Anda di halaman 1dari 12

SEMIOTIKA

ROLAND BARTHES
Dr. Merry Fridha, M.Si
Barthes pada dasarnya adalah
pengikut Saussure. Namun pada
dasarnya Semiotik menurut
Barthes lebih berfokus untuk
mempelajari bagaimana
kemanusiaan (humanity)
memaknai hal-hal (things)
Semiotika: Strukturalisme Roland Barthes

 Semiotika: sebuah cara menganalisis artefak-


artefak budaya yang berasal dari linguistik.

 Tujuan dari strukturalisme adalah merekonstruksi


sebuah objek begitu rupa untuk memanifestasikan
aturan-aturan dari penggunaan-penggunaanya.

 Dengan kerangka pikir strukturalisme, terdapat


dua prinsip:
 Entitas penadaan tak memiliki esensi, tetapi
dibatasi oleh jaringan relasi, baik internal maupun
eksternal.
 Penandaan dilakukan dengan melukiskan sistem
norma-norma yang membuat mereka mungkin
Semiotika Struktural: Penandaan
Bertingkat
 Sistem Denotasi: rantai hubungan penanda-petanda,
yakni hubungan materialitas penanda dan konsep abstrak
yang ada dibaliknya. Pada tingkat denotasi bahasa
menghadirkan konvensi: kode-kode yang maknanya
segera tampak ke permukaan berdasarkan relasi
pananda dan petanda.

 Sistem Konotasi: hubungan penanda-petanda pada rantai


pertandaan yang lebih tinggi. Pada tingkat konotasi:
bahasa menghadirkan kode-kode yang makna tandanya
bersifat implisit; sistem kode yang bermuatan makna
tersembunyi makna wawasan dari ideologi dan mitos
Makna menurut Barthes:

Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak


dapat dicampuradukkan dengan
mengkomunikasikan (to communicate).

Memaknai berarti bahwa objek-objek


tidak hanya membawa informasi, dalam
hal mana objek-objek itu hendak
dikomunikasikan, tetapi juga
mengkonstitusi sistem terstruktur dari
tanda
Makna tanda terbagi 2:
Mana Denotasi (Pemaknaan level 1)
Makna sebuah tanda yang sesuai definisinya,
literal, dan jelas (mudah dan dapat dipahami) atau
commonsense.

Makna Konotasi (Pemaknaan level 2)


Interaksi yang muncul ketika sign bertemu
dengan perasaan atau emosi
pembaca/pengguna dan nilai-nilai budaya
mereka. Dapat juga dikatakan sebagai makna
dibalik makna.
Model Kajian Roland Barthes
First Order Second Order

Reality Sign Culture

Form
Signifier Connotation

Denotation
Signified

Content
Myth
Penjelasan
 Denotasi (the first order signification),
 hubungan signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap
realitas eksternal.
 Makna paling nyata dari tanda sebagai representasi utama (self
contained) makna harafiah
 Bagi orang dalam satu rumpun budaya yang sama maknanya tidak
berbeda secara signifikan

 Konotasi (the second order signification),


 Menunjukkan hubungan tanda dan emosi dari pembaca serta nilai-
nilai kebudayaannya
 Makna subjektif atau bahkan intersubjektif
 Berbeda karena gender, seks, usia, kelas sosial, nasionalitas, etnis,
dll.
 Konotasi identik dengan ideologi dan mitos
 Mitos
 Bagaimana kebudayaan menjelaskan beberapa aspek tentang
realitas atau gejala alam.
 Mitos diproduksi oleh kelas sosial yang mempunyai dominasi

 Ideologi
 Ideologi sebagai sistem keyakinan yang menandai sebuah
kelompok/kelas
 Ideologi sebagai ilusioner atau gagasan palsu yang
diperlawankan dengan pengetahuan ilmiah
 Ideologi sebagai produksi makna dan gagasan, bukan sesuatu
yang statis tetapi praksis, dalam tataran ini seseorang telah
mampu merespon secara tepat terhadap tanda , mitos dan
konotasi seseorang menjadi konotator
Cultur
Reality Sign
e
Pemaknaan Pemaknaan
level 1 level 2
Seikat Mawar  Gairah
Seikat mawar  penanda
Gairah petanda
Seikat mawar merupakan sebuah tanda
Kesimpulan: seikat mawar sebagai sebuah tanda
sungguh berbeda dengan seikat mawar
sebagai penanda. Sebagai penanda seikat
mawar adalah kosong, hanya tanaman biasa.
Sebagai petanda, seikat mawar adalah penuh,
sebagai gairah, cinta, dan ketulusan.
mitos (myth), yakni rujukan bersifat
cultural (bersumber dari budaya yang
ada) yang digunakan untuk menjelaskan
gejala atau realitas yang ditunjuk dengan
lambang-lambang yang ada dengan
mengacu sejarah (di samping budaya)