Anda di halaman 1dari 39

DIGGING

DIGGING
FOR
FOR
DATA
DATA

KONSERVASI ARSITEKTUR-AT. 317

MUSEUM
GEOLOGI
BANDUNG
2019
TUJUAN

• Mengetahui perkembangan sejarah dan


arsitektur Museum Geologi Bandung;
• Melakukan Digging for Data dengan lima
langkah/5-W-1H.
• Mengidentifikasikan pelestarian bangunan
berdasarkan kelas
• Menentukan model-model pelestarian
bangunan yang sesuai dengan klasifikasi
Digging For
Data
5W1H
WHAT
1. Apa fungsi awal didirikannya Museum Geologi?
2. Apa yang melatar belakangi didirikannya bangunan ini?
3. Apa perubahan yang telah dialami oleh museum Geologi?
4. Gaya seperti apa yang digunakan bangunan ini?
5. Termasuk golongan bangunan konservasi apa bangunan ini?

WHEN
1. Kapan Museum Geologi Bandung ini di bangun?
2. Kapan pemindah tanganan pemilik dari bangunan ini?
3. Kapan terjadinya perubahan fungsi pada bangunan ini?
Digging For
Data
5W1H
WHO
1. Siapa yang merancang Museum Geologi Bandung?
2. Siapa yang menggunakan bangunan tersebut ketika masa penjajahan Belanda?
3. Pada masa presiden siapa pengesahan bangunan ini menjadi Museum Geologi
Indonesia?
WHERE
1. Dimana Museum Geologi ini dibangun?
2. Dimana letak Geologich Museum pada
masa penjajahan Belanda?
WHY
1. Kenapa Museum Geologi Bandung ini dibangun?
2. Kenapa bangunan ini menjadi salah satu bangunan konservasi?

HOW
1. Bagaimana desain Museum Geologi Bandung ini?
SEJARAH
MUSEUM GEOLOGI
TIMELINE
SEJARAH MUSEUM GEOLOGI

Terjadinya revolusi Industri di Eropa dan perubahan besar-besaran,


1700-an membludaknya kebutuhan sumber mineral.
Sejarah penyelidikan geologi di Indonesia yang dikoordinasikan oleh lembaga
1850 penyelidikkan geologi “Dienst van het Mijnwezen”.

Museum Geologi diresmikan pertamakali pada saat pembukaan gedung


1929 “Dienst van den Mijnbouw” pada 16 Mei 1929. Peresmian bertepatan
dengan pembukaan kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-IV di ITB. Museum
Geologi dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan
dana sebesar 400 Gulden

Pada zaman pemerintahan Belanda, Museum Geologi disebut Geologisch


1929-1941 Laboratorium, merupakan unit kerja dari “Dienst van het Mijnwezen” yang
berganti nama menjadi “Dienst van den Mijnbouw”
TIMELINE
SEJARAH MUSEUM GEOLOGI

Pada zaman pendudukan Jepang, “Dienst van den Mijnbouw” diganti


1942-1945 namanya menjadi “Kogyoo Zimusho” yang kemudian berganti nama
menjadi “Tisitutyosazyo” dimana Museum Geologi sebagai bagian dari
Laboratorium Paleontologi dan Kimia.

Museum Geologi berada di bawah Pusat Djawatan Tambang dan


1945-1950 Geologi (PDTG).

1950-1952 Pusat Djawatan Tambang dan Geologi berganti nama menjadi


Djawatan Pertambangan Republik Indonesia.
1952-1956 Djawatan Pertambangan Republik Indonesia berganti nama
menjadi Djawatan Geologi.
1956-1957 Pusat Djawatan Geologi
TIMELINE
SEJARAH MUSEUM GEOLOGI

1957-1963 Djawatan Geologi

1963-1978 Direktorat Geologi

1978-2002 Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi

Museum Geologi menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi


2003 (UPT MG), di bawah Pusat Survei Geologi, Badan Geologi,
Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.

