Anda di halaman 1dari 12

HYDROXYAPATITE

“Pembuatan Material Sintesis Nano Hydroxyapatite untuk


Aplikasi Scaffolds Tulang Mandibula dari Tulang Cumi
Sotong Menggunakan Metode Kalsinasi”

1. Ayunda Kumala (F1C317016)


2. Diana Novita Manurung
(F1C317017)
Latar Belakang

Bahan yang sedang dikembangkan sebagai biomaterial


sintesis adalah biokeramik. Di dalam bahan biokeramik dikenal
adanya bahan bioaktif. Bahan biokeramik yang sering digunakan
dalam bidang rehabilitasi jaringan adalah hidroksiapatit sintetik.
Hidroksiapatit merupakan komponen utama dari tulang dan gigi,
karena sifat-sifat ion kalsium (Ca²⁺) pada hidroksiapatit dapat
mengubah ion-ion logam berat yang beracun dan memiliki
kemampuan yang cukup baik dalam menyerap unsur-unsur
kimia organik dalam tubuh serta memiliki sifat biokompatibilitas
dan bioaktivitas yang baik
Tujuan
Mengetahui dan mengerti tentang Scaffold
tulang secara umum, pengaruh atau dampak
kalsinasi variasi suhu terhadap Cuttlefish, dan
Karakteristik Tulang Cumi Sotong (Cuttlefish)
sebagai material sintesis HA.
TINJAUAN PUSTAKA

Hidroksiapatit (HA) merupakan kelompok apatit yang paling


sering digunakan di dunia medis sebagai tulang buatan
karena mempunyai sifat yang biokompatibel dan bioaktif.
Hidroksiapatit (HA) dengan formula kimia Ca 10(PO4)6(OH).

Struktur kristal Hydroxyapatite


Beberapa material scaffolds dikembangkan
menjadi bahan bioaktif yang akan memacu
terjadinya biomineralisasi pada tulang adalah
material berbasis bioceramic seperti Calcium
Phosphate atau Tricalcium phosphate. Material
hasil sintesisnya berupa Hydroxyapatite.

Tulang cumi sotong memiliki kandungan kalsium


karbonat, sodium klorida, kalsium fosfat dan garam
magnesium. Dengan proses pemanasanan (kalsinasi)
akan membentuk sintesis HA yang memiliki kesamaan
komposisi kimia dengan jaringan tulang asli. Material
HA dibentuk scaffold untuk mengisi kekurangan tulang
akibat reseksi pada tulang mandibular.
METODE
1. Pembersihan tulang cumi sotong dengan merendamkan didalam aquadesh
2. Keringkan didalam microwave pada suhu 100°C selama 2 jam
3. Ambil bubuk kapur yang menempel pada tulang cumi sotong
4. Bubuk kapur diayak dengan ukuran mesh 200 menghasilkan ukuran butir 76 µm
5. Bubuk tersebut dikalsinasi kedalam muffle untuk mendapatkan sintesis HA.
Temperatur kalsinasi 900, 1000 dan 1100°C selama 1, 2, dan 3 jam
6. Pengambilan bubuk sintesi HA menggunakan pendinginan alami, yaitu
menurunkan temperatur kontrol pada suhu 27°C

7. Pembuatan sintesis HA dengan ukuran nanometer menggunakan


mesin ball milling mulai 1, 2, dan 3 jam sebagai penghancur
8. Spesimen pengujian berbentuk bubuk mulai dari pengujian
XRD, FTIR, dan SEM.
9. Hasil pengujian sintesis HA nanomaterial dikomparasi dengan
HA original merk Sigma Aldrich.
Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Uji X-Ray Diffractometer (XRD)
2. Hasil Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR)
3. Hasil Uji Scanning Electron Microscope (SEM)

Struktur mikro spesimen TK-900/BL-1

* Struktur mikro spesimen TK-1000/BL-2


Struktur mikro spesimen TK-1100/BL-3
Kesimpulan

1. Scalffolds
Tulang merupakan suatu metode penyangga tulang
yang memanfaatkan material yang cocok sebagai implan tulang
2. Proses ball milling semakin lama menjadikan ukuran butir
semakin kecil, tetapi waktu proses ball milling 3 jam belum
mampu menjadikan material HA berukuran nano
3. Hasil uji XRD menunjukan meningkatnya temperatur kalsinasi
akan merusak gugus fungsi dari material sintesis HA
nanomaterial dengan bentuk fase semi kristal. Temperatur
kalsinasi yang optimal pada suhu 900 derajat Celsius.
“You never fail until you stop
trying”

Albert Einstein

Terimakasih