Anda di halaman 1dari 31

Hubungan Kerja,

Koordinasi, dan
Kerjasama untuk
Perencanaan Wilayah
dan Kota
Haycal R. (0080) - Fildza D.
(0092) - Fidelia A. (7004)
HUBUNGAN KERJA
Definisi
Hubungan kerja adalah hubungan yang terjadi antara bagian atau individu
baik di dalam organisasi maupun dengan pihak luar organisasi sebagai akibat
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi masing-masing dalam mencapai
sasaran dan tujuan organisasi (Achmaf Basyuni).

Hubungan kerja merupakan keseluruhan rangkaian kegiatan antar satuan


kerja organisasi yang satu dengan yang lainnya yang merupakan kebulatan
utuh dalam rangka mencapai tujuan organisasi sebagai keseluruhan secara
efektif dan efisien. (Soewarno Handajaningrat)

Jika disatukan, maka definisi Hubungan kerja merupakan suatu bentuk


mekanisme hubungan antar bagian/individu baik di dalam maupun
antar suatu organisasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
setiap bagian/individu untuk mencapai tujuan organisasi yang
efktif dan efisien.
Jenis Hubungan Kerja
A. Hubungan Kerja Vertikal
B. Hubungan Kerja Horizontal
C. Hubungan Kerja diagonal
D. Hubungan Kerja Fungsional
E. Hubungan Kerja Informatif
F. Hubungan Kerja Konsultatif
G. Hubungan Kerja Direktif
H. Hubungan Kerja Koordinatif
Menurut Sondang P (1998) bahwa yang menjadi hambatan dalam
hubungan kerja adalah

1. Terjadinya kebocoran komunikasi


2. Terjadi pengikisan komunikasi
3. Terjadi kerusakan komunikasi.
Usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah hubungan kerja antara
lain adalah sebagai berikut :

1. Dari elemen sumber informasi, bahan (ide) yang masih dalam taraf
“encode” harus jelas bagi si sumber itu sendiri, sehingga ia dapat
men-“transmit” dengan jelas kepada yang akan menerima.
2. Dari elemen transmitting, bahasa yang digunakan dalam
men-“transmit” ide nya harus disesuaikan dengan latar belakang si
penerima. Latar belakang ini dapat berwujud tingkat pendidikan,
lingkungan sosial, lingkungan budaya (bangsa), lingkungan politik dan
lingkungan agama.
3. Dari elemen medium, media yang digunakan harus disesuaikan
dengan kondisi dimana komunikasi tersebut dilakukan.
4. Dari elemen penerima informasi, si penerima informasi
menterjemahkan dan menerima pesan melalu media dari telinganya
KOORDINASI
Definisi
Menurut G.R Terry, koordinasi adalah usaha yang sinkron dan teratur untuk
menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan
untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada
sasaran yang telah ditentukan.

Menurut Handoko, koordinasi adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan


dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen atau
bidang-bidang fungsional) suatu organisasi untuk mencapai tujuan
organisasi secara efisien.
Berdasarkan definisi dari para ahli, koordinasi dapat disimpulkan
sebagai suatu proses pemaduan (penyatuan) tujuan dan
aktivitas dari berbagai bagian yang terpisah yang ditujukan
untuk mencapai tujuan yang efisien.
Jenis Koordinasi
Terdapat beberapa jenis koordinasi, yaitu:

1. Koordinasi Vertikal adalah kegiatan penyatuan, pengarahan yang


dilakukan oleh atasan terhadap kegiatan unit-unit, kesatuan-
kesatuan kerja yang ada di bawah wewenang dan tanggung
jawabnya
2. Koordinasi Horizontal adalah kegiatan mengkoordinasikan
tindakantindakan atau kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan
yang dilakukan dalam tingkat organisasi yang setingkat.
3. Koordinasi Diagonal adalah tindakan ketika koordniator memiliki
kedudukan yang lebih tinggi tingkat eselonnya dibandingkan
dengan yang dikoordinasikan, tetapi satu sama lain tidak berada
pada satu garis komando.
Prinsip Koordinasi
Prinsip-prinsip dalam melakukan koordinasi adalah sebagai berikut :