Berdasarkan Permen ESDM No. 12 Tahun 2013, Museum Geologi


2013 menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi (UPT MG), di bawah
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.
GEOLOGICH
LABORATORIUM

Gedung Museum Geologi (1929) di Peserta Konferensi Ilmu


Rembrandt Straat (sekarang Jl. Pengetahuan Pasifik ke-4
Diponegoro, Bandung).
MUSEUM
GEOLOGI
Sekilas info
Tiket Masuk
Sejak 2012 museum ini diberikan tarif masuk :
• Pelajar IDR 2K
• Umum IDR 3K
• Wisatawan Asing IDR 10K
MUSEUM Jam Buka
GEOLOGI • Senin-Kamis : 09.00-15.30
• Sabtu-Minggu : 09.00-13.30
• Hari Jumat dan Hari Libur Nasional Tutup
Telepon : (022) - 7213822
Fax : (022) - 7213934
e-mail : museumgeologi@grdc.esdm.go.id
MUSEUM
GEOLOGI PROFIL

Nama : Museum Geologi


(Geologisch Laboratorium/Geologisch
Museum)
Fungsi awal : Bangunan penelitian
geologi serta sumberdaya mineral.
Dibangun : 6 Mei 1928
Diresmikan : 16 Mei 1929
Arsitek : Wnalda Van Scholtwenburg
Alamat : Di Jalan Diponegoro No. 57,
Cibeunying Kaler - Bandung.
Gaya bangunan : Art Deco
Sumber Gambar : Website Cagar Budaya Kemendikbud
Museum Geologi merupakan
bangunan Konservasi yang dikelola
oleh pemerintah.
LETAK
BANGUNAN

Luas bangunan : ± 3617.08 m²


Luas Area : ± 8342.52 m²
Batas
Utara : Jl. Surapati
Timur : RRI Building
Barat : Jl. Sentot Alibasa
Selatan: Jl. Diponegoro

Sumber Gambar : Google Maps

MUSEUM GEOLOGI BANDUNG


Jl. Diponegoro No. 57, Cibeunying Kaler 
Rembrandt Straat Bandung
LETAK Gedung Sate
BANGUNAN Alamat : Jl Diponegoro No 22
Arsitek : J. Berger
Didirikan 27 Juli 1920 – September 1924
Gaya : New Indie Style, Rasionalisme
Belanda

Museum Pos Indonesia


Alamat : Jalan Cilaki No. 73 Bandung
Arsitek : J. Berger dan Leutdsgebouwdienst
Sumber Gambar : Google Maps Didirikan : 1993
Gaya :
TUGAS
FUNGSI

Tugas
Melaksanakan pengelolaan, penelitian, pengembangan, konservasi, peragaan dan
penyebarluasan informasi koleksi geologi.

Fungsi
Dalam melaksanakan tugasnya, Museum Geologi menyelenggarakan fungsi  :
1. Penyusunan rencana dan program serta pengelolaan kerja sama.
2. Pelaksanaan pengelolaan koleksi geologi
3. Pelaksanaan penelitian, pengembangan dan konservasi koleksi geologi.
4. Pelaksanaan peragaan dan pameran koleksi geologi.
5. Pelaksanaan bimbingan edukasi dan penyebarluasan informasi koleksi geologi.
6. Pengelolaan sarana dan prasarana
7. Pelaksanaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga.
Kelas Bangunan
Konservasi
Geologisch Laboratorium/Museum
Bangunan ini berada di kelas bangunan
konservasi golongan A.
 Berusia 50 tahun atau lebih.
 Mewakili masa gaya paling singkat berusia
50 tahun.
 Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu
pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau
kebudayaan.
 Memiliki nilai budaya bagi penguatan
kepribadian bangsa.
MUSEUM GEOLOGI
NO REGNAS RNCB.2010018.02.000989
SK Menteri
SK Penetapan NoPM.04/PW.007/MKP/2010
SK Menteri No184/M/2017
Peringkat Cagar
Nasional
Budaya
Kategori Cagar
Bangunan
Budaya
Kabupaten/Kota Kota Bandung
Provinsi Jawa Barat
Nama Pemilik Negara
Museum Geologi dan Kementerian
Nama Pengelola Energi dan Sumber Daya Mineral
HASIL OBSERVASI
BANGUNAN
MUSEUM GEOLOGI
PERUBAHAN/RE
NOVASI
• 1993 - penambahan tempat khusus untuk
menyimpan dan pameran untuk umum
karena adanya peningkatan jumlah koleksi
hasil penelitian geologi sejak 1850.
• 1998 sd Juli 2000 - Renovasi kepentingan
bisnis menjadi museum geologi oleh
pemerintah Indonesia dan JICA Jepang
karena adanya peningkatan jumlah
pengunjung terutama pelajar.
PERUBAHAN/RE
NOVASI
• Diresmikan sebagai museum geologi pada
22 Agustus 2000 oleh Megawati
Soekarnoputri selaku presiden saat itu.
PEMBAGIAN
RUANG

