Anda di halaman 1dari 76

Farmakoterapi

Farmakoterapi Pada Kondisi


Khusus

Rina Saputri, M.Farm., Apt


Pharmacy, Health Faculty
Sari Mulia University
Visi dan Misi Universitas Sari
Mulia
Misi
Visi 1.
Menyelenggarakan pendidikan
“Menjadi Universitas secara profesional dan
berkesinambungan melalui
Terkemuka Dalam pendekatan pendidikan lintas
profesi.
Mengembangkan
2.
Meningkatkan kualitas dan
Nilai Potensi mengembangkan penelitian
budaya dan kekayaan hayati lokal.
Kekayaan Lokal Untuk
3.
Meningkatkan kualitas pelayanan
Menghasilkan Lulusan dan pengabdian kepada
masyarakat melalui pendekatan
Yang Berkarakter kerjasama lintas profesi.
Unggul Dan Berdaya 4.
Menjalin kemitraan yang intensif
untuk menunjang terwujudnya
Saing Di Tingkat penyelengaraan tridharma
Wilayah, Nasional, perguruan tinggi dan luaran yang
unggul.
Dan Internasional
Tahun 2030”

Health Faculty, Sari Mulia


Visi dan Misi Fakultas Kesehatan

Visi Misi
1.Menyelenggarakan Pendidikan Yang
“Menjadi fakultas Berkualitas Dengan Mengedepankan
kesehatan yang unggul Interprofessional Education (IPE)
Untuk Menghasilkan Sumber Daya
dalam Ilmu Pengetahuan, Manusia Yang Kompeten Dan Berdaya
Teknologi dan Seni Saing Di Bidang Kesehatan
2.Meningkatkan Kualitas Penelitian dan
(IPTEKS) dengan Publikasi Ilmiah Dengan
mengembangkan potensi Mengembangkan Potensi Kearifan
Lokal Melalui Pendekatan Lintas
kearifan lokal untuk Profesi (Interprofesional
menghasilkan lulusan Collaboration/IPC)
yang berkarakter, inovatif 3.Menyelenggarakan Kegiatan
Pengabdian Kepada Masyarakat
dan kreatif ditingkat Dengan Mengaplikasikan IPTEKS
wilayah, nasional dan Melalui Pendekatan Kerjasama Lintas
Profesi
internasional tahun 2030” 4.Menjalin Kerjasama Dengan
Masyarakat, Institusi Pendidikan, Dan
Pemerintah Di Tingkat Wilayah,
Nasional, Maupun Internasional.

Health Faculty, Sari Mulia


Visi dan Misi Prodi Farmasi

Misi
Visi • Menyelenggarakan pendidikan
farmasi yang rasional dan inovatif
“Menjadi program studi dengan berbasis bukti ilmiah yang
farmasi yang unggul di berkarakter mandiri serta berjiwa
tahun 2025 dan mampu enterpreneur
• Mengembangkan penelitian di
menghasilkan lulusan bidang farmasi demi kemajuan
yang kompeten di ilmu farmasi yang berorientasi
pada kebutuhan masyarakat
bidang kefarmasian
• Melaksanakan program
dengan keunggulan pada pengabdian kepada masyarakat
pharmaceutical care dan terutama dalam pelayanan
kefarmasian sebagai bentuk
berjiwa tanggung jawab sosial demi
enterpreneurship” meningkatan kualitas kesehatan
masyarakat
• Mengembangkan kerjasama
dalam negeri maupun luar negeri
guna mendukung kegiatan
tridharma perguruan tinggi

Health Faculty, Sari Mulia


Capaian Pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami gejala


klinis, data laboratorium penunjang, terapi
farmakologi, interaksi obat, efek samping
obat pada kondisi khusus
2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian
data subyektif dan obyektif pasien
3. Mahasiswa mampu merekomendasikan
pengobatan berdasarkan guideline dan
hasil penelitian pada kondisi khusus.
4. Mahasiswa mampu melakukan penilaian
dan monitoring terhadap efektifitas dan
efek samping pengobatan pada kondisi
khusus.
Health Faculty, Sari Mulia
Outline

Gejala klinis
Data Laboratorium
Penunjang
Terapi Farmakologi
Interaksi Obat
Efek samping obat

