Anda di halaman 1dari 14

MENGHIDUPKAN IJTIHAD

DALAM PENGEMBANGAN
ILMU DAN ALAM SEMESTA
SEBAGAI AYAT KAUNIAH

KELOMPOK 5
IJTIHAD
• Ada 3 istilah ; ijtihad, jihad, mujahadah.
• Artinya berusaha sungguh-sungguh.
• Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid.
• Kata ijtihad dapat berarti al-thaqah (kemampuan, kekuatan)
atau berati al-masyaqqah (kesulitan, kesukaran). Dikatakan
demikian, karena lapangan ijtihad adalah masalah-masalah
yang sukar dan berat.
• Ijtihad tidak boleh terlepas dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah
sebagai sumber pokok. Kedua sumber sudah tercakup
segala kepentingan manusia. Prinsip-prinsip pokok sudah di
ayat Al-Qur’an (QS Al-An’am [6]:89).
• Jadi Ijtihad adalah mengerahkan segenap kemampuan
intelektual dan spiritual untuk mengeluarkan hukum yang
ada dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, sehingga hukum
tersebut dapat diterapkan dalam lapangan kehidupan
manusia sebagai solusi atas persoalan-persoalan umat.
Landasan Ijtihad

• Ijtihad dilakukan karena orang tidak menemukan pedoman


dalam bentuk konkret dari Al-Qur’an maupun Al-Hadis,
sementara orang tersebut perlu mengambil sikap dan
tindakan yang diperlukan untuk mengatasi suatu masalah.
• Ijtihad merupakan bagian dari ajaran islam, dan karena itu
dapat pula disebut sebagai suatu sumber hukum.
• Walaupun suatu ijtihad merupakan suatu institusi yang
dianggap independent, namun hal itu dilakukan setelah
orang berusaha merujuk pada Al-Quran atau sunnah Nabi,
bahkan dalam rangka dinamika ajarasn islam itu sendiri
Syarat Dan Sifat Mujtahid
Syarat :
1. Memahami Al-Qur,an
2. Memahami Sunnah Rasul
3. Menguasai bahasa Arab
4. Mengetahui masalah-masalah hukum yang telah ijma
5. Menguasai ilmu ushul fiqh, terutama metode qiyas dan ijma
6. Memahami maksud dan tujuan syariat
7. Mengenal manusia dan kehidupan sekitarnya, dan
8. Memiliki sikap adil dan takwa

Sifat :
Sifat adalah kepribadian yang idealnya dimiliki oleh seorang mujtahid
untuk sempurnanya hasil ijtihad. Sifat ini merupakan adab batin
seseorang. Jika sifat-sifat ideal tidak dimiliki, tidak berarti gugurnya
hasil ijtihad.
Ijtihad Dari Masa Ke Masa
Ijtihad banyak diterapkan dalam bidang fikih. Aktivitas ijtihad secara
nyata telah dipraktikan oleh para imam mahzab. Melalui ijtihad pakar
fikih tersebut, umat islam mampu menyelesaikan problematika yang
dihadapinya terutama dalam bidang fikih. Selanjutnya berproses
menurut irama persoalan-persoalan zaman yang dihadapi secara
aktual.
Periode puncak dalam perkembangan hokum ditandai oleh
munculnya para mujtahid. Para mujtahid berhasil mensintesa dengan
dasar-dasar ilmiah yang kuat dan diakui oleh sebagian besar umat
islam, termasuk sekarang di Indonesia.
Perkembangan ilmu fikih tidak lagi disebut periode taqlid. Julukan
periode itu sebagai masa kebekuan dan kemendakan.
Seruan untuk membuka kembali pintu ijtihad dilakukan pertama kali
oleh Ibnu Taimiyah pada abad ke-13 Masehi. Dikobarkan kembali
pada abad ke-20 Masehi.
Pada zaman modern, seruan ijtihad semakin meluas menyangkut
persoalan konkret seperti pedidikan, ekonomi, politik, dan
kemasyarakatan.
Tujuan Mengkaji Alam Semesta
Sebagai Ayat Kauniah
Kajian tentang alam semesta ini bertujuan untuk
mengetahui peta kehidupan manusia. Menurut aliran
empirisisme bahwa pengetahuan manusia itu diperoleh
lewat pengalaman konkret.
Menurut Capra, pengertian alam semesta sebagai sesuatu
yang bersifat organic, hidup, dan spiritualdigantikan oleh
pengertian bahwa dunia itu laksana mesin, dan mesin
dunia itu kemudian menjadi metafora yang dominan pada
zaman modern.
Sikap Ilmu Muslim
Sebenarnya, para pakar muslim sudah ada yang mulai
berlomba untuk mencarikan solusi atas problematika ilmu-
ilmu barat. Disini pakar muslim, memiliki kesempatan
untuk menawarkan paradigma islam sebagai landasan
menyusun teori-teori keilmuan.
Upaya umat muslim untuk memikirkan dan mengelola
alam. Sebenarnya telah dirintis oleh ulama zaman
keemas an islam selama 350 tahun (abad ke 8-11
Masehi) yakni para ulama yang memiliki ilmu agama,
filsafat dan ilmu sosial. Terhadap teori ilmu pengetahuan ,
Al-Qur’an memberikan gambaran yang secara urut
memiliki skala naik, yaitu; Ilmu yaqin (QS Al-Takatsur [102]
: 5), Ainul yaqin QS Al-Takatsur [102] : 7), Haqqul yaqin
(QS Al-Haqqah [69] : 51)
Hakikat Alam Semesta

