Anda di halaman 1dari 83

BAB II (PERPINDAHAN MASA)

DIFUSI MOLEKULER DALAM


KEADAAN TETAP
• Difusi molekular adalah difusi yang terjadi di
dalam fluida yang diam atau fluida yang
bergerak secara laminer. Dalam bab ini akan
dibicarakan difusi molekular dalam gas dan
cairan yang berlangsung dalam keadaan tetap
dimana kondisi-kondisi pada suatu tempat
tertentu dalam sistem yang ditinjau tidak
berubah dengan perubahan waktu.
II.1. Difusi Molekular Satu Dimensi Tanpa Reaksi Kimia

Persamaan diferensiasi umum untuk transfer massa komponen A adalah:

• Untuk proses yang berlangsung dalam keadaan tetap tanpa reaksi kimia
yang terjadi maka

• dan

• Untuk difusi satu dimensi yaitu dalam arah z, persamaan (1-30) menjadi:
• Persamaan (2-1) berarti bahwa fluks molar
adalah tetap sepanjang arah z.
II.2. Difusi Molekular Fase Gas

• Fluks molar dalam arah z untuk sistem biner pada temperatur


dan tekanan yang tetap dapat dinyatakan dalam persamaan:

• Dalam hal ini akan ditinjau beberapa keadaan, yaitu: difusi


ekuimolar arus berlawanan dalam keadaan tetap
• Dalam hal ini adalah tetap dan
• Substitusi ke dalam persamaan (1-13) diperoleh:
.J

• Persamaan (2-2) dapat diintegralkan antara


batas-batas
• Pada

adalah
• Jika hukum gas ideal berlaku, konsentrasi
molar A mempunyai hubungan dengan
tekanan parsial A dengan persamaan:
.
b. Difusi A melalui B yang diam (tidak mendifusi)
dalam keadaan tetap

• Dalam hal ini adalah tetap dan karena B tidak


mendifusi maka sehingga persamaan (1-13)
menjadi:
• Konsentrasi rata-rata logaritmik komponen B
didefinisikan sebagai:

• Substitusi persamaan (2-8) ke persamaan (2-6)


didapatkan persamaan (2-9).
• Kalau gas memenuhi gas ideal maka
persamaan (2-9) dpat dituliskan menjadi
• Soal : Gas Amonia (A) mendifusi dalam udara (B)
dalam keadaan steady state (ajeg atau tetap).
Dimana udara merupakan fluida yang tidak
mendifusi. Temperatur udara 30oC dan tekanan 1
atm. Tekanan parsial amonia pada dua buah bidang
yang berjarak 0,1 cm masing masing adalah 50 dan
25 mm Hg. Difusivitas campuran Amonia-Udara
pada temperatur 0oC dan tekanan 1 atm = 0,198
cm2/detik. Hitunglah fluks molar aminia pada dus
bidang tsb dalam gmol/(det) (cm2).
• Sesuaikan unit unit yang akan digunakan
dalam persamaan (2-10).
• Temperatur sistem = 30oC. Sedangkan
koefisien difusi yang diketahui pada suhu 0oC.
Hitung koefisien difusi pada suhu 30 oC.
• Hitung tekanan PBlm.
• Hitung Fluks NAz.
DIFUSI A MELALUI B YANG DIAM TIDAK MENDIFUSI DALAM
KEADAAN TETAP

• Batas batas transfer masa dapat pindah dengan waktu karena


molekul molekul dipermukaan fasa cair menguap (mendifusi
ke atmosfer) dan menyebabkan ketinggian cairan di dalam
suatu bejana menjadi semakin rendah. Model yang sesusi
untuk mennetukan fluks dapat menggunakan model difusi
komponen A melalui komponen B yang diam dalam keadaan
tetap. Ditinjau sebuah sel difusi dengan batas yang berubah
t=0 sampai dengan t=t1. Lintasan difusi cukup panjang
sehingga pengurangan lintasan difusi yang disebabkan karena
penurunan permukaan cairan di didalam bejana dapat
diabaikan. Ini berlaku apabila waktu penguapan relatif
lambat. Model ini disebut model difusi tetap semu.
Z=Z2

