Anda di halaman 1dari 79

ASPEK LEGAL

PRAKTEK MANDIRI PERAWAT

OLEH

Dharma Wiasa, SKp,SH,MM


Evidence: Hasil Evaluasi Peran dan Fungsi Perawat
Puskesmas Daerah Terpencil
(Depkes & UI, 2005)
Terkait dengan tindakan medik:
1. Menetapkan diagnosis penyakit (92.6%)
2. Membuat resep obat (93.1%)
3. Melakukan tindakan pengobatan di dalam
maupun di luar gedung puskesmas (97.1%)
4. Melakukan pemeriksaan kehamilan (70.1%)
dan melakukan pertolongan persalinan
(57.7%)

Direkomendasikan:
Perlu peningkatan kordinasi dalam mewujudkan
perlindungan hukum bagi perawat khususnya
untuk tugas tugas limpah dalam hal
pengobatan.
Tata Hukum di Indonesia
 UUD ,45 : Indonesia adalah negara yang
berdasarkan Hukum (Rechstaat) dan tidak
berdasarkan pada kekuasaan belaka (Machstaat)

 Sumber Hukum : UUD 45, Tap MPR, UU/Peraturan


pengganti UU, PP, Kepres, Permenkes/kepmenkes,
peraturan lainnya
Fungsi Hukum dlm Praktik Perawat
 Memberikan kerangka untuk menentukan
tindakan keperawatan mana yang sesuai
dengan hukum

 Membedakan tanggung jawab perawat


dengan profesi lain

 Membantu menentukan batas-batas


kewenangan tindakan keperawatan mandiri

 Membantu mempertahankan standard praktik


keperawatan dengan meletakkan posisi
perawat memiliki akuntabilitas dibawah
hukum.
Tanggung Jawab Hukum
dalam Praktik
 Melaksanakan keperawatan mandiri
atau yang didelegasi
Tata Hukum Kes di
Indonesia
UU No.23/1992
UUD 45 UU No.29/2004
Ttg Kesehatan
Ttg. Praktik Dokter

RUU PRAKTIK PRAKTIK


TENAGA KEPERAWATAN Permenkes 1419/2005
KESEHATAN ?
Penyelenggaraan
???....
Praktik dokter & dokter
gigi

RUU PRAK.KEP Permenkes


1239/2002 ttg
????....
Registrasi Praktik
Keperawatan
Pasal 32 ayat 4:
Pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan
berdasarkan ilmu kedokteran dan atau ilmu
keperawatan, hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk itu.”

Pasal 53, ayat 1:


Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan
UU No.23/1992 hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan
Ttg Kesehatan profesinya.

Pasal 53, ayat 2:


Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya
berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan
menghormati hak pasien
SIP

PERMENKES
1239/2001 TTG
REGISTRASI DAN
PRAKTIK KE SIK

SIPP
PASAL KRUSIAL DALAM KEPMENKES
1239/2001 TTG PRAKTIK
KEPERAWATAN
 Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian,
penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan,
melaksanakan tindakan dan evaluasi.
 Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas
permintaan tertulis dokter
 Dalam melaksanakan kewenangan perawat
berkewajiban :
 Menghormati hak pasien
 Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
 Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku
 Memberikan informasi
 Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
 Melakukan catatan perawatan dengan baik
 Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa
seseorang , perawat berwenang melakukan
pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang
ditujukan untuk penyelamatan jiwa.