• Dalam Bahasa Arab, alam semesta berakar kata ‘alam,


seakar, kata dengan ‘ilm (ilmu) dan ‘alamah (petanda).
• Dalam Al-Qur’an, alam adalah suatu yang diciptakan
oleh Allah SWT. Dengan demikian, alam adalah ruang
dan waktu yang diciptakan oleh Allah SWT, karena
ruang dan waktu diciptakan berarti ia makhluk,
sedangkan Allah yang menciptakan disebut khalik.
• Jadi, alam semesta adalah semua makhluk; semua
yang diciptakan Allah SWT yang terdiri atas
bermacam-macam jenis, misalnya, alam manusia,
alam hewan, alam tumbuhan, bemda-benda hidup dan
sebagainya.
Macam-Macam Alam

1. Alam shahadah
2. Alam ghaibah
3. Alam akhirat

Alam shahadah dan ghaibah berada di dunia


sekarang ini, sedangkan alam akhirat akan ditemui
setelah kita meninggalkan dunia.
Alam Semesta Dan Al-Qur’an
Saling Menjelaskan
Al-Qur’an berbicara tentang alam. Ayat-ayat Al-Qur’an
yang membicarakan alam umumnya berkaitan dengan
dorongan agar manusia menggunakan akal, memikirkan
apa yang terdapat pada alam semesta.

1. Alam diciptakan secara rapi, seimbang dan sempurna


2. Semua yang ada di alam muslim dan bertasbih Semua alam
bergerak menurut hokum dan ukuranny
3. Semua yang ada di alam berpasangan
4. Alam mengandung seni artistic
5. Belajar pada alam
6. Allah yang mengatur alam semesta
Proses Penciptaan Alam
• Kata “proses” berarti adanya suatu tahapan tertentu
menuju kesempurnaan.
• Pada awalnya, langit dan bumi itu keduanya suatu
yang padu. Kemudian Allah pisahkan antara keduanya.
Sehingga menjadi langit dan bumi. Setelah dipisahkan
menjadi dua, Allah menciptakan bumi dalam dua masa
(fi yaumaini) artinya, khusus untuk bumi saja diciptakan
dalam 2 masa, setelah bumi tercipta, langit masih
merupakan asap.
• Bumi dalam 2 masa, kemudian langit dengan bumi 6
masa, berarti untk proses penciptaan langit saja 4
masa.
• Dengan demikian penciptaan langit, bumi, matahari,
bulan, dan segala isinya dalam 6 masa sudah
sempurna.
Bumi : Planet untuk manusia

• Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, maupun ilmu


pengetahuan alam, bumi dan keteraturan
komposisinya merupakan kasih sayang Allah SWT
untuk menjamin kehidupan manusia dan mahluk-
mahluk lainnya. Semua itu sudah diatur sedemikian
rupa sehingga akurasi dan ekosistemnya tertata rapi.
Bumi yang disediakan oleh Allah itu, merupakan
anugrah besar agar manusia mampu menjalani
kehidupan tanpa hambatan.
Langit : Atap yang terpelihara

• Ada 2 struktur inti bumi, yaitu inti dalam dan inti luar.
Inti dalam berbentuk padat, sedangkan inti luar
berbentuk cair. Lapisan luar itu membentuk magnet.
Medan magnet ini melindungi bumi dari kemungkinan
bahaya dari angkasa. Seperti meteor juga angin
matahari. Inti bumi mengandung unsur- unsur magnet
seperti besi dan nikel. Atmosfer dapat dilalui oleh sinar
yang tidak berbahaya, seperti gelombang radio dan
cahaya tampak. Kemudian ozon bagian dari langit
yang diciptakan secara khusus. Ozon dihasilkan dari
oksigen.
• makna langit sebagai atap yang terpelihara ialah
dengan mencermati hal diatas.
Prinsip-Prinsip Memahami Alam

1. Alam jagat ialah selain dari Allah; roh, benda, waktu


dan tempat.
2. Segala wujud yang ada adalah fisik dan non-fisik
sekaligus tidak terpisah diantaranya.
3. Alam dan isinya senantiasa berubah.
4. Setiap unsur bergerak mengikuti hokum umum yang
menunjukkan kesatuan
5. Ada hubungan yang erat antara sebab dan musabab
6. Alam semesta ini adalah teman yang setia bagi
kemajuan manusia
7. Alam ini diciptakan dari tiada menjadi ada