Panjang
lintasan
difusi
t=t1
Z=Z1
T=tL Cairan A
Penurunan permukaan cairan
tidak mengurangi panjang
lintasan karena penguapan
sangat lambat
• Dalam keadaan tetap semu persamaan (2-9) dan (2-11) dapat
digabung menjadi:
• Persamaan (2-12) dapat diintegrasikan antara batas batas t=0
dan t=t yang sesuai dengan z=zt0 dan z=zt
• Untuk suatu percobaan menentukan difusivitas suatu cairan
prsamaan (2-13) dapat diubah menjadi:
Tugas dikumpulkan.

• Difusivitas kloroform dalam udara ditentukan


dengan menggunakan sel Arnold pada temperatur
25 oC dan tekanan 1 atm. Berat jenis kloroform
pada suhu 25oC 1,485 g/cm3. Dan tekana uapnya =
200 mmHg. Pada saat t=0 permukaan cair = 7,4 cm
dari puncak tabung. Dan setelah 10 jam
permukaan cairan turun 0,44 cm. Kalau
konsentrasi kloroform adalah 0 pada puncak
tabung hitunglah koefisien difusi kloroform dalam
udara.
II-3 Difusivitas molekuler fasa cair.

• Persamaan (1-13) dapat digunakan untuk menentukan


fluks molar pada perpindahan masa di dalam fasa cair.

• Bedanya difusivitas fasa cair nilainya tergantung


kepada konsentrasi tetapi persamaan yang
menghubungkan difusi sebagai fungsi konsentrasi,
masih sangat terbatas, maka konsentrasi dapat
menggunakan konsentrasi rata rata dan difusivitas
rata rata.
• Difusivitas equimolar arus berlawanan arah
dalam keadaan tetap dimana:
•  
b. Difusi komponen A melalui B yang tidak mendifusi dalam keadaan tetap.

• Dalam hal ini :


• Sehingga persamaan (1-13) menjadi
Contoh soal :

• Hitunglah fluks asam asetat (A) melalui lapisan


air (B) yang tidak mendifusi setebal 0,1 cm.
Pada 17 oC apabila konsentrasi pada kedua sisi
lapisan masing masing adalah 9 dan 3 % asam.
Difusivitas asam cuka ke dalam air =0,95 x 10-5
cm2/det. Rapat larutan 9 % asam cuka =
1,0120 dan pada 3% = 1,0032 g/cm3. BM Asam
asetat =60,1,air =18.
II-4. Analogi Transfer Massa, Momentum dan Panas.

• Beberapa proses disebut analog apabila proses proses tersebut mengikuti


persamaan persamaan yang serupa dan yang mempunyai kondisi kondisi batas
yang serupa. Hal ini berarti bahwa persamaan yang melukiskan kelakuan suatu
proses dapat diubah ke dalam persamaan untuk proses yang lain hanya
dengan mengubah simbol simbol variabelnya.
• Ternyata bahwa antara transfer masa, momentum (gerak),dan transfer panas
dalam aliran laminer terdapat analogi sehingga sebuah persamaan yang
berlaku untuk transfer masa dapat diubah ke dalam persamaanuntuk transfer
momentum atau transfer panas. Dan hanya mengubah simbol simbolnya
variabelnya saja.
• Sekarang ditinjau gas yang mengalir di permukaan datar . Didaerah yang
berdekatan dengan permukaan terdapat suatu daerah dimana gas mengalir
secara laminer. Dimisalkan pada saat yang bersamaan terjadi difusi gas A dari
permukaan ke badan utama gas dan perpindahan panas dari permukaan
dinding ke badan utana gas.
• Menurut hukum Fick:
• Kecepatan transfer masa. melalui lapisan
laminer diberikan oleh persamaan :
• Di daerah yang berdekatan dengan prmukaan dinding
dimana fluida mengalir secara laminer, fluida dapat
dibayangkan tersusun dari lapisan lapisan yang meggeser
satu sama yang lain dengan kecepatan semakin besar
semain jauh dari permukaan dinding. Gaya per satuan luas
yang sejajar dengan permukaan atau tegangan geser yang
diperlukan agar lapisan lapisan mempunyai kecepatan yang
tetap adalah sebanding dengan gradien kecepatan sehingga:
• Persamaan (1-42) dapat ditulis sebgai berikut:
• Panas yang ditransfer dari permukaan dinidng
pada lapisan laminer berlangsung secara
konduksi menurut persamaan (1-44).

