Anda di halaman 1dari 15

Asiditas

• Asiditas adalah kapasitas air untuk menetralkan OH-. Pada dasarnya, asiditas
(keasaman) tidak sama dengan pH. Asiditas melibatkan dua komponen, yaitu jumlah
asam, baik asam kuat maupun asam lemah (misalnya asam karbonat dan asam asetat),
serta konsentrasi ion hidrogen. Menurut APHA (1976)dalam Effendi (2003), pada
dasarnya asiditas menggambarkan kapasitas kuantitatif air untuk menetralkan basa
sampai pH tertentu, yang dikenal dengan base neutralizing capacity (BNC); sedangkan
Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa pH hanya menggambarkan
konsentrasi ion hidrogen. Pada kebanyakan air alami, air buangan domestik, dan air
buangan industri bersifat buffer karena sistem karbondioksida-bikarbonat.

• Pengujian asiditas air untuk memperhitungkan kadar asam lemah yang terkandung
dalam air bersih. Adanya asiditas dalam air ditunjukkan oleh pH air tersebut dibawah
8,5. Air yang dengan pH < 4,5 hanya mengandung asam mineral (kuat)
Penyebab Asiditas
Pada umumnya terdapat beberapa jenis yang menyebabkan keasaman dalam air
adalah:
1. Karbon dioksida (CO )2

Umumnya terdapat dalam air permukaan dimana CO diserap dari udara j ika t ekanan CO
2 2

dalam a i r > dalam udara. CO juga terdapat dalam air karena proses dekomposisi (oksidasi) zat
2

organik oleh mikroorganisme. Umumnya juga terdapat dalam air yang telah tercemar.
2. Asam mineral
Umumnya terdapat dalam a i r l i m b a h i n d u s t r i pengolahan
logam atau pembuatan senyawa kimia. Kadang-kadang juga terdapat dalam air alam.
3. Asam humus
Umumnya terdapat dalam air rawa atau danau karena adanya rumput-rumputan atau tumbuh-
tumbuhan yang hidup dalam air tersebut melepaskan senyawa asam dan warna. (Dewi,2007)
Cara mengukur dan alat yang
digunakan
Alat dan Bahan
Alat
Bahan
No Nama alat Spesifikasi Jumlah
No Nama bahan Spesifikasi Jumlah
1 Beaker gelas 100 mL 2
1 NaOH 0,1 N Secukupnya
2 Beaker gelas 250 mL 2
2 HCl 0,1 N Secukupnya
3 Beaker gelas 600 mL 1
3 Sampel air Air sumur Secukupnya
4 Pipet tetes - 2
5 Gelas ukur 100 mL 2
4 Indikator PP Secukupnya
6 Corong Kaca 2
7 Kertas saring - Secukupya
8 Buret 50 mL 2
9 Klem & Statif Besi 2 pasang 5 Indikator MO Secukupnya