● Kesamaan Persepsi
● Obyek sasaran yang menjadi acuan koordinasi harus dapat diterima
oleh semua pihak
● Perilaku semua pihak pada sasaran diorientasikan secara terpadu
● Adanya pertemuan berkala guna memonitori kemajuan dan
penanganan masalah
● Kegiatan bersama yang efektif dengan mendorong semangat kerjasama
dan etos kerja
● Pengarahan yang dilakukan agar tindakan tidak menyimpang
● Pemecahan masalah penghambat koordinasi
● Semua potensi sumber daya diarahkan kepada sasaran dan tujuan
● Penyempurnaan dan penyederhanaan sistem kerja
● Menginformasikan kebijakan dan membina kesamaan persepsi dari
Metode dan Teknik
● Koordinasi melalui kewenangan
● Koordinasi melalui konsensus
● Koordinasi melalui konferensi
● Koordinasi melalui pedoman kerja
● Koordinasi melalui forum
Faktor Penghambat
Menurut Handayaningrat (1989) yang menjadi hambatan dalam
koordinasi adalah sebagai berikut :
1. Ketidakjelasan pada perumusan tugas, wewenang, dan tanggung
jawab di tiap satuan kerja
2. Pejabat kurang menyadari tugas hanyalah sebagian saja
3. Pejabat memandang tugasnya sendiri yang paling penting
4. Pembagian kerja dan spesialisasi berlebihan
5. Prosedur dan tata kerja yang kurang jelas dan berbelit dan tidak
diketahui semua pihak
6. Kurang kemampuan pemimpin untuk koordinasi
7. Kurangnya forum komunikasi antar pejabat bersangkutan
Menurut Handayaningrat (1989) terdapat usaha yang dapat mengatasi
masalah koordinasi antara lain sebagai berikut :
1. Mengadakan penegasan dan penjelasan tugas/fungsi, wewenang
tanggung jawab dari masing-masing pejabat/satuan organisasi.
2. Menyelesaikan masalah terkait sistem prosedur, kemampuan
pimpinan dalam koordinasi.
3. Mengadakan pertemuan-pertemuan staf (tukar menukar informasi,
pendapat pandangan, menyatukan presepsi).
KERJASAMA
Definisi
Menurut Abdulsyani, kerjasama adalah suatu bentuk proses sosial, dimana
didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditunjukkan untuk
mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling
memahami aktivitas masing-masing.

Menurut W.J.S. Purwadarminta, kerjasama juga diartikan sebagai kegiatan


yang dilakukan secara bersama-sama dari berbagai pihak untuk
mencapai tujuan bersama.

Hubungan kerjasama → Adanya kesamaan tujuan dan kecocokan


diantara stakeholders yang terlibat.
Dalam pelaksanaan hubungan kerjasama, biasanya ada legalitas dalam bentuk
perjanjian atau kontrak tertulis yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban
setiap bagian yang terlibat dalam kerjasama yang berupa Mou (Memorandum
of Understanding).
Jenis-Jenis Kerjasama
Menurut Soekanto (1990) kerjasama terbagi dalam beberapa bentuk, yaitu:
1. Kooptasi merupakan suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam
kepemimpinan dan pelaksanaan politik organisasi sebagai cara satu-
satunya untuk menghindari konflik yang bisa mengguncang organisasi.
2. Koalisi (coalition) merupakan bentuk kerja sama yang dilakukan oleh
duaorganisasi atau lebih atas dasar tujuan yang sama.
3. Bargaining merupakan sebuah pelaksanaan dari perjanjian yang
berhubungan dengan pertukaran barang atau jasa antara dua
organisasi atau lebih.
4. Usaha patungan (Join venture) merupakan kerja sama yang terjadi
antara pengusaha suatu proyek tertentu dengan tujuan agar
menghasilkan keuntungan yang dapat dibagi antar keduanya menurut
proporsi tertentu yang telah disepakati bersama.
Kerjasama dalam pembangunan
melibatkan 3 stakeholder terkait,
yaitu Pemerintah, Masyarakat
Sipil, dan Swasta.

Ketiga stakeholder ini melakukan


kerjasama dengan menggunakan
prinsip Transparan, Akuntabel,
dan Partisipatif.

Dengan ketiga prinsip tersebut,


manajemen pembangunan
diperlukan dalam mengatur
kerjasama akses sumber daya
termasuk pengelolaannya.
Asas Pelaksanaan Kerjasama
Dalam pelaksanaan kerjasama, terdapat asas-asas yang harus
diterapkan dalam pelaksanaan kerjasama agar kerjasama yang
dihasilkan tepat guna, tepat sasaran, dan berjalan dengan baik.

Secara umum, asas pelaksanaan kerjasama yaitu:


● Politis Legitimate
● Economically Feasible (layak secara ekonomi)
● Sosial budaya dapat diterima oleh masyarakat
Sementara itu menurut Santosa (2004) terdapat permasalahan
kerjasama anatar lain:

1. Ketidakadilan
2. Hilangnya tanggung jawab personal
3. Hilangnya koordinasi
4. Kurangnya komunikasi
5. Kurang kompak.
Dalam melaksanakan manajemen pembangunan, dibutuhkan suatu
mekanisme dalam menghubungkan antar stakeholder yang terkait,
yaitu:
● Hubungan kerja,
● Koordinasi, dan
● Kerjasama.

