Anda di halaman 1dari 47

Disusun oleh

IKATAN NOTARIS INDONESIA


Disampaikan pada
PELATIHAN SABH BAGI CALON NOTARIS
ANGGOTA LUAR BIASA IKATAN NOTARIS
INDONESIA
TAHUN 2013
 Sebelum kita membahas Organisasi dan Kode Etik Notaris kita perlu
memahami Notaris dan Peranan Notaris dalam sistem hukum
pembuktian di Indonesia.
 
 Menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor : 30 Tahun 2004
Tentang Jabatan Notaris : “Notaris adalah Pejabat Umum yang
berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam Undang –Undang ini.

 Dari pengertian pasal 1 ayat 1 UUJN tersebut dapat kita pahami bahwa
Notaris adalah Pejabat Umum yang mempunyai tugas untuk membuat
akta otentik, akta Otentik dalam sistem Hukum Perdata di Indonesia
merupakan alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang
sempurna tentang apa yang dimuatnya.
 
 Pasal 1870 KUH-Perdata :
“Akta Otentik merupakan bukti yang mengikat dalam arti apa yang
ditulis dalam akta tersebut harus dipercaya oleh Hakim, yaitu harus
dianggap sebagai benar selama ketidak benarannya tidak dibuktikan.”
 Mengingat kedudukan Akta Otentik yang demikian kuat
dalam sistim hukum Pembuktian di Indonesia maka
diperlukan orang yang ahli atau banyak pengetahuannya
tentang ilmu kenotariatan pada khususnya dan ilmu
hukum pada umumnya untuk dapat diberikan
kewenangan membuat akta otentik tersebut, dan dalam
menjalankan pekerjaannya tersebut selalu
menggunakan kemampuan ilmu yang dimilikinya,
mendasarkan pada integritas moral yang tinggi serta
mempunyai kejujuran dan akhlak serta kepribadian
yang baik.
 Apabila kita sederhanakan maka dapat kita katakan
orang yang pantas untuk mengemban jabatan Notaris
tersebut dapat kita sebut juga sebagai Notaris yang
Profesional.
 Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Profesi
diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi
pendidikan keahlian (keterampilan, kejujuran dan
sebagainya) tertentu.

 Prof. DR. Lili Rasjidi SH, LLM, mengartikan


Profesi : 
 Adalah pekerjaan tetap berupa pelayanan (service
occupation). Pelaksanaannya dijalankan dengan
menerapkan pengetahuan ilmiah dalam bidang
tertentu, dihayati sebagai suatu panggilan hidup,
serta terikat pada etika umum dan etika khusus
(etika profesi ) yang bersumber pada semangat
pengabdian pada sesama manusia.
 Franz Magnis Suseno :
Membedakan profesi dalam profesi umum dan profesi yang luhur.
Menurutnya Profesi dapat dibedakan atas profesi umum dan profesi yang luhur.
 
 Profesi umum adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk
menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian yang khusus.
 
 Profesi yang luhur adalah profesi yang pada hakekatnya merupakan suatu
pelayanan pada manusia atau masyarakat, meskipun mereka ini memperoleh
nafkah namun nafkah bukan tujuan utama.
 
 Dari kedua pengertian tersebut dapat kita lihat suatu pembedaan yang cukup
tajam dari keduanya, yaitu dari tujuan menjalankan profesi tersebut, apabila
profesi dijalankan sebagai pekerjaan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup
maka terkategorikan sebagai profesi umum.
 
 Sedangkan apabila tujuan utamanya adalah pelayanan dan pengabdian pada
manusia dan masyarakat maka terkategorikan sebagai profesi yang luhur.
 
 Sekalipun keduanya sama–sama memperoleh penghasilan.
 Untuk dapat disebut Profesi yang luhur pekerjaan tersebut
sekurang–kurangnya harus memenuhi beberapa unsur :

 1. Mempunyai/menguasai Ilmu Pengetahuan di bidangnya;


 2. Ditujukan untuk kepentingan pengabdian/ pelayanan
kepada masyarakat;
 3. Mempunyai kode etik;
 4. Penghasilan bukan tujuan karenanya tidak dapat dijadikan

dasar/ukuran keberhasilan dalam menjalankan Jabatan.

 Setelah kita memahami perbedaan pengertian Profesi umum


dan profesi yang luhur maka kita akan melihat apakah Notaris
terkategorikan sebagai Profesi umum atau profesi yang luhur.
 Apabila kita melihat pengertian Notaris yang terdapat dalam Undang–Undang Nomor
30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.

 “Pasal 1 ayat 1, Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta
otentik dan kewenanangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang –Undang
ini.”
 
 Dari pengertian tersebut kita pahami Notaris adalah Pejabat umum yang
menjalankan sebagian kekuasan Negara di bidang hukum privat untuk membuat akta
otentik (alat bukti) sebagai pembuat alat bukti sudah seharusnya ia tidak menjadikan
jabatannya sebagai alat/sarana untuk mencari penghasilan.
 
 Undang–Undang Jabatan Notaris mewajibkan kepada Notaris dalam menjalankan
Jabatannya bertindak jujur, mandiri dan tidak berpihak.
 
 Notaris mengemban kepercayaan dari anggota masyarakat yang membutuhkan
jasanya untuk membuat alat bukti yang terkuat dan terpenuh sehingga dapat
memberikan kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum kepada masyarakat yang
meminta jasanya.
 
 Notaris bukan profesi bebas, kepadanya diberikan aturan yang cukup ketat tidak saja
dalam menjalankan jabatannya tetapi juga terhadap perilakunya.
 Ada pula kewajiban notaris untuk tidak memungut honorarium bagi masyarakat yang tidak
mampu yang membutuhkan jasa pembuatan aktanya dan terhadap honornya diberikan
batasan–batasan dan aturan–aturan yang dimaksudkan untuk melindungi kepentingan
masyarakat.
 Kepada Notaris juga diberlakukan Kode Etik yang ditetapkan oleh Organisasi Notaris,
yaitu Ikatan Notaris Indonesia.

 Apabila kita perhatikan pasal 70 a Undang–Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang


Jabatan Notaris, maka pengawasan terhadap Notaris yang dilakukan oleh Majelis
Pengawas termasuk juga terhadap pelanggaran kode etik, sehingga kode etik notaris
tidak lagi dianggap pelanggaran etika yang hanya mempunyai sanksi moral semata, Kode
Etik Notaris mempunyai sanksi yang memaksa karena pelanggaran atas Kode Etik
Notaris dianggap sebagai pelanggaran Jabatan.
 
 Uraian secara sederhana tersebut di atas dapat memberikan gambaran pada kita bahwa
Notaris adalah Jabatan yang tidak dapat dikatakan sebagai Profesi dalam pengertian
Umum tetapi Profesi/Jabatan yang luhur sebagaimana dimaksud dalam pengertian
tersebut di atas.