 Perawat yang menjalankan praktik perorangan


harus mencantumkan SIPP di ruang praktiknya

 Perawat yang menjalankan praktik perorangan


tidak diperbolehkan memasang papan praktik
(sedang dlam proses amandemen)
 Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan
asuhan dalam bentuk kunjungan rumah

 Persyaratan praktik perorangan sekurang-


kurangnya memenuhi :
 Tempat praktik memenuhi syarat
 Memiliki perlengkapan peralatan dan
administrasi termasuk formulir /buku
kunjungan, catatan tindakan dan formulir
rujukan
LARANGAN
 Perawat dilarang menjalankan praktik selain
yang tercantum dalam izin dan melakukan
perbuatan yang bertentangan dengan standar
profesi

 Bagi perawat yang memberikan pertolongan


dalam keadaan darurat atau menjalankan tugas
didaerah terpencil yang tidak ada tenaga
kesehatan lain, dikecualikan dari larangan ini
 Kepala dinas atau organisasi profesi dapat
memberikan peringatan lisan atau tertulis
kepada perawat yang melakukan
pelanggaran
 Peringatan tertulis diberikan paling banyak 3
kali, apabila tidak diindahkan SIK dan SIPP
dapat dicabut.
 Sebelum SIK atau SIPP di cabut kepala dinas
kesehatan terlebih dahulu mendengar
pertimbangan dari MDTK atau MP2EM
SANKSI
 Pelanggaran ringan , pencabutan izin
selama-lamanya 3 bulan
 Pelanggaran sedang , pencabutan izin
selama-lamanya 6 bulan
 Pelanggaran berat, pencabutan izin selama-
lamanya 1 tahun
 Penetapan pelanggaran didasarkan pada
motif pelanggaran serta situasi setempat
IMPLIKASI DALAM TATATAN
PRAKTEK
SEBAGAI TENAGA PERAWAT RS DAN
PUSKESMAS ATAU TENAGA KESEHATAN DI
LEMBAGA PELAYANAN KESEHATAN LAINNYA

“ PERAWAT BEKERJA DAN MELAKUKAN


KEWAJIBAN SESUAI DENGAN PERINTAH
JABATAN TIDAK BISA DIMINTAI
PERTANGGUNGJAWABAN ATAS KERUGIAN
ATAU KESALAHAN YG DILAKUKAN “ KUHAP
PASAL 51”
HOME CARE
SK DIRJEN DIRJEN YAN MED
NO HK. 00.06.5.1.311
Ada 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa
dilakukan oleh perawat home care a/l
1. vital sign
2. memasang nasogastric tube
3. memasang selang susu besar
4. memasang cateter
5. penggantian tube pernafasan
6. merawat luka decukbitus
7. suction
8. memasang peralatan O2
9. penyuntikan (IV,IM, IC,SC)
10. Pemasangan infus maupun obat
11. Pengambilan preparat
12. Pemberian huknah/laksatif
13. Kebersihan diri
14. Latihan dalam rangka rehabilitasi medis
15. Tranpostasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan
diagnostik
16. Penkes
17. Konseling kasus terminal
18. konsultasi/telepon
19. Fasilitasi ke dokter rujukan
20. Menyaipkan menu makanan
21. Membersihkan tt pasien
22. Fasilitasi kegiatan sosial pasien
23. Fasilitasi perbaikan sarana klien.
Praktek mandiri perawat
JUKLAK KEPMENKES 1239
1. SIP dan SIPP harus ada
2. Ruangan praktek sesuai ketentuan
3. Tersedia alat perawatan, alat rumah tangga
dan alat emergency sesuai ketentuan
4. Kewenangan : pemenuhan kebutuhan
O2, Nutrisi, Integritas jaringan, cairan dan
elektrolit, Eliminasi, Kebersihan diri, Istirahat
tidur, Obat-obatan, Sirkulasi, Keamanan dan
keselematan, Manajemen nyeri, Kebutuhan
aktivitas, psikososial, interaksi sosial,
menjelang ajal, seksual, lingkungnan sehat,
kebutuhan bumil, ibu melahirkan, bayi baru
lahir, post partum, baunyak lagi )
Dalam Fase Transisi Tindakan Medik dilakukan….:

