Anda di halaman 1dari 25

INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT

(PEPTISIDA)

 
ANGGOTA : ABNI YULISTIAWATI
ANGGIA SARI AYU
BERTHARIA RISTA UTAMI
CHIKA SASRA MAWARNI
CICI YUNITA
DELVIA SUTRIYANI
DESI ANGGRAINI
DESI SAGITA WENBEN
Pengertian Peptisida
Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan sida
yang berasal dari kata caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat
diartikan secara sederhana sebagai pembunuh hama.

Menurut PP RI No. 6 tahun 1995 dalam Soemirat


(2005), pestisida juga didefinisikan sebagai zat atau senyawa
kimia, zat pengatur tubuh dan perangsang tubuh, bahan lain,
serta mikroorganisme atau virus yang digunakan untuk
perlindungan tanaman.
Macam-Macam
Pestisida
Pestisida Berdasarkan Jasad
• Akarisida Sasaran
: Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu
• Contohnya Kelthene MF
Algasida : berfungsi untuk membunuh algae. Contohnya
Dimanin.
• Alvisida : fungsinya sebagai pembunuh atau penolak burung.
Contohnya Avitrol untuk burung kakaktua.
• Bakterisida : berfungsi untuk membunuh bakteri. Contohnya
Tetracyclin
• Fungsida : berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan
• Contohnya Benlate
• Herbisida : berfungsi untuk membunuh gulma. Contohnya
• Gramoxone
• Insektisida :berfungsi untuk membunuh serangga. Contohnya
• Lebaycid
• Molluskisida : berfungsi untuk membunuh siput. Contohnya
Morestan
• Nematisida : berfungsi untuk membunuh nematoda. Contohnya
Nemacur
Lanjutan…

• Piscisida :berfungsi untuk membunuh ikan. Contohnya


Sqousin
• Rodentisida :berfungsi untuk membunuh binatang
pengerat. Contohnya Dipachin 110
• Termisida :berfungsi untuk membunuh rayap.
Contohnya Agrolene 26 WP
• Larvasida : berfungsi membunuh ulat (larva).
Contohnya Fenthion
Pestisida Berdasarkan Cara Kerjanya
Racun perut
termasuk golongan ini pada umumnya dipakai untuk
membasmi serangga-serangga pengunyah, penjilat dan
penggigit. Daya bunuhnya melalui perut. Contoh: Diazinon
60 EC.

Racun kontak
Organisme tersebut terkena pestisida secara kontak
langsung atau bersinggungan
dengan residu yang terdapat di permukaan yang terkena
pestisida. Contoh: Mipcin 50 WP.

Racun gas
Pestisida yang mempunyai daya bunuh setelah jasad
sasaran terkena uap atau gas
Pestisida Berdasarkan Struktur
Kimia
Menurut Depkes RI Dirjen P2M dan PL 2000 :

1. Golongan organochlorin misalnya DDT


2. Golongan organofosfat misalnya diazonin
3. Golongan karbamat misalnya baygon, bayrusil
4. Senyawa dinitrofenol misalnya morocidho 40EC.
5. Pyretroid misalnya difetrin, sipermetrin
6. Fumigan misalnya chlorofikrin
7. Petroleum misalnya Minyak bumi
8. Antibiotik Misalnya senyawa kimia seperti penicillin
Pengertian Pestisida
Organofosfat
Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik di antara jenis
pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia

MKT : 1. Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase


dalam
plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada
sinapsisnya.
2. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis acetylcholine
menjadi
asetat dan kholin.
3. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah
acetylcholine
meningkat berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik

pada system Saraf pusat dan perifer.


4. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang
berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

penggunaan organofosfat untuk pengobatan pada manusia tetap


dilakukan berbagai studi untuk mengambil efek terapeutik dari
organofosfat . Sekitar tahun 1930 sintesis penghambat kolineterase
Pestisida Golongan
Organofosfat
Asefat
Asefat berspektrum luas untuk mengendalikan hama-hama penusuk-
penghisap dan pengunyah seperti aphids, thrips, larva Lepidoptera
(termasuk ulat tanah), penggorok daun dan wereng. LD50 (tikus)
sekitar 1.030 – 1.147 mg/kg; LD50 dermal (kelinci) > 10.000
mg/kg menyebabkan iritasi ringan pada kulit (kelinci).

Kadusafos
merupakan insektisida dan nematisida racun kontak dan racun perut.
LD50 (tikus) sekitar 37,1 mg/kg; LD50 dermal (kelinci) 24,4
mg/kg tidak menyebabkan iritasi kulit dan tidak menyebabkan iritasi
pada mata.

