Anda di halaman 1dari 17

ANGGARAN PERSEDIAAN

Kelompok VII :

o Stella Angelica –
43218110099
o Wini Kuswini –
43218110127
o Fitri Hariyati –
43218110096
o Irma Apriyanti –
43216120061
Defenisi anggaran
perusahaan dan anggaran
persediaan
Karakteristik/jenis anggaran
persediaan

Fungsi anggaran

Tujuan anggaran persediaan

Metode penilaian
anggaran persediaan
Definisi Anggaran Perusahaan & Persediaan

Definisi Anggaran Perusahaan


Anggaran perusahaan atau sering dikenal
dengan budget memiliki pengertian yang beraneka
ragam, namun masing-masing pengertian tersebut
memiliki inti pengertian yang sama. Anggaran
adalah suatu rencana rinci yang dinyatakan secara
formal dalam ukuran kuantitatif untuk menunjukan
sumber-sumber yang akan diperoleh dan digunakan
selama jangka waktu tertentu, umumnya satu
periode atau satu tahun.
Definisi Anggaran Persediaan
Anggaran persediaan merupakan anggaran
yang merencanakan secara terperinci
berapa nilai persediaan pada periode yang
akan datang.
Anggaran Persediaan pada Perusahaan Dagang

1.Perencanaan Barang Dagang


Formula dalam menyusun barang dagang :
Persediaan awal : xxx
Pembelian barang dagang
: xxx    +    
Persediaan akhir / Barang siap dijual : xxx
Anggaran Persediaan pada Perusahaan Dagang

2. Penyusunan Anggaran Barang Dagang

 Anggaran Kebutuhan Barang Dagang

Anggaran Pembelian Barang Dagang

 Rencana Persediaan Barang Dagang


Anggaran Persediaan pada Perusahaan Dagang

 
3. EQQ (Economical Order Quality)
Rumus :
EOQ   =      
Ket :
S : Biaya tetap
R : Penjualan tahunan
P : Harga beli per unit
I : Biaya penyimpanan (%)
Contoh Soal EQQ

 Diketahui :  
1.    Barang dagang / tahun : 364 unit
2.    Harga beli / unit : Rp. 16,000,000
3.    Biaya tetap : Rp. 7,280,000
4.    Biaya penyimpanan : 40%
 
EOQ   =        =    = 828  unit
 
Pertanyaan :
Berapa kali pesanan dalam setahun agar mendapat nilai paling ekonomis?
Jawaban :

1). Jika pemesanan 182 unit dilakukan 2x :

2 x pesanan (182 unit)


 
Nilai rata-rata persediaan : 182 unit x 16,000,000 = Rp.   1,465,000,000
2                               
Biaya persediaan : 40 % x 1,465,000,000 = Rp.       586,000,000
Biaya pesanan : 2 x Rp. 7,280,000 = Rp.         14,500,000
Biaya barang dagang/tahun : 364 unit x 16,000,000 = Rp.   5,824,000,000 +

                                            Jumlah biaya / thn = Rp.   6,424,500,000

2). Jika pemesanan 91 unit dilakukan 4x :

4 x Pesanan (91 unit)


 
Nilai rata-rata persediaan : 91 unit x 16,000,000 = Rp.      728,000,000
2
Biaya penyimpanan : 40% x 728,000,000 = Rp.      291,200,000
Biaya pesanan : 4 x Rp. 7,280,000 = Rp.        29,120,000
Biaya barang dagang/ tahun : 364 unit x 16,000,000 = Rp.  5,824,000,000 +

                                             Jumlah biaya / thn = Rp.  6,144,320,000


Jawaban :

3). Jika pemesanan 52 unit dilakukan 7x :

7 x Pesanan (52 unit)

Nilai rata-rata persediaan: 52 unit x 16,000,000 = Rp.      832,000,000


2
Biaya penyimpanan : 40% x 832,000,000 = Rp.      332,800,000
Biaya pesanan : 7 x  7,280,000 = Rp.        50,960,000
Biaya barang dagang /tahun : 364 unit x 16,000,000 = Rp.   5,824,000,000 +

                                            Jumlah biaya /thn = Rp.   6,207,760,000

2x pemesanan 4x pemesanan 7x pemesanan

Rp 6,424,500,000 Rp 6,144,320,000 Rp 6,207,760,000


Karakteristik Anggaran
Anggaran mengestimasi potensi laba satuan bisnis

Anggaran dinyatakan dalam istilah moneter,


walaupun jumlah moneter dapat saja ditunjang
oleh jumlah non moneter (missalnya, unit yang
dijual atau diproduksi).

Mencakup periode satu tahun

Anggaran merupakan komitmen manajemen;


manajer sepakat untuk mengemban tanggung
jawab atas pencapaian tujuan yang
dianggarkan
Usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh
otoritas yang lebih tinggi ketimbang oleh
pihak yang menganggarkan (budgetee).