Dimana k adalah konduktivitas termal fluida dan


•Karena difusivitas masa, termal dan momentum mempunyai dimensi yang sama , maka prbandingan antara masing
masing difusivitas ini merupakan bilangan tak berdimensi.
• Perbandingan antara difusivitas momentum –
masa adalah bilangan Schmidt (Sc):
Bilangan Lewis (Le):

Bilangan Prandtl
BAB III DIFUSI OLAKAN

• Apabila pada suatu fluida yang mengalir melalui


sebuah permukaan dengan kondisi sedemikian
sehingga alirannya turbulen, maka didaerah yang
berdekatan dengan permukaan terdapat sebuah
lapisan tipis dimana fluida mengalir secara laminer.
Diluar lapisan ini terdapat zone dimana aliran fluida
dapat laminer atau turbulen tergantung kepada
kondisi setempat. Zone ini disebut zone buffer.
Diluar zone ini aliran fluida adalah turbulen dan
daerah ini disebut inti turbulen (lihat gambar).
Zone olakan

Zone buffer (peralihan)

Zone laminer

• Gb. 3-1 Zone-zone dalam aliran fluida.


• Kalau suatu zat yang terlarut mendifusi
dari permukaan ke badan utama fluida,
maka kecepatan transfer massa melalui
ketiga daerah tersebut tergantung
kepada sifat aliran fluida dalam masing-
masing daerah.
III-1. Teori lapisan tentang koefisien transfer massa

• Merupakan teori yang tertua dan dapat memberikan


gambaran yang jelas mengenai arti dari koefisien
transfer massa.
• Di dalam aliran fluida yang turbulen, mekanisme proses
alir yang meliputi gerakan olakan di daerah turbulen
diketahui sepenuhnya. Sebaliknya mekanisme difusi
molekuler, sekurang-kurangnya untuk gas, sudah cukup
diketahui dengan baik. Karena itu maka orang berusaha
untuk melukiskan kecepatan transfer massa melalui
zone laminer, zone buffer dan inti turbulen, dengan cara
yang sama seperti pada zone laminer sendiri.
• Ditinjau gas mengalir melalui sebuah permukaan,
dan pada saat yang sama terjadi difusi ekuimolar
arus berlawanan (gb.2)

Gb. 3-2. Koefisien transfer massa lapisan


• Apabila difusi komponen A hanya mengikuti hukum difusi
molekuler, maka konsentrasi PAG akan dicapai pada titik D,
sejarak ZG dari permukaan. Sehingga disini berlaku
persamaan:

  𝐷 𝐴𝐵
𝑁𝐴= ( 𝑃 − 𝑃 𝐴𝐺 ) (
𝑅𝑇𝑍 𝐺 𝐴 1
3
 
Untuk suatu keadaan tertentu, besaran harganya adalah tetap,
-
dan dapat diganti dengan besaran baru . 1
)

 
(
3
-
• Dan pers. (3-1) dapat di tulis

 
Besaran . Disebut: koefisien transfer massa lapisan gas; disebut tebal
lapisan-lapisan laminer semu atau efektif
Dengan keterangan yang sama, untuk difusi A melalui B yang diam,
maka berlaku pers.
 