 Pengertian Profesi dalam artian/untuk Notaris harus dipahami bukan dalam pengerian
umum karena Notaris sesungguhnya adalah sebuah Jabatan.
 Profesi dalam pengertian Notaris lebih kepada penggolongan/ penyebutan dari pekerjaan
Jabatan.
 Setiap Profesi menuntut tanggung jawab tidak terkecuali Notaris,
tanggung jawab dapat kita klasifikasikan :
 
 Terhadap diri sendiri;
Mempunyai arti bahwa ia juga bertanggung jawab pada nurani,
ia dapat menghindari orang lain tetapi ia tidak dapat menghindari
hukuman/rasa bersalah yang akan selalu ada pada diri sehingga
sebaiknya ia bekerja dengan hati nurani yang didasarkan pada
Integritas Moral dan Intelektual.
 
 Terhadap Masyarakat;
Sebagai Pejabat yang profesional ia akan selalu bekerja tanpa
membedakan golongan, agama, ras dan kemampuan finansial,
ia bekerja dengan dasar pertimbangan profesi dan profesional
diri.

 Terakhir dan terpenting, ia akan selalu dapat mempertanggung


jawabkannya kepada Allah SWT, Sang Khalik/ Sang Pencipta,
apa yang dilakukan tidak berakhir pertanggung jawabannya di
dunia tetapi juga di akhirat.
 Setelah kita memahami Notaris kedudukan dan fungsinya maka kita
akan mencoba melihat pentingnya Kode Etik dan Organisasi Notaris
bagi Notaris.

 Sebelum Kita membahas Kode Etik Notaris kita perlu mengetahui apa
itu Etika, Etika Profesi dan Kode Etik agar kita dapat lebih memahami
secara benar Kode Etik Notaris dan Fungsinya.
 
 ETIKA :
Memberi aturan atau Kaedah yang dapat dipakai sebagai tolak ukur
pada tingkah laku manusia sehingga manusia dapat menentukan mana
yang baik dan mana yang buruk, apa yang harus dilakukan dan apa
yang tidak boleh dilakukan.
 
 Sedangkan Fungsi Etika :
Berupaya mengatur perilaku manusia secara normatif, yakni memberi
norma pada tingkah laku manusia sehingga dapat menentukan mana
yang baik dan mana yang buruk, apa yang harus dilakukan dan apa
yang tidak boleh dilakukan.
 
 Norma : Aturan atau kaedah yang dipakai sebagai tolok ukur untuk
menilai sesuatu.
 Kode Etik adalah :
Norma atau peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis mengenai etika
berkaitan dengan sikap serta pengambilan putusan hal-hal fundamental dari
nilai dan standar perilaku orang yang dinilai baik atau buruk dalam menjalankan
profesinya yang secara mandiri dirumuskan, ditetapkan dan ditegakkan oleh
organisasi profesi.
 
 Sedangkan Kode Etik Notaris adalah :
Seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan Ikatan Notaris
Indonesia yang selanjutnya akan disebut “Perkumpulan” berdasarkan
Keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan oleh dan diatur
dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan
yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota
Perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas jabatan sebagai
Notaris, termasuk di dalamnya para Pejabat Sementara Notaris, Notaris
Pengganti dan Notaris Pengganti Khusus.
 
 Karena fungsi Kode Etik bagi Notaris antara lain berupaya mengatur perilaku
Notaris melalui Aturan atau Kaedah, sehingga Notaris dapat menentukan mana
yang baik dan mana yang buruk, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak
boleh dilakukan oleh Notaris dalam menjalankan Jabatan maupun berperilaku
maka Kode Etik Harus merupakan Norma (aturan/kaedah) yang jelas sehingga
dapat dipahami dan dijalankan tanpa keraguan ataupun ketidak pastian.
 Di bawah ini akan diuraikan Kode Etik Notaris.

KODE ETIK
 
BAB I
KETENTUAN UMUM
PASAL 1
 
Dalam Kode Etik ini yang dimaksud dengan :
 
1. Ikatan Notaris Indonesia disingkat I.N.I adalah Perkumpulan/Organisasi bagi para Notaris,
berdiri semenjak tanggal 1 Juli 1908, diakui sebagai Badan Hukum (rechtsperson) berdasarkan
Gouvernements Besluit (Penetapan Pemerintah) tanggal 5 September 1908 Nomor : 9,
merupakan satu-satunya wadah pemersatu bagi semua dan setiap orang yang memangku dan
menjalankan tugas jabatan sebagai pejabat umum di Indonesia, sebagaimana hal itu telah diakui
dan mendapat pengesahan dari Pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman
Republik Indonesia pada tanggal 23 Januari 1995 Nomor C2-1022.HT.01.06.Tahun 1995, dan
telah diumumkan di dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 7 April 1995 Nomor 28
Tambahan Nomor 1/P-1995, oleh karena itu sebagai dan merupakan organisasi Notaris
sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117.

2. Kode Etik Notaris dan untuk selanjutnya akan disebut Kode Etik adalah seluruh kaidah moral
yang ditentukan oleh Perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia yang selanjutnya akan disebut
“Perkumpulan” berdasarkan Keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan oleh
dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang
berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota Perkumpulan dan semua orang
yang menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris, termasuk didalamnya para Pejabat Sementara
Notaris, Notaris Pengganti dan Notaris Pengganti Khusus.
3. Disiplin Organisasi adalah kepatuhan anggota Perkumpulan dalam rangka
memenuhi kewajiban-kewajiban terutama kewajiban administrasi dan
kewajiban finansial yang telah diatur oleh Perkumpulan.
 
4. Notaris adalah setiap orang yang memangku dan menjalankan tugas
jabatan sebagai Pejabat Umum, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal
1 angka 1 juncto Pasal 15 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris.
 
5. Pengurus Pusat adalah Pengurus Perkumpulan, pada tingkat nasional yang
mempunyai tugas, kewajiban serta kewenangan untuk mewakili dan
bertindak atas nama Perkumpulan, baik diluar maupun di muka Pengadilan.
 
6. Pengurus Wilayah adalah Pengurus Perkumpulan pada tingkat Propinsi
atau yang setingkat dengan itu.
 
7. Pengurus Daerah adalah Pengurus Perkumpulan pada tingkat Kota atau
Kabupaten.
8. a. Dewan Kehormatan adalah alat perlengkapan Perkumpulan sebagai suatu badan atau
lembaga yang mandiri dan bebas dari keberpihakan dalam Perkumpulan, yang bertugas untuk :
● Melakukan pembinaan, bimbingan, pengawasan, pembenahan Anggota dalam menjunjung
tinggi kode etik;
● Memeriksa dan mengambil keputusan atas dugaan pelanggaran ketentuan kode etik yang
bersifat internal atau yang tidak mempunyai kaitan dengan kepentingan masyarakat secara
langsung;
● Memberikan saran dan pendapat kepada Majelis Pengawas atas dugaan pelanggaran kode
etik
dan jabatan Notaris.

b. Dewan Kehormatan Pusat adalah Dewan Kehormatan pada tingkat Nasional dan yang
bertugas untuk :