Lantai 1 Lantai 2
Diabagi menjadi 3 ruang utama : Dibagi menjadi 3 ruang utama:
1. Ruang orientasi di bagian tengah; 1. Ruang barat;
2. Ruang Sayap Barat; 2. Ruang tengah;
3. Ruang Sayap Timur 3. Ruang timur
LANTAI 1

1. Ruang Orientasi berisi peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar
yang menayangkan kegiatan geologi dan museum dalam bentuk animasi, bilik
pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian.
2. Ruang Sayap Barat, dikenal sebagai Ruang Geologi Indonesia, yang terdiri dari
beberapa bilik yang menyajikan informasi tentang :
- Hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya.
- Tatanan tektonik regional yang membentuk geologi Indonesia; diujudkan
dalam bentuk maket model gerakan lempeng-lempeng kulit bumi aktif
- Keadaan geologi sumatera,Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara
serta Irian Jaya
- Fosil fosil serta sejarah manusia menurut evolusi Darwin juga terdapat di
sini
3. Ruang Sayap Timur Ruangan yang mengambarkan sejarah pertumbuhan dan
perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern, yang mendiami
planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan.
LANTAI 2

1. Ruang barat (dipakai oleh staf museum)


2. Ruang tengah digunakan untuk peragaan dikenal sebagai ruang geologi untuk kehidupan
manusia dimana terdapat maket pertambangan emas terbesar di dunia
3. Ruang timur digunakan untuk peragaan dikenal sebagai ruang geologi untuk kehidupan
manusia. Ruang Timur dibagi menjadi 7 ruangan kecil, yang kesemuanya memberikan
informasi tentang aspek positif dan negatif tataan geologi bagi kehidupan manusia, khususnya
di Indonesia.
- Ruang 1 menyajikan informasi tentang manfaat dan kegunaan mineral atau batu bagi
manusia, serta panel gambar sebaran sumberdaya mineral di Indonesia.
- Ruang 2 menampilkan rekaman kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral
- Ruang 3 berisi informasi tentang pemakaian mineral dalam kehidupan sehari-hari, baik
secara tradisional maupun modern.
- Ruang 4 menunjukkan cara pengolahan dan pengelolaan komoditi mineral dan energi
- Ruang 5 memaparkan informasi tentang berbagai jenis bahaya geologi (aspek negatif)
seperti tanah longksor, letusan gunung api dan sebagainya.
- Ruang 6 menyajikan informasi tentang aspek positif geologi terutama berkaitan dengan
gejala kegunungapian.
- Ruang 7 menjelaskan tentang sumberdaya air dan pemanfaatannya, juga pengaruh
lingkungan terhadap kelestarian sumberdaya tersebut.
Art Deco

Gaya Art Deco, merupakan gaya yang mengutamakan bentuk-bentuk yang


modern bentuk ber-trap, trapesium, zig-zag, geometris sama halnya
dengan International Style.
Art Deco sebagai bentuk modernisme yang elegan dan bergaya dipengaruhi
oleh berbagai sumber termasuk apa yang disebut seni primitive dari Afrika,
Mesir Kuno dan desain Maya dari Amerika Tengah.
Pengaruh yang lebih modern termasuk perkembangan teknologi, seperti
penerbangan, penerangan listrik, radio, kapal laut dan bangunan-bangunan
pencakar langit. (Hillier, Bevis & Stephen Escritt, 1997).
Pengaruh desain yang biasanya dinyatakan dalam difraksinasi, kristal,
bentuk kubisme dekoratif dan futuristik.
Art Deco juga dapat dikenali dari penggunaan bahan buatan, seperti bahan
baja terutama besi/metal dan kaca tapi bahan lain seperti aluminium,
pernis, kayu ukir, dan lain sebagainya.
Museum Geologi bergaya Art Deco.

