Anda di halaman 1dari 28

LBM 3

ANAKKU SESAK
SKENARIO

ANAKKU SESAK
Seorang anak perempuan 10 bulan, dibawa ibunya ke Puskesmas dengan tampak nafasnya
sesak. Dari anamnesis dokter mendapatkan riwayat batuk dan pilek sejak 1 hari yang lalu,
tidak ada demam dan riwayat muntah, sesak ini baru pertama kali disertai bunyi mengi dan
riwayat biru, minum ASI lancar. Anaknya baru mulai merangkak dan suka memasukkan
sesuatu ke mulut. Ibu pasien khawatir anaknya tercekik karena benda asing. Dari
pemeriksaan fisik tampak sakit berat, sadar, takipneu, sianosis, suhu 37,5 oC, ada retraksi
supra sternalis dan epigastrium, bunyi nafas ekspirasi memanjang, terdapat wheezing. Dokter
segera memberikan oksigen, memasang infus dan merujuk ke RS.
Di IGD RS, dokter melakukan pemeriksaan fisik dan disarankan melakukan pemeriksaan
penunjang. Dari anamnesis tambahan didapatkan riwayat asma pada neneknya, kakaknya
yang berumur delapan tahun mempunyai riwayat dermatitis yang sukar sembuh dan sering
hilang timbul terutama bila makan coklat.
KLARIFIKASI ISTILAH
 Sianosis: kondisi warna kebiruan pada kulit dan selaput lendir yang
terjadi akibat peningkatan jumlah Hb tereduksi (Hb yang tidak
berikatan oksigen).
 Retraksi supra sternalis: Tertariknya kulit ke dalam dinding dada pada
bagian sternum
 Retraksi epigastrium: tertariknya kulit ke dalam dinding dada pada
bagian epigastrium
 Wheezing: Suara nafas tambahan frekuensi tinggi (nyaring) yang terjadi
di akhir ekspirasi karena adanya penyempitan atau obstruksi pada
saluran pernafasan.
Identifikasi Masalah
 Anatomi dan fisiologi sistem pernafasan bawah.
 Patofisiologi pada skenario.
 interpretasi hasil pemeriksaan pada skenario.
 Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosa gangguan pada
skenario
Pembahasan
Brainstorming
Anatomi dan fisiolgi Sistem Pernafasan Bawah
Mengapa anak mengalami sesak nafas

Sesak nafas karena adanya obstruksi pada saluran nafas


sehingga terjadinya bronkonstriksi, edem mukosa dan hipersekresi
mukus kental. Sesak nafas bisa timbul sebagai kompensasi tubuh
karena kekurangan oksigen yang bisa timbul akibat mukus yang
terbentuk menghambat saluran nafas sehingga menghambat
masuknya oksigen dan keluarnya karbon dioksida.
Hubungan riwayat batuk dan pilek dengan sesak

Ketika alergen berikatan dengan IgE, terjadi degranulasi (pecah dinding


sel) sel mast dan sel basofil yang kemudian akan terlepas mediator kimia,
terutama histamin. Histamin menyebabkan sel goblet dan kelenjar mukosa
mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat yang akan
menyebabkan peningkatan produksi mukus dan terjadinya pilek. Batuk
merupakan reaksi kompensasi tubuh untuk mengeluarkan alergen atau
mukus yang terbentuk dan mekanisme pertahanan tubuh di saluran
pernafasan terhadap iritasi di saluran pernafasan dan terhadap masuknya
benda asing.
Tujuan harus diketahui riwayat menyusui lancar

 Hal ini bertujuan untuk mengetahui adanya sumbatan atau obstruksi di


dalam saluran pernafasan, sehingga dapat diketahui penyebabnya jika
terjadi sesak nafas pada anak. Hal yang paling sering ditakutkan adalah
terjadinya aspirasi benda asing dari luar yang menyebabkan terjadinya
refluks ASI jika ada obstruksi.
 Anak menunjukan tanda “tidak bisa minum ASI” jika anak terlalu
lemah untuk minum ASI atau tidak bisa menghisap atau menelan apabila
diberi minum. Anak yang menyusu sulit menghisap jika hidungnya
tersumbat. Apabila anak yang tidak bisa minum mungkin menderita
pneumonia berat, bronkiolitis, sepsis, infeksi otak (meningitis atau
malaria cerebral) dan abses tenggorok.
Hubungan riwayat penyakit keluarga dan pasien

Riwayat penyakit keluarga dapat membantu menegakan diagnosis


seperti asma karena riwayat asma dan dermatitis (riwayat atopi) bisa
diturunkan secara genetik melalui peningkatan kemungkinan
hipersensitivitas pada keturunannya sehingga keturunan selanjutnya bisa
menderita asma dan dermatitis juga. Jika salah satu orang tua menderita
asma, maka kemungkinan anaknya juga menderita asma sebesar 25%, jika
kedua orang tua menderita asma, maka kemungkinan anaknya menderita
asma sebesar 50%.
Interpretasi pemerksaan pada skenario (daus)