Begitu disetujui, anggaran hanya dapat


diubah dalam kondisi yang ditetapkan

Secara berkala, kinerja finansial


sesungguhnya dibandingkan dengan
anggaran, dan selisihnya dianalisis dan
dijelaskan
Fungsi Anggaran Persediaan & Tujuan Anggaran Persediaan

Fungsi Anggaran Persediaan Tujuan Anggaran Persediaan

1. secara terperinci berapa nilai persediaan pada periode yang


 Menghilangkan pengaruh ketidakpastian
akan datang Untuk digunakan sebagai landasan yuridis formal
 Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian dalam memilih sumber dan penggunaan dana
 Untuk mangantisipasi perubahan pada demand dan supply 2. Untuk mengadakan pembatasan jumlah dana yang dicari dan
yang digunakan
3. Untuk merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis
penggunaan dana sehingga dapat mempermudah pengawasan
4. Untuk merasionalkan sumber dan penggunaan dana agar dapat
mencapai hasil yang maksimal
5. Untuk menyempurnakan rencana yang telah disusun karena
dengan anggaran lebih jelas dan nyata terlihat
Metode Penilaian dalam Anggaran Persediaan

Metode FIFO (First In First Out)

Yakni barang yang masuk (dibeli) lebih awal, dianggap


dikeluarkan (diproses) lebih awal pula.

Metode LIFO (Last In First Out)

Yakni barang yang masuk (dibeli) lebih akhir,


dianggap dikeluarkan (diproses) lebih awal.

Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average)

Yakni barang yang dikeluarkan (diproses) dinilai berdasarkan


rata-rata dari harga beli yang pernah dilakukan (terjadi).
Contoh Soal

Contoh :
PT. Bumi Damai dalam bulan Januari 2005 sebagai berikut :
Persediaan tanggal 1 Januari 2005 = 200 kg @ Rp 100,-

Pembelian :
Tanggal Jumlah (kg) Harga per  kg
12 Januari 400 Rp 120
26 Januari 500 Rp 90
31 Januari 100 Rp 110
Pemakaian :

Tanggal Jumlah (kg) Dari pembelian


16 Januari 500 Tahun lalu = 100 kg
2005
  Tanggal 12 Januari = 400
 
300 Tahun lalu = 100 kg
28 Januari
Tanggal 26 Januari = 200
2005
Pertanyaan : kg

Hitunglah harga perolehan menggunakan metode FIFO, LIFO dan Moving Average!
Jawaban

Metode FIFO:

Persediaan awal Januari 2005 = 200 kg x Rp 100 = Rp 20.000

Pembelian bahan :
Tanggal 12/1/2005 = 400 x Rp 120 = Rp 48.000
Tanggal 26/1/2005 = 500 x Rp 90 = Rp 45.000
Tanggal 31/1/2005 = 100 x Rp 110 = Rp 11.000
Pembelian kotor         1000                 = Rp 104.000 
Pengembalian Pembelian= 100 x Rp 90 = (Rp 9.000)

Pembelian Bersih Sebanyak = 900kg = Rp 95.000

Harga Perolehan Bahan Siap Dipakai = 1.100kg = Rp 115.000


Persediaan bahan per 31 Januari 2005 (akhir)
100 x Rp 110 = Rp 11.000
250 x Rp 90 = Rp 22.500

Total = (Rp 33.500)

Harga Perolehan Barang yang Dipakai = Rp 81.500


Jawaban

Metode LIFO:

Persediaan awal Januari 2005 = 200 kg x Rp 100 = Rp 20.000

Pembelian bahan :
Tanggal 12/1/2005 = 400 x Rp 120 = Rp 48.000
Tanggal 26/1/2005 = 500 x Rp 90 = Rp 45.000
Tanggal 31/1/2005 = 100 x Rp 110 = Rp 11.000
Pembelian kotor         1000                 = Rp 104.000 
Pengembalian Pembelian= 100 x Rp 90 = (Rp 9.000)

Pembelian Bersih Sebanyak = 900kg = Rp 95.000

Harga Perolehan Bahan Siap Dipakai = 1.100kg = Rp 115.000


Persediaan bahan per 31 Januari 2005 (akhir)
200 x Rp 100   = Rp 20.000
150 x Rp 120  = Rp 18.000

Total = (Rp 38.000)

Harga Perolehan Barang yang Dipakai = Rp 77.000


Jawaban

Metode Moving Average:

Persediaan awal Januari 2005 = 200 kg x Rp 100 = Rp 20.000

Pembelian bahan :
Tanggal 12/1/2005 = 400 x Rp 120 = Rp 48.000
Tanggal 26/1/2005 = 500 x Rp 90 = Rp 45.000
Tanggal 31/1/2005 = 100 x Rp 110 = Rp 11.000
Pembelian kotor         1000                 = Rp 104.000 
Pengembalian Pembelian= 100 x Rp 90 = (Rp 9.000)

Pembelian Bersih Sebanyak = 900kg = Rp 95.000

Harga Perolehan Bahan Siap Dipakai = 1.100kg @Rp 104,545 = Rp 115.000


Persediaan bahan per 31 Januari 2005 (akhir) = 350kg x Rp 104,545 = Rp 36.591

Harga Perolehan Barang yang Dipakai = 750kg x Rp 104,545 = Rp 78.409


THANKS 

VII