NA (3-4)

 
(3-5)

 
Menurut teori ini, koef. Transfer massa lapisan adalah
 
sebanding dengan koef. Difusi k α
 
koefisien transfer massa mempunyai dimensi
[k]=
Karena konsentrasi dapat mempunyai satuan yang berbeda, maka k satuannya
dapat berbeda, tergantung satua konsentrasi. Hubungan antara k dengan satuan
konsentrasi yang berbeda-beda dapat dilihat dri tabel 3-1 berikut.
Tabel 3-1 Hubungan koef. Transfer
Gas massa Cairan
 

Persamaan Kecepatan Persamaan kecepaan


Difusi
Difusi Difusi A
ekuimolar arus blw
molekuler arus melalui B

 
   

     
III-2. Cara-cara Menentukan Koefisien Ttransfer Mssa Lapisan
Ada 4 macam cara untuk menentukan koef. Transfer massa lapisan, yaitu:
1. Analisa dimensional + percobaan
2. Analogi antara transfer momentum, tenaga dan massa
3. Analisis lapisan batas batas eksak
4. Analisis lapisan batas pendekatan. Hanya dibicarakan 1 dan 2 saja.
III-3. Analisa Dimensi
Apabila sebuah besaran harganya tergantung kepada sejumlah
besaran lainnya, maka hubungan antara besaran-besaran tersebut dapat
ditentukan dengan analisa dimensional. Analisa dimensional sendiri
belum dapat mmberikan suatu jawaban persamaan yang lengkap, tetapi
suatu persamaan fungsional, dimana untuk mendapatkan persamaan yang
lengkap, harus diikuti dengan percobaan. Penyelesaian dengan analisa
dimensional dapat dilakukan, apabila besaran-besaran atau variable-
variabel yang berpengaruh diketahui.
 
Misalkan sebuah fluida mengalir dalam pipa, dan pada saat yang
sama solute A ditransfer dari permukaan pipa kebadan utama fluuida.
Besaran-besaran yang berpengaruterhadap koefisien transfer massa Kc
ialah: diameter pipa (D), rapat fluida (ρ), kekentalan fluida (μ),
kecepatan fluida (ū) dan difusivitas fluida ( . Jadi :

  kc= f (D, ρ,μ,ū,) (3-6)

 
(
3
-
Parmeter-parameter yang tidak berdimensi dalam persamaan terakhir diatas ialah:

Persamaan diatas adalah analog dengan korelasi transfer panas yaitu,

 h 𝐷
  (3-8) : 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑁𝑢𝑠𝑠𝑒𝑙𝑡
𝑘
 𝐶𝑝 𝜇
 𝐷 ū 𝜌 : 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑃𝑟𝑎𝑛𝑑𝑡𝑙
:𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑅𝑒𝑦𝑛𝑜𝑙𝑑 𝑘
𝜇
III-4. Analogi antara transfer momentum, tenaga dan massa

Seperti halnya didalam aliran laminer, di dalam aliran turbulen juga


terdapat analogi antara transfer momentum, tenaga dan massa. Analogi
antara transfer momentum dan tenaga ditinjau gas mengalir di dalam
sebuah pipa secara turbulen, dan saat yang sama panas ditransfer dari
dinding pipa kebadan utama gas, dianggap bahwa transfer tidak
berpengaruh terhadap distribusi kecepata fluida (gb.3). kecepata pada
dinding ū=0, dan kecepatan akan bertambah besar maka jauh dari dinding
dan kecepatan maksimum ūmaks terjadi pada tengah-tengah pipa.
Kecepatan rata-rata ū, yang harganya lebih kecil dari ūmaks, diperoleh
dengan membagi kecepatan aliran volumetric dengan luas penampang
pipa. Ditinjau dari dua tempat dalam inti turbulen, yaitu titik 1 dan 2.
Dimisalkan bahwa antara titik 1 dan 2 terjadi pertukaran massa fluida
sebesar w massa/(satuan waktuu)(sat.luas) yang disebabakan oleh fluktuasi
kecepatan dalam arah tegak lurus pada dinding.
Gb. 3-3. Analogi antara transfer momentum dan transfer panas.
Pertukaran momentum bersih (neto) antara kedua titik tersebut, yang
dinyatakan sebagai gaya/satuan luas,

Dimana Δū= suatu ukuran fluktuasi kecepatan dalam arah sejajar


dengan dinding pipa. Antara titik 1 dan 2 juga akan terjadi transfer
panas karena ada gradien temperatur diantaranya, yaitu

