Anda di halaman 1dari 18

KONSEP DASAR MANAJEMEN

KEPERAWATAN BENCANA

KELOMPOK 1
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007
Tentang Penanggulangan Bencana
menyebutkan bencana adalah peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor
alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis

APA ITU BENCANA?


Sedangkan definisi bencana (disaster)
menurut WHO (2002) adalah setiap
kejadian yang menyebabkan kerusakan,
gangguan ekologis, hilangnya nyawa
manusia, atau memburuknya derajat
kesehatan atau pelayanan kesehatan pada
skala tertentu yang memerlukan respon
dari luar masyarakat atau wilayah yang
terkena.
JENIS-JENIS BENCANA FAKTOR PENYEBAB

 Bencana alam  Faktor alam (Natural


 Bencana non alam disaster)
 Bencana sosial  Faktor non alam
 Kegagalan teknologi (Non-natural
disaster)
 Faktor sosial/manusia
(Man-made disaster)

BAGAIMANA JENIS DAN FAKTOR


PENYEBAB BENCANA?
Manajemen bencana menurut Nurjanah
(2012:42) sebagai Proses dinamis tentang
bekerjanya fungsi-fungsi manajemen bencana
seperti planning, organizing, actuating, dan
controling.Cara kerjanya meliputi
pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan
tanggap darurat dan pemulihan. Adapun
tujuan manajemen bencana secara umum
adalah sebagai berikut:

BAGAIMANA MANAJEMEN
BENCANA?
1. Mencegah dan membatasi jumlah korban manusia
serta kerusakan harta benda dan lingkungan hidup.
2. Menghilangkan kesengsaraan dan kesulitan dalam
kehidupan dan penghidupan korban.
3. Mengembalikan korban bencana dari daerah
penampungan/ pengungsian ke daerah asal bila
memungkinkan atau merelokasi ke daerah baru
yang layak huni dan aman.
4. Mengembalikan fungsi fasilitas umum utama,
seperti komunikasi/ transportasi, air minum, listrik,
dan telepon, termasuk mengembalikan kehidupan
ekonomi dan sosial daerah yang terkena bencana.
5. Mengurangi kerusakan dan kerugian lebih lanjut.
6. Meletakkan dasar-dasar yang diperlukan guna
pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi
dalam konteks pembangunan
Pengelolaan penderita yang mengalami cidera
parah memerlukan penilaian yang cepat dan
pengelolaan yang tepat agar sedapat mungkin
bisa menghindari kematian. Pada penderita
trauma, waktu sangatlah penting, karena itu
diperlukan adanya suatu cara yang mudah
dilaksanakan. Proses ini dikenal sebagai Initial
assessment (penilaian awal) dan Triase. Prinsip-
prinsip ini diterapkan dalam pelaksanaan
pemberian bantuan hidup dasar pada penderita
trauma (Basic Trauma Life Support) maupun
Advanced Trauma Life Support.

BAGAIMANA PERTOLONGAN PERTAMA


PADA KORBAN BENCANA?
Triage dapat dilakukan di lapangan maupun
didalam rumah sakit. Proses triage meliputi tahap
pra-hospital/lapangan dan hospital atau pusat
pelayana kesehatan lainnya. Triage lapangan
harus dilakukan oleh petugas pertama yang tiba
ditempat kejadian dan tindakan ini harus dinilai
lang terus menerus karena status triage pasien
dapat berubah. Metode yang digunakan bisa
secara Mettag (triage Tagging System) atau sistem
triage penuntun lapangan StarT (Simple Triage
and Rapid Transportasi).
Penuntun Lapangan START berupa penilaian pasien
60 detik yang mengamati ventilasi, perfusi, dan
status mental untuk memastikan kelompok korban
seperti yang memerlukan transport segera atau
tidak, atau yang tidak mungkin diselamatkan, atau
mati. Ini memungkinkan penolong secara cepat
mengidentifikasikan korban yang dengan risiko
besar akan kematian segera atau apakah tidak
memerlukan transport segera. Star merupakan
salah satu metode yang paling sederhana dan
umum. Metode ini membagi penderita menjadi 4
kategori :
1. Prioritas 1-Merah
2. Prioritas 2-Kuning
3. Prioritas 3-Hijau
4. Prioritas 0-Hitam
Tren bencana di Indonesia terus meningkat setiap
tahunnya. Bahkan, selama tahun 2018 lalu di
Indonesia setidaknya terjadi 2.572 kali peristiwa
bencana yang menelan korban jiwa sebanyak 4.814
orang.Selain itu ada sebanyak 264 ribu korban luka,
dan sebanyak 10,2 juta orang mengungsi. Dan total
kerugian akibat bencana selama tahun 2018 mencapai
Rp 100 trilliun. Mulai awal tahun 2019 hingga bulan
April 2019, setidaknya sudah ada sebanyak 438 orang
di Indonesia yang meninggal karena adanya bencana.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB).

