Anda di halaman 1dari 11

Upacara adat

Melahirkan,Pernikahan,
Dan kematian dari kampar
Upacara adat Pernikahan
• Adapun dalam kebudayan pernikahan orang Kampar atau Uwang Ocu ini memiliki
tahapan tersendiri yang harus diikuti selama berlangsungnya penikahan tersebut. Di
dalam kebudayan tentang pernikahan Uwang Ocu ini memiliki larangan atau
pantangan tersendiri terhadap berbagai suku yang ada di Kampar, larangan ini yaitu
berupa tidak diperbolehkan anak kemanakan menikah satu suku atau memiliki satu
suku yang sama karena ini adalah pantangan yang sejak lama yang sudah diatur oleh
ninik mamak. Dan apabila larangan ini dilanggar atau ketahuan nikah satu suku maka
kedua pasangan tersebut akan diusir dari kampung halamannya dan akan dikucilkan
oleh masyarakat, karena masyarakat menggangap nikah satu suku ini adalah nikah
dengan saudaranya sendiri, walaupun di dalam Agama Islam pernikahan yang terjadi
antar sesama suku tidak adanya larangan satu pun di dalamnya.
• Dalam proses pernikahan orang Ocu tahap awal ini adalah keluarga pihak laki-laki dan
mendatangi keluarga pihak perempuan untuk menanyakan hubungan antara kedua
belah pihak untuk perlangsungan acara, yang dinamakan dengan sirih bertanya atau
lebih sering disebut dengan Antau Tando atau Antar Tanda keseriusan kedua belah
pihak. Wakil kedua belah pihak biasanya adalah ibu, ayah, atau seseorang yang sangat
dipercaya.Pada proses ini perwakilan dari pihak perempuan tidak akan langsung
menyetujui, namun akan bertanya kepada anak dari pihak perempuan. Tahap ini bisa
memakan waktu hingga 1 minggu, 3 minggu bahkan sampai 1 bulan. Apabila pihak
keluarga perempuan menerima lamaran dari pihak laki-laki maka akan segera
mengadakan musyawarah untuk menentukan hari akan diadakan pertunangan
tersebut.
Dalam adat pernikahan suku Kampar ada beberapa ritual yang harus dijalani oleh
masyarakat adat Kampar dalam resepsi pernikahannya diantaranya sebagai
berikut:

1. Menggantung-gantungDalam acara mengantung-gantung ini diadakan


beberapa hari sebelum perkawinan atau persandingan dilakukan. Bentuk
kegiatan dalam upacara ini biasanya disesuaikan dengan adat di masing-masing
daerah yang berkisar biasanya pada kegiatan menghiasi rumah atau tempat akan
dilangsungkannya upacara pernikahan, memasang alat kelengkapan upacara,
dan sebagainya yang termasuk dalam kegiatan ini adalah membuat tenda
dekorasi, menggantungkan perlengkapan pentas, menghiasi kamar tidur
pengantin, serta menghiasi tempat bersanding kedua mempelai.
2. Malam BerinaiAdat atau upacara berinai merupakan acara dalam memperindah
calon pengantin agar terlihat lebih tampak lebih bercahaya, menarik, dan cerah.
Upacara ini dilakukan pada malam hari yaitu di malam sebelum upacara perkawinan
dilangsungkan.
3. Acara Resepsi PernikahanDi hari resepsi pernikahan ada yang dinamakan jemput
makan, yaitu mempelai perempuan bersama sanak saudaranya mendatangi rumah
dari pihak laki-laki. Setelah proses penjemputan selesai, maka kedua mempelai dan
sanak saudara kembali diantar ke rumah mempelai perempuan dengan diiringi oleh
rebana/badiqiu atau jenis musik lainnya.
4. Ibu-ibu membantu memasak di rumah mempelai wanitaDalam kegiatan masak-
memasak di rumah mempelai wanita ini biasanya dibantu oleh warga sekitar tempat
tinggal, baik itu tentangga maupun sanak saudara yang datang untuk membantu.
Dalam acara ini sifat gotong royong masih sangat kental dan sangat sukar didapatkan
di masayarakat kota.
5. Acara Shalawatan (Badiqiu)Badiqiu ini merupakan suatu acara yang ada dalam
kebudayaan masyarakat Kampar. Acara ini dilakukan oleh tokoh-tokoh dan sesepuh
adat pada malam hari sebelum acara resepsi pernikahan dilangsungkan, agar acara
pernikahan ini berlangsung dengan khidmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga
yang utuh sampai akhir hayat.
6. Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan (Ba aghak)Dengan iring-iringan
dentuman alat musik seperti Rebana dari tokoh adat ini, menambahkan kehikmatan nilai budaya
yang sakral pada acara pengantaran pihak laki-laki ke rumah pihak mempelai perempuan,
biasanya shalawatan selalu dikumandangkan hingga akhirnya pihak laki-laki sampai kepada pihak
perempuan. Setelah pihak laki-laki tiba, kedua mempelai langsung duduk di persandingan yang
sudah disiapkan sebelumnya.