1. Algoritme Klinik untuk Perawat yang bekerja di


Puskesmas
2. Balai Pengobatan di bawah pengawasan dokter
3. Berbagai sarana kesehatan dan praktik mandiri:
@ Delegasi tertulis
@ Delegasi lisan
4. Kewenangan atributif (harus terdapat dalam
Undang Undang Praktik Keperawatan
5. Amandemen Kepmenkes 1239/2001: papan
nama harus dipasang, kewenangan atributif, uji
kompetensi
RUU PRAKTIK KEPERAWATAN
(draf 19)
 BAB I : Ketentuan Umum
 BAB II : Azas dan Tujuan
 BAB III : Lingkup Praktik Keperawatan
 BAB IV : Konsil Keperawatan Indonesia
 BAB V : Standard Pendidikan Profesi Kep.
 BAB VI : Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan
 BAB VII : Registrasi Praktik Keperawatan
 BAB VIII : Penyelenggaraan Praktik Kep.
 BAB IX : Pembinaan, Pengembangan dan
 Pengawasan
 BAB X : Ketentuan Peralihan
 BAB XI : Ketentuan Penutup
RUU PRAKTIK KEPERAWATAN
(draft)
 Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan
profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit
yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

 Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat


melalui kolaborasi dengan sistem klien dan tenaga
kesehatan lain dalam memberikan asuhan
keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung
jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk
praktik keperawatan individual dan berkelompok.
Tujuan UUPKep (draft)
Pengaturan penyelenggaraan praktik
keperawatan bertujuan untuk:
 memberikan perlindungan dan kepastian hukum
kepada penerima dan pemberi jasa pelayanan
keperawatan.
 Mempertahankan dan meningkatkan mutu
pelayanan keperawatan yang diberikan oleh
perawat.
Lingkup praktik kep : (draft)

 Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga,


kelompok dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah
kesehatan sederhana dan kompleks.
 Memberikan tindakan keperawatan langsung, pendidikan,
nasehat, konseling, dalam rangka penyelesaian masalah
kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia
dalam upaya memandirikan sistem klien.
 Memberikan pelayanan keperawatan di sarana kesehatan
dan tatanan lainnya.
 Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas,
pelayanan KB, imunisasi, pertolongan persalinan normal
dan menulis permintaan obat/resep.
 Melaksanakan program pengobatan secara tertulis dari
dokter.
Konsil Keperawatan
Indonesia (draft)