Health Faculty, Sari Mulia


Referensi

• Peres G.M, et al. 2018. Review Preeclampsia


and Eclampsia : An update on the
pharmacological treatment applied in
Portugal. Journal of Cardiovascular
Developmwnt and Disease
• The American Collage of obstetriciand and
Gynecologist. 2013. Hypertension in
Pregnancy
• Purnamasari D. 2013. Indonesian Clinical
Practice Guideline for Diabetes in Pregnancy.
Journal of The ASEAN Federation of Endocrine
Societies

Health Faculty, Sari Mulia


USIA SUBYEK

Usia pasien merupakan salah satu faktor


penting yang dapat mempengaruhi
farmakokinetik dan farmakodinamik obat
Keadaan fisologis dan biokimia subyek
berkembang sejak usia dini sampai dewasa,
dan dari dewasa ke usia lanjut

Faktor ini mempengaruhi ADME, kadar obat


dalam darah, dan akhirnya efek obat

Health Faculty, Sari Mulia


Usia Dini

Klasifikasi usia menurut ICH :


1. Pronatis (bayi prematur) lahir sebelum usia
kehamilan 41 minggu
2. Neonatus berusia 0 – 27 hari
3. Bayi dan anak kecil berusia 28 hari – 23 bulan
4. Anak-anak berusia 2- 11 tahun
5. Remaja berusia 12 – 18 tahun

Penentuan dosis tidak


menggunakan usia balita, karena
tidak jelas klasifikasi usia dan
perkembangan fisiologis yang
terjadi.
Health Faculty, Sari Mulia
Absorpsi Obat pada Usia Dini

• Absorpsi obat dengan mekanisme difusi pasif di


Absorpsi saluran cerna tergantung pH dan motilitas
Obat pada
Usia Dini
saluran lambung-usus

• Tingginya pH lambung menyebabkan kenaikan


Absorpsi jumlah obat yang di absorpsi jika obat bersifat
Obat pada
Usia Dini
labil pada suasana asam. (antibiotik ᵝ-laktam)

• obat –obat asam lemah absorpsinya berkurang


Absorpsi
Obat pada (fenobarbital, fenitoin)
Usia Dini

Health Faculty, Sari Mulia


Ketersediaan hayati beberapa obat
setelah pemberian oral pada neonatus
dibandingkan dengan orang dewasa

Obat Absorbsi Oral

Ampisilin Meningkat

Parasetamol Berkurang

Diazepam Normal

Health Faculty, Sari Mulia


Profil tempat absorpsi dan pengaruhnya
terhadap neonatus, bayi dan anak

Fisiologis Neonatus Bayi Anak


Perubahan Fisiologis
Waktu pengosongan Tidak teratur Cepat Agak cepat
lambung
pH lambung >5 2-4 2 – 3 (normal)
Motilitas lambung Cepat Agak cepat
Luas permukaan usus Mendekati dewasa
Lambat atau rendah
Kolonisasi mikroba Mendekati dewasa
Fungsi bilier Belum sempurna Mendekati dewasa
Aliran darah otot Lambat Cepat Seperti dewasa
Permeabilitas kulit Cepat Cepat

Health Faculty, Sari Mulia


Profil tempat absorpsi dan pengaruhnya terhadap
neonatus, bayi dan anak

Fisiologis Neonatus Bayi Anak


Pengaruhnya terhadap absorpsi obat
Absorpsi oral Fluktuatif - lambat Lebih cepat Mendekati dewasa
Absorpsi Bervariasi Cepat Seperti dewasa
intramuskular
Absorpsi perkutan Cepat Cepat
Absorpsi rektal Sangat efisien Efisien Mendekati dewasa
First past effect Lebih lambat dari Lebih cepat dari dewasa
dewasa

Health Faculty, Sari Mulia


Distribusi Obat Pada Usia Dini

Selama masa
perkembangan bayi terjadi
perubahan komposisi tubuh

Volume distribusi obat


berubah
(fisiko-kimia obat, pH,
ikatan protein, & faktor
hemodinamik )

BBB belum sempurna : toksisitas di CNS


>>>
Jaringan
adipose

Neonatus Dewasa
Air 57% & lipid Air 26,3% & Lipid
35% 71,7%
Jika dosis obat tidak
dikurangi

Fraksi obat bebas


besar
(Neonatus /bayi)

Obat terdistribusi
luas dlm jaringan

Kenaikan intensitas
efek dan durasi
obat
Metabolisme Obat Pada Usia Dini

Aktivitas enzim hati


pada metabolisme
obat masih rendah
pada neonatus , akan
tetapi dengan cepat
berkembang selama
usia tahun pertama.