● Melakukan pembinaan, bimbingan, pengawasan, pembenahan Anggota dalam menjunjung


tinggi kode etik;
● Memeriksa dan mengambil keputusan atas dugaan pelanggaran ketentuan Kode Etik
dan/atau
disiplin organisasi, yang bersifat internal atau yang tidak mempunyai kaitan dengan
kepentingan masyarakat secara langsung, pada tingkat akhir dan bersifat final;
● Memberikan saran dan pendapat kepada Majelis Pengawas atas dugaan pelanggaran kode
etik dan jabatan Notaris.
c. Dewan Kehormatan Wilayah adalah Dewan Kehormatan tingkat Wilayah yaitu pada
tingkat Propinsi atau yang setingkat dengan itu, yang bertugas untuk :

● Melakukan pembinaan, bimbingan, pengawasan, pembenahan Anggota dalam


menjunjung tinggi kode etik;
● Memeriksa dan mengambil keputusan atas dugaan pelanggaran ketentuan kode etik
dan/atau disiplin organisasi, yang bersifat internal atau yang tidak mempunyai kaitan
dengan kepentingan masyarakat secara langsung, pada tingkat banding dan dalam
keadaan tertentu pada tingkat pertama;
● Memberikan saran dan pendapat kepada Majelis Pengawas Wilayah
dan/atau Majelis Pengawas Daerah atas dugaan pelanggaran kode etik dan jabatan
Notaris.

d. Dewan Kehormatan Daerah yaitu Dewan Kehormatan tingkat Daerah, yaitu pada tingkat
Kota atau Kabupaten yang bertugas untuk :  

● Melakukan pembinaan, bimbingan, pengawasan, pembenahan Anggota dalam


menjunjung tinggi kode etik;
● Memeriksa dan mengambil keputusan atas dugaan pelanggaran
ketentuan kode etik dan/atau disiplin organisasi, yang bersifat internal atau yang tidak
mempunyai kaitan dengan kepentingan masyarakat secara langsung, pada tingkat
pertama;
● Memberikan saran dan pendapat kepada Majelis Pengawas Daerah atas dugaan
pelanggaran kode etik dan jabatan Notaris.
9. Pelanggaran adalah perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh anggota
Perkumpulan maupun orang lain yang memangku dan menjalankan Jabatan Notaris
yang melanggar ketentuan Kode Etik dan/atau disiplin Organisasi.
 
10. Kewajiban adalah sikap, perilaku, perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan
anggota Perkumpulan maupun orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan
Notaris, dalam rangka menjaga dan memelihara citra serta wibawa lembaga notaris
dan menjunjung tinggi keluhuran harkat dan
martabat jabatan Notaris.
 
11. Larangan adalah sikap, perilaku dan perbuatan atau tindakan apapun yang tidak
boleh dilakukan oleh anggota Perkumpulan maupun orang lain yang memangku dan
menjalankan jabatan Notaris, yang dapat menurunkan citra serta wibawa lembaga
notariat ataupun keseluruhan harkat dan martabat jabatan Notaris.
 
12. Sanksi adalah suatu hukuman yang dimaksudkan sebagai sarana, upaya dan alat
pemaksa ketaatan dan disiplin anggota Perkumpulan maupun orang lain yang
memangku dan menjalankan jabatan Notaris, dalam menegakkan Kode Etik dan
disiplin organisasi.
 
13. Eksekusi adalah pelaksanaan sanksi yang dijatuhkan oleh dan berdasarkan
putusan Dewan Kehormatan yang telah mempunyai kekuatan tetap dan pasti untuk
dijalankan.
14. Klien adalah setiap orang atau badan yang secara sendiri-sendiri atau
bersama-sama datang kepada Notaris untuk membuat akta, berkonsultasi
dalam rangka pembuatan akta serta minta jasa Notaris lainnya. 

BAB II
RUANG LINGKUP KODE ETIK

Pasal 2. 
Kode Etik ini berlaku bagi seluruh anggota Perkumpulan maupun orang lain
yang memangku dan menjalankan jabatan Notaris baik dalam pelaksanaan
jabatan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
  
BAB III
KEWAJIBAN, LARANGAN DAN PENGECUALIAN

Kewajiban 
Pasal 3.
 
1. Memiliki moral, akhlak serta kepribadian yang baik.

- Menjalankan sebagian kekuasaan Negara di bidang Hukum Privat;


- Merupakan Jabatan Kepercayaan.
2. Menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat Jabatan Notaris.

- Menyadari perilaku diri dapat mempengaruhi Jabatan Yang diembannya, perilaku diri tidak
dapat dipisahkan dengan Jabatan.
- Harkat (Mutu, nilai, harga, taraf derajat ) dan Martabat (Tingkatan, derajat, pangkat )
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Jabatan,

3. Menjaga dan membela kehormatan perkumpulan.

- Sebagai anggota yang merupakan bagian dari perkumpulan harus dapat menjaga kehormatan
Perkumpulan,

- Perkumpulan merupakan organisasi Pejabat Umum yang Profesional,


- Kehormatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perkumpulan.

4. Bertindak jujur, mandiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggungjawab, berdasarkan peraturan
perundang-undangan dan isi sumpah jabatan Notaris.

- Jujur : terhadap diri sendiri, terhadap Client, terhadap Profesi.


- Mandiri :
- Dapat menyelenggarakan kantor sendiri.
- Tidak bergantung pada orang atau pihak lain,
- Tidak menggunakan jasa pihak lain yang dapat mengganggu kemandirianya. 
- Tidak Berpihak :
- Tidak membela/menguntungkan salah satu pihak,
- Selalu bertindak untuk kebenaran dan keadilan.
- Penuh Rasa Tanggung Jawab :
- Selalu dapat mempertanggung jawabkan semua tindakannya,
- Dapat mempertanggung jawabkan akta yang dibuatnya,
- Dapat bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan/ diembannya.
5. Meningkatkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki tidak terbatas pada ilmu pengetahuan hukum
dan kenotariatan.
 
- Ia harus dapat membuat akta yg diminta oleh Kliennya (Tidak boleh menolak akta),
- Ilmu selalu berkembang,
- Hukum itu tumbuh dan berkembang bersama dengan perkembangan masyarakat.

6. Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dan Negara


 
- Notaris diangkat bukan untuk kepentingan individu Notaris;
- Jabatan Notaris adalah Jabatan Pengabdian;
- Mengutamakan kepentingan Masyarakat dan Negara merupakan Keharusan.

7. Memberikan jasa pembuatan akta dan jasa kenotarisan lainnya untuk masyarakat yang tidak
mampu tanpa memungut honorarium.
 
- Bentuk kepedulian (rasa sosial) notaris terhadap lingkungannya;
- Bentuk pengabdian Notaris terhadap masyarakat, bangsa dan Negara;
- Notaris bukan pelaku Ekonomi.

8. Menetapkan satu kantor di tempat kedudukan dan kantor tersebut merupakan satu-satunya
kantor bagi Notaris yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas jabatan sehari-hari.
 