  (3-10)
 
eliminasi W diantara kedua persamaan diperoleh,
 
(3-11)
 
Di dalam zone laminer, pertukaran momentum bersih (neto), yang dinyatakan
sebagai gaya geser/ satuan luas,
 

(3-12)
 
¿
 
eliminasi dz dari kedua persamaan diperoleh,
 

(3-14)
 
Atau untuk seluruh zona laminer,
 

(3-15)
Dari persamaan (3-11) dan (3-15) terlihat bahwa kedua persamaan akan
menjadi sama, atau mekanisme yang sama berlaku untuk transfer panas dan
transfer momentum untuk aliran laminer dan turbulen apabila,
 
atau (3-16)

Untuk kebanyakan gas pada tekanan biasa hal ini memang kira-kira
demikian (Pr = 0,65 - 0,90)
Prinsip ini merupakan dasar analogi gesekan pipa transfer panas Reynold yang
mengatakan bahwa antara fluida yang mengalir secara turbulen dalam pipa yang
dipanaskan. Pers (3-11) dapat dikenakan dari inti turbulen sampai dinding pipa
melalui zone laminer.
Prandel dan Taylor mengadakan modifikasi analogi Reynold dengan pers. (3-
11) kepada zone buffer dan zone turbulen dan pers. (3-15) kepada zone laminer saja,
dengan anggapan bahwa pada zf,

τ=τi. Sehingga,
 
(3-17)
 
(3-17)
(3-18)

 
Untuk aliaran laminer,

(3-15)  
-= (3-19)

Kecepatan perpindahan panas secara konveksi ,

 
¿
 
Eliminasi (- dan - ke dalam persamaan (3-20) diperoleh
 

=
 
= (3-21)
 
 
Hubungan antara factor gesekan Faning f dengan teganagan geser
(3-22)
 
Subsitusi per. (3-22) kedalam pers. (3-21)
 
1/2f = (3-32)

 
Modifikasi empiris memberikan,
1/2f = (3-24)
Dimana faktor J Colburn untuk transfer panas
Analogi anta transfer momentum dan massa
Sekarang ditinjau kembali aliran gas secara turbulen di dalam subuah pipa,
dan pada saat zat A ditransfer dari dinding pipa kebadan utama gas (gb.4)

Gb.3-4 Analogi antara transfer momentum dan massa


 
Komponen B juga ditransfer dari badan utama gas kedinding secara
ekuimolar. Dianggap bahwa transfer massa tidak berpengaruh terhadap gradient
kecepatan yang ada dalam fluida.
Dalam daerah turbulen antara titik 1 dan 2 akan terjadi pertukaran massa
sebesar W (massa/luas waktu)
Transfer bersih bahan A,
 
Transfer momentum bersih,
(3-9)
 
Untuk zone laminer, transfer massa A bersih
(3-2)
 
Dan transfer momentum yang dinyatakan dengan tegangan geser
(3-28)
 
Eliminasi dari kedua pers. Terakhir diperoleh,
(3-29)
 
Transfer massa dan transfer momentum mempunyai mekanisme yang sama,
bandingkan pers. (3-26) dan (3-29), apabila
Atau kalau:
(3-30)
 
Kalau pers. (3-26) dikenakan kepada zone buffer dan inti turbulen, dengan
anggapan bahwa pada zone , karena lapisan sangat tipis, maka dapat

 
(3-31) Selanjutnya

= (3-32)
 
Subsitusi beda tekanan parsial, pers. (3-29) dan (3-31) kedalam pers. (3-32),
maka diperoleh
(3-33)
Kombinasi per. (3-22) dengan (3-33) diperoleh,
 
½ f= (3-34)
 
Modifikasi empiris oleh Chilten dan Celburn memberikan,
 
1/2 f = (3-35)
 