Ketiga mekanisme ini merupakan tahapan, dimana hubungan kerja


merupakan tahap awal dalam suatu hubungan pekerjaan yang dijalankan
sesuai dengan tupoksi dari masing-masing bagian atau organisasi. Jika
hubungan kerja yang dilakukan sudah efektif dan efisien, tahap selanjutnya
adalah koordinasi. Pada koordinasi ada pembagian kerja, sehingga ada
kejelasan wewenang dari setiap hirarki, struktur, dan posisi. Selanjutnya,
jika diantara kedua belah pihak yang menjalin hubungan kerja memiliki
koordinasi yang baik, akan diputuskan apakah akan dijalin kerjasama
diantara mereka. Kerjasama dilakukan apabila terdapat tujuan bersama,
Sistem dan Prosedur Manajemen
Pembangunan (Perencanaan,
Pelaksanaan, dan Pengendalian
Pembangunan)
Definisi
Menurut James A.F. Stoner, manajemen adalah manajemen adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan danpengawasan usaha-usaha
para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi
lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan.

Manajemen memiliki beberapa fungsi secara umum, yaitu :

● Perencanaan (Planning)
● Pengorganisasian (Organizing)
● Penggerakan/Pelaksanaan (Actuating)
● Pengendalian dan Pengawasan (Controlling)
1. Perencanaan (Planning)

● Perencanaan Makro, Perencanaan pembangunan nasional dalam skala


makro atau menyeluruh.
○ Perencanaan Sektoral, Perencanaan yang dilakukan dengan
pendekatan berdasarkan sektor.
○ Perencanaan Regional, perencanaan yang menitikberatkan pada
aspek regional lokasi.
● Perencanaan Mikro, Perencanaan skala rinci dalam perencanaan
tahunan, yang merupakan penjabaran rencana-rencana baik makro,
sektoral, maupun regional ke dalam susunan proyek-proyek dan
kegiatan-kegiatan dengan berbagai dokumen perencanaan dan
penganggarannya.
Tahapan perencanaan pembangunan di Indonesia terdiri dari :

1. Penyusunan kebijakan. Tahapan ini merupakan tahapan awal


dalam mengkaji dan merumuskan kebijakan yang akan menjadi
dasar dalam perencanaan pembangunan
2. Perumusan program. Setelah kebijakan telah dibuat, tahap
selanjutnya adalah penyusunan program. Perumusan program
dilakukan sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah yang akan
dilaksanakan program tersebut. Program pembangunan di
Indonesia terbagi dua menjadi program skala 5 tahunan dan
program tahunan. Untuk program 5 tahunan adlaah RPJM (Rencana
Panjang Jangka Menengah) baik di Nasional dan Daerah. Sedangkan
untuk program tahunan adalah rencana kerja pemerinta (renstra).
2. Pengorganisasian

Pada tahap pengorganisasian pembangunan dilakukan pengerahan


sumber daya pembangunan yang terdiri dari dana (modal),
sumber daya manusia, teknologi, dan organisasi atau
kelembagaan. Pada tahapan ini pula terdapat pengalokasian
anggaran yang diprioritaskan untuk membiayai kegiatan yang
merupakan bagian dari upaya pembangunan yang direncanakan,
dimana perencanaan anggaran tersebut yang menjadi tahapan
selanjutnya umtuk menjembatani antara perencanaan pembangunan
dan implementasi perencanaan.
3. Penggerakan/Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan pembangunan, adanya koordinasi antara


stakeholder menjadi jaminan dalam segala usaha pembangunan
untuk berjalan dalam arah yang sesuai dan menuju pada pencapaian
sasaran. Koordinasi tersebut adalah upaya yang dilakukan untuk
menghasilkan pembangunan yang efisien dalam pemanfaatan
sumber daya agar sasaran dan tujuan tercapai secara optimal.

Di Indonesia, pelaksanaan perencanaan tata ruangnya meliputi


prosedur penyusunan tata ruang dan prosedur penetapan
rencana tata ruang yaittu rencana umum tata ruang dan rencana
rinci tata ruang.
4. Pengendalian dan Pengawasan

Pengendalian pembangunan dilakukan untuk mengawasi,


mengevaluasi, dan melakukan tindakan korektif terhadap
pelaksanan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana.

Pemantauan dan evaluasi yang dilakukan dalam pengendalian


pembangunan dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh
pembangunan telah dilaksanakan dan bagaimana hasil
pembangunan tersebut berdampak terhadap aspek lain yang
diukur dengan sasaran yang ingin dicapai dalam rencana awal
pembangunan.
4. Pengendalian dan Pengawasan
Evaluasi terbagi ke dalam dua jenis berdasarkan waktu evaluasi, yaitu :

● On-going Evaluation, Evaluasi ini dilakukan pada saat proses


perencanaan masih berlangsung, hasil evaluasi dapat langsung
dijadikan masukan di dalam produk perencanaan.
● Ex-Post Evaluation, Evaluasi ini dilakukan pada saat proses
perencanaan telah selesai dilakukan dimana hasil evaluasi akan
dijadikan masukan di dalam proses perencanaan periode selanjutnya.
TERIMAKASIH