10 Erlenmeyer 250 mL 2
11 Pipet ukur 25 mL 1
Prosedur Kerja
A.  Prosedur kerja Asiditas
1.         Ambil 100 mL sampel air, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 mL
2.         Tambahkan 5 tetes indikator phenolphthalein
3.         Titrasi dengan larutan standar NaOH  0,1 N sampai berwarna rose, catat volume pemakaian
NaOH, misalnya p mL.
4.         Lalu tambahkan 5 tetes indikator metil jingga.
5.         Titrasi kembali dengan larutan standar HCl  0,1 N sampai terjadi perubahan warna menjadi
jingga merah. Catat volume pemakaian HCl, misalnya q mL.
Standar Nilai Asiditas
Asiditas pada sistem air alami adalah kapasitas air untuk menetralisir OH-,Air asam
biasanya tidak diperhitungkan, kecuali untuk kasus polusi berat. Asiditas merupakan
hasil dari adanya asam lemah seperti H2PO4-, CO2, H2S, protein, asam-asam lemak
dan ion-ion logam asam, terutama Fe3+. Asiditas lebih sukar ditentukan daripada
alkalinitas, karena dua kontributor utama, CO2 dan H2S, merupakan larutan volatil
yang segera hilang dari sampel (Annonymous,2013)
Prinsip Asiditas
CO2 asam mineral dan asam harus dalam air dinetralkan oleh larutan standar basa
dan asam dengan indicator fenolptalein dan metil jingga.
Asiditas dalam air disebabkan oleh karbondioksida (CO2) asam mineral. Adanya
asiditas dalam air ditunjukkan oleh PH air tersebut dibawah 8,5. Air yang dengan PH
<4,5 hanya mengandung asam mineral (kuat).
Adanya asiditas dalam air ditunjukkan oleh pH air tersebut dibawah 8,5. air yang
dengan pH < 4,5 hanya mengandung asm mineral (kuat)
Klor Bebas
• Klor bebas adalah hasil dari sisa pembubuhan desinfektan berupa
klorin yang merupakan salah satu proses dari pengolahan air minum.
Pengujian parameter klor bebas dilakukan dengan metode titrasi
Iodometri dengan Na2S2O3 sebagai titran dan amilum sebagai
indikator warnanya. Untuk menghitung kadar nilai kadar klor bebas
dibutuhkan volume titran untuk menitrasi sampel dan blanko. Adapun
hasil pengujian kadar klor bebas pada sampel dapat dilihat di gambar
3.1 di bawah ini:
• Klorin merupakan suatu senyawa yang beracun dan berbahaya bagi biota
perairan, terutama derivatnya seperti asam hipoklorin dan kloramin (HOCl dan
NH2Cl). Kloramin terbentuk dari hasil reaksi antara klorin dengan ammonia
yang terdapat dalam air laut yang pada kadar tertentu dapat menyebabkan
kematian pada ikan (Edward, 2000).
• Klorin merupakan bahan kimia yang penting untuk beberapa proses
penurunan air, penjangkitan dan dalam pelenturan. Klor merupakan salah satu
zat desinfektan yang sering digunakan sebagai desinfektan adalah ozon (O 3),
klordioksi dan sebagainya. Dua faktor penting yang mempengaruhi proses
desinfektan adalah waktu membubuhkan bakteria dan ozon tidak membentuk
organoklin dan tidak tertinggal dalam air setelah perawatan (Laksono, 2009).
• Kolorimetri merupakan cara yang didasarkan pada pengukuran fraksi cahaya yang diserap analat. Prinsipnya: seberkas
sinar dilewatkan pada analit, setelah melewati analat intensitas cahaya berkurang sebanding dengan banyaknya molekul
analat yang menyerap cahaya itu. Intensitas cahaya sebelum dan sesudah melewati bahan diukur dan dari situ dapat
ditentukan jumlah bahan yang bersangkutan. Kolorimetri berarti pengukuran warna, yang berarti bahwa dalam
kolorimeter, sinar yang digunakan adalah sinar daerah tampak
(visible spectrum), sebaliknya, spektrofotometri tidak terbatas
• pada pengunaan sinar dalam daerah tampak, tetapi dapat juga sinar UV dan sinar IM. Maka timbul istilah-istilah
spektrofotometri UV, spektrofotometri tampak, dan spektrofotometri IM (Harjadi, 1990).
• Variasi warna suatu sistem berubah dengan berubahnya konsentrasi suatu komponen, membentuk dasar apa yang
lazim disebut analisis kolorimetrik oleh ahli kimia. Warna tersebuat biasanya disebabkan oleh pembentukan suatu
senyawa berwarna dengan ditambahkannya reagensia yang tepat, atau warna itu dapat melekat dalam penyusun yang
diinginkan itu sendiri. Kolorimetri dikaitkan dengan penetapan konsentrasi suatu zat dengan mengukur absorbsi relatif
cahaya sehubungan dengan konsentrasi tertentu zat tersebut.
• Dalam kolorimetri visual, cahaya putih alamiah ataupun buatan umumnya digunakan sebagai sumber cahaya, dan
penetapan biasanya dilakukan dengan suatu instrumen sederhana yang disebut kolorimeter atau pembanding
(comparator) warna. Bila mata digantikan oleh sel fotolistrik, instrumen itu disebut kolorimetri fotolistrik. Alat kedua ini
biasanya digunakan dengan cahaya putih melalui filter-filter, yakni bahan terbuat dari lempengan berwana terbuat dari
kaca, gelatin, dan sebagainya , yang meneruskan hanya daerah spektral terbatas.
Faktor Yang Mempengaruhi
• Konsentrasi dari klor dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya
suhu, cahaya, pH rendah, dan kehadiran kation logam berat seperti
tembaga, nikel, kobalt. Sisa klor merupakan sisa akibat adanya reaksi
antara senyawa klor dengan senyawa organik atau senyawa anorganik
tertentu dalam air (Rozanto, 2015)
Cara mengukur dan alat yang
digunakan
• ALAT-ALAT DAN REAGENSIA

