Anda di halaman 1dari 35

Akuntansi untuk Valuta

Asing: Transaksi Dalam


Mata Uang Asing

Salma Rana Kamila 0237


Galuh Intan Kusuma 0255
Irma Aning Meliana 0276
Konsep Mata Uang
Salah satu penting yg perlu
dipahami terkait aktivitas
perdagangan internasional
adalah konsep mata uang dan
nilai tukar (kurs). Secara umum
menurut standar akuntansi,
jenis mata uang yang digunakan
suatu entitas adalah
1. Mata uang fungsional
2. Mata uang penyajian
3. Mata uang asing
Menurut PSAK 10 (Revisi 2010), menentukan mata
uang fungsional bagi suatu entitas, pertimbangan bahwa
mata uang fungsional merupakan mata uang yang:
1. Paling mempengaruhi harga jual
2. Suatu negara yang kekuatan persaingan dan per UU
nya sebagian besar menentukan harga jual dari
barang dan jasa suatu entitas
3. Mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku, dan
biaya lain dari pengadaan barang atau jasa
4. Menjadi sumber dana dari aktivitas pendanaan
5. Penerimaan dari aktivitas operasi pada umumnya
ditahan
Indikator Mata uang fungsional adalah Mata uang fungsional adalah
mata uang lokal mata uang fungsional induk

Hubungan Operasi dijalankan dengan Aktivitas yang dijalankan


operasi otonomi yang cukup luas dari adalah perpanjangtanganan
dengan entitas induk entitas induk
entitas induk
Transaksi Transaksi dengan perusahaan Transaksi dengan entitas
dengan induk adalah rendah bila induk adalah tinggi bila
entitas induk dibandingkan dengan dibandingkan dengan
keseluruhan aktivitas operasi. keseluruhan aktivitas operasi
Hubungan Arus kas dari aktivitas pada Arus kas dari aktivitas operasi
terkait arus operasi di luar negeri tidak di luar negeri secara langsung
kas secara langsung memengaruhi memengaruhi kinerja entitas
kinerja entitas induk induk
Independensi Operasi di luar negeri dapat Operasi di luar negeri dapat
keuangan mencukupi kebutuhan sendiri mencukupi kebutuhan sendiri
dan tidak terikat dengan dan terikat dengan entitas
entitas induk untuk tujuan induk untuk tujuan
pembiayaan pembiayaan
Jenis-Jenis Nilai Tukar
Terdapat jenis-jenis nilai tukar yang
dikenal menurut standar akuntansi:
1. Kurs spot, yakni nilai tukar untuk
realisasi segera, umumnya untuk
realisasi dalam 2 hari kerja setelah
perdagangan.
2. Kurs penutup, yakni kurs spot pada
akhir periode pelaporan.
3. Kurs forward, yakni nilai tukar untuk
penyelesaian transaksi di masa
depan yang telah ditentukan.
Kuotasi dan Perubahan Nilai Tukar
• Dari sudut pandang perbandingan
antarmata uang, terdapat 2 jenis
nilai tukar yaitu nilai tukar langsung
dan nilai tukar tidak langsung.
• Nilai tukar langsung adalah jumlah
mata uang lokal yang dibutuhkan
untuk mendapkan 1 unit mata
uang asing.
• Nilai tukar tidak langsung adalah
jumlah mata uang asing yang
dibutuhkan untuk memperoleh
satu unit mata uang lokal.
Akuntansi untuk Transaksi Menggunakan
Valuta Asing
Menurut PSAK 10 (Revisi 2010), setidaknya
terdapat 3 kelompok transaksi yang memerlukan
penyelesaian dalam suatu mata uang asing, yaitu:
1. Transaksi pembelian atau penjualan barang
atau jasa yang harganya didenominasikan
dalam suatu mata uang asing.
2. Transaksi pinjam-meminjam dana ketika jumlah
yang merupakan utang atau piutang
didenominasikan dalam mata uang asing.
3. Transaksi pelepasan atau perolehan aset,
pengadaan atau penyelesaian suatu kewajiban
yang didenominasikan dalam mata uang asing.
Alur Transaksi Valuta Asing
Transksi valuta asing
dicatat pada nilai tukar
aktual sehingga Penyelesaian aset &
memunculkan ada aset kewajiban moneter
& liabilitas moneter