7. Acara Pengantaran Pihak Lelaki dengan membawa Hantaran (Jambau)Dengan membawa


hantaran ini seperti adat yang lainnya, hantaran juga berlaku di adat pernikahan di Kampar, akan
tatapi tidak terlalu mengikat seperti adat yang lainnya, jika pihak mempelai lelaki tidak mampu
untuk memberi hantaran, maka ini tidak diwajibkan untuk membawa hantaran tersebut.

8. MenyembahSetelah upacara akad nikah selesai dilakukan seluruhnya, kedua pengantin


kemudian melakukan upacara menyembah kepada ibu, bapak, dan seluruh sanak keluarga
terdekat. Makna dari upacara ini tidak terlepas dari harapan agar berkah yang didapat pengantin
nantinya berlipat ganda.

9. PersandinganMenyandingkan pengantin laki-laki dengan dengan perempuan yang disaksikan


oleh seluruh keluarga, sahabat, dan jemputan. Inti dari kegiatan ini adalah mengumumkan kepada
khalayak umum bahwa pasangan pengantin sudah sah sebagai pasangan suami-istri. Setelah
menikah, mempelai pria akan tinggal di kediaman mempelai perempuan. Sang suami pindah ke
rumah istrinya dengan membawa segala harta yang dimilikinya. Namun sesuai dengan adat
istiadat masyarakat setempat dia boleh tinggal bersama adik perempuannya bahkan setelah
Upacara adat kematian melayu
• 1. Peralatan Upacara Kematian
• Peralatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan upacara kematian pada masyarakat
Melayu, di antaranya adalah:
• a. Peralatan memandikan jenazah. Secara garis besar, peralatan yang digunakan untuk
memandikan jenazah terdiri dari balai-balai, air, tempat air, gayung, dan sabun.
• b. Pengganjal mayat dikuburan. Pengganjal mayat ini biasanya terbuat dari tanah
galian yang dibentuk berupa bulatan sebesar genggaman orang dewasa. Bulatan tanah
ini digunakan untuk mengganjal mayat agar posisinya tidak berubah ketika dimiringkan
menghadap kiblat.
• c. Tandu atau keranda jenazah. Tandu digunakan untuk mengusung jenazah dari rumah
duka ke tempat pekuburan.
• d. Kuburan. Kuburan merupakan bagian penting dalam ritual kematian masyarakat
Melayu. Ukuran lubang kubur dibuat sesuai dengan ukuran mayat.
• E.Peti jenazah. Peti jenazah digunakan jika lubang untuk menguburkan berada di
daerah rendah (rawa-rawa).
2. Waktu dan Tempat Upacara Kematian.
Tempat untuk melaksanakan upacara berproses dari halaman rumah tempat keluarga dari
orang yang meninggal hingga di tanah pekuburan tempat si mayat akan dikebumikan.
Waktu penguburan mayat biasanya mereka laksanakan setelah tengah hari yaitu antara
pukul 14.00 – 16.00. Misalnya, jika ada seseorang yang meninggal setelah jam 12 siang,
maka upacara penguburan biasanya dilaksanakan pada keesokan harinya.
3.Upacara kematian.
a. Menjelang Kematian, Seseorang yang dianggap akan meninggal dunia, biasanya
berkaitan dengan umur, misalnya berusia sangat tua; sakit dalam jangka waktu cukup
lama, dan kondisi fisiknya sangat lemah. Dalam situasi itu para kerabat, tetangga akan
datang silih berganti untuk menjenguknya. Khusus untuk kerabat dekat, biasanya akan