- Tidak boleh membuka kantor cabang,
- Kantor Notaris dan Kantor PPAT berada disatu kantor,
- Kantornya harus benar – benar menjadi tempat ia menyelenggarakan kantornya.
9. Memasang 1 (satu) buah papan nama di depan/di lingkungan kantornya dengan pilihan ukuran yaitu 100
cm x 40 cm, 150 cm x 60 cm atau 200 cm x 80 cm, yang memuat :
 
a. Nama lengkap dan gelar yang sah ;
b. Tanggal dan nomor Surat Keputusan pengangkatan yang terakhir sebagai Notaris ;
c. Tempat kedudukan ;
d. Alamat kantor dan nomor telepon/fax. Dasar papan nama berwarna putih dengan huruf berwarna
hitam dan tulisan di atas papan nama harus jelas dan mudah dibaca. Kecuali di lingkungan kantor
tersebut tidak dimungkinkan untuk pemasangan papan nama dimaksud.

Papan nama bagi kantor Notaris adalah Papan Jabatan yang dapat menunjukkan kepada masyarakat di
situ ada kantor Notaris siapa, dan bukan tempat promosi,
Papan Jabatan tidak boleh bertendensi promosi seperti jumlah lebih dari satu, ukuran tidak sesuai
dengan standard.
  
10. Hadir, mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan,
menghormati, mematuhi, melaksanakan setiap dan seluruh keputusan Perkumpulan.
 
- Aktifitas dalam berorganisasi dianggap dapat menumbuh kembangkan rasa persaudaran
profesi;
- Mematuhi dan melaksanakan keputusan Organisasi adalah keharusan yang merupakan
tindak lanjut dari kesadaran dan kemauan untuk bersatu dan bersama.

11.Membayar uang iuran Perkumpulan secara tertib.


 
- Memenuhi kewajiban finansial adalah bagian dari kebersamaan untuk menanggung biaya organisasi
secara bersama dan tidak membebankan pada salah seorang atau sebagian orang.
 
12.Membayar uang duka untuk membantu ahli waris teman sejawat yang meninggal dunia.

- Meringankan beban ahli waris rekan seprofesi merupakan wujud kepedulian dan rasa kasih antar
rekan.

13. Melaksanakan dan mematuhi semua ketentuan tentang honorarium ditetapkan


Perkumpulan.

- Untuk menghindari persaingan tidak sehat;


- Untuk menciptakan peluang yg sama;
- Mengupayakan kesejahteraan bagi seluruh Notaris.

14. Menjalankan jabatan Notaris terutama dalam pembuatan, pembacaan dan


penandatanganan akta dilakukan di kantornya, kecuali karena alasan-alasan yang sah.

- Akta dibuat dan diselesaikan di kantor Notaris, di luar pengecualian.


- Di luar kantor harus dilakukan dengan tetap mengingat Notaris hanya boleh mempunyai
satu kantor.

15. Menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan dalam melaksanakan tugas


jabatan dan kegiatan sehari-hari serta saling memperlakukan rekan sejawat secara baik,
saling menghormati, saling menghargai, saling membantu serta selalu berusaha menjalin
komunikasi dan tali silaturahim.

- Berhubungan sesama rekan dengan sikap dan perilaku yg baik,


- Saling menghormati dan menghargai, tidak boleh saling menjelekkan apalagi di hadapan
klien, saling bantu membantu.
16. Memperlakukan setiap klien yang datang dengan baik, tidak membedakan
status ekonomi dan/atau status sosialnya.

- Memperlakukan dengan baik harus diartikan tidak saja kita bersikap baik
tetapi juga tidak membuat pembedaan atas dasar suku, ras, agama dan
status sosial dan keuangan,
- Memberikan sama kepada seluruh klien apa yang menjadi haknya.
 
17. Melakukan perbuatan-perbuatan yang secara umum disebut sebagai
kewajiban untuk ditaati dan dilaksanakan antara lain namun tidak terbatas
pada ketentuan yang tercantum dalam :
a. UU Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
b. Penjelasan pasal 19 ayat (2) UU Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris.
c. Isi Sumpah Jabatan Notaris ;
d. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Notaris Indonesia.

- Pasal ini harus difahami sebagai kewajiban yg berkenaan dengan Jabatan,


dan di luar Jabatan.
Pasal 4
Larangan
 
Notaris dan orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan Notaris dilarang :

1. Mempunyai lebih dari 1 (satu) kantor, baik kantor cabang ataupun kantor perwakilan.
Larangan ini diatur pula dalam pasal 19 UUJN sehingga pasal ini dapat diartikan pula sebagai penjabaran dari
UUJN.
Mempunyai satu kantor harus diartikan termasuk kantor PPAT.
 
2. Memasang papan nama dan/atau tulisan yang berbunyi “Notaris/Kantor Notaris” di luar lingkungan kantor.  
Larangan ini berkaitan dengan kewajiban yang terdapat dalam pasal 3 ayat 9 Kode Etik Notaris sehingga
tindakannya dapat dianggap sebagai pelanggaran atas kewajibannya.
 
3. Melakukan publikasi atau promosi diri, baik sendiri maupun secara bersama-sama, dengan mencantumkan nama
dan jabatannya, menggunakan sarana media cetak dan/atau elektronik, dalam bentuk :
a. Iklan;
b. Ucapan selamat;
c. Ucapan belasungkawa;
d. Ucapan terima kasih;
e. Kegiatan pemasaran;
f. Kegiatan sponsor, baik dalam bidang sosial,
g. Keagamaan,maupun olah raga.
 
Larangan ini merupakan konsekwensi logis dai kedudukan Notaris sebagai Pejabat Umum dan bukan sebagai
Pengusaha/kantor Badan Usaha sehingga Publikasi /Promosi tidak dapat dibenarkan.
4. Bekerjasama dengan biro jasa/orang/Badan Hukum yang pada hakekatnya bertindak
sebagai perantara untuk mencari atau mendapatkan klien.
 
Notaris adalah Pejabat Umum dan apa yang dilakukan merupakan pekerjaan Jabatan, dan
bukan pencarian uang atau keuntungan sehingga penggunaan biro jasa/orang/badan hukum
sebagai perantara pada hakekatnya merupakan tindakan pengusaha dalam pencarian
keuntungan yang tidak sesuai dengan kedudukan peran dan fungsi Notaris.

5. Menandatangani akta yang proses pembuatan minutanya telah dipersiapkan oleh pihak lain.
 
Jabatan Notaris harus mandiri, jujur dan tidak berpihak sehingga pembuatan minuta yg telah
dipersiapkan oleh pihak lain tidak memenuhi kewajiban notaris yg terdapat dalam pasal 3
ayat 4 Kode Etik Notaris.

6. Mengirimkan minuta kepada klien untuk ditandatangani.


 
Penanda tanganan akta Notaris merupakan bagian dari keharusan agar akta tersebut
dikatakan sebagai akta otentik, selain hal tersebut Notaris menjamin kepastian tanggal
penanda tanganan.
( pasal 15 ayat 1 dan Pasal 44 UUJN).
  
7. Berusaha atau berupaya dengan jalan apapun, agar seseorang berpindah dari Notaris lain kepadanya, baik
upaya itu ditujukan langsung kepada klien yang bersangkutan maupun melalui perantara orang lain.
 
Berperilaku baik dan menjaga hubungan baik dengan sesama rekan diwujudkan antara lain dengan
tidak melakukan upaya baik langsung maupun tidak langsung mengambil Klien rekan.
 
