tragedi Semanggi II pada
tanggal 24 September 1999 yang memakan lima
orang korban meninggal
5. Penculikan aktivis, pada bulan April 1997 - April
1999. Dalam kasus ini 20 orang aktivis
dinyatakan hilang (9 orang diantaranya telah
dibebaskan dan 11 orang dinyatakan hilang).
Mahkamah Militer memvonis komandan Tim
mawar Kopassus dengan 22 bulan penjara dan
dipecat dari TNI, empat orang terdakwa dipecat
dan divonis 20 bulan penjara, tiga orang
terdakwa divonis 16 bulan penjara dan tiga
orang terdakwa divonis 12 bulan penjara
Munir. Munir Said Thalib
6. Meninggalnya Munir yang merupakan aktivis HAM Indonesia,
pada tanggal 7 September 2004. Munir meninggal dunia
dalam perjalanan udara dari Jakarta ke Amsterdam. Otopsi
oleh Netherlands Forensic Institute menyimpulkan Munir
tewas akibat racun arsenik. Dalam kasus ini, vonis terhadap
pelaku mengalami beberapa perubahan. Pada awalnya
Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menetapkan vonis 14
tahun penjara, tetapi putusan kasasi Mahkamah Agung
menyatakan Pelaku tidak terbukti membunuh. Ia hanya
dihukum dua tahun penjara atas penggunaan surat palsu.
Kemudian Tim Pengacara Munir mengajukan Peninjauan
Kembali (PK) atas putusan Mahkamah Agung tersebut,
akhirnya pelaku dihukum 20 tahun penjara karena terbukti
dan meyakinkan telah melakukan pembunuhan terhadap
7. Tidak jauh berbeda dengan kasus Munir, Kasus yang
menimpa Marsinah seorang karyawan di PT. Catur
Putra Surya. Marsinah ditemukan tewas pada 8
Mei1993 setelah tiga hari menghilang. Jasadnya
ditemukan dihutan dengan dengan tanda bekas
penyiksaan berat. Marsinah adalah aktifis buruh di
tempat kerjanya, ia yang mengkoordinasi pada
setiap kegiatan unjuk rasa. saat itu, para karyawan
CPS akan mengadakan unjuk rasa di Tanggul Angin
Sidoarjo
         Setelah rapat, para karyawan yang ada ditangkap dan digiring
menuju Kodim Sidoarjo. Disana mereka dipaksa untuk
mengundurkan diri dari CPS. Bahkan Marsinah juga sempat
mendatangi Kodim untuk menanyakan keberadaan rekan-rekanya.
Dan etelah itu Marsinah lenyap, hilang tanpa diketahui
keberadaanya. Kemudian Marsinah ditemukan tewas pada 8 Mei
1993.
        Pihak Kepolisian kemudian mengusut kasus ini untuk mencari
pelaku pembunuhan Marsinah. Setelah melalui berbagai
penyelidikan, akihuirnya diputuskan bahwa tersangka pembunuhuan
Marsinah adalah Suprapto (Bag.control CPS), suwono (satpam), Yudi
Susanto (pemilik pabrik) dan bebepara orang lainya. Mereka dijatuhi
hukuman 12-17 tahun penjara. Namun mereka melakukan banding.
Yudi Santoso dinyatakan bebas oleh Pengadilan Tinggi, dan ditingkat
kasasi MA memvonis bebas para terdakwa dari segala dakwaan.
Keputusan MA RI itu, menimbulkan ketidakpuasan diberbagai pihak.
Dan sekali lagi, inilah wajah buruk keadilan bagi pelanggaran HAM di
Indonesia
Pelanggaran HAM disebabkan oleh
faktor-faktor berikut:
A. Faktor Internal :
1. Sikap egois atau terlalu mementing diri sendiri
2. Rendahnya kesadaran HAM
3. Sikap tidak toleran
B. Faktor Eksternal :
1. Penyalahgunaan kekuasaan
2. Ketidaktegasan aparat penegak hukum
3. Penyalahgunaan teknologi
4. Kesenjangan sosial dan ekonomi yang tinggi
3. Kasus “Terbunuhnya
a. Siapa Marsinah? Buruh Marsinah”
Marsinah (lahir di Nglundo, 10 April 1969
 – meninggal 8 Mei 1993 pada umur
24 tahun) adalah seorang aktivis dan
buruh pabrik PT. Catur Putra Surya
 (CPS) Porong, Sidoarjo,Jawa Timur
 yang diculik dan kemudian
ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993
 setelah menghilang selama tiga hari.
Mayatnya ditemukan di hutan di
dusun Jegong, desa Wilangandengan
tanda-tanda bekas penyiksaan berat.
b. Kronologi Kejadian
Marsinah adalah salah seorang karyawati PT. Catur Putera Surya yang aktif dalam
aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain
terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di 
Tanggulangin, Sidoarjo.