terus berjaga secara bergantian sampai orang tersebut meninggal dunia.
b. Menunggui Orang Mati,ketika seseorang meninggal dunia pihak keluarga yang
menunggu akan melepas segala benda yang menempel ditubuh si mati, meluruskan
tubuhnya, menutup mata dan mulutnya, dan meletakkan kedua tangannya di atas dada
dengan posisi sedekap seperti orang hendak shalat, membaringkan si mati terlentang
menghadap kiblat, dan kemudian menutupinya dengan kain beberapa lapis.
c. Memandikan dan Membungkus MayatSebelum dikuburkan, pihak kerabat dekat dan orang
yang biasa memandikan jenazah terlebih dahulu harus memandikan mayat dan kemudian
membungkus dengan kain kafan. Dalam hal ini mayat laki-laki dimandikan oleh laki-laki, dan
mayat perempuan oleh kalangan wanita. Sedangkan untuk mayat anak-anak, biasanya
dilaksanakan oleh para perempuan tanpa mempertimbangkan jenis kelaminnya. Jumlah orang
yang memandikan biasanya ganjil (3, 5, atau 7 orang). Khusus untuk anak atau orang tua si
mayat (yang sesama jenis),
d. Menyembahyangkan Jenazah,setelah orang-orang yang memandikan mayat membungkus
jenazah dengan kain kafan, selanjutnya mayat dibawa ke ruangan yang telah disiapkan atau ke
tempat peribadatan (langgar atau mesjid) dengan posisi terlentang menghadap ke utara untuk
menyembahyangi jenazah. Biasanya, sebelum mayat dibawa ke tempat tersebut, para pelayat
telah terlebih dahulu berkumpul dan membaca tahlil dan doa arwah dengan dipimpin oleh
orang alim (tokoh agama).
e. Menguburkan,
Setelah jenazah disembahyangkan, maka tahapan selanjutnya adalah menguburkannya.
Upacara adat kelahiran melayu
• Sewaktu Mengandung    Melenggang Perut     Adat ini juga dipanggil Kirim Perut oleh
masyarakat Melayu di bagian utara Semenanjung Malaysia dan di setengah tempat dikenal sebagai Mandi
Tian. Upacara ini dilakukan pada wanita yang mengandung anak sulung ketika kandungan berusia sekitar
tujuh atau delapan bulan. Itu dilakukan oleh seorang bidan untuk membuang geruh atau kecelakaan yang
mungkin menimpa wanita hamil yang bakal bersalin dan untuk memperbaiki posisi bayi di dalam perut.
Sewaktu Bersalin     Ketika hampir tiba waktu bersalin, persediaan akan dikelola oleh keluarga
tersebut. Menurut kepercayaannya juga daun mengkuang berduri akan digantung di bawah rumah dan kapur
akan dipangkah pada tempat-tempat tertentu di dalam rumah wanita yang hendak melahirkan tadi untuk
menghindari gangguan makhluk halus. Selain itu juga, ada beberapa kebiasaan yang harus dilakukan saat
menyambut kelahiran ini:
• Potong Tali Pusat         Segera setelah bayi lahir, bidan akan menyambutnya dengan jampi dan serapah
lalu disemburkan dengan daun sirih. Setelah bayi dibersihkan, tali pusatnya akan dipotong dengan
menggunakan sembilu bambu dan dilengkapi di atas sepotong uang perak per dolar. Di beberapa tempat tali
pusat dipotong menggunakan cincin emas.
Azan/Qamat     Kelazimannya bayi lelaki akan diazankan di kedua telinganya sementara bayi perempuan akan