 Dalam rangka Pengaturan Penyelenggaraan Praktik


Keperawatan Maka dibentuk Konsil Keperawatan
Indonesia.
 Konsil Keperawatan Indonesia mempunyai tugas:
 Melakukan uji kompetensi dan registrasi perawat;
 Mengesahkan standar-standar profesi yang dibuat
oleh organisasi profesi keperawatan dan asosiasi
institusi pendidikan keperawatan;
 Membuat peraturan-peraturan terkait dengan praktik
perawat untuk melindungi masyarakat.
Wewenang Konsil (draft)
 Konsil Keperawatan Indonesia mempunyai wewenang :
 Menyetujui dan menolak permohonan registrasi
perawat;
 Mengesahkan standar kompetensi perawat yang dibuat
oleh organisasi profesi keperawatan dan asosiasi
institusi pendidikan keperawatan;
 Menetapkan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan
perawat;
 Menetapkan sanksi terhadap kesalahan praktik yang
dilakukan perawat; dan
 Menetapkan standar penyelenggaraan program
pendidikan keperawatan
PRAKTIK MANDIRI
 Praktik mandiri dapat dilakukan secara perorangan dan
atau berkelompok.
 Perawat dalam melakukan praktik mandiri sekurang-
kurangnya memenuhi persyaratan:
 Memiliki tempat praktik yang memenuhi persyaratan
kesehatan;
 Memiliki perlengkapan untuk tindakan asuhan
keperawatan di luar institusi pelayanan kesehatan
termasuk kunjungan rumah;
 Memiliki perlengkapan administrasi yang meliputi
buku catatan kunjungan, formulir catatan tindakan
asuhan keperawatan serta formulir rujukan.
 Persyaratan perlengkapan, sesuai
dengan standar perlengkapan
asuhan keperawatan yang
ditetapkan oleh organisasi profesi.
 Perawat yang telah mempunyai
SIPP dan menyelenggarakan
praktik mandiri wajib memasang
papan nama praktik keperawatan.
PENYELENGGARAAN
PRAKTIK KEPERAWATAN
 Praktik keperawatan dilakukankan
berdasarkan pada kesepakatan antara
perawat dengan klien dan atau pasien
dalam upaya untuk peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit,
pemeliharaan kesehatan, kuratif, dan
pemulihan kesehatan.
 Praktik keperawatan dilakukan oleh
perawat profesional (RN) dan perawat
vokasional (PN).
 PN dalam melaksanakan tindakan
keperawatan dibawah pengawasan RN.
 Perawat dapat mendelegasikan dan
atau menyerahkan tugas kepada
perawat lain yang setara kompetensi
dan pengalamannya.
 Setiap orang dilarang menggunakan
identitas berupa gelar atau bentuk lain
yang menimbulkan kesan bagi
masyarakat seolah-olah yang
bersangkutan adalah perawat yang
telah memiliki SIPP.
 Ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga
kesehatan yang diberi kewenangan
oleh peraturan perundang-undangan.
BARU LULUS/SDH KERJA
DRAF AMANDEMEN
SPK KEPMENKES 1239
D III
S1 KEP
SPESIALIS BNSP
DEPKES
PPNI

LSP–KI

UJI KOMPETENSI SERTIFIKAT DINKES PROP


SESUAI LEVEL KOMPETENSI
LULUS S.I.P.
PENDIDIKAN

TIDAK LULUS
DINKES KAB/KOTA DINKES KAB/KOTA

DIKLAT S.I.K S . I . P . P.
PROFESI
PRAKTEK SARKES PRAKTEK MANDIRI
PERLINDUNGAN HUKUM
DALAM PRAKTEK KEPERAWATAN
 Penyelenggaraan praktik keperawatan
didasarkan pada kewenangan yang diberikan
karena keahlian yang dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan kesehatan masyarakat,
perkembangan ilmu pengetahuan dan
tuntutan globalisasi sebagaimana tertera
dalam Undang-Undang Kesehatan no 23
tahun 1992
 Praktik keperawatan merupakan inti dari berbagai
kegiatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan
yang harus terus menerus ditingkatkan mutunya
melalui registrasi, seritifikasi, akreditasi pendidikan
dan pelatihan berkelanjutan serta pemantauan
terhadap tenaga keperawatan sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan
Praktik keperawatan merupakan inti dari
berbagai kegiatan dalam penyelenggaraan
upaya kesehatan yang harus terus menerus
ditingkatkan mutunya melalui :
registrasi,
seritifikasi,
akreditasi pendidikan
dan pelatihan berkelanjutan
 pemantauan terhadap tenaga keperawatan
sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan tehnologi
 Terjadinya pergeseran paradigma
dalam pemberian pelayanan kesehatan
dari model medikal yang
menitikberatkan pelayanan pada
diagnosis penyakit dan pengobatan ke
paradgima sehat yang lebih holistic
yang melihat penyakit dan gejala
sebagai informasi dan bukan sebagai
focus
 kenyataan bahwa 40%-75% pelayanan
di rumah sakit merupakan pelayanan
keperawatan (Gillies, 1994), Swansburg
dan Swansburg, 1999) dan hampir
semua pelayanan promosi kesehatan
dan pencegahan penyakit baik di rumah
sakit maupun di tatanan pelayanan
kesehatan lain dilakukan oleh perawat.
 Hasil penelitian Direktorat Keperawatan dan
PPNI tentang kegiatan perawat di
Puskesmas, ternyata lebih dari 75% dari
seluruh kegiatan pelayanan adalah kegiatan
pelayanan keperawatan (Depkes, 2005)
 60% tenaga kesehatan adalah perawat
yang bekerja pada berbagai sarana/tatanan
pelayanan kesehatan dengan pelayanan 24
jam sehari, 7 hari seminggu, merupakan
kontak pertama dengan sistem klien
MASALAH DLM PRAKTEK KEPERAWATAN