Dimana faktor J Colburn untuk transfer massa pers. (3-35) dapat diubah
bentuknya menjadi, JD
(3-39)
III.5.Korelasi Koefisien Transfer massa
Kebanyakn data transfer massa antara permukaan pipa dan fluida yang
mengalir diperoleh dengan menggunakan kolom dinding basah. Disini luas muka
kontak antara kedua fase dapat diukur dengan teliti. Kolom dinding basah atau
menara dinding basah, secara skematis dapat dilihat gambar 5.
Gb.3-5 Kolom dinding basah
Dalam kolom dinding basah, cairan yang relatif mudah menguap (air,
benzene, alkohol,dll) dialirkan kebawah melalui permukaan dinding dalam
kolom, sedangkan gas dialirkan dalam kolom secara arus berlawanan/searah
dengan aliran cairan. Diusahakan agar cairan mengalir dalam benruk lapisan
yang tipis, sehingga luas muka dimana penguapan terjadi praktis sama
dengan luas muka dinding kolom.
Gilliland dan Sherwood mempelajari penguapan 9 macam cairan ke
dalam udara dengan menggunakan kolom dinding basah, hasilnya dapat
dinyatakan dalam persamaan
 
(3-37)
 
Dimana: D= diameter dalam kolom
P= tekaan total
Re dan Sc ditentukan pada kondisi bahan utama arus gas.
Pers. Diatas berlaku untuk kondisi:
2.000<Re<35.000
0,6<Sc< 2,5
0,1 atm < P< 3 atm
Linton dan Sherwood mempelajari pelarutan pipa asam benzoate padat ke
dalam arus aliran air, dimana hasilnya dapat dinyatakan dalam persamaan,
 
(3-38)
 
Yang berlaku untuk:
2.000<Re<70.000
1.000<Sc<2.260
Pers. (3-38) bentuk sangat sesuai dengan pers. Diffus-Boolter untuk transfer
panas konvektif dalam pipa yaitu,
 
(3-39)
 
Untuk daerah bilangan Reynold= 5.000-200.000, factor gesekan untuk aliran
melalui pipa licin dapat dinyatakan sebagai,
 

f/2 = (3-40)
 
subsitusi kedalam pers. (3-37), maka di dapat
 

(3-41)
 
Pers. (3-41) ini bentuknya sangat minim dengan per. (3-36)
Contoh 1
Suatu kolom dinding basah dengan diameter dalam 2 in digunakan untuk
menghilangkan CO2 dari suatu larutan dalam air dengan arus udara mengalir

dengan kecepatan 2,5 ft/det. Pada suatu tempat dalam kolom konsentrasi CO 2

dalam udara 1% mol. Pada tempat yang sama dalam kolom, konsentrasi CO 2
di dalam air adalah 0,5% mole. Kolom bekerja pada tekanan 10 atm dan
temperatur sama dengan temperature dalam kolom!
 
Jawaban
Berlaku persamaan. (3-37)

  (3-37)
 
Dari tabel, difusivitas CO2 dalam udara pada 273°K dan 1 atm adalah 0,136

cm²/det. Sehingga difusivitas CO2 dalam udara pada 298°K dan 10 atm.

= (0,0153)(3,87)= 0,0583 ft
 
Karena komposisi gas 99% udara, maka dianggap bahwa viskositas dan
rapat gas sama dengan viskositas dan rapat udara.
Viskositas udara:

Atau

 
Rapat udara:
Ρ=
 
Bilangan Reynold dan Schmidt masing-masing adalah:
 
Sc=
 
Re=
 
Dari data keseimbangan:
 
 
Subsitusi kedalam pers. Diatas diperoleh,

= 74 lbmol/J.ft².lbmol/ft³

 
Fluks molar,

=
Untuk transfer massa dalam aliran fluida melalui bentuk yang lain, telah pula
dilakukan penyelidikan, dimana hasilnya dapat ditunjukkan dalam gb.6 berikut.
Dalam gambar tersebut dilukiskan hubungan anta Y dan X, dimana Y dan X untuk
setiap macam operasai terlihat pada tabel 3-2.
..\OTK2\DIKTAT PEM DIF 1 DAN 2.docx

Gb.3-6. Korelasi transfer massa dan transfer panas.