Health Faculty, Sari Mulia


Perbandingan waktu paro eliminasi
obat pada nenonatus dan orang dewasa

Obat Usia Neonatus T ½ eliminasi (jam)


Neonatus Dewasa
Ampisilin 0 – 7 hari 3,2 - 4 0,5
Diazepam - 25 - 100 40 - 50
Parasetamol - 2,2 - 5 0,9 - 22
Teofilin Neonatus 13 - 26 5 - 10
Anak 3-4 -

Health Faculty, Sari Mulia


Ekskresi Obat Pada Usia Dini
Fungsi Ginjal
(Filtrasi glomeruli,
sekresi, reabsorpsi
tubuli)

Pada Neonatus Lebih efektif pada


masih lemah bayi

Pada anak-anak
mendekati fungsi org
dewasa
Absorpsi Obat Pada Usia Lanjut

Bertambahnya usia ,
menyebabkan kondisi faal
seseorang pada umumnya
mulai menurun dan
berhubungan dengan organ-
organ yang berfungsi dlm
proses absorpsi, distribusi,
metabolisme, dan ekskresi
obat.

Health Faculty, Sari Mulia


Perubahan fungsi faal pada usia lanjut
PROSES FARMAKOKINETIKA PERUBAHAN FUNGSI FAAL
Perlambatan aliran darah
Absorpsi Kenaikan pH lambung
Penundaan pengosongan lambung
Pengurangan albumin
Pengurangan masa tubuh
Distribusi Pengurangan air tubuh total
Kenaikan lemak tubuh
Perlambatan aliran darah hepatik (dari 1445-
1717 mL/menit)
Metabolisme
Pengurangan masa hati
Penurunan aktivitas enzim
Perlambatan aliran darah ginjal (dari 618-689
mL/menit menjadi 349-485 mL/menit)
Ekskresi Perlambatan filtrasi glomerular
Perlambatan sekresi tubular
Health Faculty, Sari Mulia
Distribusi Obat Pada Usia
Lanjut
Bertambahnya usia  kandungan lipid ↑
Wanita 33-48%
Laki-laki 18-36%

Usia lanjut  kadar albumin ↓  kadar obat


bebas ↑
Metabolisme Obat Pada Usia Lanjut


Fungsi hati yang normal merupakan faktor penentu
Metabolisme Obat Pada Usia Lanjut aktivitas CYP3A4 yang memetabolisme sejumlah besar
(50-60%) obat yang lazim digunakan dalam pengobatan.

Metabolisme Obat Pada Usia Lanjut



Umumnya kapasitas metabolisme
berkurang sekitar 30% setelah usia 70%.


Pengurangan kecepatan aliran darah hepatik
Metabolisme Obat Pada Usia Lanjut menyebabkan kenaikan kadar obat di dalam darah jika
dosis tidak diturunkan.

Health Faculty, Sari Mulia


Ekskresi Obat Pada Usia Lanjut

Ketika usia 40 tahun, Fungsi


ekskresi ginjal rata-rata
berkurang 6-10% tiap
sepuluh tahun

Terjadi perlambatan aliran


darah ginjal dan filtrasi
glomerular

Memperlama waktu
eliminasi dan durasi efek
obat
FAKTOR GENDER

Perbedaan wanita
dan pria :
1. Berat badan Absorpsi
2. Tinggi badan Distribusi
3. Luas mempengar Metabolisme
permukaan uhi
Ekskresi
tubuh Respon obat
4. Fisiologis dan
biokimiawi
tubuh

Health Faculty, Sari Mulia


Absorpsi
 Perbedaan antara pria dan wanita
berada pada aktivias enzim dan hormon
 Obat-obat tertentu menurun kadar obat
dalam darah pada pria, tetapi meningkat
pada wanita, dan sebaliknya.