Akhir periode
pelaporan
Transaksi dengan
Tujuan Spekulasi
(Transaksi Valuta Akuntansi untuk transaksi
dengan tujuan spekulasi
Asing Murni) diharapkan dapat
menunjukkan dampak yang
diperkirakan muncul atas
laporan keuangan suatu
entitas dari aktivitas spekulasi
yang dilakukan dalam rangka
memperoleh keuntungan.
Ilustrasi
Pada 1 November 2015, PT Nusantara
menyepakati perjanjian forward dengan
Bank Penduduk Indonesia (BPI) untuk
menjual US$10.000 dengan kurs untuk
90 hari sebesar Rp13.700 per USD. Nilai
tukar spot per tanggal 1 November 2015
adalah Rp13.600/US$. PT Nusantara
memiliki periode tutup buku per 31
Desember setiap tahunnya. Pada
tanggal 30 Januari 2016, PT Nusantara
akan menyerahkan USD kepada bank
berdasarkan kurs yang telah disepakati.
Tanggal Kurs Spot Kurs Forward

1 Nov 15 US$1 = Rp13.600 US$1 = Rp13.700 (90 hari)

31 Des 15 US$1 = Rp13.400 US$1 = Rp13.600 (30 hari)

30 Jan 16 US$1 = Rp13.500

Atas transaksi spekulasi, maka PT Nusantara akan mencatat sbb:

1 Nov 15
Aset Keuangan 137.000.000
Liabilitas Keuangan 137.000.000

31 Des 15
Liabilitas Keangan 1.000.000
Keuntngn Trans Mata Uang Asing 1.000.000
30 Jan 16
Liabilitas Keuangan 1.000.000
Keuntungan Mata Uang Asing 1.000.000

Mata Uang Asing 135.000.000


Kas 135.000.000

Liabilitas Keuangan 135.000.000


Mata Uang Asing 135.000.000

Kas 137.000.000
Aset Keuangan 137.000.000
Transaksi Ekspor
Transaksi ekspor adalah
transaksi penjualan barang
atau jasa dari dalam negeri
kepada entitas lain di luar
negeri. Atas transaksi
ekspor, suatu entitas akan
memperoleh pembayaran
dari luar negeri yang
mungkin dideneminasikan
dalam mata uang asing.
Ilustrasi
PT Nusantara memiliki unit usaha yang memproduksi dan
mendistribusikan mesin pemindai untuk mendukung
keamanan kepada bandara-bandara di kawasan Asia. Pada
tanggal 20 Oktober 2015, PT Nusantara melakukan
penjualan 10 unit mesin pemindai kepada Bandar Udara
Changi di Singapura. Harga jual mesin ini senilai S$100.000
(beban pokok penjualan adalah 60% dari harga jual) yang
pembayarannya akan diterima dalam dollar Singapura pada
tanggal 1 Februari 2016. PT Nusantara memiliki akhir
periode akuntansi per 31 Desember serta memberikan
informasi nilai tukar untuk tanggal-tanggal penting sbb:
Tanggal Kurs Spot
20 Oktober 2015 10.200
31 Desember 2015 10.250
1 Februari 2016 10.150

Atas transaksi eksport tersebut, maka jurnal yang dicatat PT


Nusantara sbb:
20 Oktober 2015
Piutang Usaha 10.200.000
Penjualan 10.200.000
(10 x S$100.000 x Rp10.200)

Beban Pokok Penjualan 6.120.000.000


Persediaan 6.120.000.000
(10 x S$100.000 x Rp10.200)
31 Desember 2015
Piutang Usaha 50.000.000
Keunt. Perub. Kurs Valuta Asing 50.000.000
(10 x S$100.000 x (Rp10.200 – 10.250))
1 Februari 2016
Kerug. Perub. Kurs Valuta Asing 100.000.000
Piutang Usaha 100.000.000
(10 x S$100.000 x (Rp10.250 – 10.150))

Valuta Asing (SGD) 10.150.000.000


Piutang Usaha 10.150.000.000
(10 x S$100.000 x Rp10.150)

Kas 10.150.000.000
Valuta Asing (SGD) 10.150.000.000
(10 x S$100.000 x Rp10.150)
Perbandingan Transk Ekspor Menggunakan Mata Uang
Fungsional dan Mata Uang Asing
Transaksi dalam Rupiah Transaksi dalam dollar Singapura
20 Oktober 2015
Piutang Usaha 10.200.000.000 Piutang Usaha 10.200.000.000
Penjualan 10.200.000.000 Penjualan 10.200.000.000
31 Desember 2015
Piutang Usaha 50.000.000
Tidak terdapat jurnal
Keunt selisih kurs 50.000.000
1 Februari 2015
Kerug selisih kurs 100.000.000
Tidak terdapat jurnal
Piutang Usaha 100.000.000
Kas 10.200.000.000 Valuta Asing (SGD) 10.150.000.000