• 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (


Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh.
• 4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk
perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250.
Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh
buruh yang absen.
• 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan
perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan
karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.
Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk
rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa
mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah
karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk
menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim.
Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya


sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.
c. Latar Belakang Peristiwa

Kasus pembunuhan Marsinah di atas merupakan pelanggaran hak asasi


manusia (HAM) berat. Alasannya adalah unsur penyiksaan dan
pembunuhan sewenang-wenang di luar putusan pengadilan terpenuhi. Dengan
demikian, kasus tersebut tergolong patut dianggap kejahatan kemanusiaan yang
diakui oleh peraturan hukum Indonesia sebagai pelanggaran HAM berat.

Jika merujuk pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun


1945 (UUD NRI 1945), jelas bahwa tindakan pembunuhan merupakan upaya
berlebihan dalam menyikapi tuntutan marsinah dan kawan-kawan buruh. Jelas
bahwa tindakan oknum pembunuh melanggar  hak konstitusional Marsinah,
khususnya hak untuk menuntut upah sepatutnya. Hak tersebut secara tersurat dan
tersirat ditegaskan dalam Pasal 28D ayat (2) UUD NRI tahun 1945, bahwa setiap
orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil
dan  layak dalam hubungan kerja.
d. Upaya Penyelesaian kasus
• Tanggal 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim
untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah.
Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan
Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda
Jatim serta Den Intel Brawijaya.
• Delapan petinggi PT CPS ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi,
termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan
yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di
sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap
orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat skenario dan
menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga
termasuk salah satu yang ditangkap.
• Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan
Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi
Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat
kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.
• Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga
terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga
terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI.

• Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian


kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos
Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry
putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari
Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.

• Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan


sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun,
namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto
dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi,
Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari
segala dakwaan (bebas murni). Putusan Mahkamah Agung RI tersebut,
setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga
muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah "direkayasa".
e. Hukum Yang di Langgar Dalam Kasus Ini

- UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2 yang berbunyi “Tiap-tiap warga negara


berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.”

- UUD 1945 Pasal 28 A yang berbunyi “Setiap orang berhak untuk


hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”

- UUD 1945 Pasal 28 B Ayat 2 yang berbunyi “Setiap orang berhak


untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya”