8. Melakukan pemaksaan kepada klien dengan cara menahan dokumen-dokumen yang telah diserahkan
dan/atau melakukan tekanan psikologis dengan maksud agar klien tersebut tetap membuat akta padanya.
 
Pada dasarnya setiap pembuatan akta harus dilakukan dengan tanpa adanya paksaan dari siapapun
termasuk dari Notaris, kebebasan membuat akta dari merupakan hak dari klien itu (Pasal 1320
KUHPerdata) sedangkan Hak Retensi tidak dalam pembuatan akta tetapi pada saat pengambilan
dokumen.

9. Melakukan usaha-usaha, baik langsung maupun tidak langsung yang menjurus kearah timbulnya
persaingan yang tidak sehat dengan sesama rekan Notaris.
 
Persaingan yang tidak sehat merupakan pelanggaran terhadap Kode Etik sehingga upaya yang dilakukan
baik secara langsung maupun tidak langsung harus dianggap sebagai pelanggaran Kode Etik.
 
10. Menetapkan honorarium yang harus dibayar oleh klien dengan jumlah yang lebih rendah dari honorarium
yang telah ditetapkan Perkumpulan.
 
Penetapan Honor yang lebih rendah dianggap telah melakukan persaingan yang tidak sehat yang
dilakukan melalui penetapan Honor.
  

11. Mempekerjakan dengan sengaja orang yang masih berstatus karyawan kantor Notaris lain tanpa
persetujuan terlebih dahulu dari Notaris yang bersangkutan.
 
Mengambil karyawan rekan Notaris dianggap sebagai tindakan tidak terpuji yang dapat mengganggu
jalannya kantor notaris rekan.

12. Menjelekkan dan/atau mempersalahkan rekan Notaris atau akta yang dibuat olehnya. Dalam hal seorang
Notaris menghadapi dan/atau menemukan suatu akta yang dibuat oleh rekan sejawat yang ternyata di
dalamnya terdapat kesalahan-kesalahan yang serius dan/atau membahayakan klien, maka Notaris
tersebut wajib memberitahukan kepada rekan sejawat yang bersangkutan atas kesalahan yang di
buatnya dengan cara yang tidak bersifat menggurui, melainkan untuk mencegah timbulnya hal-hal yang
tidak iinginkan terhadap klien yang bersangkutan ataupun rekan sejawat tersebut.
Sebagai sesama rekan seprofesi Notaris berkewajiban untuk menjaga nama baik, citra dan wibawa dari
rekan seprofesi.
 
13. Membentuk kelompok sesama rekan seejawat yang bersifat eksklusif dengan tujuan untuk melayani
kepentingan suatu instansi atau lembaga, apalagi menutup kemungkinan bagi Notaris lain untuk
berpartisipasi.
 
Notaris wajib memperlakukan rekan notaris sebagai keluarga seprofesi Pasal 3 ayat 15 Kode Etik
Notaris, sehingga diantara sesama rekan notaris harus saling menghormati, saling membantu, serta
selalu berusaha menjalin komunikasi dan tali silaturahim.
 
14. Menggunakan dan mencantumkan gelar yang tidak sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang
berlaku.
 
Mencantumkan gelar yang tidak sah merupakan tindak pidana, sehingga notaris dilarang menggunakan
gelar gelar tidak sah yang dapat merugikan masyarakat dan notaris itu sendiri.
15. Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai pelanggaran terhadap
Kode Etik Notaris, antara lain namun tidak terbatas pada pelanggaran-pelanggaran terhadap : 

- Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris;


- Penjelasan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris;
- Isi sumpah Jabatan Notaris;
- Hal-hal yang menurut ketentuan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan/atau
Keputusan-keputusan lain yang telah ditetapkan oleh Organisasi Ikatan Notaris Indonesia tidak
boleh dilakukan oleh anggota.

Yang harus menjadi perhatian : 


- Setiap pelanggaran terhadap UUJN dianggap sebagai pelanggaran Kode Etik.
  - Akta Notaris sedapat – dapatnya dilangsungkan dikantor Notaris, pelaksanaan diluar
kantor Notaris sebagai pengecualian ( Kecuali pembuatan akta – akta tertentu ),

Sumpah Pasal 4 UUJN Intinya :


- Patuh dan setia kepada : Negara, Pancasila, UUD, UU, UUJN dan PerUUan lainnya,
- Menjalankan Jabatan dengan : Amanah, Jujur, Saksama, Mandiri, Tidak Berpihak,
- Menjaga sikap, tingkah laku dan akan menjalankan Jabatan sesuai dengan : Kode Etik Profesi,
Kehormatan, Martabat, Tanggung Jawab sebagai Notaris.
- Merahasiakan isi akta dan Keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan Jabatannya,
- Tidak Pernah memberi/menjanjikan sesuatu untuk diangkat sebagai Notaris.
Pengecualian
Pasal 5
 
Hal-hal yang tersebut dibawah ini merupakan pengecualian oleh karena itu tidak termasuk
pelanggaran, yaitu :
 
1. Memberikan ucapan selamat, ucapan berduka cita dengan mempergunakan kartu ucapan, surat,
karangan bunga ataupun media lainnya dengan tidak mencantumkan Notaris, tetapi hanya nama
saja.
- yang dibolehkan sebagai pribadi dan tidak dalam Jabatan,
- Tidak dimaksudkan sebagai Promosi tetapi upaya menunjukkan kepedulian sosial dalam
pergaulan

2. Pemuatan nama dan alamat Notaris dalam buku panduan nomor telepon, fax dan telex, yang
diterbitkan secara resmi oleh PT. Telkom dan/atau instansi-instansi dan/atau lembaga-lembaga
resmi lainnya.
- Dianggap tidak lagi sebagai media promosi tetapi lebih bersifat pemberitahuan.

3. Memasang 1 (satu) tanda penunjuk jalan dengan ukuran tidak melebihi 20 cm x 50 cm, dasar
berwarna putih, huruf berwarna hitam, tanpa mencantumkan nama Notaris serta dipasang dalam
radius maksimum 100 meter dari kantor Notaris. 
- dipergunakan sebagai papan petunjuk dan bukan papan promosi.
 Sejarah Berdirinya Ikatan Notaris Indonesia