Health Faculty, Sari Mulia


Distribusi
 Perbedaan komposisi tubuh
menyebabkan perbedaan distribusi
obat dlm tubuh, shg kadar obat
dlm darah berbeda.
 % lemak tubuh wanita lbh besar
dibanding pria  obat larut lemak
terdistribusi luas, dan sebaliknya.

Health Faculty, Sari Mulia


Metabolisme
 Perbedan aktivitas enzim
berperan besar pada proses
metabolisme.
 Beda aktivitas enzim  beda hasil
metabolisme  beda kadar obat
bebas dlm darah.

Health Faculty, Sari Mulia


Ekskresi Obat
 Proses ekskresi dipengaruhi
kecepatan filtrasi glomerulus 
wanita lbh rendah 10-15%.
 Kec.filtrasi ↑  kadar obat lbh cepat
↓  durasi efek obat terkontrol

Health Faculty, Sari Mulia


Contoh obat
Obat Keterangan
Aspirin Klirens lebih cepat pada wanita
Diazepam Vd lebih besar pada wanita  kadar dalam darah yang lebih rendah
Fero sulfat Absorbsi lebih besar pada wanita (pra – pubertas)
Heparin Klirens lebih lambat pada wanita
Metil prednisolon Ikatan protein dan Vd sama pada pria dan wanita, namun klirens wanita
lebih cepat
metronidazol Vd lebih rendah, namun klirens lebih besar, sehingga AUC lebih kecil pada
wanita  efek terapi lebih kecil
Ondansetron Ketersediaan hayati peroral lebih tinggi pada wanita  efek terapi lebih
tinggi  resiko efek samping lebih tinggi
Propanolol Ikatan wanita protein dan Vd sama antara pria dan wanita, tetapi klirens
lebih lambat pada wanita sehingga T1/2 eliminasi lebih lama

Health Faculty, Sari Mulia


Kehamilan
Kompartemen Parameter Perubahan fisiologik
Absorpsi obat oral tertunda krna motilitas ↓.
absorpsi

Lemak tubuh ↑  Vd obat lipofilik ↑


Distribusi Kadar albumin ↓  obat bebas ↑

Masa Hamil dan Kec.filtrasi glomerulus ↑  kadar obat lbh cpt ↓


Eliminasi
melahirkan
Karena perubagn tersebut, maka :
Tmax tertunda fan C max lebih rendah, Tetapi
Kadar obat kadar obat bebas ↑ dan C min lebih rendah.
Untuk mengurangi fluktuasi tsb interval
pemberian obat perlu diperpendek
Janin
Kompartemen Parameter Perubahan fisiologik
Absorpsi obat berdasarkan sifat fisika kimia
obat.
absorpsi
Cairan amniotik berfungsi sebagai cadangan
obat yang akan absorpsi.
Fraksi air lebih besar
Blood brain barrier belum berfungsi
Janin Distribusi
Protein plasma rendah  Vd obat di dalam
janin lebih besar
Eliminasi Tergantung maternal dan plasenta

Asam lemah = maternal


Kadar obat Basa lemah = melebihi kadar maternal
Menurut FDA

Kategori Definisi
A Obat – obatan yang diberikan kepada ibu hamil trimester I (penelitian
terkontrol) tidak menimbulkan efek buruk atau kemungkinan efek
buruk terhadap fetus sangat jarang.
Tidak ada penelitian pada ibu hamil trimester II dan III

B Penelitian terkontrol pada ibu hamil tidak menunjukkan peningkatan


resiko kelaianan janin, walaupun dijumpai kelainan pada hewan atau
jika penelitian pada manusia tidak mencukupi, penelitian pada hewan
tidak menunjukkan risiko pada janin.
Walaupun demikian, tetap ada kemungkinan.

Health Faculty, Sari Mulia


Kategori Definisi
C Penelitian terkontrol pada ibu hamil tidak mencukupi untuk menunjukkan efek
yang merugikan pada janin, sedangkan penelitian pada hewan menunjukkan
risiko pada janin atau kurangnya penelitian pada hewan terhadap obat tersebut
Obat kategori C dapat dibenarkan pemakaiannya pada kelompok ibu hamil, jika
keuntungan pemakaian obat tersebut lebih besar daripada efek buruk terhadap
fetus.

