Anda di halaman 1dari 28

PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK(BKP)

DAN
JASA KENA PAJAK (JKP)
Nama Kelompok :
1. Jani Ambarwati (17.05.52.0041)
2. Inna Indaryani (17.05.52.0206)
3. Salma Rana K.S. (17.05.52.0237)
Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP)

• Pengertian penyerahan yaitu sebagai


penyerahan hak, pengalihan hak atas barang,
pemakaian sendiri dan penyerahan lainnya
seperti penyerahan karena konsinyasi.
Penyerahan BKP sesuai UU PPN dan PPnBM dalam Pasal 1A

1. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu


perjanjian
2. Pengalihan Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian sewa
beli dan perjanjian leasing
3. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara
atau melalui juru lelang
4. Pemakaian sendiri dan atau pemberian secara cuma – cuma
atas Barang Kena Pajak
5. Persediaan Barang Kena Pajak dan aktiva yang menurut
tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih
tersisa pada saat pembubaran perusahaan
6. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke
cabang atau sebaliknya dan penyerahan
antarcabang
7. Penyerahan Pajak secara konsiyansi
8. Penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha
Kena Pajak dalam rangka perjanjian pembiayaan
yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah
Tidak Termasuk Penyerahan
Barang Kena Pajak
1. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar
sebagaimana dalam Kitab UU Hukum Dagang
2. Penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan
utang-piutang
3. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke
cabang atau antar cabang dalam hal
Pengusaha Kena Pajak melakukan pemusatan
tempat pajak terutang
• 4. Pengalihan Barang Kena Pajak dalam rangka
penggabungan,peleburan, penekanan,pemecahan
dan pengambilalihan usaha dengan syarat pihak
yang melakukan pengalihan dan yang menerima
pengalihan adalah Pengusaha Kena Pajak
• 5. Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut
tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan,yang
masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan
dan Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat
dikreditkan
Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang
Dibebaskan Dari Pengenaan PPN
Pengenaan PPN diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 146 Tahun 2000 yang
diperbarui dengan Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2003 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 146 Tahun 2000 tantang Impor
atau Penyerahan BKP Tertentu atau PJK Tertentu yang dibebaskan dari
pengenaan PPN.

BKP Tertentu yang atas penyerahannya dibebaskan dari PPN:


1. Rumah Sederhana atau Asrama Mahasiswa dan Pelajar.
2. Senjata, alat angkutan, kendaraan patroli.
3. Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan
Imunisasi Nasional.
4. Buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama lainnya.
5. Kapal, pesawat, dan kereta api.
Pengecualian Barang Kena Pajak Tertentu
• Apabila terjadi BKP tertentu yang dibebaskan pengenaan PPN
yang tidak sesuai dengan tujuan semula atau
dipindahtangankan kepada pihak lain baik sebagian atau
seluruhnya dalam jangka waktu 5 tahun sejak saat impor atau
perolehan, makan PPN yang dibebaskan wajib dibayar dalam
jangka waktu 1 bulan sejak BKP tersebut dialihkan
penggunaannya atau dipindahtangankan. Dalam jangka waktu
1 bulan ternyata PPN yang dibebaskan tidak dibayar, maka
Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar ditambah dengan sanksi sesuai ketentuan yang
berlaku dan PPN yang wajib dibayar tersebut tidak dapat
dikreditkan.
Impor dan Penyerahan BKP Tertentu Bersifat
Strategis Dibebaskan Dari Pengenaan PPN
Atas impor atau terjadi penyerahan BKP tertentu yang bersifat strategis yang
dibebaskan dari pengenaan PPN:
1. Bila impor atau terjadi penyerahan BKP tertentu yang bersifat strategis atas:
a. Barang modal berupa mesin dan peralatan
pabrik, baik dalam keadaan terpasang
maupun terlepas, tidak termasuk suku cadang;
b. Makanan ternak, unggas dan ikan dan/atau
bahan baku untuk pembuatan makanan ternak, unggas
dan ikan;
c. Barang hasil pertanian;
d. Bibit atau benih dari barang pertanian, perkebunan,
dan peternakan.
2. Bila terjadi penyerahan BKP tertentu yang
bersifat strategis atas rumah susun sederhana
milik:
Rumah susun sederhana milik adalah bangunan
bertingkat yang dibangun dalam suatu
lingkungan yang dipergunakan sebagai tempat
hunian yang dilengkapi dengan kamar mandi
dan dapur.
Pembebanan PPN Atas BKP Tertentu
Bersifat Strategis
Syarat administrasi yang diperlukan bagi PKP
yang mendapatkan fasilitas berupa pembebasan
PPN atas Impor atau Penyerahan BKP Tertentu
bersifat strategis:
1. Dengan Surat Keterangan Bebas (SKB)
2. Tanpa Surat Keterangan Bebas (SKB)
Pengukuhan Sebagai PKP
Setiap pengusaha sebagai pemungut PPN wajib
dikukuhkan sebagai PKP. Akan tetapi orang atau
badan yang melakukan penyerahan BKP
Tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan
dari pengenaan PPN sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Menteri Keuangan wajib
melaporkan usahanya kepada Direktur Jenderal
Pajak untuk dikukuhkan sebagai PKP dengan
ketentuan perpajakan yang berlaku.
Pengecualian BKP Tertentu Bersifat Strategis