APA SAJA TREN BENCANA DI


DUNIA DAN DI INDONESIA?
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
menyebutkan dalam beberapa dasawarsa terakhir tren
bencana dunia mulai dari bencana geologi,
hidrometeorologi, biologi maupun akibat ulah manusia terus
meningkat. Selama tiga dasawarsa terakhir bencana di
dunia mengalami peningkatan sekitar 350%.
Kejadian bencana-bencana tersebut berpengaruh
terhadap ekonomi dan kehidupan global. Gempa bumi di
Haiti tahun 2010, banjir di Pakistan tahun 2010, dan banjir
di Thailand tahun 2011 makin memerosotkan perekonomian
negara-negara miskin dan sedang berkembang.
Sutopo mengatakan banjir di Australia, gempa bumi di
Selandia Baru dan gempa bumi dan tsunami di Jepang pada
2011, menunjukkan bahwa negara-negara kaya pun tidak
kebal terhadap risiko bencana. Banyak kerugian ekonomi
global yang ditimbulkan akibat bencana yang terjadi
beberapa tahun terakhir dan meningkat dua kali lipat pada
2011.
Kerugian ekonomi global akibat bencana rata-rata dalam 10
tahun terakhir sejak tahun 2000 adalah USD 110 milyar,
dimana total kerugian yang diasuransikan sekitar USD 35
milyar. Sedangkan bencana menyebabkan ekonomi global USD
130 milyar.
Pada 2011, lanjut Sutopo, ternyata terjadi peningkatan
hampir dua kali lipatnya. Gempa bumi dan tsunami di Jepang
pada 11 Maret 2011 yang menimbulkan kerugian USD 220
milyar atau 3,4 persen GDP Jepang atau hampir seperlima GDP
Indonesia saat ini. Demikian pula banjir banjir di Thailand pada
akhir 2011 menyebabkan 754 orang meninggal, 10 juta orang
menderita dan kerugian mencapai USD 45 miliar. Pertumbuhan
ekonomi Thailand merosot sekitar 2,4 persen.
Peningkatan bencana tidak hanya terjadi di luar negeri tapi
juga terjadi di Indoensia. Sejarah bencana di Indonesia,
berdasarkan DIBI selama tahun 1815-2011 terdapat 11.910
kejadian bencana yang menyebabkan 329.585 jiwa meninggal
dan hilang serta lebih dari 15,8, juta jiwa mengungsi.
ASPEK LEGAL KODE ETIK
1. Membuat kontrak kerja 1. Perawat bencana
(memahami hak dan memberikan pelayanan
kewajiban) dengan penuh hormat bagi
2. Praktek yang kompeten martabat kemanusiaan dan
hanya dilakukan oleh keunikan klien.
seorang perawat yang 2. Perawat bencana
kompeten mempertahankan kompetensi
dan tanggung jawab dalam
3. Tambahan penyuluhan
praktek keperawatan
kesehatan dan konseling emergensi.
dalam pemberian asuhan
3. Perawat bencana melindungi
keperawatan klien manakala mendapatkan
4. Melaksanakan tugas delegasi, pelayanan kesehatan yang
sesuai dengan kemapuan tidak cakap, tidak legal,
perawat yang akan diberikan sehingga keselamatannya
delegasi. terancam.

APA SAJA ASPEK LEGAN DAN ETIKA


KEPERAWATAN BENCANA?
PRA BENCANA SAAT BENCANA

Undang – undang No. 38 UU No. 38, Tahun 2014,


tahun 2014, Pasal 31: Pasal 35
1. Memberikan konseling 1. Dalam keadaan darurat
penyuluhan perawat dapat melakukan
2. Melakukan tindakan medis dan
pemberdayaan pemberian obat sesuai
kompetensinya.
masyarakat
2. Pertolongan pertama
3. Menjali kemitraan dalam
bertujuan untuk
perawatan kesehatan
menyelamatkan nyawa
4. Meningkatkan klien dan mencegah
pengetahuannya kecacatan lebih lanjut.

APA SAJA PERAN PERAWAT DALAM


KEPERAWATAN BENCANA?
Pasal 33, Ayat 4 UU No. 36 tahun 2009
Pasal 59
Dalam melaksanakan
1. Tenaga kesehatan wajib
tugas pada keadaan memberikan pertolongan
keterbatasan tertentu pertama pada penerima
perawat berwenang : pelayanan kesehatan
dalam keadaan gawat
1. Melakukan darurat bencana untuk
pengobatan pada penyelamatan nyawa
penyakit umum. dan pencegahan
kecacatan.
2. Merujuk pasien.
2. Tenaga kesehatan
3. Melakukan dilarang menolak
pelayanan pelayanan kesehatan
kefarmasian dan meminta uang muka
terlebih dahulu
secara terbatas.
SAAT BENCANA….
PP No. 21 Tahun 2008 Pasal 56 :
1. Perawat harus mempunyai skiil keperawatan
yang baik, memiliki sikap dan jiwa kepedulian,
dan memahami konsep siaga bencana
2. Perawatan korban bencana, obat –o batan,
peralatan kesehatan, rehabilitasi mental.
3. No. 36 Tahun 2009 Pasal 1 : Tenaga kesehatan
adalah setiap orang yang mengabdikan diri
dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan ketrampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan.
4. Pasal 9 : Tenaga kesehatan harus memiliki
kualifikikasi minimum D3 kecuali tenaga medis.

PASCA BENCANA…