D Obat – obat yang diberikan pada ibu hamil (trimester I, II, dan III) pasti
menimbulkan efek buruk terhadap fetus.
Obat kategori D terpaksa diberikan pada ibu hamil untuk menyelamatkan jiwa
ibu hami karena tidak ada obat lain yang efektif sebagai obat pengganti

X Obat – obat yang diberikan pada kelompok hewan hamil dan kelompok ibu hamil
(trimester I, II, dan III) yang pasti menimbulkan efek buruk terhadap fetus.
Kerugian dari pemakaian obat ini jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Pemakaian obat kategori X tidak dibenarkan pada ibu hamil atau ibu yang
mungkin hamil ataupun ibu yang diduga hamil.

Health Faculty, Sari Mulia


PENGARUH OBAT PADA
JANIN

Toksik
• sifat/jenis obat
Teratogenik • umur kehamilan
pada saat
Letal minum obat

Health Faculty, Sari Mulia


Masa konsumsi obat terkait
dengan fase perkembangan
janin
Minggu ke- ESO yang mungkin
Fase perkembangan janin
(trimester) terjadi

Konsepsi/pertemuan sel
telur dan sperma,
1-8 penempelan hasil Abortus berulang
pembuahan di
endometrium

Pembentukan organ vital Cacat atau tak


8-12 (I)
(organogenesis) terbentuk organ vital

Penyempurnaan fisik Gangguan motorik


12-24 (II)
organ organ

24-36 atau lebih Gangguan tingkah


Terbentuk fungsi organ
(III) laku, sindrom Down
Health Faculty, Sari Mulia
TOKSIK

Menyebabkan terjadinya
gangguan fisiologik atau
biokimia janin

Biasanya gejala baru muncul,


beberapa saat setelah kelahiran

Health Faculty, Sari Mulia


TERATOGENIK

terjadinya malformasi
anatomik pada, pertumbuhan
organ janin

Health Faculty, Sari Mulia


LETAL

mengakibatkan
kematian janin dalam
kandungan

Health Faculty, Sari Mulia


Bentuk
Malformasi
Konsekwensi fungsional
ringan:
• Polidaktili/sindaktili

Health Faculty, Sari Mulia


Cleft
lip

Health Faculty, Sari Mulia


Cleft lip and palate in an
infant

Health Faculty, Sari Mulia


PRINSIP PENGGUNAAN OBAT
PADA KEHAMILAN

1.Pertimbangkan mengatasi penyakit tanpa


obat

2.Obat hanyadigunakan bila benefit > risk

3.Pilihlah obat yang sudah dikenal luas

4. Hindari polifarmasi

5.Cari tahu kategori obat A,B,C,D atau X

Health Faculty, Sari Mulia


6. Gunakan dgn dosis efektif terendah, ttpi
ada bbrp obat yg mungkin perlu
peningkatan dosis.

7. Gunakan obat dg durasi yg sesingkat


mungkin

8. Jika obat yg digunakan diduga kuat dpt


mnybabkan kecacatan, maka lakukan USG

Health Faculty, Sari Mulia


Hipertensi Pada Kehamilan

TD > 140/90 pada masa kehamilan


Hipertensi gestasional  hnya terjadi pd saat kehamilan tanpa disertai protein dalam urin

Preeklamsia  hipertensi + Protein dalam urin

Eklamsia  kejang pada ibu hamil

Preeklamsia superimposed  ibu hamil sudah punya hipertensi sblm kehamilan dan protein
dtemukan stlh usia kehamilan 20 minggu

Hipertensi Kronik  ibu yang punya riwayat hipertensi sebelumnya / hipertensi menetap setelah
12 minggu persalinan

Health Faculty, Sari Mulia


Pre Eklampsia dan Eklampsia

eningkatnya tekanan
eningkatan kadar protein
eningkatnya tekanan
eningkatan juga
eeklampsia kadar protein
akan
kan pada kaki dan
eeklampsia juga akan
kan pada kaki dan