Hasil kajian (Depkes & UI, 2005) menunjukkan,


bahwa :
 56.1%, melakukan asuhan keperawatan dalam
gedung Puskesmas dengan baik,
 55.29% melakukan asuhan keperawatan
keluarga dan
 52.4% sudah menerapkan asuhan keperawatan
pada kelompok dengan baik
 menetapkan diagnosis penyakit (92.6%);
 membuat resep obat (93.1%);
 melakukan tindakan pengobatan di dalam
maupun di luar gedung puskesmas (97.1%);
 melakukan pemeriksaan kehamilan (70.1%);
 melakukan pertolongan persalinan (57.7%
 78.8%perawat melaksanakan tugas petugas
kebersihan dan
 63.6% melakukan tugas administrasi antara
lain sebagai bendahara
 Dalam keadaan seperti ini perawat terpaksa harus
melakukan tindakan medis yang bukan merupakan
wewenangnya demi keselamatan pasien
 Tindakan ini dilakukan perawat tanpa adanya
delegasi dan protapnya dari pihak dokter dan atau
pengelola Rumah Sakit. Keterbatasan tenaga
dokter terutama di Puskesmas yang hanya
memiliki satu dokter yang berfungsi sebagai
pengelola Puskesmas, sering menimbulkan situasi
yang mengharuskan perawat melakukan tindakan
pengobatan
PERLUNYA PERLINDUNGAN PERAWAT

 Perawat telah memberikan konstribusi besar


dalam peningkatan derajat kesehatan.
 Perawat berperan dalam memberikan pelayanan
kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah dan
swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa
terpencil dan perbatasan
 pengabdian tersebut pada kenyataannya belum
diimbangi dengan pemberian perlindungan
hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum
 Perawat juga memiliki kompetensi keilmuan,
sikap rasional, etis dan profesional, semangat
pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif,
terampil, berbudi luhur dan dapat memegang
teguh etika profesi

 Undang-Undang ini memiliki tujuan, lingkup


profesi yang jelas, kemutlakan profesi,
kepentingan bersama berbagai pihak
(masyarakat, profesi, pemerintah dan pihak
terkait lainnya), keterwakilan yang seimbang,
optimalisasi profesi, fleksibilitas, efisiensi dan
keselarasan.
Aspek Hukum
dalam pelayanan keperawatan
Pengertian Hukum:

1.Hukum adalah keseluruhan kumpulan


peraturan-peraturan atau kaidah-kaidah
dalam suatu kehidupan bersama; atau
keseluruhan peraturan tingkah laku yang
berlaku dalam suatu kehidupan
bersama, yang dapat dipaksakan
pelaksanaannya dengan suatu sanksi.
2. Hukum adalah keseluruhan peraturan yang
mengatur dan menguasai manusia dalam
kehidupan bersama. Berkembang di dalam
masyarakat dalam kehendak, merupakan
sistem peraturan, sistem asas-asas,
mengandung pesan kultural karena tumbuh
dan berkembang bersama masyarakat
Pengertian hukum kesehatan :

Adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur


hak dan kewajiban baik dari tenaga kesehatan
dalam melaksanakan upaya kesehatan maupun
dari individu dan masyarakat yang menerima
upaya kesehatan tersebut dalam segala aspek
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
serta organisasi dan sarana.
Fungsi Hukum dalam pelayanan keperawatan