Home
4. Kesimpulan
Dari peristiwa tersebut, dapat kita simpulkan
bahwa kasus “Pembunuhan Terhadap Buruh
Marsinah” termasuk pelanggaran HAM Berat,
Alasannya adalah unsur penyiksaan dan
pembunuhan sewenang-wenang dan melanggar Hukum
yang berlaku, yaitu :
- UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2
- UUD 1945 Pasal 28 A
- UUD 1945 Pasal 28 B Ayat 2
Prita Mulyasari 
8. Kasus lain yang bisa dijadikan contoh adalah kasus
Prita Mulya Sari. Ia adalah salah satu korban
pelanggaran HAM hanya karena mengutarakan
pendapatnya melalui milis. Dengan dalih
menyebarkan nama baik, Prita dilaporkan oleh pihak
RS Omni Internasional kepada pihak berwajib.
Hingga akhirnya ia harus ditahan di LP wanita
Tanggerang. Dan akhirnya bisa bebas sekarang. Hal
itu menjadi perhatian publik kala itu. bagaimana
masih rendahnya pengawasan dan penanganan
terhadap pelanggaran HAM yang menimpa rakyat
9. Adakah hubungan antara IT dengan HAM?????  Tentu
saja ada.Pelanggaran HAM dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Salah satunya melalui Teknologi
Informasi. Seperti contoh diatas pelanggaran
tersebut menyebar melalui dunia maya,  yaitu lewat
internet. Internet adalah jaringan yang
menghubungkan kita dengan duniar luar, tanpa
mengenal jarak dan waktu. Seperti yang kita ketahui
bahwa, di dalam internet terdapat banyak sekali
informasi yang dapat kita peroleh. Melalui internet
itu pula kita terhubung dengan banyak teman
melalui fasilitas yang diberikan oleh internet. 
Komisi HAM Nasional
Seharusnya kita sebagai pemakai  harus bisa
menggunakan TI untuk membantu dalam
kehidupan, bukanya malah menggunakanya untuk
melakukan hal-hal negativ yang bisa melukai hati
orang lain. Kita harus sadar bahwa kita memiliki
derajad yang sama, sama-sama memiliki HAM.
Jangan berbuat hal yang dapat merugikan orang
lain, toh kita juga tidak ingin dirugikan bukan??
tentunya tidak hanya melalui dunia maya, namun
juga dalam kehidupan nyata di masyarakat melalui
dunia maya, namun juga dalam kehidupan nyata di
masyarakat
Human Right could be generally defined as those rights which are inherent in our
nature and without which we can not live as human being (Jan Martenson/Komisi HAM
PBB)
Hukum Kodrat (Nature Law) Lahir punya hak
LAHIR
Karunia Tuhan Yang Maha Esa
Diatur dalam peraturan (legal right) atau pernyataan
(declaration)
PERKEMBANGAN

1215 - Raja John Lackland  “Magna Charta”


 Pajak harus ijin Great Chuncil (Kepala-kepala Daerah)
 Orang bebas (free man)  perlindungan/ pertimbangan
hukum
1628 - Petition of Rights (Parlemen)  Raja Chartes
 Pajak/pungutan  seijin Parlemen
 Tak boleh ditahan tanpa hukum
 Tak boleh hukum perang (tentara) dalam keadaan damai
1679 - Raja Charles II  “Habeas Corpus Act”
 Penahanan harus syah/legal
 Pemeriksaan 2 hari setelah penangkapan
1689 - Glorius Revolution  “Bill of Rights” (Raja Charles II)

 Pemilihan Parlemen, bebas-rahasia


 Bebas berbicara, mengeluarkan pendapat
 Bebas beragama dan beribadat
1776 - Deklarasi Kemerdekaan Koloni-koloni Amerika
 Semua orang sama
 Tuhan menciptakan dengan hak-hak: hidup, bahagia, dll.
 Pemerintah dibentuk untuk menjamin hak-hak
1789 - Revolusi Perancis “Declaration des droits de I’homme at du citoyen”

 Liberte, egalite, fraternite

1941 - Akhir Perang Dunia II  Presiden F.D. Roosevelt


 Four Freedom
1948 - 10 Desember “Declaration of Human Rights” PBB

 Fundamental of human rights


Ranaisance (abad XV) - Martabat
Reformasi (abad XVI) - Gereja
Revolusi Amerika Serikat (1776)
Revolusi Perancis (1792)

A. Perjanjian Masyarakat  John Locke (1632-1704)


B. Trias Politica  Montesquieu (1688-1755)
C. Kedaulatan Rakyat  J.J. Rousseau (1712-1778)
D. Negara Hukum  Immanuel Kant (1724-1804)

1. Personal Rights
2. Property Rights
3. Political Rights
4. Rights of Legal Equality
5. Social and Culture Right
6. Procedural Rights
Universal-Absolut HAM:
• Nilai universal saja
• Tidak menghargai sosial budaya masing-
masing bangsa
Universal-Relatif HAM Universal:
• Asas-asas tidak Internasional diakui