1. Dalam hal BKP tertentu bersifat strategis berupa barang modal


berupa mesin dan peralatan pabrik, baik dalam keadaan terpasang
atau terlepas, tidak termasuk suku cadang
2. Dalam hal BKP tertentu bersifat strategis berupa rusunami yang
diserahkan kepada orang pribadi ternyata digunakan tidak sesuai
dengan tujuan semula atau dipindahtangankan kepada pihak lain baik
sebagian atau seluruhnya
3. Akibat adanya penyimpangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1
dan butir 2, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) kepada PKP orang pribadi dan
bank yang tidak memenuhi kewajibannya. Terhadap PPN yang dibayar
tersebut merupakan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan.
Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai BKP/JKP
Tertentu dan BKP Tertentu Bersifat Strategis
Pada SE 95/Pj/2010 tentang Penegasan Perlakuan PPN atas BKP Tertentu atau
JKP Tertentu atau BKP Tertentu yang Bersifat Strategis yang Diekspor dan
Barang Hasil Pertanian yang Bersifat Strategis yang Dibebaskan dari
Pengenaan PPN, dimaksudkan memberikan Penegasan Perlakuan PPN.
Penegasan dimaksud meliputi:
1. Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 tentang PPN dan PPnBM telah
mengatur Pengenaan PPN.
2. Undang-Undang No.42 Tahun 2009 tentang PPN dan PPnBM telah
mengatur jenis barang yang tidak dikenai PPN yaitu sebagaimana diatur
dalam Pasal 4A bahwa barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat banyak, meliputi: beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, garam,
telur, sayuran, dan buah-buahan termasuk jenis barang yang tidak dikenai
PPN.
• 3. Pasal 16B ayat (3) Undang-Undang No.42 Tahun 2009 tentang
PPB Barang dan Jasa dan PPnBM bahwa pajak masukan yang
dibayar untuk perolehan BKP atau JKP yang atas penyerahannya
dibebaskan dari pengenaan PPN tidak dapat dikreditkan.
• 4. BKP Tertentu atau JKP Tertentu atau BKP Tertentu yang
bersifat strategis yang diekspor tetap dikenai PPN dengan tarif
0%.
• 5. Jenis BKP atau BKP Tertentu yang bersifat strategis adalah
sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah
beserta Lampirannya, yang mengatur tentang Penetapan BKP
Tertentu atau BKP Tertentu yang bersifat strategis.
Penyerahan JKP Tertentu yang Penyerahannya
Dibebaskan Dari Pengenaan PPN
Untuk JKP Tertentu yang penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN
diberlakukan mulai tanggal 14 Juli 2003 sesuai Peraturan Pemerintah No. 38
Tahun 2003 sebagai berikut:
1. Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Laut Nasional, Perusahaan
Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Kepelabuhan
Nasional atau Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai, Danau, dan
Penyeberangan Nasional, yang meliputi:
a. Jasa persewaan kapal
b. Jasa kepelabuhan, meliputi; jasa tunda, jasa pandu, jasa tambat, dan jasa labuh
c. Jasa perawatan atau reparasi (docking) kapal
2. Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang
meliputi:
a. Jasa persewaan pesawat udara
b. Jasa perawatan atau reparasi pesawat udara
3. Jasa perawatan atau reparasi kereta api yang diterima oleh
PT Kereta Api Indonesia.
4. Jasa yang diserahkan oleh kontraktor untuk pemborongan
bangunan Rumah Sederhana dan pembangunan tempat yang
semata-mata untuk keperluan ibadah.
5. Jasa persewaan Rumah Susun Sederhana, Rumah
Sederhana dan Rumah Sangat Sederhana.
6. Jasa yang diterima oleh Kementerian Pertahanan atau TNI
yang dimanfaatkan dalam rangka penyediaan data batas dan
foto udara wilayah Negara Republik Indonesia untuk
mendukung pertahanan nasional.
Penyerahan Jasa Kena Pajak
Pengertian Penyerahan Jasa Kena Pajak adalah
setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu
perikatan atau perbuatan hukum,yang
menyebabkan suatu barang, fasilitas, kemudahan
atau hak tersedia untuk dipakai termasuk jasa
yang dilakukan untuk menghasilkan barang
karena pesanan atau permintaan dengan bahan
dan atas petunjuk dari pemesan yang dikenakan
pajak berdasarkan UU PPN
Pengenaan PPN atas beberapa jasa
1. Jasa Custodian
2. Jasa Cunsumer Credit, Credit Card dan
Debit Card