Kurva Keadaan Opera X Y
si

1 Aliran di Transfer Re 0,6 - 3.000


dalam pipa Massa

2 Aliran di Transfer Re  
  dalam pipa panas

3 Aliran gas Transfer R’e 0,5 - 2,6


tegak lurus massa
pada silinder  
 
  R’e  
Transfer
panas

4 Aliran gas Transfer 0,6- 2,7


melalui bola massa
 
 
Transfer
panas
 
Contoh 2
Hitunglah kecepatan penguapan air dari sebuah reservoir pada dasar satu saluran
yang besar, dimana uara mengalir didalamnya dengan kecepatan 20 ft/det. Reservoir
mempunyai luas penampang 1 ft², dan suhu permukaan air dalam reservoir adalah
90°F. udara mempunyai suhu 140°F, tekanan 1 atm dan mempunyai tekanan parsial
uap air sebesar 0,0315 atm
Jawaban
Rapat udara ρ=
 
Kekentalan udara μ = 0,0195 cp
= (0,0195)(2,42)
= 0,0471 lb/ft³
Panjang permukaan air 1= 1ft
Re=
Difusivitas uap air melalui udara pada 25,9°C (78,6°F) = 0,258 cm²det (tabel).
Pada 140°F dan 1 atm.

= (0,306)(3,97)= 1,184 cm²/det


Sc=
 
Dari gb.6, diperoleh:
Sehingga :

Catatan :

= 164,4 lb mol/J.ft²
 
Tekanan uap air pada permukaan cairan, tekanan air pada 90°F= 0,0475 at, =
Tekanan parsial uap dalam arus gas

 
Kecepatan penguapan air,

= 0,01418 lb/J.ft²= 0,01418 x 18 = 2,5 lb/J.ft²


Soal-soal
1. Wilke dan Hougen melaporkan transfer massa dalam lapisan zat padat berbutir. Udara
diembuskan melalui suatu lapisan pelet celite berpori yang dibasai dengan air, dan
dengan penguapan air ini pada keadaan adiabatis mereka melaporkan koefisien lapisan
gas. Dalam sebuah percobaan dilaporkan data-data sebagai berikut:
Diameter partikel efektif 0,018712 ft
Kecepatan massa arus gas 601 lb/J.ft²
Suhu oada permukaan 100°F
Tekanan 733 mm Hg
Kalau dianggap bahwa sifat campuran gas sama dengan sifat udara,
hitunglah koefisien transfer massa dalam lb mol/ J.ft².atm
 
2. Sebuah pelat dasaar berpori yang sangat panjang dan lebar 3 ft secara terus
menerus dibuat jenuh dengan amonia pada 100°F. udara mengalir dalam arah searah
dengan lebar pelat dan sejajar dengan permukaan pelat dengan kecepatan 10
ft/detik. Udara mempunyai temperatur 100°F dan tekanan 1 atm. Hitunglah
koefisien transfer massa
3. Karbon dioksida mengalir dengan kecepatan 4 ft/det didalam sebuah menara
dinding basahpada temperatur 32°F. pada waktu yang bersamaan benzene
dipompa dari reservoir bawah ke reservoir atas (reservoir umpan). Disamping itu
benzene juga dipompa dari sumber yang lain ke reservoir umpan. Berapakah
kecepatan tambahan benzene dari sumber lain supaya pengaliran benzene
didalam menara didinding basah tetap. Kolom dinding basah mempunyai
ukuran: misalkan bahwa tekanan kejenuhan uap benzene adalah 0,484 psia.
4. Sebuah silinder berpori dengan diameter 6 in ditempatkan di dalam
terowongan angin. Udara dengan kelembaban absolute 0,030 lb uap air/lb udara
kering dan suhu 100°F mengalir tegak lurus pada tabung dengan kecepatan
sebesar 25 ft/det. Kalau suhu air pada permukaan silinder adalah 95°F, maka
hitunglah:
a. Kecepatan penguapan air untuk setiap ft panjang silinder
b. Tebal lapisan laminer efektif.