la
la
psi
psi

eru
eru
ka
ka

ndi
ndi

njut
njut

ri
ri
ee
ee BP measurements :
≥2 occasions, ≥4-6 h
m
m
aa
ng
ng
ak

apart & <7 days


ak
rat
rat

ng
ng

ik.
ik.
jal
jal

ee
ee
m
m
a,
a,
jan
jan

la
la
psi
psi

pa
pa

eny
eny
ab
ab
n
n
ma
ma
au
au
hk
hk

ma
ma
n
n
ik
ik
bel
bel
m,
m,
at
at
au
au
tel
tel

Health Faculty, Sari Mulia


ela
ela
ka
ka
Algoritma diagnosis hipertensi pada kehamilan

Health Faculty, Sari Mulia


Pre-eklamsia digolongkan menjadi 2 golongan :
to lik 15 mmHg atau >9 0
ksamp ai 1 10 mmHg .
liklik3015mmHg
to mmHgatau atau>>9 atau
0
ksamp ai 1 10 mmHg .
malikumu m, kaki,atau
30 mmHg jar i t>anatau
gan

ma umu m, kaki, jar i t an gan

e-
e-
la
la
psi
psi

rat
rat

kan
kan

st
st
kk
0
0
mh
mh

ote
ote

n
n
siti
siti
,,
gur
gur

rin
rin

r/L
r/L

kit
kit
pal
pal

ut
ut
ma
ma
era
era

ont
ont

sa
sa
eri
eri
era
era

iga
iga
iu
iu

ng
ng
an
an
ngl
ngl
ta
ta

rda
rda
tt
ual
ual
ma
ma

unt
unt

ng
ng
an
an
rna
rna
an
an
mp
mp

no
no

ng
ng
an
an
sad
sad
an
an
Health Faculty, Sari Mulia
Tujuan utama terapi:

• Pencegahan terjadi pre-eklamsia berat dan eklamsia


• Melahirkan janin hidup
• Melahirkan janin dengan trauma sekecil kecilnya

Health Faculty, Sari Mulia


Terapi Non Farmakologi

• Anjurkan istirahat lebih banyak.


• Diet kalori dan garam
• Hindari faktor resiko seperti stres, merokok, obesitas
• Olah raga ringan setiap pagi dan sore

Health Faculty, Sari Mulia


Penanganan preeklampsia Ringan

Health Faculty, Sari Mulia


Penanganan
preeklampsia berat

Health Faculty, Sari Mulia


Mild pre eklampsia

Health Faculty, Sari Mulia


Severe pre eklampsia

Health Faculty, Sari Mulia


Mekanisme Kerja Nifedipin

Nifedipine

Health Faculty, Sari Mulia


MgSO4

• Magnesium sulfat mempunyai efek antikejang dan vasodilator  agen


pencegahan eklampsia paling efektif

• DOC untuk terapi kejang pada eklampsia.

• Direkomendasikan untuk profilaksis eklampsia pada wanita dengan


preeklampsia berat.

Health Faculty, Sari Mulia


Mekanisme Keja MgSO4

Health Faculty, Sari Mulia


Mekanisme Keja MgSO4

Health Faculty, Sari Mulia


MgSO4

Health Faculty, Sari Mulia


MgSO4 40% flash (1 flash = 25 ml)

• Dalam 1 flash 40% x 25 ml = 10 gr MgSo4

• Jika membutuhkan 2 g MgSO4 40%


2 g/10 g x 25 ml = 5 ml MgSO4 40%

Health Faculty, Sari Mulia


MgSO4 20% flash (1 flash = 25 ml)

Dalam 1 flash terdapat : 20% x 25 ml = 5 g MgSO4

Jika membutuhkan 2 g MgSo4 20%


2 g/5 g x 25 ml = 10 ml MgSo4 20%

Health Faculty, Sari Mulia


Syarat – syarat pemberian MgSO4

• Harus tersedia antidotum MgSO4 yaitu Kalsium glukonas 10% (1


gram dalam 10 ml) diberikan intravena dalam waktu 3 – 5 menit
• Refleks patella kuat
• Frekuensi pernafasan > 16 kali permenit
• Produksi urin > 30 cc dalam 1 jam sebelumnya (0,5 ml/kgBB/jam

Health Faculty, Sari Mulia


Diabetes Gestasional

• Diabetes mellitus merupakan kelainan


metabolisme yang kronis dan terjadi
karena defisiensi insulin atau resistensi
insulin.