 Memberikan kerangka untuk menentukan


tindakan keperawatan
 Membedakan tanggung jawab dengan profesi
yang lain
 Membantu mempertahankan standar praktek
keperawatan dengan meletakkan posisi
perawat memiliki akuntabilitas di bawah
hukum
Hak – hak pasien

 Memberikan persetujuan (consent)


 Hak untuk memilih mati
 Hak perlindungan bagi orang yang tidak
berdaya
 Hak pasien dalam penelitian
 Hak – hak perawat

 Hak perlindungan wanita


 Hak berserikat dan berkumpul
 Hak mengendalikan praktek keperawatan
sesuai yang diatur oleh hukum
 Hak mendapat upah yang layak
 Hak bekerja di lingkungan yang baik
 Hak terhadap pengembangan profesional
 Hak menyusun standar praktek dan pendidikan
keperawatan
Informed Consent

Hak mendasar dalam Menyatakan Persetujuan


Rencana Tindakan Medis yaitu
1. hal untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
(the right to health care),
2. hak untuk mendapatkan informasi (the right to
information),
3. Hak untuk ikut menentukan (the right to
determination)
Hak atas informasi
1. Sebelum melakukan tindakan medis baik ringan
maupun berat.
2. Pasien berhak bertanya tentang hal-hal seputar
rencana tindakan medis yang akan diterimanya
tersebut apabila informasi yang diberikan dirasakan
masih belum jelas,
3. Pasien berhak meminta pendapat atau penjelasan dari
dokter lain untuk memperjelas atau membandingkan
informasi tentang rencana tindakan medis yang akan
dialaminya,
4. Pasien berhak menolak rencana tindakan medis
tersebut
5. Semua informasi diatas sudah harus diterima pasien
SEBELUM rencana tindakan medis dilaksanakan.
Pemberian informasi ini selayaknya bersifat obyektif,
tidak memihak, dan tanpa tekanan. Setelah menerima
semua informasi tersebut, pasien seharusnya diberi
waktu untuk berfikir dan mempertimbangkan
keputusannya.
 Informasi yang diperoleh:

1. Bentuk tindakan medis


2. Prosedur pelaksanaannya
3. Tujuan dan keuntungan dari pelaksanaannya
4. Resiko dan efek samping dari pelaksanaannya
5. Resiko / kerugian apabila rencana tindakan
medis itu tidak dilakukan
6. Alternatif lain sebagai pengganti rencana
tindakan medis itu, termasuk keuntungan dan
kerugian dari masing-masing alternatif tersebut
Kriteria pasien yang berhak
 Pasien tersebut sudah dewasa. batas 21 tahun.
 Pasien dalam keadaan sadar.
 Pasien harus bisa diajak berkomunikasi secara wajar
dan lancar.
 Pasien dalam keadaan sehat akal.

Jadi yang paling berhak untuk menentukan dan


memberikan pernyataan persetujuan terhadap rencana
tindakan medis adalah pasien itu sendiri.

Namun apabila pasien tersebut tidak memenuhi 3


kriteria tersebut diatas maka dia akan diwakili oleh wali
keluarga atau wali hukumnya
Dalam keadaan gawat darurat

Proses pemberian informasi dan permintaan


persetujuan rencana tindakan medis ini bisa
saja tidak dilaksanakan oleh dokter apabila
situasi pasien tersebut dalam kondisi gawat
darurat.

Dalam kondisi ini, dokter akan mendahulukan


tindakan untuk penyelamatan nyawa pasien
 Pelaksanaan informed consent ini semata-mata
menyatakan bahwa pasien (dan/atau walinya yang sah)
telah menyetujui rencana tindakan medis yang akan
dilakukan.

 Pelaksanaan tindakan medis itu sendiri tetap harus


sesuai dengan standar proferi kedokteran.

