Anda di halaman 1dari 13

VARISELA

Definisi
Infeksi akut primer oleh virus varisela-
zoster yang menyerang kulit dan mukosa,
manifestasi klinis didahului gejala
konstitusi, kelainan kulit polimorf,
terutama berlokasi dibagian sentral tubuh.
Epidemiologi
◦Penyebab varisela adalah virus varisela-zoster (VVZ).
Penamaan tersebut memberi pengertian bahwa infeksi primer
virus ini menyebabkan penyakit menyebabkan herpes zoster.
VVZ merupakan anggota famili herpes virus. Virion VVZ
berbentuk bulat, berdiameter 150-200 nm, DNA terletak di
antara nukleokapsid, dan dikelilingi oleh selaput membran luar
dengan sedikitnya terdapat tiga tonjolan glikoprotein mayor.
Glikoprotein ini yang merupakan target imunitas humoral dan
seluler.
◦ VVZ masuk ke dalam tubuh melalui mukosa saluran napas atas dan
orofaring. Virus bermulti- plikasi di tempat masuk (port d'entry), menyebar
melalui pembuluh darah dan limfe, mengakibatkan viremia primer. Tubuh
mencoba mengeliminasi virus terutama melalui sistem pertahanan tubuh
non spesifik, dan imunitas spesifik terhadap VVZ. Apabila pertahanan
tubuh tersebut gagal meng- eliminasi virus terjadi viremia sekunder kurang
lebih dua minggu setelah infeksi. Viremia ini ditandai oieh timbulnya erupsi
varisela, terutama di bagian Sentral tubuh dan di bagian perifer lebih
ringan Pemahaman baru menyatakan bahwa erupsi varisela, sedangkan
reaktivasi kulit sudah dapat terjadi setelah viremi primer. Setelah erupsi
kulit dan mukosa, virus masuk ke ujung saraf sensorik kemudian menjadi
laten di ganglion dorsalis posterior. Pada suatu saat, bila terjadi reaktivasi
VVZ, dapat terjadi manifestasi herpes zoster, sesuai dermatom yang
terkena.
Gejala Klinis
1. Gejala prodromal berupa demam, 1. Lesi berupa makula eritematosa
nyeri kepala, dan lesu, sebelum yang cepat berubah menjadi
timbul ruam kulit. vesikel ”dewdrop on rose petal
2. Ruam kulit muncul mulai dari appearance”. Dalam beberapa
wajah, skalp dan menyebar ke jam sampai 1-2 hari vesikel
tubuh. Lesi menyebar sentrifugal dengan cepat menjadi keruh,
(dari sentral ke perifer) sehingga menjadi pustul dan krusta
dapat ditemukan lesi baru di kemudian mulai menyembuh. Ciri
ekstremitas, sedangkan di badan khas varisela adalah ditemukannya
lesi sudah berkrusta. lesi kulit berbagai stadium di
berbagai area tubuh.
4. Pada anak, erupsi kulit terutama berbentuk vesikular:
beberapa kelompok vesikel timbul 1-2 hari sebelum erupsi
meluas. Jumlah lesi bervariasi, mulai dari beberapa sampai
ratusan. Umumnya pada anak-anak lesi lebih sedikit,
biasanya lebih banyak pada bayi (usia <1 tahun), pubertas
dan dewasa.
5. Kadang-kadang lesi dapat berbentuk bula atau hemoragik.
6. Selaput lendir sering terkena, terutama mulut, dapat juga
konjungtiva palpebra, dan vulva.
Pemeriksaan Penunjang
◦ Pada pemeriksaan darah tepi, jumlah leukosit dapat sedikit meningkat,
normal, atau sedikit menurun beberapa hari pertama.
◦ Enzim hepatik kadang meningkat.
◦ Pada Tzank test ditemukan sel datia berinti banyak, tetapi tidak spesifik
untuk varisela.
◦ Kultur virus dari cairan vesikel seringkali positif pada 3 hari pertama, tetapi tidak
dilakukan karena sulit dan mahal.
◦ Deteksi antigen virus dengan PCR untuk kasus varisela yang berat atau tidak
khas.
Diagnosa Banding
Yang sangat mirip: Yang masih dipertimbangkan:
◦Impetigo. ◦Papular urtikaria.
◦Gigitan serangga. ◦Multiform eritema.
◦Dermatitis kontak. ◦Drug-eruptions.
◦Rickettsialpox. ◦Herpes simplex.
◦Scabies. 4
Komplikasi
◦ Pada anak-anak, varisela jarang disertai komplikasi. Komplikasi tersering
umumnya disebabkan oleh infeksi sekunder bakterial pada lesi kulit, yang
biasanya disebabkan oleh stafilokokus atau streptokokus, sehingga terjadi
impetigo, furunkel, selulitis, atau erisipelas, tetapi jarang terjadi gangren.
Infeksi fokal tersebut sering menyebabkan jaringan parut, tetapi jarang
terjadi sepsis yang disertai infeksi metastase ke organ yang lainnya.
Vesikel dapat menjadi bula bila terinfeksi stafilokokus yang menghasilkan
toksin eksfoliatif.
◦ Pneumonia, otitis media dan meningitis supurativa jarang terjadi dan
responsif terhadap antibiotik yang tepat. Bagaimanapun juga, superinfeksi
bakteri umum dijumpai dan berpotensi mengancam kehidupan pada pasien
dengan leukopenia.
Tatalaksana
◦Pengobatan bersifat simtomatik dengan anti-piretik
dan analgesik, untuk menghilangkan rasa gatal dapat
diberikan sedatif, atau antihistamin yang mempunyai
efek sedatif. Antipiretik antara lain parasetamol,
hindari salisilat atau aspirin karena dapat
menimbulkan sindrom Reye.
Status Dosis
Bayi/anak 10-20 mg/KgBB/hari; dosis terbagi 4-5 x 20
mg/kgBB/kali (maks. 800 mg/kali) selama 7 hari.

Dewasa Asiklovir 5 x 800 mg/hari selama 7 hari atau


valasiklovir untuk dewasa selama 7 hari
Famsiklovir untuk dewasa: 3 x 250 mg/hari
selama 7 hari.

Immunokompremais Asiklovir: 10 mg/kgBB, intravena atau iv drip, 3


x sehari, minimal 10 hari atau,
Asiklovir 5 x 800 mg/hari/oral minimal 10 hari
atau, Valasiklovir: 3 x 1 gram/hari minimal 10
hari atau
Famsiklovir: 3 x 500 mg/hari selama minimal 10
hari.
Pencegahan
◦ Vaksin varisela berasal dari galur yang telah dilemahkan. Angka
serokonversi mencapai 97-99%. Diberikan pada berumur 12 bulan atau
lebih. Lama proteksi belum diketahui pasti. Meskipun demikian, vaksinasi
ulangan dapat diberikan setelah 4-6 bulan.1
◦ Pemberian secara subkutan sebesar 0,5 ml pada anak berusia 12 bulan
sampai 12 tahun. Pada usia diatas 12 tahun, diberikan juga 0,5 ml, setelah
4-8 minggu diulangi dengan dosis yang sama. Bila terpajan kurang dari 3
hari, pelindungan vaksin yang diberikan masih terjadi, sedangkan antibody
yang cukup sudah timbul antara 3-6 hari setelah vaksinasi.
Prognosis
◦Quo ad vitam : bonam
◦Quo ad functionam : bonam
◦Quo ad sanactionam : bonam