• DM gestasional  intoleransi glukosa pada


kehamilan

Health Faculty, Sari Mulia


Patofisiologi DM secara garis besar

Defesiensi insulin

Gangguan sekresi insulin akibat


gangguan fungsi pankreas

DM

Gangguan sensitivitas reseptor


di jaringan perifer

Resistensi insulin
Health Faculty, Sari Mulia
Tanda dan Gejala

TRIAS

POLIDIPSI
A (banyak
minum)

POLIPHAGI
POLIURIA
A
(banyak
( banyak
kencing)
makan
Health Faculty, Sari Mulia
Penatalaksanaan

Terapi diet

Terapi
insulin
Olahraga

Health Faculty, Sari Mulia


Kadar Glukosa Darah dan HbA1c pada Kondisi
Normal, Gangguan Toleransi, dan Diabetes Mellitus
(ADA, 2010)

Kadar Normal Gangguan Diabetes Acak mg/dL


Glukosa mg/dL Toleransi Mellitus (mmol/L)
Darah (mmol/L) mg/dL mg/dL
(mmol/L) (mmol/L)
Puasa 65 – 99 100 – 125 ≥ 126 ≥ 126
(3,6 – 5,5) (≥ 5,6 – 6,9) (7) (7)
2 jam < 140 140 – 199 ≥ 200 ≥ 200
setelah (7,8 – 11,0) (≥ 11,1) (≥ 11,1)
makan
HbA1c 5,7% - 6,4% ≥ 6,5%

Health Faculty, Sari Mulia


Faktor resiko

• Pernah mengalami beberapa kali kelahiran


bayi besar (berat > 4.000 gram)
• Riwayat abortus
• Ditemukan glukosa dalam air seni (hasil
pemeriksaan lab).

Health Faculty, Sari Mulia


Patofisiologi selama kehamilan

gula Asam
amino

Peredaran darah

hormon-hormon
plasenta, laktogen Insulin
plasneta manusia
(HPL), estrogen,
progesteron, dan
kenaikan hormon
kortisol
masalah dalam
mengendalikan gula darah.
Health Faculty, Sari Mulia
Pengaruh DM

Abortus dan partus prematurus


Pre eklamsia
Hidroamnion
Insufisiensi plasenta

Kematian hasil konsepsi dalam


kehamilan mudah mengakibatkan
abortus
Cacat bawaan
Dismaturitas
Janin besar (makrosomia)
Kematian dalam kandungan
Kematian neonatal Health Faculty, Sari Mulia
Terapi non farmakologi

3J:
• Jenis
Kolesterol tetap perlu max 300 mg/hari
Lemak : dari bahan nabati
Protein : dari ikan, ayam (daging dada), tahu dan tempe
Serat min 25 g/hari
• Jumlah
 Karbo Hidrat : 60 – 70%
 Protein : 10 – 15%
 Lemak : 20 – 25%
• Jarak

Olahraga

Health Faculty, Sari Mulia


Terapi farmakologi

Insulin
insulin yang digunakan adalah insulin dosis
rendah dengan lama kerja intermediate
dan diberikan 1-2 kali sehari.

ADO tidak digunakan dalam DMG karena


efek teratogenitasnya yang tinggi dan
dapat diekskresikan dalam jumlah besar
melalui ASI.

Health Faculty, Sari Mulia


Tipe Insulin
Aksi Jenis Insulin Mula Aksi Puncak Durasi Pemberian
(jam) Aksi (jam)
(Jam)
Ultra Lispro 0 – 0,25 0,5 - 2 3–4 Saat makan atau
cepat Aspart hiperglikemia
Glusine akut

Cepat Reguler 0,5 – 1 2–3 6–8


Sedang NPH 1,5 4 – 10 16 – 24 Memperbaiki
insulin basal dan
Durasi Ultralente 4-6 8 – 30 24 – 36
tengah malam
Panjang Glargine 18 - 24
Sediaan Human :
Kombinas NPH/Regular
i Humulin 70/30
Novolin 70/30
Humulin 50/50
Novolog Mix 70/30
Humolog Mix 75/25

Health Faculty, Sari Mulia


Profil Aksi Analog Insulin

Health Faculty, Sari Mulia


Efek samping Insulin

Rebound
Hiperglikemi
a

Hipersensitifita Resistensi
s insulin

ESO

Berat badan Lipoatrofi


meningkat
Lipohipertrofi
Hipoglikem
ia

Health Faculty, Sari Mulia


Qoute

Health Faculty, Sari Mulia