• Bangunan simetris.
• Elemen garis horizontal pada fasad.
• Dinding Beton
• Menggunakan warna terang.
• Elemen dekoratif utama adalah kaca.
HASIL
PENGAMATAN

PINTU DAN JENDELA


Desain yang dibuat sesuai gaya Art deco, tanpa
Ada ornamen yang terlalu rumit.
Jendela yang besar menjulang tinggi dan pintu
besar dengan ukuran tinggi mengikuti standar
ketinggian pintu untuk orang-orang Belanda.
Menggunakan Material kayu jati yang kokoh.
Diperkirakan tidak adanya perubahan terhadap
Bentuk fisik dari Jendela dan pintu.
HASIL
PENGAMATAN
PINTU DAN JENDELA

Beberapa Jendela berukuran kecil sebagai membantu sirkulasi udara dan pencahayaan.
Jendela di buat masuk ke dalam dengan bukaan di atas bukan di bawah tidak seperti
jendela pada umumnya. Adanya bantalan pintu di bagian bawah pintu.
HASIL
PENGAMATAN

KOLOM
Kolom berukuran 30x30 cm
Dimana menggunakan marmer
menjulang hingga ke atas.
Lalu adanya ornamen dibagian
atas kolom.
Diperkirakan adanya penambahan
Tempelan garis memanjang untuk
Kabel dan dipasangnya lampu
Sebagai pencahayaan.
HASIL
PENGAMATAN

LANTAI
Lantai menggunakan keramik-keramik bermotif.
Bentuk, warna dan ukuran yang beragam.
Diperkirakan adanya perupabahan keramik di
beberapa titik dengan ukuran 30x30. Sedangkan
keramik asli biasanya berukuran 20x20cm dan lebih
doff dibandingkan keramik baru.
Warna dan desain dari keramik baru disesuaikan
dengan keramik yang sudah ada.
HASIL
PENGAMATAN

DINDING
Dinding memiliki ketebalan seperti bangunan-bangunan kolonial seperti
biasanya. Pemasangan kusen yang lebih menjorok ke dalam. Diperkirakan
tidak ada perubahan yang berarti untuk bagian apabila ada perubahan
kemungkinan hanya untuk perbaikan.
HASIL
PENGAMATAN

ATAP
Atap masih menggunakan material sirap.
Masih menggunakan kayu sebagai
material utama struktur atap dengan
dibalut cat putih sama dengan warna
dinding. Diduga tidak ada perubahan .
HASIL
PENGAMATAN

PLAFOND
Plafon dibuat sangat tinggi
dengan ketinggian 3,5 m
dan ada yang menjorok lebih
diperkirakan ketinggian yang
tertinggi adalah 4,5 m.
Beberapa plafon yang masih
dirasa lama, memiliki tekstur
dengan pola. Sedangkan yang
baru tidak memiliki tekstur
pola.
HASIL
PENGAMATAN

PENCAHAYAAN
Pencahayaan alami menggunakan
beberapa jendela.
Lalu dibantu dengan lampu untuk
pencahayaan malam.
Adanya penambahann cahaya untuk
setiap objek yang dipamerkan.
HASIL
PENGAMATAN

ORNAMEN
Ornamen banyak ditemukan dibagian kolom
dan juga pintu. Dengan bentuk yang tidak begitu
beragam atau pun rumit, dibuat simetris dengan
bentuk dasar adalah persegi.
HASIL
PENGAMATAN

TANGGA DAN HAND RAILING


Hand Railing yang
diperkirakan tidak
mengalami perubahan. Untuk
tangga sendiri memiliki sisi
hand railing dengan beberapa
bentukan. Sedangkan pada
bagian lantai 2 tanpa
ornamen.
Sepertinya tidak ada
perubahan terhadap tangga
maupun Hand Railing. Tangga
memiliki ketinggian sekitar
15cm tanpa adanya bantalan
tangga.
HASIL
PENGAMATAN