 Setiap kelalaian, kecelakaan, atau bentuk kesalahan


lain yang timbul dalam pelaksanaan tindakan medis itu
tetap bisa menyebabkan pasien merasa tidak puas dan
berpotensi untuk mengajukan tuntutan hukum.
Informed consent tidak menjadikan tenaga medis kebal
terhadap hukum atas kejadian yang disebabkan karena
kelalaiannya dalam melaksanakan tindakan medis.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
SECARA LEGAL ETIK
Pengambilan keputusan legal etik

Cara mengambil keputusan dari suatu


permasalahan yang disesuaikan dengan
keabsahan suatu tata cara pengambilan
keputusan baik secara umum ataupun
secara khusus
TEORI PEMBUATAN KEPUTUSAN YG ETIS
 1.      Teori Teleologi
 2.      Teori Deontologi

TELEOLOGI
Teleologi berasal dari bahasa Yunani telos yang berarti akhir. Pendekatan
ini sering disebut dengan ungkapan the end fustifies the means atau
makna dari suatu tindakan ditentukan oleh hasil akhir yang terjadi. Teori
ini menekankan pada pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal dan
ketidakbaikan sekecil mungkin bagi manusia.Contoh penerapan teori ini
misalnya bayi-bayi yang lahir cacat lebih baik diizinkan meninggal
daripada nantinya menjadi beban di masyarakat
DEONTOLOGI
Deontologi berprinsip pada aksi atau tindakan,
perhatian difokuskan pada tindakan melakukan
tanggung jawab moral yang dapat menjadi penentu
apakah suatu tidakan benar atau salah.
Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon yang berarti
tugas. Teori ini berprinsip pada aksi atau tindakan.
Contoh penerapan deontologi

 perawat yang yakin bahwa pasien harus


diberitahu tentang apa yang sebenarnya
terjadi, walaupun kenyataan tersebut sangat
menyakitkan.

 seorang perawat menolak membantu


pelaksanaan abortus karena keyakinan
agamanya yang melarang tindakan
membunuh.
TAHAP – TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN

1.      Mengidentifikasi masalah.


2.      Mengumpulkan data masalah.
3.      Mengidentifikasi semua pilihan/ alternative
4.      Memikirkan masalah etis secara
berkesinambungan.
5.      Membuat keputusan
6.      Melakukan tindakan dan mengkaji keputusan
dan hasil evaluasi tindakan.
 FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS DALAM PRAKTIK
KEPERAWATAN

1.      Factor agama dan adat istiadat


2.      Factor sosial
3.      Factor IPTEK
4.      Factor Legislasi dan Keputusan yuridis
5.      Factor dana atau keuangan
6.      Factor pekerjaan atau posisi klien atau perawat
7.      Factor kode etik keperawatan
 Kemampuan membuat keputusan masalah
etis merupakan salah satu persyaratan bagi
perawat untuk menjalankan praktik
keperawatan profesional.

 Dalam membuat keputusan etis, ada


beberapa unsur yang mempengaruhi
seperti nilai dan kepercayaan pribadi, kode
etik keperawatan, konsep moral perawatan
dan prinsip- prinsip etik.
Faktor agama dan adat istiadat.

 Agama serta latar belakang adat-istiadat


merupakan faktor utama dalam membuat
keputusan etis. Setiap perawat disarankan untuk
memahami nilai-nilai yang diyakini maupun
kaidah agama yang dianutnya. Untuk memahami
ini memang diperlukan proses. Semakin tua dan
semakin banyak pengalaman belajar, seseorang
akan lebih mengenal siapa dirinya dan nilai-nilai
yang dimilikinya.
Faktor  sosial.