Awal berdirinya Ikatan Notaris Indonesia dimulai sejak masa pemerintahan


Hindia Belanda.
Semakin berkembangnya peran notaris dan bertambahnya jumlah notaris
mendorong para notaris di Indonesia mendirikan suatu organisasi perkumpulan bagi
para notaris Indonesia. Perkumpulan yang didirikan pada awalnya hanya ditujukan
bagi ajang pertemuan dan bersilaturahmi antara para notaris yang menjadi
anggotanya. Pada waktu itu perkumpulan satu-satunya bagi notaris Indonesia adalah
‘de-Nederlandsch-Indische Notarieële Verëeniging’, yang didirikan di Batavia
(sekarang Jakarta) pada tanggal 1 Juli 1908 (menurut anggaran dasar ex Menteri
Kehakiman pada tanggal 4 Desember 1958 No. J.A. 5/117/6). Verëeniging ini
berhubungan erat dengan ‘Broederschap van Candidaat-Notarissen in Nederland en
zijne Koloniën’ dan ‘Broederschap der Notarissen’ di Negeri Belanda, dan diakui
sebagai badan hukum (rechtspersoon) dengan Gouvernements Besluit (Penetapan
Pemerintah) tanggal 5 September 1908 Nomor 9. Mula-mula sebagai para pengurus
perkumpulan ini adalah beberapa orang notaris berkebangsaan Belanda yaitu L.M.
Van Sluijters, E.H. Carpentir Alting, H.G. Denis, H.W. Roebey dan W. an Der Meer.
Anggota perkumpulan tersebut pada waktu itu adalah para notaris dan calon notaris
Indonesia (pada waktu itu Nederlandsch Indië).
Setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, maka para notaris Indonesia yang
tergabung dalam perkumpulan lama tersebut, dengan diwakili oleh seorang pengurus
selaku ketuanya, yaitu Notaris Eliza Pondaag, lalu mengajukan permohonan kepada
Pemerintah c.q. Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan suratnya tanggal 17
November 1958 untuk mengubah anggaran dasar (statuten) perkumpulan itu. Maka
dengan penetapan Menteri Kehakiman Republik Indonesia tanggal 4 Desember 1958
No. J.A. 5/117/6 perubahan anggaran dasar perkumpulan dinyatakan telah sah dan
sejak hari diumumkannya anggaran dasar tersebut dalam Tambahan Berita Negara
Indonesia tanggal 6 Maret 1959 Nomor 19, nama perkumpulan ‘Nederlandsch-
Indische Notarieële Verëeniging’ berubah menjadi Ikatan Notaris Indonesia (INI) yang
mempunyai tempat kedudukan di Jakarta dan hingga saat ini masih merupakan satu-
satunya perkumpulan bagi notaris di Indonesia.

Hal ini juga dikuatkan oleh PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK


INDONESIA Nomor 009-014/PUU-III/2005 tanggal 13 September 2005 atas perkara:
“Pengujian Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris Terhadap Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945”, yang menyatakan bahwa IKATAN NOTARIS INDONESIA adalah organisasi
Notaris yang berbentuk perkumpulan berbadan hukum dan merupakan wadah tunggal
bagi Notaris di seluruh Indonesia. Ikatan Notaris Indonesia (INI) menjadi anggota ke–
66 dari Organisasi Notaris Latin International (International Union of Latin Notaries -
UINL) pada tanggal 30 Mei 1997 di Santo Dominggo, Dominica.
 Ikatan Notaris Indonesia adalah wadah tunggal bagi Notaris sebagaimana dimaksud
dalam pasal 82 ayat 1 “Notaris berhimpun dalam satu wadah Organisasi Notaris”.
 
 Pasal 1 Anggaran Dasar Ikatan Notaris Indonesia (INI) : 
“Perkumpulan bernama Ikatan Notaris disingkat INI adalah organisasi profesi
Jabatan Notaris yang berbadan hukum, sebagaimana dimaksud dalam Undang–
Undang Jabatan Notaris, berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia, dan
berazaskan Pancasila.”

 Ikatan Notaris Indonesia adalah organisasi yang berbentuk perkumpulan yang


berbadan hukum sebagai satu-satunya organisasi profesi jabatan Notaris bagi
segenap Notaris di seluruh Indonesia,
 Bercita-cita untuk menjaga dan membina keluhuran martabat dan jabatan Notaris
(Mukadimah AD-INI).
 
 Pemerintah hanya mengakui Ikatan Notaris Indonesia sebagai Organisasi Jabatan
Notaris sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor :
M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota,
Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja Majelis Pengawas.
Ikatan Notaris Indonesia bertujuan untuk :
 Menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan serta mengupayakan terwujudnya kepastian
hukum.
 Memajukan dan mengembangkan ilmu hukum pada umumnya dan ilmu serta
pengetahuan dalam bidang Notariat pada khususnya.
 Menjaga keluhuran martabat serta meningkatkan mutu Notaris selaku pejabat umum
dalam rangka pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa dan Negara.
 Memupuk dan mempererat hubungan silaturahmi dan rasa persaudaraan serta rasa
kekeluargaan antara sesama anggota untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan serta
kesejahteraan segenap anggotanya.

• Struktur organisasi INI jelas dan berfungsi. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab
organisasi, maka jajaran organisasi Ikatan Notaris Indonesia yaitu Pengurus Pusat Ikatan
Notaris Indonesia (PP-INI), termasuk didalamnya Penasehat Pengurus Pusat, Dewan
Kehormatan Pusat (DKP) yang berkedudukan di ibukota, 28 Pengurus Wilayah dan
Dewan Kehormatan Wilayah (DKW) yang berkedudukan di ibukota propinsi, serta 133
Pengurus Daerah dan Dewan Kehormatan Daerah yang berkedudukan di
Kabupaten/Kotamadya, selalu menampung dan menyalurkan aspirasi anggotanya yang
saat ini berjumlah lebih dari 12.000 Notaris yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
 INI mempunyai tujuan yang jelas yaitu meningkatkan mutu dan profesionalisme anggotanya
sebagai pejabat umum dengan selalu menjaga hubungan kebersamaan yang dilandasi rasa
persaudaraan di antara anggota dengan tetap menjunjung tinggi keluhuran martabat jabatan
notaris guna memberikan pengabdian kepada Bangsa dan Negara melalui profesi dalam wadah
INI.

 Ikatan Notaris Indonesia (INI) mempunyai Kode Etik dan Dewan Kehormatan sebagai lembaga
mandiri yang bebas dari keberpihakan dalam INI yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk
melakukan pembinaan, pengawasan dan penertiban maupun pembenahan yang mempunyai
kewenangan untuk memanggil, memeriksa dan menjatuhkan sanksi atau hukuman kepada
anggota INI yang melakukan pelanggaran Kode Etik.
 
 Ujian kode etik merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi bagi seorang calon
notaris. Sebagaimana Surat Edaran Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia Nomor C.PW.01.10.02 tanggal 29 Juni 2002 bahwa tentang Surat Rekomendasi untuk
Pindah Wilayah Kerja Notaris dan Ujian Kode Etik Notaris yang diakui Pemerintah hanyalah
Rekomendasi dan Hasil Ujian Kode Etik yang dikeluarkan oleh INI. Untuk itu, INI secara rutin
menyelenggarakan Ujian Kode Etik sedikitnya 1 (satu) kali dalam setahun dan mengevaluasi
permohonan pindah wilayah kerja notaris dan perpanjangan masa jabatan notaris sedikitnya 1
(satu) kali dalam sebulan setiap tanggal 15 bulan berjalan.