FASILITAS
Adanya fasilitas tambahan yaitu lift
untuk penyandang difabel membantu mereka
naik ke lantai 2.
Lalu adanya sprinker dan juga bell kebakaran dan
fasilitas kebakaran lainnya.
Adanya papan atau poster untuk menjelaskan apa
yang ada di sana.
Pemberian signage untuk jalur evakuasi, toilet,
jalur masuk dll.
Analisa
Arsitektur
• Dalam pengamatan lapangan dan membaca beberapa laman mengenai Museum
Geologi ini, Museum ini sepertinya dari awal sudah menggunakan Art Deco dan
gedung ini masih mempertahankan sebagian besar desain asli bangunannya.
• Pada zaman itu, perkembangan Art Deco di Indonesia mulai banyak diterapkan di
beberapa bangunan di Indonesia salah satunya Museum Geologi. Dilihat dari detail
jendela, pintu, ventilasi masih berukuran besar dan terbuat dari kayu dimana pada
saat itu teknologi seperti ini yang digunakan untuk detail tersebut.
• Lalu menggunakan istrumen geometris untuk detail plafon, kolom, pintu, jendela,
dan lainnya. Menandakan dimana sudah adanya pengurangan ornamen yang rumit
dan berlebihan semenjak tahun berkembangnya International Style. Penggunaan
material untuk dinding di dominasi dengan beton dan lapisan plester yang
diberikan cat.
• Meski pun Art Deco mengutamkan futuristik atau modernisasi dari segi teknologi,
material dan juga desain, tetap bisa kita temui penggunaan kayu dan atap
menggunakan atap sirap adalah salah satu bukti upaya arsitek menggabungkan
modernisasi dengan tradisi sekitar.
KESIMPULAN
• Museum Geologi termasuk bangunan
konservasi kelas A dimana bangunan
tersebut memenuhi semua syarat
bangunan untuk konservasi.
• Bangunan tidak mengalami perubahan
terlalu banyak, masih mempertahankan
wajah asli dari bangunan dan juga fungsi
dari bangunan itu sendiri.
• Perubahan hanya diberikan karena
perbaikan, perawatan dan juga fasilitas
seperti fasilitas kebakaran, fasilitas lift,
signage dan juga fasilitas pendukung
untuk hal-hal yang dipamerkan dalam
museum tersebut.
DAFTAR
SUMBER
• Museum Geologi Bandung. Diakses 08/Mei 2019 pada link
https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Geologi_Bandung
• Sejarah singkat Museum Geologi. Diakses 08/Mei 2019 pada link
http://museum.geology.esdm.go.id/profil/sejarah
• Sejarah Museum Geologi Bandung Secara Singkat dan Lengkap. Diakses 08/Mei 2019 pada link
https://sejarahlengkap.com/bangunan/sejarah-museum-geologi-bandung-secara-singkat
• MAKALAH GEOLOGI TENTANG MUSEUM GEOLOGI BANDUNG. Diakses 08/Mei 2019 pada link
https://docplayer.info/72617529-Makalah-geologi-tentang-museum-geologi-bandung.html
• Museum Geologi Bandung – The History Of Museum Geology. Diakses 08 Mei 2019 pada link
https://tempatwisatadibandung.info/museum-geologi-bandung/
• Museum Geologi Bandung. Diakses 08 Mei 2019 pada link
https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Geologi_Bandung
• Daftar foto diambil dari dokumentasi dan juga Google.
• Diakses 18 Mei 2019 pada link https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/505/jbptunikompp-gdl-rezapratam-25212-
3-bab2.pdf
• Kriteria Sebuah Bangunan Ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Diakses 18 Mei 2019 pada link
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt58e85f1db5483/kriteria-sebuah-bangunan-ditetapkan-
sebagai-cagar-budaya
• Thursday Pre-Historic Visit With Anipchan. Diakses 18 Mei 2019 pada link
https://www.littlehouseofrena.com/thursday-pre-historic-visit-with-anipchan/
• Diakses 18 Mei 2019 pada link https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/664/jbptunikompp-gdl-jodieramda-33190-
10-12.10109-i.pdf