Particularistik-Absolut • HAM persoalan masing-masing bangsa


• Menolak berlaku dokumen inter-nasional
• Chauvinis, egois, pasif terhadap HAM

Particularistik-Relatif • HAM persoalan universal dan masing-


masing bangsa

• Dokumen internasional disela-raskan


dengan budaya bangsa
INSTR.
INSTR.HAM
HAM
UUD 1945 dan Amandemennya
Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang HAM
UU No. 39/1999 tentang HAM
UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM
UU No. 9/1998 tentang kemerdekaan penyampaian pendapat di muka umum
Konvensi Internasional Anti Apartheit dalam Olah Raga (Ratifikasi dengan
Keppres No. 48/1993 tanggal 26 Mei 1993)
Konvensi tentang Anak-anak tahun 1989 (Ratifikasi dengan Keppres No.
36/1990 tanggal 25 Agustus 1990)
Konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskri-minasi terhadap perempuan
tahun 1979. (Ratifikasi dengan UU No. 7/1984 tanggal 24 Juli 1984)
Konvensi tentang Hak-hak politik kaum wanita tahun 1953
(Ratifikasi dengan UU No. 68 tanggal 17 Juli 1998)
Konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan merendahkan martabat manusia
lainnya tahun 1984 (Ratifikasi dengan UU No. 5 tanggal 28 September 1998)
Konvensi Internasional tentang Penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial.
(Ratifikasi dengan UU No. 29 tanggal 25 Mei 1999)
Tanggal 21 Mei 1998

