Anda di halaman 1dari 9

MANAJEMEN RISIKO BANK SYARI’AH

KELOMPOK 1
1. Rosedewanty Mayangsari 1700032017
2. Fadhila Mumtaz 1700032062
3. Litizya Nabila 1700032078
4. Ardiansyah Aco 1700032111
Perkembangan Pengaturan Bank
Syari’ah
Bank syariah adalah lembaga keuangan yang tumbuh dan
berkembang di Indonesia sejak 16 tahun yang lalu dimulai dengan
berdirinya Bank Muamalat Indonesia. Karena perbankan syariah
memiliki karakteristik yang khas dibandingkan dengan perbankan
konvensional, maka diperlukan adanya undang-undang yang khusus
mengatur perbankan syariah yaitu diatur oleh UU No. 21 Tahun 2008
Undang-undang ini mengatur tentang:
1) Jenis Usaha Bank Syariah
2) Ketentuan pelaksanaan syariah
3) Kelayakan usaha
4) Penyaluran dana bank syariah
5) Larangan bagi bank syariah dan Unit Usaha Syariah
6) Kepatuhan Syariah
UU ini memberikan peluang yang sangat besaruntuk pertumbuhan bank syariah
Sistem Pengendalian Manajemen OJK dan BI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga independen dan bebas dari
campur tangan pihak lain, tugas dan wewenang pengaturan,pengawasan,
pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Otoritas Jasa Keuangan. Akan tetapi OJK tetap bekerjasama
dengan BI dan memiliki kewenangannya masing-masing dalam
menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan. Pengaturan dan
Pengawasan kelembagaan, kesehatan, aspek kehati-hatian, dan pemeriksa
bank merupakan lingkup microprudentialyang menjadi tugas dan wewenang
OJK.
Peraturan otoritas jasa keuangan nomor 65/POJK.03/2016 tentang penerapan
manajemen risiko bagi bank umum syari'ah dan unit usaha syari'ah. Bank
Indonesia menghadapi risiko yang berpotensi meningkat dan kompleks yang
disebabkan oleh dinamika perkembangan dan tuntutan, baik secara internal
maupun eksternal. Untuk itu, diperlukan pengelolaan risiko secara komprehensif
dan terintegrasi dengan penguatan pada aspek pengendalian intern.
Pelaksanaan manajemen risiko
1. Pengendalian risiko secara first line of defense yang dilakukan oleh unit kerja yang
melaksanakan proses bisnis.
2. Pengendalian risiko secara second line of defense dilakukan oleh unit kerja yang memiliki
fungsi manajemen risiko dan independen dari unit kerja yang melaksanakan proses bisnis.
3. Pengendalian risiko secara third line of defense dilakukan oleh unit kerja yang melaksanakan
fungsi audit internal guna memastikan kegiatan pengendalian risiko dilaksanakan secara efekti
ADA PERTANYAAN?
Kesimpulan
Manajemen risiko merupakan bagian yang sangat penting dalam transaksi usaha masyarakat
pada Bank Syariah. Sesuai dengan analisis di atas, bank syariah akan menghadapi:
(1) risiko sebagaimana yang dihadapi bank komersial, kecuali bunga, serta
(2) risiko-risiko yang unik dan khusus menurut karakter sistem bagi hasil:mudharabah dan
musyarakah.