diqamatkan. Biasanya, ayah atau kakek bayi tersebut akan melakukan upacara ini. Ia bukanlah satu adat, sebaliknya
lebih merupakan praktek berunsur keagamaan.
Membelah Mulut     Adat ini memiliki pengaruh budaya Hindu, namun demikian juga ada dalam agama Islam
yang menghukum sunat untuk melakukannya. Upacara dimulai dengan membacakan surah Al-Fatihah dan surat Al-
Ikhlas. Ini diikuti dengan langkah mencecap atau merasakan sedikit air madu atau kurma dan ada juga yang
menggunakan emas yang dicelupkan ke dalam air pinang pada mulut bayi yang baru lahir tersebut. Sewaktu
menjalankan upacara ini, mantra mantra dibacakan. Namun demikian, adat ini sudah tidak dilakukan lagi oleh
masyarakat Melayu hari ini.  
  Berpantang     Dalam masyarakat Melayu, wanita yang telah bersalin mesti menjalani masa berpantang yang
bermaksud larangan. Sekiranya wanita tersebut melanggar pantang, mereka akan mengalami bentan atau sakit
sampingan. Tempoh berpantang lazimnya berlangsung selama empat puluh empat hari dikira dari hari mula
bersalin dan ada juga yang berpantang selama seratus hari.
Selepas lahir,
Selepas kelahiran terdapat beberapa adat tertentu yang dijalankan.  
  Tanggal Pusat/Cuci Lantai     Biasanya bayi yang baru lahir akan tanggal pusatnya dalam waktu
seminggu. Pada saat itu, adat cuci lantai akan diadakan. Di beberapa tempat, ia juga disebut adat naik buai karena
selagi bayi itu belum tanggal pusatnya, dia tidak bisa dibuaikan pdan akan tidur disamping ibunya.
Memberi Nama     Menurut ajaran Islam, adalah sunat memberi nama yang memiliki maksud yang baik untuk
bayi. Biasanya jika bayi itu lelaki, nama akan diberikan sesuai nama para nabi sedangkan untuk bayi perempuan,
nama istri atau anak-anak nabi akan dipilih. 
   Cukur Rambut/ Potong Jambul     Adat ini dilakukan pada hari ketujuh setelah dilahirkan. Ia juga disebut
adat potong jambul. Kenduri nasi kunyit dan doa selamat diadakan pada hari tersebut.
Naik Buai
     Adat ini merupakan satu-satunya majlis yang masih diamalkan dan mendapat sambutan di kalangan masyarakat
Melayu hari ini. Upacara ini dilangsungkan dalam suasana penuh meriah terutama sekali jika sesebuah keluarga itu
baru mendapat anak atau cucu sulung
Jejak Tanah/Turun Tanah     Di beberapa tempat, adat ini juga disebut adat menginjak tanah. Ini sebagai
merayakan anak yang baru pandai berjalan. Turun tanah berarti seorang anak kecil dilepaskan untuk menginjak
tanah sebagai lambang melanjutkan kehidupannya. Adat ini dilakukan secara berbeda-beda dari satu tempat dengan
tempat yang lain baik dari segi cara maupun barang yang digunakan.
Bersunat / Berkhatan
     Adat bersunat bagi bayi perempuan biasanya dilakukan ketika bayi itu masih kecil yaitu beberapa hari setelah
dilahirkan. Namun demikian, kebanyakan anak perempuan akan menjalani upacara ini setidaknya ketika berumur
setahun atau lebih. Adat ini akan dilakukan oleh bidan. Bagi anak lelaki, mereka akan menjalani adat bersunat atau
juga disebut sunat ketika usia mereka dalam lingkungan 8 hingga 12 tahun.