A. UUD 1945

Perub. II Bab XA ps. 28A, B, C, D, E, F, G, H, I dan J


18 Agt. 2000 tentang HAM

B. TAP MPR No. XVII/MPR/1998 TENTANG HAM

1. Lembaga negara/aparatur pemerintah  HAM


2. Presiden + DPR RI
 Meratifikasi instrumen internasional ttg HAM
 Tidak bertentangan dengan Pancasila dan
UUD 1945
C.
C. UU
UU NO.
NO. 39
39 TAHUN
TAHUN 1999
1999 TENTANG
TENTANG HAM
HAM
Pasal 9 : hak untuk hidup
Pasal 10 : hak berkeluarga dan melanjut-
kan keturunan Pasal 18 : 1
Pasal 11-16 : hak mengembangkan kebutuh-
Asas equality before the law
an dasar
Pasal 17-19 : hak memperoleh keadilan Pasal 18 : 2
Pasal 20-27 : hak atas kebebasan dari per-
Asas ne bis in idem
budakan
Pasal 28-35 : hak atas rasa aman Pasal 18 : 5
Pasal 36-42 : hak atas kesejahteraan
Asas retro aktif
Pasal 43-44 : hak turut serta dalam pemerin-
tahan
Pasal 45-51 : hak wanita
Pasal 52-66 : hak anak
• Konvensi internasional (a.1 = 6)
Ratifikasi • Konvensi ILO (a.1 = 15)
Undang Undang Dasar Tahun 1945
Jaminan perlindungan atas hak asasi manusia yang terdapat dalam
Undang Undang Dasar Tahun 1945,di antaranya adalah sbb:
1. Hak atas persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, Pasal 27 Ayat (1)
2. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, Pasal 27 Ayat (2)
3. Hak berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan,
Pasal 28
4. Hak memeluk dan beribadah sesuai dengan ajaran agama, Pasal 29 Ayat (2)
5. Hak dalam usaha pembelaan negara, Pasal 30
6. Hak mendapat pengajaran, Pasal 31
7. Hak menikmati dan mengembangkan kebudayaan nasional dan daerah, Pasal 32
8. Hak di bidang perekonomi, Pasal 33
9. Hak fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, Pasal 34
Konstitusi Republik Indonesia Serikat
(RIS)
Jaminan pemajuan hak asasi manusia, dalam
Konstitusi RIS 1949, di antaranya adalah sbb :
1. Hak diakui sebagai person oleh UU (The Right to recognized as a person under the
Law), Pasal 7 Ayat (1)
2. b. Hak persamaan di hadapan hukum (The right to equality before the law), Pasal 7
Ayat (2)
3. c. Hak persamaan perlindungan menentang diskriminasi (The right to equal
protection againts discrimination), Pasal 7 Ayat (3)
4. d. Hak atas bantuan hukum (The Right to Legal assistance), Pasal 7 Ayat (4)
5. e. Hak atas keamanan personal (The Right to personal security), Pasal 8
6. f. Hak atas kebebasan bergerak (The Right to freedom or removement and
residence), Pasal 9 Ayat (1)
7. g. Hak untuk meninggalkan negeri (The Right to leave any country), Pasal 9 Ayat
(2)
8. h. Hak untuk tidak diperbudak (The Right not to be subjected to slavery,
servitude, or bondage), Pasal 10
9. i. Hak mendapatkan proses hukum (The Right to due process of law), Pasal 11
10. j. Hak untuk tidak dianiaya (The Right not to be subjected to turtore, or to cruel,
inhuman or degrading treatement or punishment), Pasal 12
11. k. Hak atas peradilan yang adil (The Right to impartial judiciary), Pasal 13 Ayat (1)
12. l. Hak atas pelayanan hukum dari para hakim (The Right to an effective remedy
by the competent national tribunals), Pasal 13 Ayat (2)
13. m. Hak dianggap tidak bersalah (The Right to be persumed innonence), Pasal 14
Ayat (1),(2),dan (3)
14. n. Hak atas kebebasan berpikir dan beragama (The Right to freedom or thought, conscience,
and religion), Pasal 18
15. o. Hak atas kebebasan berpendapat (The Right to freedom of opinion and express), Pasal 19
16. p. Hak kebebasa berkumpul (The Right to association), Pasal 20
17. q. Hak atas penuntutan (The Right to petition the government), Pasal 21 Ayat (1)
18. r. Hak turut serta dalam pemerintahan (The Right to take part in the government), Pasal 22
Ayat (1)
19. s. Hak akses dalam pelayanan publik (The Right to equal acess to public service), Pasal 22
Ayat (2)
20. t. Hak mempertahankan negara (The Right to national defence), Pasal 23
21. u. setiap warga negara berhak dan berkewajiban turut serta dan sungguh-sungguh dalam
pertahanan kebangsaan, Pasal 23
22. v. Hak atas kepemilikan (The Right to own proverty alone as well as in association with
others), Pasal 25 Ayat (1)
23.w. Hak untuk tidak dirampas hak miliknya (The Right to
be arbitrary deprived of his property), Pasal 25 Ayat (2)
24.x. Hak mendapatkan pekerjaan (The right to work, to
free choice employment, to just and favourable
conditions), Pasal 27 Ayat (1)
25.y. Hak atas kerja (The Right to work and to pay for equal
work), Pasal 27 Ayat (2)
26.z. Hak untuk membentuk serikat kerja (The Right to
labour union), Pasal 28
Undang-Undang Dasar Sementara
1.
(UUDS) 1950
Hak atas kebebasan agama, keinsyafan batin, dan pikiran, Pasal 28
2. Hak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat,
Pasal 19
3. Hak atas kebebasan berkumpul dan berapat diakui dan diatur
dengan undang-undang, Pasal 20
4. Hak berdemonstrasi dan mogok diakui dan diatur dengan undang-
undang, Pasal 21
5. Hak berpendapat, berserikat dan berkumpul, bahkan hak
berdemonstrasi dan mengajukan pengaduan kepada penguasa,
Pasal 22
6. Hak turut serta dalam pemerintahan, Pasal 23
7. Berhak dan berkewajiban turut serta dengan sungguh-sungguh dalam
pertahanan negara, Pasal 24
8. Hak atas kepemilikan baik sendiri maupun bersama-sama orang lain, Pasal
26
9. Hak atas pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan, Pasal 28
10. Hak untuk mendirikan serikat pekerja dan masuk kedalamnya untuk
melindungi dan memperjuangkan kepentingannya, Pasal 29
11. Hak dibidang pendidikan dan pengajaran, Pasal 30
12. Hak untuk terlibat dalam pekerjaan dan organisasi-organisasi sosial, Pasal
31
13. Hak atas kebebasan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Pasal 40
14. Hak atas jaminan kesehatan, Pasal 42
Undang Undang Dasar (UUD) Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
Jaminan atas pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia menurut
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, di antaranya adalah
sebagai berikut.
1. Hak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya, Pasal
28 A
2. Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui
perkawinan yang sah, Pasal 28 B Ayat (1)
3. Hak anak untuk kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta
hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, Pasal 28 B Ayat
(2)
4. Hak untuk mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar,
Pasal 28 C Ayat(1)
6. Hak untuk mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari
ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya, Pasal 28 C Ayat (1)
7. Hak untuk mengajukan diri dalam memperjuangkan haknya secara
kolektif, Pasal 28 C Ayat (2)
8. Hak atas pengakuan, jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang
adil dan perlakuan yang sama di depan hukum, Pasal 28 D Ayat (1)
9. Hak untuk bekerja dan mendapat imbalan serta perlakuan yang adil
dan layak dalam hubungan kerja, Pasal 28 D Ayat (3)
10. Hak untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan,
Pasal 28 D Ayat (3)
11. Hak atas status kewarganegaraan, Pasal 28 D Ayat (4)
INDONESIA