Alat-alat • Regensia
• Neraca analitik • Na2 S2 O3 0,1 N
• Buret dan stand • KIO3 0,1 N
• Labu Ukur • indikator amilum 1 %
• Buret dan stand • Aquadest
• Labu erlenmeyer
• KI 10%
• Gelas beaker
• H2SO4 6 N
• Pipet Volume
• Gelas Ukur • asam asetat glacial ph 3 - 4
• Pipet tetes • Tissue dll
• Botol Semprot
• Corong
• Kertas timbang
CARA KERJA
• Pembuatan Larutan KIO3 0,1 N Penatapan Kadar Sampel
• Ditimbang 0,3692 gram KIO3 Di isi buret dengan larutan Na2S2O3 0,1 N
• Dimasukkan ke dalam labu ukur volume 100 ml sampai tanda batas
• Ditambahkan dengan aquadest bebas CO 2 sampai Dipipet 100 mL larutan sampel
tanda batas Dimasukkan ke dalam labu erlenmayer
• Dilarutkan dan dicampur hingga homogen Ditambah 5 mL asam asetat glacial PH 3 -
• Standarisasi Larutan Na2S2O3 0,1 N Terhadap 4 dan 1 gram KI
KIO3 0,1 N Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N
• Di isi buret dengan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai sampai larutan berubah menjadi
tanda batas warna kuning jerami
• Dipipet 10.0 ml larutan KIO3 0,1 N Ditambahkan 5 - 10 tetes indikator
• Dimasukkan ke dalam labu erlenmayer amilum
• Ditambah 5 mL KI 10 % dan 5 mL H 2SO6 6 N dilanjutkan titrasi sampai warna biru
• Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai pada larutan hilang
larutan berubah menjadi warna kuning jerami Dihitug Kadar sampel tersebut
• Ditambahkan 5 - 10 tetes indikator amilum
• dilanjutkan titrasi sampai warna biru pada larutan
hilang
• Dihitug Normalitas larutan Na2S2O3 tersebut
Standar nilai klor bebas
• Salah satu jenis klorin yang sering digunakan dalam industri yakni
natrium hipoklorit (NaOCl) yang merupakan bahan utama dalam
cairan pemutih. Zat ini biasa digunakan untuk pemutih dalam industri
pakaian, industri kertas, dan serbuk kayu (BPOM RI, 2014). Dalam
jumlah yang besar sekitar 70%, natrium hipoklorit biasa digunakan
dalam pembuatan pemutih sekitar 5-10% sebagai pembersih dan
desinfektan dalam pengolahan air limbah sedangkan dalam industri
kadar natrium hipoklorit bisa mencapai 50% sebagai pemutih (Health
Protection Agency, 2001)
referensi
• Reza, Faisal. 2018. Laporan Praktikum Teknik Lingkungan. Yogyakarta.
Universitas Gadjah Mada
• Klorin Bebas Dan Total Klorin – Scribd
id.scribd.com › doc › Klorin-Bebas-Dan-Total-Klorin
(diakses pada 18 Maret 2020)
• Rohmah, S. 2018 Kesling vol 9 no 1 Jan 2017_SIAP CETAK.1.1 - journal unair
e-journal.unair.ac.id › JKL › article › download