 Ikatan Notaris Indonesia (INI) mempunyai kegiatan yang rutin dan jelas, misalnya kegiatan
peningkatan ketrampilan dan kemampuan anggota berupa pembekalan dan penyegaran
pengetahuan setiap 6 (enam) bulan sekali yang diselenggarakan bersamaan dengan agenda
organisasi Rapat Pleno Pengurus Pusat Yang Diperluas. Setiap 3 (tiga) tahun sekali
mengadakan Kongres untuk konsolidasi organisasi, menyusun program kerja dan melakukan
pemilihan Pengurus.
Perkumpulan mempunyai susunan dan alat perlengkapan sebagaimana diatur dalam Pasal
11 Anggaran Rumah Tangga INI, berupa :

1. Rapat anggota :
1.1. Kongres/Kongres Luar Biasa (pada tingkat Nasional);
1.2. Konferensi Wilayah/ Konferensi Wilayah Luar Biasa (pada tingkat Propinsi);
1.3. Konferensi Daerah/ Konferensi Daerah Luar Biasa (pada tingkat Kota/Kabupaten). 
 Kongres adalah rapat seluruh anggota perkumpulan yang merupakan pemegang kekuasaan

tertinggi dalam perkumpulan.


 Demikian pula halnya untuk Konferensi Wilayah dan Daerah merupakan pemegang kekuasaan

tertinggi di Wilayah dan di Daerah.  

2. Kepengurusan:
2.1. Pengurus Pusat, berkedudukan di Ibukota Negara RI;
2.2. Pengurus Wilayah, berkedudukan di Ibukota Propinsi;
2.3. Pengurus Daerah, berkedudukan di Kota/Kabupaten.
 
3. Dewan Kehormatan :
3.1. Dewan Kehormatan Pusat, berkedudukan di Ibukota Negara RI;
3.2. Dewan Kehormatan Wilayah, berkedudukan di Ibukota Propinsi;
3.3. Dewan Kehormatan Daerah, berkedudukan di Kota/Kabupaten.
Anggota Perkumpulan terdiri dari:

1. Anggota biasa (Pasal 9 ayat 1 huruf a AD), yaitu :


- setiap orang yang menjalankan tugas jabatan Notaris (Notaris aktif) yang terdaftar
sebagai anggota perkumpulan dan mempunyai hak suara.
- setiap Notaris yang telah berhenti melaksanakan tugas jabatan Notaris (Werda
Notaris), karena:
- diberhentikan dengan hormat karena telah mencapai umur yang telah ditetapkan
undang-undang; atau
- berhenti atas permintaannya sendiri.
(pasal 2 ayat 2 ART)
 
2. Anggota luar biasa, (pasal 9 ayat 1 huruf b AD), yaitu:
- setiap orang yang telah lulus program studi strata dua kenotariatan atau program
pendidikan spesialis kenotariatan yang terdaftar sebagai anggota perkumpulan.
( pasal 2 ayat 3 ART)

3. Anggota Kehormatan, (Pasal 9 ayat 1 huruf c AD), yaitu :


- seseorang yang mempunyai jasa yang sangat besar terhadap perkumpulan maupun
lembaga kenotariatan.
(Pasal 2 ayat 4 ART).
Setiap Notaris Indonesia menjadi anggota biasa. (mempunyai arti secara hak setiap Notaris
Indonesia adalah anggota perkumpulan INI, akan tetapi dengan tetap mensyaratkan
pendaftaran untuk keanggotaannya, sehingga dapat dikatakan INI menganut stelsel pasif
bertendens aktif untuk keanggotaannya.

Kewajiban Anggota

1. Setiap anggota biasa (dari Notaris aktif) wajib menjunjung tinggi harkat dan martabat
jabatan Notaris dan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku pada
umumnya dan peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Notaris pada
khususnya, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Kode Etik Notaris, Keputusan
Kongres, peraturan-peraturan maupun ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh
Perkumpulan serta menjaga dan mempertahankan nama baik Perkumpulan.
2. Setiap anggota biasa dan anggota luar biasa wajib berpartisipasi aktif dalam
perkumpulan.
3. Setiap anggota biasa (dari Notaris aktif) wajib menjalankan jabatan Notaris secara aktif
dan nyata dengan memasang papan nama dan menyampaikan laporan sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
4. Setiap anggota biasa (dari Notaris aktif) yang mengajukan permohonan pindah tempat
kedudukan atau perpanjangan masa jabatan wajib memperoleh rekomendasi dari
Pengurus Daerah, Pengurus Wilayah dan Pengurus Pusat, serta telah memenuhi
persyaratan yang ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
5. Setiap anggota luar biasa yang mengajukan permohonan pengangkatan sebagai Notaris, wajib
memperoleh rekomendasi dari Pengurus Daerah, Pengurus Wilayah dan Pengurus Pusat.
6. Anggota biasa (dari Notaris aktif) wajib memberitahukan tentang kepindahannya kepada
Pengurus Daerah dan Pengurus Wilayah di tempat kedudukannya yang lama dan yang baru
dengan tembusan kepada Pengurus Pusat selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh)
hari setelah meninggalkan tempat kedudukannya yang lama.
7. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah menerima pemberitahuan perpindahan keanggotaan
tersebut, Pengurus Daerah dan Pengurus Wilayah yang lama maupun yang baru harus
menyampaikan laporan tentang adanya perpindahan keanggotaan dari anggota yang
bersangkutan kepada Pengurus Pusat.
8. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah menerima pemberitahuan perpindahan keanggotaan
tersebut, Pengurus Daerah dan Pengurus Wilayah yang lama maupun yang baru serta
Pengurus Pusat sudah harus mencatat di dalam Buku Daftar Anggota.
9. Setiap anggota luar biasa wajib menjunjung tinggi harkat dan martabat jabatan Notaris dan
mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku pada umumnya, Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Kode Etik Notaris, Keputusan Kongres, peraturan-peraturan
maupun ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Perkumpulan serta menjaga dan
mempertahankan nama baik Perkumpulan.
10. Setiap anggota kecuali werda Notaris dan anggota kehormatan, wajib membayar uang pangkal;
dan bagi anggota biasa (dari Notaris aktif) wajib membayar uang iuran bulanan serta
sumbangan lain yang ditetapkan oleh perkumpulan. Apabila kewajiban tersebut tidak dipenuhi
maka anggota dimaksud tidak dapat menuntut hak-hak sebagaimana tersebut dalam Pasal 6.
(Pasal 7 ART-INI)
Hak Anggota
 
Anggota biasa dari Notaris aktif berhak untuk :
 Mengikuti semua kegiatan Perkumpulan;
 Mengeluarkan pendapat dan mempunyai hak suara dalam Kongres,
Konferensi Wilayah dan Konferensi Daerah;
 Memilih dan dipilih sebagai anggota Pengurus atau Dewan Kehormatan;
 Mendapatkan perlindungan dari Perkumpulan, sejauh hal itu dapat dan
patut diberikan berdasarkan ketentuan dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan serta peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
 Mendapatkan bantuan dan layanan dari perkumpulan guna memperoleh
bahan atau dokumen mengenai peraturan perundang-undangan dan
peraturan perkumpulan serta bahan atau dokumen lainnya yang
mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan jabatan
Notaris; satu dan lain dengan memperhatikan tata cara yang berlaku dalam
perkumpulan.
 Ahli waris dari anggota biasa berhak memperoleh uang duka.