Keppres No. 50 Tahun 1993 tanggal


7 Juni 1993
(Sarban Sirait)

1. Mengembangkan kondisi kondusif pelaksanaan HAM


2. Perlindungan HAM agar terwujud pembangunan Nasional
(Misalnya: partisipatif)

Pengkajian, penelitian, penyuluhan,


pemantauan, mediasi

1. Menyebarluaskan wawasan nasional dan internasional tentang HAM


2. Mengkaji instrumen PBB tentang HAM  ratifikasi
3. Memantau pelaksanaan HAM  pemerintah
4. Kerjasama regional dan internasional tentang perlindungan HAM
PENGADILAN UU No. 26 Tahun 2000
PENGADILAN Pengadilan
Tanggal 23 Nop. 2000
HAM
HAM HAM Ad Hoc
Dasar Pembentukan:
• Ekstra Ordinary Crimes (Berat)
• Langkah-langkah khusus

Pasal 4
Pengadilan HAM
“Bertugas dan berwenang memeriksa dan memutuskan perkara
pelanggaran HAM yang berat”

Pasal 7

Pelanggaran berat meliputi:


• Kejahatan Genosida (Pembunuhan Massal)
• Kejahatan terhadap kemanusiaan Pasal 18
Pasal 42:1
Pertanggungan jawab seorang Komandan Militer karena tidak melakukan
pengendalian pasukan secara patut (mengetahui dan tidak melakukan tindakan
layak)
Sanksi:
• Pidana mati
• Pidana seumur hidup
• Penjara 10 tahun – 25 tahun

Kedudukan
Kedudukan: :(ps.
(ps.45)
45)
• Jakarta
• Surabaya
• Makassar
KASUS • Medan
KASUS
1. Timor Timur 1999 (Gereja Liquica, Gereja Suai, Warga Kailola, Rumah Gub. Carascalao,
dsb.)
2. Tanjung Priuk 1984 (4 jamaah musholla As Sa’adah)
3. Sampit 2001 (Madura – etnis Dayak)
4. Marsinah 1993 (hilang)
5. Trisakti, Semanggi I dan II 1997
6. Lapindo, Munir, Petrus, Ambon, Poso, Aceh, Papua ?? Dsb.
Pengadilan 1 Juli 2002
PengadilanPidana
PidanaInternasional
Internasional 60 negara ratifikasi

• Indonesia tidak termasuk yang beratifikasi


• Dideklarasikan tanggal 17 Juli 1998 dalam
1. Artikel 126 Rome Statute of the International Criminal
Court (ICC)
2. Artikel 5 : yurisdiksi ICC meliputi:
a. Kejahatan genosida
b. Kejahatan terhadap kemanusiaan
c. Kejahatan perang
d. Kejahatan agresi
• Indonesia dapat diadili ICC bila:
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi
Terima Kasih
Thank You Very Much . .

SEMOGA PEMBELAJARAN HARI INI


BERMANFAAT