Anda di halaman 1dari 12

Kode Etik Akuntan

dan Penegakannya

Nama Kelompok :
Salma Rana K.S. (17.05.52.0237)
Inna Indaryani (17.05.52.0206)
Rikky Reguel M. (17.05.52.0258)
Pengertian Kode Etik Akuntansi

Kode etik adalah sistem norma, nilai, dan


aturan profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik, dan
apa yang tidak benar dan tidak baik bagi
profesional. Kode etik menyatakan
perbuatan apa yang benar atau salah,
perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa
yang harus dihindari.
Kode Etik Aturan Profesi
Akuntansi IAI
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan
sebagai panduan dan aturan bagi seluruh anggota, baik
yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di
lingkungan dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupun
di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan
tanggung-jawab profesionalnya. Untuk mencapai tujuan
tersebut terdapat empat kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi :
• Kredibilitas
• Profesionalisme
• Kualitas Jasa
• Kepercayaan
Prinsip Etika Profesi Ikatan Akuntan
Indonesia
Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik Ikatan
Akuntan Indonesia menyatakan pengakuan profesi
akan tanggungjawabnya kepada publik, pemakai jasa
akuntan, dan rekan. Prinsip ini memandu anggota
dalam memenuhi tanggung-jawab profesionalnya
dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan
perilaku profesionalnya. Prinsip ini meminta
komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan
dengan pengorbanan keuntungan pribadi.
Ada delapan prinsip etika profesi IAI:

1. Tanggung Jawab Profesi


2. Kepentingan Publik
3. Integritas
4. Obyektivitas
5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
6. Kerahasiaan
7. Perilaku Profesional
8. Standar Teknis
Prinsip-prinsip Fundamental Etika
IFAC
1. Integritas
2. Obyektivitas
3. Kompetensi profesional dan kehati-hatian
4. Kerahasiaan
5. Perilaku profesional
Hukuman Kode Etik
Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang mengacu pada
UU no 5 tahun 2011 tentang Praktek Akuntan Publik memuat 7
jenis sanksi administratif yang akan dikenakan kepada akuntan
publik (AP), kantor akuntan publik (KAP) serta cabang KAP.
Adapun ketujuh sanksi tersebut adalah sebagai berikut :
1.Rekomendasi untuk melaksanakan kewajiban tertentu
2.Sanksi tertulis
3.Sanksi pembatasan pemberian jasa kepada entitas tertentu
4.Pembatasan pemberian jasa tertentu
5.Pembekuan izin
6.Pencabutan izin
7.Sanksi denda
Contoh Pelanggaran Kode Etik
Dewan Pers menganggap RCTI telah melanggar kode etik Jurnalistik.
 
Dewan Pers memutuskan, stasiun televisi RCTI melanggar Pasal
1 dan Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik soal kejelasan sumber informasi
terkait pemberitaan soal “Dugaan Pembocoran Materi Debat
Capres” yang ditayangkan dalam program Seputar Indonesia Sore
pada 11 Juni 2014, Seputar Indonesia Malam pada 11 Juni 2014, dan
Seputar Indonesia Pagi pada 12 Juni 2014. Pada berita tersebut,
RCTI mengatakan adanya pembocoran materi debat calon presiden
yang menguntungkan pasangan capres-cawapres Joko “Jokowi”
Widodo dan Jusuf Kalla. Dewan Pers menilai, sumber pemberitaan
tersebut tidak jelas. Stasiun televisi milik Hary Tanoesoedibjo, yang
mendukung pasangan capres-cawapres saat itu, Prabowo Subianto-
Hatta Rajasa, dinilai tidak memiliki dokumen yang kuat untuk
mendukung tudingannya.
“Konfirmasi yang sudah dilakukan oleh teradu
(RCTI) kepada Komisioner KPU dan tim sukses
Jokowi-JK tidak dapat menutupi lemahnya sumber
informasi atau data yang dapat menjadi landasan
teradu dalam memberitakan isu bocornya materi
debat capres,” demikian isi putusan Dewan Pers No
27/PPD-DP/XI/2014 yang ditandatangani Ketua
Dewan Pers Bagir Manan, Jumat
(21/11/2014).Dewan Pers mengatakan, seharusnya
RCTI melakukan verifikasi terlebih dahulu terhadap
informasi tersebut sebelum menayangkannya demi
memenuhi prinsip keberimbangan.
“Penayangan berulang-ulang berita yang tidak jelas
sumbernya tidak sesuai dengan prinsip jurnalistik yang
mengedepankan akurasi, independensi, dan tidak beriktikad
buruk,” kata Bagir dalam putusannya.Dewan Pers pun
merekomendasikan RCTI untuk mewawancarai Komisioner
KPU Pusat selaku prinsipal, dan menyiarkannya sebagai hak
jawab. RCTI juga dituntut meminta maaf kepada publik dan
menyiarkan pernyataan penilaian dan rekomendasi Dewan
Pers.Hal ini diputuskan setelah adanya laporan dari Dandhy
D Laksono selaku warga, dan  Arian Rondonuwu selaku
karyawan RCTI ke Dewan Pers pada 16 Juli 2014. Sebelum
memutuskan, Dewan Pers telah mengundang Dandhy,
Raymond, dan pihak RCTI pada 5 September 2014 untuk
memberikan penjelasan dan klarifikasi.
Solusi dari kasus ini adalah sebaiknya RCTI yang merupakan
statsiun televisi swasta yang cukup besar harus bisa lebih
berhati-hati dalam memberikan informasi. Apalagi ini masalah
debat capres dan cawapres, secatra tidak langsung pihak RCTI
telah memfitnah dari calon capres dan capres terkait.Karena
seorang jurnalis tentunya sudah tau etika jurnalis yang telah di
buat salah satunya yaitu harus profesional dalm mengambil
situasi. Masyarkat sudah menegetahui bahwa pihak RCTI  yang
bernaung dalam MNC group memang memilih pasangan
PRABOWO-HATTA, ini sungguh angat disayangkan kenapa RCTI
bisa melakukan hal itu dan melanggar kode etik.
Diharapkan ini jadi pelajaran bagi RCTI dan seluruh stasiun
televisi swasta Indonesia harus bisa lebih professional dalam
melakukan pejerjaan nya harus bisa membedakan mana
masalah pribadi dan umum.
TERIMAKASIH