Anda di halaman 1dari 20

STANDARISASI LARUTAN

Kimia Dasar
2019
Dede Komarudin, M. farm., Apt
DEFINISI
- Standarisasi merupakan suatu proses yang
digunakan untuk menentukan secara teliti
konsentrasi suatu larutan.
- Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya
telah diketahui.
- Larutan standar kadang-kadang dapat dibuat dari
sejumlah contoh solute yang diinginkan yang secara
teliti ditimbang dengan melarutkannya ke dalam
volume larutan yang secara teliti diukur volumenya. 
- Larutan baku adalah larutan yang
konsentrasinya sudah diketahui dengan pasti.
- Larutan baku biasanya ditempatkan pada alat
yang namanya buret, yang sekaligus berfungsi
sebagai alat ukur volume larutan baku.
- Larutan yang akan ditentukan konsentrasinya
atau kadarnya, diukur volumenya dengan
menggunakan pipet seukuran/ gondok(pipet
volumetri) dan ditempatkan di Erlenmeyer.
JENIS-JENIS LARUTAN STANDAR
Larutan baku ini ada 2 jenis yaitu larutan baku
primer dan larutan baku sekunder
Mengapa larutan baku ada 2 jenis?
Apa perbedaan antara larutan baku primer dan
sekunder ini?
Zat seperti apakah yang dapat digolongkan
sebagai larutan baku primer dan sekunder.
LARUTAN BAKU PRIMER
- Larutan yang dibuat dari zat yang memenuhi syarat-syarat
tertentu disebut larutan baku primer.
- Syarat agar suatu zat menjadi zat baku primer adalah Memiliki
tingkat kemurnian yang tinggi; kering, tidak terpengaruh oleh
udara/lingkungan(zat tersebut stabil);mudah larut dalam air;
dan mempunyai massa ekivalen yang tinggi.
- Larutan baku primer biasanya dibuat hanya sedikit,
penimbangan yang dilakukanpun harus teliti, dan dilarutkan
dengan volume yang akurat
- Zat yang dapat dibuat sebagai larutan baku primer adalah
asam oksalat (C2H2O4 2H2O), Boraks(Na2B4O710 H2O),
asam benzoat(C6H5COOH)
LARUTAN BAKU SEKUNDER
- Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang
zat terlarutnya tidak harus zat yang tingkat
kemurniannya tinggi.
- Larutan baku sekunder ini konsentrasinya
ditentukan berdasarkan standarisasi dengan cara
titrasi terhadap larutan baku primer.
- Larutan baku sekunder dapat digunakan larutan
basa atau asam dari senyawa anorganik misalnya
NaOH, HCl. Larutan baku sekunder ini umumnya
tidak stabil sehingga perlu distandarisasi ulang
setiap minggu.
INDIKATOR
- Indikator harus dapat menunjukkan perubahan yang nyata, pada
saat reaksi antara larutan yang dititrasi dan larutan penitrasi sudah
sempurna.
- Perubahan nyata yang ditunjukkan indikator disebut sebagai titik
akhir titrasi.
- Perubahan nyata dari indikator dapat ditunjukkan dengan
perubahan warna yang jelas dari indikator.
- Secara ideal titik akhir titrasi harus sama dengan titik ekivalen, pada
kenyataannya keadaan ini sulit untuk dicapai karenanya pasti ada
perbedaan antara kedua titik tersebut.
- Perbedaan titik akhir titrasi dan titik ekivalen disebut kesalahan
tittrasi. Kesalahan titrasi harus dibuat sekecil mungkin agar
kesalahan perhitungan tidak terlalu besar.
- Untuk reaksi asam basa maka indikatornya disebut indikator asam-
basa.
INDIKATOR ASAM-BASA
- Indikator asam basa adalah suatu zat elektrolit
yang sangat lemah, dapat merupakan
senyawa asam, basa, dan atau garam organik
yang memiliki warna berbeda pada larutan
asam dan basa.
- Perbedaan warna pada larutan asam dan
larutan basa merupakan karakteristik dari
indikator, yang perubahannya tiba-tiba tetapi
menempati interval(range) pH kecil.
- Di bawah ini diberikan tabel beberapa indikator asam basa
yang umum digunakan dalam titrasi beserta perubahan
warna yang terjadi.

- PERUBAHAN WARNA DAN RANGE PH DARI BEBERAPA INDIKATOR ASAM-BASA


No Nama Indikator Range pH Warna dalam Asam Basa
1 Timol Biru (asam) 1.2 - 2.8 Merah Kuning
2 Metil jingga 3.1 - 4.4 Merah Jingga
3 Brom Kresol Hijau 3.8 - 5.4 Kuning Biru
4 Metil Merah 4.2 - 6.3 Merah Kuning
5 Brom Timol Biru 6.0 - 7.6 Kuning Biru
6 Timol Biru (basa) 8.0 - 9.6 Kuning Biru
7 Fenolftalein 8.3 - 10.0 Tidak berwarna Merah
ASIDI-ALKALIMETRI
• Salah satu cara dalam penentuan kadar larutan asam basa adalah
dengan melalui proses titrasi asidi-alkalimetri. Cara ini cukup
menguntungkan karena pelaksanaannya mudah dan cepat,
ketelitian dan ketepatannya juga cukup tinggi.

