Anda di halaman 1dari 14

Landasan dan Prinsip

Pengembangan Kurikulum
Landasan Pengembangan
Kurikulum

Psikologi
s
Filosofis

Sosiologi
s

Pengenbangan
Kurikulum
Landasan Filosofis
 Landasan filosofis pengembangan kurikulum adalah hakekat
realitas, ilmu pengetahuan, sistim nilai, nilai kebaikan,
keindahan, dan hakekat pikiran yang ada dalam masyarakat
(Dimyati dkk, 2002).
 The curriculum should meet the needs of the individual child,
of society, of business, of the art (Longstreet W.S., 1993)
 Peranan filsafat dalam pengembangan kurikulum bersifat
ilmiah dan mempunyai 3 sumbangan utama, yaitu 1)
merumuskan dan mempertimbangkan tujuan pendidikan, 2)
memilih dan menyusun bahan, dan 3) perumusan bahasa
khusus kurikulum. (Smith dalam Sukmadinata, 2007)
 Kurikulum sebagai komponen pendidikan harus menjelaskan
secara eksplisit tentang 1) arah dan tujuan pendidikan yang
akan dicapai, 2) materi atau bahan ajar yang harus dipelajari
pesertdidik, 3) strategi yang akan digunakan, dan 4)
bagaimana cara menentukan keberhasilannya (Sukmadinata,
2008).
Landasan Filosofis
Philosophical Problem Area
Position
(1) Ontology (1) Epistemology (1) Axiology Representative
Philosophical Schools
(1) Other- Absolute reality Absolute knowledge The absolute good is The world’s religions;
Worldly exists in another is received (by God or the ideal Idealism;
supernatural world revelation (wahyu/ Transcendentalism
wangsit) or other
mystical means)

(1) Earth- Absolute reality is Absolute knowledge The absolute good is Rational realism;
Centered inherent in this world is discovered the law of nature Empirical realism;
(the cosmos) (through the senses Positivism; Naturalism;
reason) Logical empirical;
Dialectical; Materialism

(1) Man- Relative reality is Relative knowledge is The relative good is Pragmatism;
Centered human experience constructed (out of preferred consequence Instrumentalism;
experience) Experimentalis;
Existentialism;
Phenomenology
Landasan Psikologis
 Kurikulum harus mampu melayani pesertadidik yang
unik dan berbeda-beda. Keunikan dan keberbedaan itu
terjadi karena kondisi psikologisnya yang berbeda. Kondisi
psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang
sebagai individu yang dinyatakan dalam berbagai bentuk
prilaku dalam interaksi dengan lingkungannya
(Sukmadinata, 2008).
 Kondisi psikologis yang berbeda ini disebabkan
perbedaan tahap perkembangannya, latar belakang
social budaya, dan faktor bawaan. Minimal ada 2 bidang
psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu
psikologi perkembangan dan psikologi belajar
(Sukmadinata, 2008 dan Sanjaya, 2008). Kedua psikologi
ini sangat diperlukan dan menentukan dalam merumuskan
tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan
menerapkan metode pembelajaran, dan teknik-teknik
penilaian.
Learning Styles Culture
 Imaginative TEACHING FOR  Knowing self
 Analytical  Knowing student
 Common sense DIVERSITY  Learning styles
 Dynamic  Racism
 Fostering empathy
 Celebrating diversity
Hemispheric Mode  Celebrating objectives
 Left brain  Involving student
 Whole brain  Involving community
 Right brain

Antiracism
Learning Modality  Cultural respect
 Visual/spatial  Community respect
 Sound pattern  Skin color
 Auditory  Hair variations
 Moving/touching  Languages
 Kinesthetic  Cultural holidays
 Stereotyping