 Takipneu: Nafas yang cepat, untuk usia 8 bulan dikatakan takipneu jika frekuensi
nafas lebih dari 50x per menit.
 Agak sianosis: menandakan kandungan oksigen dalam darah yang rendah. Jika
sianosis pusat pada bayi bisa karena penyakit jantung bawaan (TGA, Tetralogy Of
Fallot), atau gangguan sistem pernafasan (asfiksia, takipnea, sindrom stres
pernafasan, pneumotoraks, edema paru, aspirasi/tersedak, efusi pleura, obstruksi
saluran nafas)..
 Suhu tubuh: Normal, nilai normalnya 36,5-37,5oC
 Retraksi supra sternalis dan epigastrium: ada usaha tambahan untuk bernafas lebih,
biasanya pada pneumonia dan asma
 Nafas ekspirasi memanjang: karena adanya obstruksi saluran nafas biasanya terjadi
pada penderita asma.
Patofisiologi dan keluhan pada kasus

 Penyebab keluhan pada skenario dapat disimpulkan merupakan perjalanan


dari paparan alergi atau alergen pada pasien.
 Sesak nafas pada pasien diakibatkan oleh adanya interaksi antara alergen dan
sel makrofag dalam tubuh  merangsang sel B untuk mengaktifkan Ig E 
Setelah Ig E aktif akan terjadi rangsangan pada silia bronkus dan saluran nafas
 memicu mukosa yang normalnya sedikit akan menjadi hiperaktivitas.
 Dengan adanya hiperaktifitas dari silia bronkus yang terjadi secara terus-
menerus  penumpukan mukus dan sekret pada jalur nafas  edema
kemudia akan menjadi obstruksi pada saluran nafas  terjadi sesak nafas.
Oleh karena itu terjadi respon dari tubuh berupa batuk yang menandakan
adanya gangguan pada saluran nafas.
Tujuan dokter memberikan oksigen, memasang infus & merujuk ke rumah sakit

 Pemberian oksigen bertujuan untuk mencukupi kebutuhan oksigen


dan mengatasi sianosis. Infus merupakan upaya rehidrasi. Bayi yang
berumur kurang dari 1 tahun dengan keluhan sesak nafas dan
kelelahan harus dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut
dan untuk menegakkan diagnosis lebih lanjut
Tujuan dokter melakukan pemeriksaan foto toraks dan laboratorium? Dan kemungkinan
hasilnya