• Asidimetri adalah titrasi dengan menggunakan larutan standar


asam untuk menentukan basa. Asam-asam yang biasanya
dipergunakan adalah HCl, asam cuka, asam oksalat, asam borat.
Menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya
adalah basa atau senyawa yang bersifat basa.

• Alkalimetri merupakan kebalikan dari asidimetri yaitu titrasi yang


menggunakan larutan standar basa untuk menentukan asam.
Menggunakan basa kuat sebagai titrannya dan analitnya adalah
asam atau senyawa yang bersifat asam
IODOMETRI
• Titrasi iodometri adalah salah satu titrasi redoks yang melibatkan iodium
• Titrasi iodometri (redoksimetri) termasuk dalam titrasi dengan cara
tidak langsung, dalam hal ini ion iodide sebagai pereduksi diubah
menjadi iodium yang nantinya dititrasi dengan larutan baku
Na2S2O3.
• Cara ini digunakan untuk penentuan oksidator H2O2. Pada oksidator
ditambahkan larutan KI dan asam sehingga akan terbentuk iodium
yang akan dititrasi dengan Na2S2O3.
• Contoh reaksi dengan Cu2+:

2 Cu 2+ + 4I– → 2CuI + I2


I2 + 2S2O32- → 2I– + S4O62-

• Sebagai indicator, digunakan larutan kanji/amylum. Titik akhir


titrasi pada iodometri apabila warna biru telah hilang.
PERMANGANOMETRI
- Permanganometri merupakan metode titrasi dengan
menggunakan kalium permanganat, yang merupakan
oksidator kuat sebagai titran. 
- Kalium permanganat telah digunakan sebagai
pengoksida secara meluas lebih dari 100 tahun.
Reagensia ini mudah diperoleh, murah dan tidak
memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan
yang sangat encer.
• Reaksi redoks ini dapat berlangsung dalam suasana
asam maupun dalam suasana basa. Dalam suasana
asam, kalium permanganat akan tereduksi menjadi
Mn2+ dengan persamaan reaksi :
MnO4- + 8 H+ + 5 e → Mn2+ + 4 H2O
• Dalam reaksi redoks ini, suasana terjadi karena
penambahan asam sulfat, dan asam sulfat cukup
baik karena tidak bereaksi dengan permanganat.
• Larutan permanganat berwarna ungu, jika titrasi
dilakukan untuk larutan yang tidak berwarna,
indikator tidak diperlukan. Namun jika larutan
permangant yang kita pergunakan encer, maka
penambahanindikator dapat dilakukan. Beberapa
indikator yang dapat dipergunakan seperti feroin,
asam N-fenil antranilat.
ARGENTOMETRI
• Titrasi argentometri ialah titrasi dengan
menggunakan perak nitrat sebagai titran di mana
akan terbentuk garam perak yang sukar larut.
• Metode argentometri disebut juga sebagai
metode pengendapan karena pada argentometri
memerlukan pembentukan senyawa yang
relative tidak larut atau endapan. 
• Argentometri merupakan metode umum untuk
menetapkan kadar halogenida dan senyawa-
senyawa lain yang membentuk endapan dengan
perak nitrat (AgNO3) pada suasana tertentu.
GRAVIMETRI
• Analisis gravimetri merupakan salah satu metode analisis
kuantitatif dengan penimbangan. Tahap awal analisis
gravimetri adalah pemisahan komponen yang ingin diketahui
dari komponen-komponen lain yang terdapat dalam suatu
sampel kemudian dilakukan pengendapan.
• Pengukuran dalam metode gravimetri adalah dengan
penimbangan, banyaknya komponen yang dianalisis
ditentukan dari hubungan antara berat sampel yang hendak
dianalisis, massa atom relatif, massa molekul relatif dan berat
endapan hasil reaksi.
- Penentuan kadar zat berdasarkan pengukuran berat analit atau senyawa yang
mengandung analit dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode
pengendapan melalui isolasi endapan sukar larut dari suatu komposisi yang
tak diketahui dan metode penguapan dimana larutan yang mengandung analit
diuapkan, ditimbang, dan kehilangan berat dihitung.
- Contoh :
Pada percobaan ini, gravimetri digunakan untuk melakukan penetapan kadar
air dan kadar abu bubuk temu giring (Curcuma heyneana). Temu giring adalah
semak semusim yang hidup secara liar di pekarangan dan ladang pada tanah
lembab dan sedikit cahaya. Zat kimia yang terkandung dalam temu giring
antara lain minyak atsiri dan zat pati.
Pada percobaan ini, sampel yang digunakan berupa bubuk temu giring, bukan
bahan segar temu giring. Penetapan kadar air bubuk temu giring dilakukan
berdasarkan metode penguapan, sedangkan penetapan kadar abu bubuk
temu giring dilakukan berdasarkan metode pengendapan.
• Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui
konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan
dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas).
• Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik
akhir titrasi telah di capai. Umumnya indicator yang digunakan
adalah indicator azo dengan warna yang spesifik pada berbagai
perubahan pH.
• Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara
stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar.
• Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada
indicator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yyang
dianalisis dan larutan standar.
• Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan
dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir
titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa.

Anda mungkin juga menyukai