Piutang Usaha 10.200.000.000 Piutang Usaha 10.150.000.000


Kas 10.150.000.000
Tidak terdapat jurnal
Valuta Asing (SGD) 10.150.000.000
Transaksi Impor
Transaksi impor adalah transaksi
pembelian barang atau jasa dari
luar negeri untuk didatangkan
ke dalam negeri. Atas transaksi
impor, suatu entitas akan
memiliki kewajiban untuk
menyerahkan pembayaran
kepada entitas lain di luar
negeri yang kemungkinan besar
didenominasikan dalam mata
uang asing.
Ilustrasi
Diketahui untuk mendukung kegiatan produksi PT
Nusantara mendatangkan tenaga ahli yang memberikan
pelatihan penggunaan teknologi produksi terkini dari
Perancis. Pada tanggal 15 Desember 2015, PT Nusantara
menerima pelatihan dari tenaga ahli selama 5 hari dengan
honor tenaga ahli per harinya €20.000. PT Nusantara baru
akan membayarkan honor tenaga ahli tersebut pada
tanggal 15 Januari 2016 melalui perusahaan produsen
teknologi yang menaungi tenaga ahli tersebut. Berikut
informasi nilai tukar euro Uni Eropa terhadap rupiah untuk
tanggal-tanggal penting sbb:
Tanggal Kurs Spot
15 Desember 2015 15.700
31 Desember 2015 15.800
15 Januari 2016 15.600

Atas transaksi impor tersebut, maka jurnal yang akan dicatat


oleh PT Nusantara ditunjukan sbb:
15 Desember 2015
Beban Pelatihan 1.570.000.000
Utang Usaha 1.570.000.000
(5hr x €20.000 x Rp15.700)
31 Desember 2015
Kerug. Perub. Kurs Valuta Asing 10.000.000
Utang Usaha 10.000.000
(5hr x €20.000 x (Rp15.700 – 15.800))
15 Januari 2016
Utang Usaha 20.000.000
Keunt. Perub. Kurs Valuta Asing 20.000.000
(5hr x €20.000 x (Rp15.800 – 15.600))

Valuta Asing (EUR) 1.560.000.000


Kas 1.560.000.000
(5hr x €20.000 x Rp15.600)

Utang Usaha 1.560.000.000


Valuta Asing (EUR) 1.560.000.000
(5hr x €20.000 x Rp15.600)
Perbandingan Transaksi Impor Menggunakan Mata Uang
Fungsional dan Mata Uang Asing
Transaksi dalam Rupiah Transaksi dalam dolar Singapura
15 Desember 2015
Beban Pelatihan 1.570.000.000 Beban Pelatihan 1.570.000.000
Utang Usaha 1.570.000.000 Utang Usaha 1.570.000.000
31 Desember 2015
Kerug selisih Kurs 10.000.000
Tidak terdapat jurnal
Utang Usaha 10.000.000
15 Januari 2016
Utang Usaha 20.000.000
Keun selsh kurs 20.000.000
Tidak terdapat jurnal
Valuta Asing (Euro) 1.560.000.000
Kas 1.560.000.000
Utang Usaha 1.570.000.000 Utang Usaha 1.560.000.000
Kas 1.570.000.000 Kas 1.560.000.000
Transaksi Impor dengan Valuta Asing yang
Diperoleh Sebelumnya

Ketika suatu entitas melakukan


transaksi impor, entitas akan
memperoleh valuta asing yang
dibutuhkan untuk penyelesaian
transaksi jauh sebelum transaksi
impor dilaksanakan. Bertujuan
untuk memperoleh nilai tukar
yang dianggap menguntungkan
bagi entitas.
Ilustrasi
Pada kasus ini menggunakan kasus pembayaran
jasa pelatihan yang diberikan oleh 5 orang
tenaga ahli. PT Nusantara telah merencanakan
kegiatan pelatihan ini sebelumnya, kemudian
melakukan pembelian euro pada tanggal 1
November 2015 dengan kurs sebesar
Rp15.500/EUR maka pencatatan yang dilakukan
PT Nusantara adalah:
1 November 2015
Mata Uang Asing (EUR) 1.550.000.000
Kas 1.550.000.000
(€20.000 x Rp15.500)

15 Desember 2015
Mata Uang Asing (EUR) 20.000.000
Keunt. Perub. Kurs 20.000.000
(€20.000 x (Rp15.700 – 15.500))

Beban Pelatihan 1.570.000.000


Utang Usaha 1.570.000.000
(5hr x €20.000 x Rp15.700)