Klorfenvinfos
Insektisida ini bersifat nonsistemik serta bekerja sebagai racun kontak
dan racun perut dengan efek residu yang panjang. LD50 (tikus)
sekitar 10 mg/kg; LD50 dermal (tikus) 31 – 108 mg/kg.
Lanjutan…
Klorpirifos
insektisida non-sistemik
bekerja sebagai racun kontak, racun lambung, dan inhalasi. LD50 oral
(tikus) sebesar 135 – 163 mg/kg; LD50 dermal (tikus) > 2.000
mg/kg berat badan.

Kumafos
Insektisida ini bersifat non-sistemik untuk mengendalikan serangga
hama dari ordo Diptera. LD50 oral (tikus) 16 – 41 mg/kg; LD50
dermal (tikus) > 860 mg/kg

Diazinon
insektisida dan akarisida non-sistemik yang bekerja sebagai racun
kontak, racun perut, dan efek inhalasi. LD50 oral (tikus) sebesar
1.250 mg/kg.

Diklorvos (DDVP)
Insektisida dan akarisida ini bersifat non-sistemik, bekerja sebagai
racun kontak, racun perut, dan racun inhalas
LD50 (tikus) sekitar 50 mg/kg; LD50 dermal (tikus) 90 mg/kg.
Lanjutan…
Malation
Insektisida dan akarisida non-sistemik ini bertindak sebagai racun kontak
dan racun lambung, serta memiliki efek sebagai racun inhalasi
LD50 oral (tikus) 1.375 – 2.800 mg/lg; LD50 dermal (kelinci) 4.100
mg/kg.

Paration
merupakan insektisida dan akarisida, memiliki mode of action sebagai
racun saraf yang menghambat kolinesterase, bersifat non-sistemik, serta
bekerja sebagai racun kontak, racun lambung, dan racun inhalasi.
Paration termasuk insektisida yang sangat beracun, LD50 (tikus)
sekitar 2 mg/kg; LD50 dermal (tikus) 71 mg/kg.

Profenofos
Insektisida dan akarisida non-sistemik ini memiliki aktivitas translaminar
dan ovisida. Profenofos digunakan untuk mengendalikan berbagai
serangga hama (terutama Lepidoptera) dan tungau. LD50 (tikus)
sekitar 358 mg/kg; LD50 dermal (kelinci) 472 mg/kg.
Lanjutan…

Triazofos
merupakan insektisida, akarisida, dan nematisida berspektrum luas
yang bekerja sebagai racun kontak dan racun perut. Triazofos bersifat
non-sistemik, tetapi bisa menembus jauh ke dalam jaringan tanaman
(translaminar) dan digunakan untuk mengendalikan berbagai hama
seperti ulat dan tungau. LD50 (tikus) sekitar 57 – 59 mg/kg; LD50
dermal (kelinci) > 2.000 mg/kg.
Dampak Penggunaan
Pestisida Organofosfat
Paration
Etil paration merupakan derivat fenil yang pertama dikenalkan secara
komersial, karena sifatnya yang sangat toksik tidak digunakan di rumah.

Demeton
organofosfat pestisida peringkat 10% bahan kimia yang paling berbahaya
teratas. Ini adalah racun bagi manusia, mamalia lain, organisme air, dan
spesies nontarget. Sejumlah keracunan dan bahkan beberapa kematian
pekerja yang terpapar dalam jumlah besar demeton telah diamati.

Malation
golongan organofosfat parasimpatomimetik, yang berarti berikatan
irreversibel dengan enzim kolinesterase pada sistem saraf
serangga.Akibatnya, otot tubuh serangga mengalami kejang, kemudian
lumpuh, dan akhirnya mati
Mekanisme Kerja Pestisida
Organofosfat Dalam Tubuh
1. Pestisida organofosfat ketika memasuki tubuh manusia
atau hewan, pestisida menempel pada enzim
kholinesterase. (Hal ini karena kholinesterase tidak dapat
memecahkan asetilkholin, impuls syaraf mengalir terus
(konstan) menyebabkan suatu twiching yang cepat dari otot-
otot dan akhirnya mengarah kepada kelumpuhan. Pada saat
otot-otot pada sistem pernafasan tidak berfungsi terjadilah
kematian).