 Pemeriksaan foto toraks dan laboratorium untuk menegakkan


diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding. Akan tampak infiltrat
pada pneumonia dan tampak hiperinflasi pada asma. Dari
pemeriksaan laboratorium bisa ditemukan eosinofilia (peningkatan
eosinofil).
Learning Issue
1. Diagnosa banding pada skenario
2. Diagnosa pasti pada skenario
Diagnosa Banding Skenario
D B
I A
A N
G D ASMA BRONKIOLITIS PNEUMONIA
N I
O N
S G
A
•Wheezing berulang saat aktivitas •Wheezing berulang saat aktivitas •Demam
•Timbul bila ada faktor pencetus •Timbul bila ada faktor pencetus •Batuk dengan nafas cepat
G •sesak napas •sesak napas •Clrackles (ronki) pada auskultasi
E •Batuk kronik (infeksi saluran napas •Batuk kronik (infeksi saluran napas •Pernafasan cuping hidung
J atas) atas) •Tarikan dinding dada bagian bawah ke
A •Takhipnu •Takhipnu dalam
L •Sianosis •Sianosis •Merintih (grunting)
A •Sianosis
ASMA
DEFINISI
 Global Initiative Asthma (GINA) suatu penyakit heterogen, biasanya
ditandai dengan inflamasi kronik saluran respiratori. Inflamasi kronik ini
ditandai dengan riwayat gejala-gejala pada saluran respiratori seperti
wheezing (mengi), sesak nafas, dan batuk yang bervariasi dalam waktu
maupun intensitas, disertai dengan limitasi aliran udara ekspiratori.
 International Consensus on (ICON) Pediatric Asthma mendefinisikan
asma sebagai gangguan inflamasi kronik yang berhubungan dengan
obstruksi saluran respiratori dan hiperresponsif bronkus yang secara
klinis ditandai dengan adanya wheezing, batuk, dan sesak napas yang
berulang.
ETIOLOGI
Asma Alergik/Ekstrinsik Idiopatik atau Nonalergik Asma campuran (Mixed Asma)
Asma/Intrinsik
Suatu bentuk asma dengan alergen Tidak berhubungan secara langsung Merupakan bentuk Asma yang paling
seperti bulu binatang, debu, ketombe, dengan alergen spesifik. Faktor-faktor sering. Dikarakteristikkan dengan
tepung sari, makanan, dan lain-lain. seperti common cold, infeksi saluran bentuk kedua jenis asma alergi dan
Alergen terbanyak adalah airborne dan napas atas, aktivitas, emosi/stress, dan idiopatik atau nonalergi.
musiman (seasonal). Pasien dengan polusi lingkungan akan mencetuskan
asma alergik biasanya mempunyai serangan. Beberapa agen farmakologi,
riwayat penyakit alergi pada keluarga seperti antagonis β-adrenergik dan
dan riwayat pengobatan eksim atau bahan sulfat (penyedap makanan) juga
rinitis alergik. Paparan terhadap alergi dapat menjadi faktor penyebab.
akan mencetuskan serangan asma. Serangan dari asma idiopatik atau
Bentuk asma ini biasanya dimulai sejak nonalergik menjadi lebih berat dan
kanak-kanak. sering kali dengan berjalannya waktu
dapat berkembang menjadi asma
campuran. Bentuk asma ini biasanya
dimulai ketika dewasa (>35 tahun).
PATOFISIOLOGI
GEJALA KLINIS
 Ada gejala batuk yang disertai dengan wheezing (mengi) yang karakteristik dan
timbul secara episodik.
 Gejala batuk terutama terjadi pada malam atau dini hari, dipengaruhi oleh musim,
dan aktivitas fisik.
 Adanya riwayat penyakit atopik pada pasien atau keluarganya memperkuat dugaan
adanya penyakit Asma.
 Pada anak dan dewasa muda gejala Asma sering terjadi akibat hiperaktivitas bronkus
terhadap alergen, banyak diantaranya dimulai dengan adanya eksim, rhinitis,
konjungtivitis, atau urtikaria.
 Penderita Asma yang tidak memberikan reaksi terhadap tes kulit maupun uji
provokasi bronkus, tetapi mendapat serangan
 Asma sesudah infeksi saluran napas, yang disebut Asma Idiosinkrasi.
Diagnosa
 Keluhan wheezing dan atau batuk berulang merupakan manifestasi
klinis yang diterima luas sebagai titik awal diagnosis asma.
 Gejala respiratori asma berupa kombinasi dari batuk, wheezing, sesak
napas, rasa dada tertekan, dan produksi sputum.
 Chronic recurrent cough (batuk kronik berulang, BKB) dapat menjadi
petunjuk awal untuk membantu diagnosis asma.
 Gejala dengan karakteristik yang khas diperlukan untuk menegakkan
diagnosis asma. Karakteristik yang mengarah ke asma adalah:
• Gejala timbul secara episodik atau berulang.
• Timbul bila ada faktor pencetus.
 Iritan: asap rokok, asap bakaran sampah, asap obat nyamuk, suhu dingin, udara
kering, makanan minuman dingin, penyedap rasa, pengawet makanan, pewarna
makanan.
 Alergen: debu, tungau debu rumah, rontokan hewan, serbuk sari.
 Infeksi respiratori akut karena virus, selesma, common cold, rinofaringitis
 Aktivitas fisis: berlarian, berteriak, menangis, atau tertawa berlebihan.
• Adanya riwayat alergi pada pasien atau keluarganya.
• Variabilitas, yaitu intensitas gejala bervariasi dari waktu ke waktu, bahkan
dalam 24 jam. Biasanya gejala lebih berat pada malam hari (nokturnal).
• Reversibilitas, yaitu gejala dapat membaik secara spontan atau dengan
pemberian obat pereda asma.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Uji fungsi paru dengan spirometri sekaligus uji reversibilitas dan untuk
menilai variabilitas. Pada fasilitas terbatas dapat dilakukan
pemeriksaan dengan peak flowmeter.
• Uji cukit kulit (skin prick test), eosinofil total darah, pemeriksaan IgE
spesifik.
• Uji inflamasi saluran respiratori: FeNO (fractional exhaled nitric oxide),
eosinofil sputum.
• Uji provokasi bronkus dengan exercise, metakolin, atau larutan salin
hipertonik.
Penatalaksanaan
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil diskusi SGD kelompok 2, LBM III dengan judul
“Anakku Sesak” kami mengambil diagnosis bahwa anak pada kasus di
skenario mengalami Asma persisten pada bayi. Berdasarkan hasil
anamnesis, dan hasil interpretasi pemeriksaan fisik serta riwayat
keluarga yang dimiliki pada kasus mengarah mendekati Asma persisten
pada bayi. Mengi yang persisten dengan takipnu untuk beberapa hari
atau beberapa minggu. Dapat terjadi pada beberapa bayi umur 3-12
bulan.