 Berbagai faktor sosial berpengaruh terhadap


pembuatan keputusan etis. Faktor ini antara lain
meliputi perilaku sosial dan budaya, ilmu
pengetahuan dan teknologi, hukum, dan peraturan
perundang-undangan.
 Perkembangan sosial dan budaya juga
berpengaruh terhadap sistem kesehatan nasional.
Pelayanan kesehatan yang tadinya berorientasi
pada program medis lambat laun menjadi
pelayanan komprehensif dengan pendekatan tim
kesehatan
Faktor ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

 Pada era abad 20 ini, manusia telah berhasil


mencapai tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang belum dicapai manusia pada abad
sebelumnya. Kemajuan yang telah dicapai meliputi
berbagai bidang.
 Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu
meningkatkan kualitas hidup serta
memperpanjang usia manusia dengan
ditemukannya berbagai mesin mekanik kesehatan,
cara prosedur baru dan bahan-bahan/obat-obatan
baru.
Faktor legislasi dan keputusan juridis.

 Perubahan sosial dan legislasi secara


konstan saling berkaitan.
 Setiap perubahan sosial atau legislasi
menyebabkan timbulnya tindakan yang
merupakan reaksi perubahan tersebut.
Legislasi merupakan jaminan tindakan
menurut hukum sehingga orang yang
bertindak tidak sesuai hukum dapat
menimbulkan konflik.
Faktor legislasi dan keputusan juridis

Saat ini aspek legislasi dan bentuk keputusan


juridis bagi permasalahan etika kesehatan sedang
menjadi topik yang banyak dibicarakan. Hukum
kesehatan telah menjadi suatu bidang ilmu, dan
perundang-undangan baru banyak disusun untuk
menyempurnakan perundang-undangan lama
atau untuk mengantisipasi perkembangan
permasalahan hukum kesehatan.
Faktor dana/keuangan.

 Dana/keuangan untuk membiayai


pengobatan dan perawatan dapat
menimbulkan konflik. Untuk meningkatkan
status kesehatan masyarakat, pemerintah
telah banyak berupaya dengan
mengadakan berbagai program yang
dibiayai pemerintah
Faktor pekerjaan.

 Perawat perlu mempertimbangkan posisi


pekerjaannya dalam pembuatan suatu
keputusan.
 Tidak semua keputusan pribadi perawat dapat
dilaksanakan, namun harus diselesaikan dengan
keputusan/aturan tempat ia bekerja.
 Perawat yang mengutamakan kepentingan
pribadi sering mendapat sorotan sebagai
perawat pembangkang. Sebagai
konsekuensinya, ia mendapatkan sanksi
administrasi atau mungkin kehilangan pekerjaan.
Kode etik keperawatan.
 Kode etik merupakan salah satu ciri/persyaratan
profesi yang memberikan arti penting dalam
penentuan, pertahanan dan peningkatan standar
profesi. Kode etik menunjukkan bahwa tanggung
jawab kepercayaan dari masyarakat telah diterima
oleh profesi.

 Untuk dapat mengambil keputusan dan tindakan


yang tepat terhadap masalah yang menyangkut
etika, perawat harus banyak berlatih mencoba
menganalisis permasalahan-permasalahan etis.
SISTEM KESEHATAN NASIONAL

SKN:
Bentuk dan cara penyelenggaraan
pembangunan Kesehatan yang
memadukan berbagai upaya bangsa
Indonesia dalam satu derap langkahguna
menjamin tercapainyatujuan
pembangunan kesehatan dalam rangka
mewujudkan kesejahteraan
rakyatsebagaimana dimaksud dalam UUD
‘45
 Penbangunan Kesehatan adalah Upaya
yang dilaksanakan oleh semua komponen
bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar
peningkatan derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi tingginya dapat terwujud.
Pembangunan Kesehatan didasarkan pada :
1. Perikemanusiaan.
2. Pemberdayaan dan kemandirian.
3. Adil dan merata.
4. Pengutamaan dan manfaat.
Tujuan SKN:

Terselenggaranya Pembangunan Kesehatan oleh


semua potensi Bangsa baik masyarakat, swasta,
maupun pemerintah secara sinergis berhasil guna
dan berdaya guna sehingga terwujud derajat
kesehatan yang setinggi tingginya.
TERIMA KASIH