3. Jasa Penagihan Listrik dan Telepon oleh Bank
4. Jasa Angkutan dan Jasa Ekspedisi Muatan
5. Jasa Perdagangan
6. Jasa Pengiriman Paket
7. Jasa Persewaan Ruangan
8. Jasa Pengiriman Surat
9. Jasa Telekomunikasi
Penyerahan Barang Kena Pajak Yang
Dikembalikan (RETURN)
• Return PPN
Penyerahan BKP yang dikembalikan (return) diatur
dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor
596/KMK.04/1994 dan SE. 12/Pj.54 Tanggal 3 April
1995 terjadi terhadap BKP yang telah diserahkan
karena sesuatu hal yang dikembalikan oleh pembeli,
maka PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
atas penyerahan BKP yang dikembalikan dapat
dikurangkan PPN dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah yang terutang dalam masa pajak terjadinya
• PPN atas penyerahan BKP yang dikembalikan (return)
oleh pembeli mengurangi :
1. Pajak Keluaran bagi Pengusaha Kena Pajak penjual
2. Pajak Masukan bagi Pengusaha Kena Pajak pembeli
3. Harta atau biaya bagi Pengusaha Kena Pajak pembeli
4. Harta atau biaya bagi pembeli yang bukan Pengusaha
Kena Pajak
Pengeluaran PPN tidak dilakukan,apabila BKP yang
dikembalikan diganti dengan barang yang sama
Return PPnBM
Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas penyerahan
BKP yang tergolong mewah yang dikembalikan oleh
pembeli mengurangi :
1. Pajak Penjualan atas BKP yang terutang oleh
Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan dan
menyerahkan BKP yang tergolong mewah
2. Harta atau biaya bagi Pengusaha Kena Pajak yang
bertindak sebagai pembeli
3. Harta atau biaya bagi pembeli yang bukan Pengusaha
Kena Pajak
Pembuatan Nota Retur
• Terjadi pengembalian Barang Kena Pajak, maka pembeli harus membuat dan
menyampaikan nota retur kepada Pengusaha Kena Pajak penjual. Nota Retur
sekurang-kurangnya harus mencantumkan:
• 1) Nomor urut;
• 2) Nomor dan tanggal Faktur Pajak dari Barang Kena Pajak yang dikembalikan;
• 3) Nama, alamat, dan NPWP pembeli;
• 4) Nama, alamat, NPWP, serta tanggal pengukuhan Pengusaha Kena Pajak yang
menerbitkan Faktur Pajak;
• 5) Macam, jenis, kuantum, dan harga jual Barang Kena Pajak yang dikembalikan;
• 6) Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong
Mewah yang dikembalikan;
• 7) Tanggal pembuatan Nota Retur;
• 8) Tanda tangan pembeli.
Saat Pengurangan PPN atau PPN dan
PPnBM
• Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai atau
pengurangan Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah oleh
Pengusaha Kena Pajak penjual atau yang
menghasilkan dan menyerahkan Barang Kena
Pajak yang tergolong Barang Mewah,
dilakukan dalam Masa Pajak yang sama
dengan Masa Pajak dibuatnya nota retur.
Saat dan Tempat Terutang PPN Atas Ekspor
JKP
• Penetapan saat terutangnya PPN atas ekspor JKP
yaitu pada saat ekspor JKP. Saat ekspor JKP
dimaksud yaitu pada saat penggantian atas jasa
yang diekspor tersebut dicatat atau diakui sebagai
penghasilan. Sedangkan tempat terutangnya yaitu
tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat
kegiatan usaha dilakukan, atau tempat lain selain
tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat
kegiatan usaha dilakukan yang diatur dengan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak.
Kewajiban Administrasi Bagi PKP yang Atas
Ekspor JKP Terutang PPN
• Bagi PKP yang melakukan ekspor JKP wajib
membuat Pemberitahuan Ekspor JKP dilampiri
invoice sebagai satu kesatuan yang tidak
terpisahkan adalah dokumen tertentu yang
kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak
dan Pemberitahuan Ekspor JKP wajib dibuat PKP
yang melakukan ekspor JKP dengan menggunakan
formulir yang tertera pada lampiran Peraturan
Menteri Keuangan No. 70/PMK.03/2010.
Status Pajak Masukan dan Pelaporannya

Kegiatan ekspor barang yang dihasilkan dari kegiatan ekspor


jasa maklon oleh PKP eksportir jasa maklon tidak dilaporkan
sebagai ekspor BKP dalam SPT Masa PPN. Untuk PPN atas:
1. Perolehan Barang Kena Pajak
2. Perolehan Jasa Kena Pajak
3. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud Dan Luar
Daerah Pabean
4. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak Dari Luar Daerah Pabean
5. Impor Barang Kena Pajak