Special Needs
 Physical Human Rights
 Communication  Social attitudes
 Social/emotional Gender  Belief
 Behavioral  Gender differences  Prejudice
 Intellectual  Sexual orientation  Discrimination
 Multiple handicap  Stereotyping
 Gifted/talented  Overgeneralization
 At risk  Self-fulfilling prophecy
Poverty
 Migrant/bilingual  Scapegoating
 Physical health
 Inclusion  Mental health
 School behavior
 Learning
Landasan Sosiologis
 Pendidikan mempersiapkan pesertadidik untuk terjun
ke lingkungan masyarakat, oleh karenanya pendidikan
harus memberikan bekal pengetahuan, ketrampilan
serta nilai-nilai untuk hidup , bekerja dan mencapai
perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Oleh
karenanya kehidupan masyarakat dengan segala
karakteristik, budaya, dan pengetahuan dan teknologi
yang berkembang menjadi landasan sekaligus acuan
bagi tujuan, isi, maupun proses pendidikan.
 Sehubungan dengan landasan ini dalam penyusunan
kurikulum, kita harus memperhatikan bahwa 1)
kekuatan sosial baik perubahan pola hidup maupun
perubahan kehidupan sosial politik dapat mempengaruhi
kurikulum, dan 2) kemajuan IPTEK merupakan bahan
pertimbangan penyusunan kurikulum.
Prinsip Pengembangan Kurikulum

Efisiensi
Relevansi

Fleksibili Efektivit
tas as

Kontinuitas
Prinsip Relevansi

 Kurikulum sebagai pedoman, program, implementasi harus membekali dan


menyiapkan pesertadidik dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan, yang
tidak hanya untuk saat ini tetepi juga untuk masa depan, oleh karenanya kurikulum
harus memiliki prinsip relevansi, yaitu relevansi yang bersifat internal yang
menunjukan keterpaduan kurikulum, dan relevansi yang bersifat ekternal yang
menunjukan penyiapan pesertadidik untuk bisa hidup dan bekerja di masyarakat.
 Prinsip yang bersifat internal dimaksudkan bahwa adanya keterpaduan antara: a)
tujuan yang ingin dicapai, b) isi atau materi atau pengalaman belajar yang harus
dimiliki siswa, c) proses atau metode atau strategi penyampaian, dan d) alat dan
cara penilaian yang digunakan untuk melihat ketercapaian tujuan. Sedangkan
prinsip yang bersifat eksternal dimaksudkan bahwa tujuan, isi, proses belajar
tersebut yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan,
kebutuhan, dan perkembangan masyarakat.
Prinsip Fleksibilitas

 Kurikulum sebagai dokumen dan lebih-lebih sebagai implementasi tidak


bersifat kaku artinya harus fleksibel, karena harapan kurikulum yang ideal
pada tataran implementasi banyak mengalami hambatan, misalnya jumlah
dan mutu guru, latar belakang dan kemampuan siswa yang beranekaragam
(diversity), sarana prasaran dan media pembelajaran, dan sebagainya.
 Prinsip fleksibilitas menurut memiliki dua sisi, yaitu; a) fleksibel bagi guru
artinya kurikulum harus memberikan keleluasan untuk mengembangkan
program pengajarannya sesuai kemampuan dan kondisi yang ada, b)
fleksibel bagi siswa artinya kurikulum harus mampu menyediakan berbagai
program pilihan sesuai dengan diversity bakat dan minat siswa (Sanjaya,
2008)
Prinsip Kontinuitas

 Kontinuitas atau berkesinambungan artinya kurikulum sebagai proses


pembelajaran harus berlangsung secara berkesinambungan dalam
penyajian materi pelajaran dalam berbagai jenis jenjang dan jenis
program pendidikan. Oleh karenanya pengembangan kurikulum perlu
dilakukan secara bersama, perlu ada komunikasi, kerja sama antara
pengembang kurikulum tingkat SD, SMTP, SMTA, dan perguruan tinggi.
Prinsip Efektivitas

 Prinsip efektifitas berkaitan dengan pencapaian tujuan kurikulum, yaitu


sejauh mana ketercapaian tujuan yang ditetapkan melalui proses
kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektifitas dalam
pengembangan kurikulum, yaitu efektifitas yang berhubungan dengan
kegiatan guru dalam mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas,
dan efektifitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar
dalam waktu tertentu. Kurikulum dikatakan efektif jika kedua sisi
efektifitas tersebut terpenuhi..
Prinsip Efisiensi

 Prinsip yang tidak kalah pentingnya dalam pengembangan kurikulum


adalah prinsip efisiensi. Efisiensi merupakan perbandingan antara
pengorbanan, usaha, tenaga, waktu, biaya yang dikeluarkan dengan hasil
yang diperoleh. Kurikulum dikatakan memiliki efisiensi yang tinggi jika
dengan segala keterbatasan (minimal) dapat memperoleh hasil yang
maksimal.
Terima kasih,
semoga
bermanfaat