Anda di halaman 1dari 9

STATUS ASMATIKUS

Bima sw
Latar Belakang

Asma

Asma adalah suatu gangguan jalan nafas pada bronkus yang menyebabkan spasme
bronkus. Asma merupakan reaksi hypersensitive yang disebabkan oleh biokimia,
imunologi, infeksi, endokrin dan faktor fsikologis.

Asma adalah penyakit jalan nafas obstrukif intermiten dimana trakea dan bronki berespon
hiperaktif pada stimulasi. Obstruksi saluran nafas ini memberikan gejala-gejala asma
seperti batuk, mengi dan sesak nafas. Diduga baik obstruksi maupu n peningkatan respon
terhadap rangsangan didasari oleh inflamasi saluran nafas.
Tujuan Dan Rumusan Masalah

TUJUAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana penanganan secara ga
wat darurat status asmatikus

RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah bagaimana penanganan secara kritis status asmatikus?
Konsep Teori

STATUSASMATIKUS
Status Asmatikus adalah suatu serangan asma yang berat suatu asma yang
refraktor terhadap obat-obatan yang konvensional status asmatikus merupakan
keadaan emergensi dan tidak langsung memberikan respon terhadap dosis
umum bronkodilator. (Depkes RI, 2017 ).

Status Asmatikus yang dialami penderita asma dapat berupa pernapasan wheezing
ronchi, kemudian bisa berlanjut menjadi pernapasan labored, pembesaran vena lehe
r, hipoksemia, respirasi sianosis, dyspnea dan kemudian berakhir dengan tachypnea.
Namun makin besarnya obstruksi di bronkus maka suara wheezing dapat hilang dan
biasanya menjadi pertanda bahaya gagal pernapasan.

Manifestasi klinik pada pasien asmatikus adalah batuk, dyspnoe (sesak nafas), dan
wheezing (terengah-engah). Pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri
Dada.
Semua penderita yang dirawat inap di rumah sakit memperlihatkan keadaan
obstruktif jalan napas yang berat. Perhatian khusus harus diberikan dalam perawatan,
sedapat mungkin dirawat oleh dokter dan perawat yang berpengalaman.
Pemantauan dilakukan secara tepat berpedoman secara klinis untuk dapat menilai
respon pengobatan apakah membaik atau justru memburuk.

Penderita status asmatikus yang dirawat inap di ruangan, dilakukan penatalaksaanan se


bagai berikut :
1. Pemberian terapi oksigen dilanjutkan
2. Pemberian Agonis B2
3. Aminofilin Diberikan melalui infus
4. Kortikosteroid dosis tinggi
5. Antikolonergik Iptropium bromide
CRITICAL THINKING
Dalam penelitian Ariz Pribadi dan Darmawan BS yang berjudul Serangan Asma Berat di Jurnal Ilmu
Kesehatan Anak FKUI Vol. 5, No. 4, Maret 2015: 171 - 177 Jakarta.

Mengatakan bahwa Penanganan awal terhadap pasien dalam serangan asma adalah pemberian b2-agonis
secara nebulisasi yang dapat diulang dua kali dengan selang waktu 20 menit. Pada pemberian ketiga dapa
t ditambahkan obat antikolinergik.

Pasien yang datang dengan serangan asma berat yang disertai dehidrasi dan asidosis metabolik, mungkin
akan mengalami takifilaksis atau refrakter, yaitu respons yang kurang baik terhadap nebulisasi B2 agonis.
Pasien seperti ini cukup dinebulisasi sekali saja kemudian secepatnya dirawat untuk mendapatkan obat
Intravena.

Penanganan gawat darurat yang dipaparkan oleh penelitian Ariz Pribadi dan Darmawan BS tersebut
menjelaskan bahwa tindakan utama yang dilakukan adalah memberikan Oksigen kemudian Asidosis dan
Dehidrasi diatasi terlebih dahulu lalu memberikan Steroid IV serta Aminofilin dan lakukan Nebulasi tiap
1-2 jam.
Hal ini sesuai dengan konsep teori yang dipaparkan bahwa dilakukan penatalaksaanan
sebagai berikut :
1. Pemberian terapi oksigen dilanjutkan Terapi oksigen dilakukan mengatasi dispena, sianosis, dan
hipoksemia. Aliran oksigen yang diberikan didasarkan pada nilai nilai gas darah. PaO2 dipertahankan
antara 65 dan 85 mmHg.
2. Agonis B2 Dilanjutkan dengan pemberian inhalasi nebulasi 1 dosis tiap jam, kemudian dapat
diperjarang pemberiannya setiap 4 jam bila sudah ada perbaikan yang jelas. Sebagian alternative lain
dapat diberikan dalam bentuk inhalasi dengan nebuhaler/volumatic atau secara injeksi. Bila terjadi
perburukan, diberikan drips salbutamol atau terbutalin.
3. Aminofilin Diberikan melalui infus/drip dengan dosis 0,5-0,9 mg/kg BB/jam. Pemberian per drip
didahului dengan pemberian secara bolus. Gejala toksik pemberian aminofilin perlu diperhatikan. Bila
terjadi mual, muntah, atau anoreksia dosis harus diturunkan. Bila terjadi konfulsi, aritmia jantung
drip aminofilin segera dihentikan karena terjadi gejala toksik yang berbahaya.
4. Kortikosteroid. Kortikosteroid dosis tinggi intraveni diberikan setiap 2–8 jam tergantung
beratnya keadaan serta kecepatan respon. Preparat pilihan adalah hidrokortison 200–400 mg
dengan dosis keseluruhan 1–4 gr / 24 jam. Sediaan yang lain dapat juga diberikan sebagai
alternative adalah triamsiolon 40–80 mg, dexamethason/betamethason 5–10 mg. bila tidak tersedia
kortikosteroid intravena dapat diberikan kortikosteroid per oral yaitu predmison atau predmisolon
30–60 mg/ hari.
terimakasih