Anda di halaman 1dari 25

KOMUNIKASI FARMASI

“ASMA”

1. Adinia Tiska Dwi Lestari (1702050070)


2. Erlyana Dwi Ayuningtyas (1702050078)
3. M. Dian Purwantoro (1702050087)
4. Sheila (1702050147)
5. Siti Umi Rochmatin (1702050101)
6. Sri Puji Widiyanti (1702050102)
PENGERTIAN

Asma adalah penyakit kronis yang menyerang saluran


pernapasan dimana terdapat peradangan dinding rongga
bronkial sehingga mengakibatkan penyempitan saluran
napas, yang ditandai dengan batuk, mengi “wheezing”, dan
sesak napas.
PATOFISIOLOGI

 Bronkokontriksi, inflamasi dan respon yang berlebih terhadap rangsangan


(hiperresponsiveness) → Alergen memicu pelepasan senyawa endogen dari
sel mast → terjadi hambatan aliran udara dan penurunan kecepatan aliran
udara akibat penyempitan bronkus
FAKTOR RESIKO

- Menyebabkan berkembangnya asma


• Faktor Pasien : genetik, obesitas, jenis kelamin (anak

laki-laki < 14 tahun lebih beresiko), wanita dewasa lebih


beresiko.
- Memicu terjadinya asma
• Faktor Lingkungan : asap, alergen, infeksi, obat/bahan
sensitizer, polusi udara.
Asthma Triggers
TANDA DAN GEJALA

 Dispnea (sesak nafas) mendadak, mengi ”wheezing”

 Batuk dengan sputum yang kental, jernih ataupun kuning

 Denyut nadi yang cepat

 Bunyi nafas yang berkurang

 Pengeluaran keringat yang banyak


TUJUAN PENGOBATAN

Asma Kronis
1. Mengurangi perburukan
 Mencegah gejala kronis dan mengganggu misalnya batuk atau sesak nafas

disiang dan malam hari atau setelah beraktifitas.


 Penggunaan yang jarang (≤2 hari / minggu) dari SABA untuk mengurangi

gejala dengan cepat (tidak termasuk pencegahan bronkospasme yang dipicu


oleh latihan)
 Mempertahankan fungsi paru yang normal

 Mempertahankan tingkat aktivitas yang normal (termasuk olahraga, kerja

atau sekolah).
Lanjutan...

2. Menurunkan resiko
 Mencegah perburukan berulang dan meminimalkan

masuk UGD atau rawat inap.


 Mencegah hilangnya fungsi paru, dan mencegah
penurunan pertumbuhan paru untuk anak
 Meminimalkan atau meniadakan efek samping terapi
Asma Akut yang parah
 Memperbaiki hipoxemia yang signifikan

 Memperbaiki jalan nafas dengan cepat (dalam beberapa

menit)
 Mengurangi kemungkinan kekambuhan obstruksi aliran

udara yang parah


TERAPI FARMAKOLOGI

Obat Pengontrol Obat Pelega Obat Tambahan

- Untuk pasien dengan


- Digunakan rutin - Meredakan
gejala yang menetap
untuk mencegah gejala saat
atau mengalami
dan memelihara kambuh atau
eksaserbasi walaupun
kekambuhan exaserbasi
sudah mendapatkan
- Contoh obat: - Contoh obat: B2
terapi pengontrol
inhalasi steroid, short acting,
yang optimal degan
kromolin, antikolinergik,
dosis tinggi.
nedokromil, metilxantin,
- Contoh obat:
leukotrien kortikosteroid
antagonis leukotrien
modifier, golongan oral
anti-igE
metilxantin
PENGGOLONGAN OBAT

 Bronkodilator (reliever):
1. Agonis ß2
2. Metilxantin
3. Antimuskarinik

 Antiinflamasi (preventer/controller):
1. Kortikosteroid
2. Antileukotrien
3. Kromone
4. Anti- igE
β2 Agonia

β2 pada bronkus distimulasi menyebabkan


aktivasi adenilsiklase (enzim yang mengubah
ATP menjadi cAMP → kadar cAMP meningkat →
broncodilatasi
Contoh obat:
1. Short acting β2 agonis (SABA); salbutamol,
terbutalin, fenoterol
2. Long acting β2 agonis (LABA); salmeterol,
formeterol
METHYLXANTIN

Menghambat aktivitas fosfodiesterase yang


dihasilkan oleh peningkatan kadar cAMP → relaksasi
otot polos bronkus.
Contoh: Teofilin
Efek Samping : Takikardi, mual, sakit kepala,
insomnia, aritmia
ANTIKOLINERGIK/ ANTIMUSKARINIK

Menghasilkan brokodilatasi dengan memblok secara


kompetitif reseptor muskarinik (M2/M3) dalam
saluran napas.
Contoh: ipratropium bromida, tiotropium bromida
KORTIKOSTEROID

Menghambat sintesis berbagai protein proinflamasi


Contoh: beclomethason propionat, budesonid,
ciclesonid, flunisolid, fluticason propionat,
triamsinolon asetonid.
ANTI LEUKOTRIEN

 Leukotrien modifiers  Lipoxygenase inhibitor

Leukotrien reseptor antagonis  Contoh: zileuton

yang menurunkan faktor


proinflamasi sehingga
menurunkan permeabilitas
mikrofaskular dan edema saluran
napas.
 Contoh: zafirlukas
KROMONE

Sel mast tetap stabil dan tidak pecah sehingga


mediator inflamasi tidak keluar.
Contoh: sodium kromoglikat, nedokromil, natrium
kromolin
ANTI- igE (anti imunoglubulin E)

Mengikat igE sehingga tidak bekerja pada


reseptornya memicu pelepasan mediator inflamasi.
Contoh: omalizumab
Global Initiative for Asthma (GINA)
TERAPI NON FARMAKOLOGI

1. Menghindari pemicu alergi, mengurangi


penggunaan obat yang dapat memicu asma.
2. Stop merokok
3. Edukasi pasien untuk kepatuhan minum obat,
keterampilan mengurus diri sendiri
Jenis Inhaler

1. MDI : Metered-dose Inhaler


• MDI
• MDI dengan Spacer
2. DPI : Dry Powder Inhaler
Cara penggunaan Inhaler MDI
Cara penggunaan DPI

1. Pegang mouthpiece rotahaler secara vertikal.


Tangan lain memutar rotahaler sampai
maksimal.

2. Masukan rotaccap.

3. Pegang rotahaler secara horizontal, dengan


titik putih berada diatas.
Lanjutan...

4. Putar badan rotahaler berlawanan arah untuk


membuka rotaccap.

5. Kosongkan paru, letakkan mouthpiece


rotahaler diantara gigi dan bibir, kepala
agak ditengadahkan.

6. Hirup kuat, tahan beberapa


detik.

7. Keluarkan rotahaler dari mulut dan bernafas


seperti biasa.
TERIMA KASIH