31 Desember 2015
Kerug. Perub. Kurs Valuta Asing 10.000.000
Utang Usaha 10.000.000
(5hr x €20.000 x (Rp15.700 – 15.800))
Mata Uang Asing (EUR) 10.000.000
Keunt. Perub. Kurs10.000.000
(5hr x €20.000 x (Rp15.700 – 15.800))

15 Januari 2016
Utang Usaha 20.000.000
Keunt. Perub. Kurs Valuta Asing 20.000.000
(5hr x €20.000 x (Rp15.800 – 15.600))

Kerug. Perub. Kurs20.000.000


Mata Uang Asing (Euro) 20.000.000
(5hr x €20.000 x (Rp15.800 – 15.600))

Utang Usaha 1.560.000.000


Valuta Asing (Euro) 1.560.000.000
(5hr x €20.000 x Rp15.600)
Isu Lainnya Terkait Transaksi
Menggunakan Valuta Asing
Perolehan Aset Tetap di Luar Negeri (Model
Biaya Historis)

Berdasarkan PSAK 16 (Revisi


2011), pengukuran awal aset
tetap adalah menggunakan
biaya perolehan. Biaya
perolehan didenominasikan
dalam mata uang asing perlu
ditranslasikan ke dalam mata
uang fungsional entitas
menggunakan kurs spot yang
berlaku pada tanggal transaksi.
Ilustrasi
PT Nusantara membeli sebuah lahan (tanah) di Malaysia
seharga RM 1.000.000 pada tanggal 1 Juni 2015. Tanah
tersebut akan dipergunakan untuk keperluan membangun
pabrik perusahaan dalam rangka mendukung rencana
ekspansi di luar negeri. Perusahaan memilih menggunakan
model biaya historis untuk mencatat aset sejenis. Diketahui
pula informasi kurs spot ringgit Malaysia atas rupiah sbb:
Tanggal Kurs Spot
1 Januari 2015 3.500
31 Desember 2015 3.400

Berdasarkan info diatas, maka jurnal yang dibuat oleh PT


Nusantara sbb:
1 Juni 2015
Valuta Asing 3.500.000.000
Kas 3.500.000.000
(RM 1.000.000 x Rp3.500)

Tanah 3.500.000.000
Valuta Asing 3.500.000.000
(RM 1.000.000 x Rp3.500)

31 Desember 2015
Kerug atas perub kurs 100.000.000
Tanah 100.000.000
(RM 1.000.000 x (Rp3.500 – 3.400))
Perolehan Aset Tetap di Luar Negeri (Model
Revalusi)
Dalam PSAK 16 (Revisi 2011)
memperkenankan entitas untuk
menggunakan model revalusi atas
aset tetap yang dimilikinya.
Berdasarkan model revalusi, nilai
aset tetap akan diukur berdasarkan
nilai wajar saat tanggal pelaporan
untuk kemudian mengakui adanya
surplus revalusi (kerugian penurunan
nilai) atas perbedaan nilai tercatat
dengan nilai wajarnya.
Ilustrasi
Melihat kasus pembelian tanah PT Nusantara. PT Nusantara
memiliki kebijakan untuk menggunakan model revalusi untuk
mengukur tanah, maka pencatatannya:
1 Juni 2015
Valuta Asing 3.500.000.000
Kas 3.500.000.000
(RM 1.000.000 x Rp3.500)

Tanah 3.500.000.000
Valuta Asing 3.500.000.000
(RM 1.000.000 x Rp3.500)
31 Desember 2015
Tanah 340.000.000
Surplus Revalusi 340.000.000
((RM 1.100.000 – RM 1.000.000) x Rp3.400)

Kerugian atas Perub Kurs 100.000.000


Tanah 100.000.000
(RM1.100.000 x (Rp3.500 – 3.400))
Penyajian dan Pengungkapan Transaksi
Menggunakan Valuta Asing
Pada PSAK 10 (Revisi 2010) menyatakan bahwa
suatu entitas perlu mengungkapkan:
1. Jumlah dari selisih nilai tukar yang diakui
dalam laba rugi kecuali untuk selisih nilai tukar
yang timbul pada instrumen keuangan yang
diukur pada nilai wajarnya melalu laba rugi
sesuai PSAK 55 (Revisi 2014).
2. Selisih nilai tukar neto diakui dalam
penghasilan komprehensif dan diakumulasikan
dalam komponen ekuitas terpisah, dan juga
harus mengungkapkan rekonsiliasi dan selisih
nilai tukar pada awal dan akhir periode.