 (Pasal 6 ART-INI)
Berakhirnya Keanggotaan
Keanggotaan anggota biasa (dari Notaris aktif) berakhir karena :
◦ Meninggal dunia;
◦ Mengundurkan diri sebagai Notaris;
◦ Ditaruh dibawah pengampuan;
◦ Diberhentikan berdasarkan keputusan Kongres;
◦ Diberhentikan dengan tidak hormat sebagai Notaris oleh instansi
yang berwenang.
◦ Mendirikan / ikut serta dan aktif dalam organisasi Notaris
tandingan / sejenis, atau mempergunakan nama dan lambang
Perkumpulan secara tidak sah.
◦ Tidak mentaati/mematuhi keputusan kongres yang sah.
 
(Pasal 8 ART-INI)
Susunan Kepengurusan Perkumpulan INI.
 
Susunan kepengurusan perkumpulan terdiri atas :
1. Pengurus Pusat;
2. Pengurus Wilayah;
3. Pengurus Daerah;
 
 Pada Tingkat Pusat disebut Pengurus Pusat, berkedudukan di Ibu Kota Negara dan

merupakan pimpinan tertinggi perkumpulan.


Ketua Umum dan Sekretaris Umum mewakili Pengurus Pusat dan karenanya mewakili
perkumpulan, dan apabila Ketua Umum berhalangan atau tidak berada di tempat, hal itu
tidak perlu dibuktikan terhadap pihak luar maka 2 (dua) orang Ketua yang lainnya bersama-
sama dengan sekretaris umum atau seorang sekretaris mewakili Pengurus Pusat dan
karenanya mewakili perkumpulan di dalam dan di luar Pengadilan serta bertanggung jawab
terhadap jalannya perkumpulan baik mengenai pengurusan maupun pemilikan.
 
 Pada Tingkat Propinsi disebut Pengurus Wilayah, berkedudukan di Ibukota Propinsi, serta

merupakan perpanjangan tangan dari Pengurus Pusat dan merupakan koordinator dari
Pengurus Daerah-Pengurus Daerah dalam wilayah kepengurusannya.
 
 Pada Tingkat Kota/Kabupaten disebut Pengurus Daerah, berkedudukan di Ibukota

Kabupaten/Kota, dan juga merupakan perpanjangan tangan dari Pengurus Pusat, serta
mempunyai hubungan langsung dengan anggota.
Perkumpulan juga mempunyai Dewan Kehormatan, yang terdiri dari :

 Pada Tingkat Pusat disebut Dewan Kehormatan Pusat.


 Pada Tingkat Propinsi disebut Dewan Kehormatan Wilayah.
 Pada Tingkat Kota/Kabupaten disebut Dewan Kehormatan Daerah.
 
 Dewan Kehormatan adalah salah satu alat perkumpulan INI yang merupakan badan yang mandiri dan
bebas dari kepengurusan INI yang mempunyai tugas untuk:
◦ melakukan pembinaan, bimbingan, pengawasan, pembenahan anggota dalam menjunjung tinggi
Kode Etik;
◦ memeriksa dan mengambil keputusan atas dugaan pelanggaran ketentuan Kode Etik yang bersifat
internal atau yang tidak mempunyai kaitan dengan kepentingan masyarakat secara langsung;
◦ memberikan saran dan pendapat kepada Majelis Pengawas atas dugaan pelanggaran Kode Etik dan
Jabatan Notaris.
Pasal 83 UUJN;
“Organisasi menetapkan dan menegakkan Kode Etik Notaris.”
Menetapkan Kode Etik dilakukan anggota melalaui Kongres sedangkan penegakkannya dilakukan oleh
Dewan Kehormatan.
 
 Untuk menjaga Kehormatan dan Keluhuran martabat jabatan Notaris, Perkumpulan mempunyai Kode
Etik Notaris yang ditetapkan oleh Kongres dan merupakan kaedah moral yang wajib ditaati oleh setiap
anggota Perkumpulan (Pasal 13 ayat 1 AD).
 Dewan Kehormatan melakukan upaya-upaya untuk menegakkan Kode Etik tersebut (Pasal 13 ayat 2
AD). 
 Pengurus Perkumpulan dan/atau Dewan Kehormatan bekerjasama dan berkoordinasi dengan Majelis
Pengawas untuk melakukan upaya Penegakan Kode Etik (Pasal 13 ayat 3 AD).
Pengawasan Notaris
 
Dalam Pasal 67, 68 dan 69 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
mengatur mengenai Pengawasan Notaris yang dilakukan oleh Menteri.
 
Dalam pelaksanaan pengawasannya, Menteri membentuk Majelis Pengawas yang berjumlah
9 orang,terdiri atas unsur :
1. Pemerintah sebanyak 3 (tiga) orang
2. Organisasi Notaris sebanyak 3 (tiga) orang
3. Ahli atau akademisi 3 (tiga) orang

Yang dimaksud dengan Pengawasan adalah meliputi perilaku Notaris dan pelaksanaan
jabatan Notaris.
 
Setiap pelanggaran terhadap perilaku Notaris dan pelaksanaan jabatan Notaris, Majelis
Pengawas berhak menjatuhkan sanksi berupa :
 teguran lisan;

 teguran tertulis;

 pemberhentian sementara;

 pemberhentian dengan hormat; atau

 pemberhentian dengan tidak hormat.


Selanjutnya hal-hal yang berkaitan dengan Majelis Pengawas, diatur dalam
Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor : M.02.PR.08.10 Tahun 2004
tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan
Organisasi, dan Tata Kerja Majelis Pengawas.
 Kedudukan Notaris sebagai sebuah profesi yang luhur.

 Membawa konsekuensi bagi penyandangnya untuk memperhatikan


keempat syarat yang menjadi pembeda antara profesi umum dan profesi
yang luhur.
 
 Seorang Notaris harus mempunyai penguasaan ilmu yang cukup
dibidangnya yaitu ilmu hukum pada umumnya dan ilmu kenotariatan pada
khususnya.
 
 Dalam menjalankan pekerjaan/profesinya dilakukan untuk kepentingan
pelayanan kepada masyarakat.
 
 Terikat pada ketentuan–ketentuan hukum, kesusilaan, kepatutan,
kesopanan dan kode etik profesinya
 Dan terakhir tidak menjadikan profesinya sebagai pekerjaan untuk mencari
nafkah semata.

 Notaris adalah seorang yang ahli atau banyak pengetahuannya tentang


Ilmu Hukum pada umumnya dan Ilmu Kenotariatan pada khususnya.

 Menjalankan pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki, mempunyai dan


selalu menjaga Harkat dan Martabat serta mempunyai kejujuran dan
Integritas.

 Seorang Notaris dituntut untuk selalu mencari ilmu dan selalu meningkatkan
ilmu yang dikuasainya, mengasah nurani melalui komitmen diri selalu
berada dalam kebenaran dan keadilan serta tidak berfikir pencarian rejeki
melalui profesi.
1. Baraba, Badar, SH., MH., Organisasi dan Kode Etik, Makalah Pelatihan Teknis Bagi
Calon Notaris, 2011.
2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
3. Anggaran Dasar Ikatan Notaris Indonesia.
4. Anggaran Rumah Tangga Ikatan Notaris Indonesia.
Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia
(PP-INI)
Maret 2013