2. Pestisida golongan organofosfat di dalam tubuh akan


menghambat aktifitas enzim asetilkholinesterase
3. sehingga terjadi akumulasi substrat (asetilkholin) pada sel
efektor.
4. Keadaan tersebut diatas akan menyebabkan gangguan sistem
syaraf yang berupa aktifitas kolinergik secara terus menerus
akibat asetilkholin yang tidak dihidrolisis.
5. Gangguan ini selanjutnya akan dikenal sebagai tanda-tanda
Gejala Keracunan
Organofosfat
Gejala-gejala keracunan organofosfat akan muncul kurang dari 6 jam,
bila lebih dari itu, maka dipastikan penyebabnya bukan golongan
Organofosfat.

1. Gejala awal
Gejala awal akan timbul : mual/rasa penuh di perut, muntah, rasa
lemas, sakit kepala dan gangguan penglihatan.
2. Gejala Lanjutan
Gejala lanjutan yang ditimbulkan adalah keluar ludah yang berlebihan,
pengeluaran lendir dari hidung, kejang usus dan diare, keringat
berlebihan, air mata yang berlebihan, kelemahan yang disertai sesak
nafas, akhirnya kelumpuhan otot rangka.
3. Gejala Sentral
Gelaja sentral yan ditimbulkan adalah, sukar bicara, kebingungan,
hilangnya reflek, kejang dan koma.
4. Kematian
Apabila tidak segera di beri pertolongan berakibat kematian
dikarenakan
kelumpuhan otot pernafasan.
Lanjutan…
Pestisida organofosfat dapat menimbulkan keracunan yang
bersifat akut dengan gejala (keluhan) sebagai berikut :
1. leher seperti tercekik
2. pusing-pusing
3. badan terasa sangat lemah
4. Sempoyongan
5. pupil atau celah iris mata menyempit
6. pandangan kabur
7. Tremor, terkadang kejang pada otot
8. gelisah dan menurunnya kesadaran
9. mual, muntah, kejang pada perut, mencret
10.mengeluakan keringat yang berlebihan
11.sesak dan rasa penuh di dada
12.pilek, batuk yang disertai dahak, mengeluarkan air liur berlebihan
Lanjutan…

Gejala klinis :
1. Sludge : salivasi, lakrimasi, urinasi, diare, gejala GI tract dan
emesis
2. Miosis : Bronchokonstriksi dengan sekresi berlebihan, anak
tampak sesak dan banyak mengeluarkan lendir dan mulut
berbusa dan bau organofosfat yang tertelan ( bawang
putih/garlic)
3. Bradikardia
4. Lain-lain : hiperglikemia,fasikulasi,kejang,penurunan
kesadaran sampai koma.
5. Depressi pusat pernafasan dan sistem kardiovaskular
Penatalaksanaan
1. Lepaskan baju dan apa saja yang dipakai, dicuci dengan sabun
dan siram dengan air yang mengalir bahkan meskipun
keracunan sudah terjadi sampai 6 jam.
2. Lakukan kumbah lambung,pemberian norit dan cathartic
3. Atropinisasi untuk menghentikan efek acetylcholine pada
reseptor muscarinik, tapi tidak bisa menghentikan efek nikotinik.
4. Pralidoxim yang bekerja sebagai reaktivator dari cholin esterase
pada neuromuscular dan tidak mempengaruhi fungsi CNS
karena tidak dapat melewati blood brain barrier. Diberikan
sesudah atropinisasi dan harus dalam < 36 jam paparan. Dosis
pada anak < 12 tahun 25 - 50 mg/kgBB IV,diulangi sesudah 1 – 2
jam,kemudian diberikan setiap 6 - 12 jam bila gejala masih ada.
5. Pemberian oksigen kalau ada distres nafas,kalau perlu dengan
pernafasan buatan.
6. Pengobatan supportif
Hipoglikemia : glukosa 0,5 - 1g /kg BB IV.
Kejang : diazepam 0,2 - 0,3 mg/kgBB IV.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Terjadinya Keracunan
Faktor di dalam tubuh (internal)
Usia
Seseorang dengan bertambah usia maka kadar rata-rata
cholinesterase dalam darah akan semakin rendah sehingga akan
mempermudah terjadinya keracunan pestisida.
Status gizi
Kondisi gizi yang buruk, protein yang ada tubuh sangat terbatas dan
enzim kholinesterase terbentuk dari protein, sehingga pembentukan
enzim kholinesterase akan terganggu
Jenis Kelamin
jenis kelamin laki-laki lebih rendah dibandingkan jenis kelamin
perempuan karena pada perempuan lebih banyak kandungan enzim
kolinesterase
Tingkat Pendidikan
Pendidikan formal yang diperoleh seseorang akan memberikan
tambahan pengetahuan bagi individu tersebut,
Pengetahuan
Sikap dan praktek (tindakan), seseorang telah setuju terhadap objek,
maka akan terbentuk pula sikap positif terhadap obyek yang sama
Lanjutan…
Faktor di luar tubuh (eksternal)
Dosis
Untuk dosis penyempotan di lapangan khususnya golongan
organofosfat, dosis yang dianjurkan 0,5 – 1,5 kg/ha3,13).
Lama kerja sebagai petani
Semakin lama bekerja menjadi petani akan semakin sering
kontak dengan pestisida sehingga risiko keracunan pestisida
semakin tinggi.
Tindakan penyemprotan pada arah angin
Penyemprotan yang baik bila searah dengan arah angin
dengan kecepatan tidak boleh melebihi 750 m per menit
Waktu penyemprotan
Perlu diperhatikan dalam melakukan penyemprotan
pestisida, hal ini berkaitan dengan suhu lingkungan yang
dapat menyebabkan keluarnya keringat lebih banyak
terutama pada siang hari.
Frekuensi Penyemprotan
Waktu yang dibutuhkan untuk dapat kontak dapat kontak
dengan pestisida maksimal 5 jam perhari.
Lanjutan…
Jumlah jenis pestisida yang digunakan
Jumlah jenis pestisida yang digunakan dalam waktu
penyemprotan akan menimbulkan efek keracunan lebih besar
bila dibanding dengan pengunaan satu jenis pestisida karena
daya racun atau konsentrasi pestisida akan semakin kuat
sehingga memberikan efek samping yang semakin besar.
Cara Pencegahan Keracunan
Pestisida
Penggunaan Alat Pelindung Diri
1. Alat pelindung kepala dengan topi atau helm kepala.
2. Alat pelindung mata, kacamata diperlukan untuk melindungi
mata dari percikan, partikel melayang, gas-gas, uap, debu
yang berasal dari pemaparan pestisida.
3. Alat pelindung pernafasan adalah alat yang digunakan untuk
melindungi pernafasan dari kontaminasi yang berbentuk gas,
uap, maupun partikel zat padat.
4. Pakaian pelindung, dikenakan untuk melindungi tubuh dari
percikan bahan kimia yang membahayakan.
5. Alat pelidung tangan, alat ini biasanya berbentuk sarung
tangan, untuk keperluan penyemprotan sarung tangan yang
digunakan terbuat dari bahan yan kedap air serta tidak
bereaksi dengan bahan kimia yang terkandung dalam
pestisida.
6. Alat pelindung kaki, biasanya berbentuk sepatu dengan
bagian atas yang panjang sampai dibawah lutut, terbuat dari
bahan yang kedap air, tahan terhadap asam, basa atau bahan
Lanjutan…

cara untuk meghindari keracunan antara lain :


Pembelian pestisida
Dalam pembelian pestisida hendaknya selalu dalam kemasan
yang asli, masih utuh dan ada label petunjuknya

Perlakuan sisa kemasan


Bekas kemasan sebaiknya dikubur atau dibakar yang jauh dari
sumber mata air untuk mengindai pencemaran ke badan air dan
juga jangan sekali-kali bekas kemasan pestisida untuk tempat
makanan dan minuman.

Penyimpanan
di simpan yang aman seperti jauh dari jangkauan anak-anak,
tidak bercampur dengan bahan makanan dan sediakan tempat
khusus yang terkunci dan terhindar dari sinar matahari langsung
Lanjutan…

cara untuk meghindari keracunan antara lain :


Pembelian pestisida
Dalam pembelian pestisida hendaknya selalu dalam kemasan
yang asli, masih utuh dan ada label petunjuknya

Perlakuan sisa kemasan


Bekas kemasan sebaiknya dikubur atau dibakar yang jauh dari
sumber mata air untuk mengindai pencemaran ke badan air dan
juga jangan sekali-kali bekas kemasan pestisida untuk tempat
makanan dan minuman.

Penyimpanan
di simpan yang aman seperti jauh dari jangkauan anak-anak,
tidak bercampur dengan bahan makanan dan sediakan tempat
khusus yang terkunci dan terhindar dari sinar matahari langsung
Lanjutan…

Penatalaksanaan Penyemprotan
tidak melawan arah angin atau tidak melakukan penyemprotan
sewaktu angin kencang, hindari kebiasaan makan-minum serta
merokok di waktu sedang menyemprot, setiap selesai
menyemprot dianjurkan untuk mandi pakai sabun dan berganti
pakaian serta pemakain alat semprot yang baik akan menghindari
terjadinya keracunan.
TERIMA KASIH
SEMOGA
BERMANFAAT