Anda di halaman 1dari 32

PENGERTIAN PERKAWINAN

DAN AKIBAT PERKAWINAN

Surini A. Sjarief
Endah Hartati
PENGERTIAN HUKUM
KELUARGA
Adalah hubungan-hubungan hukum yang timbul
dari kehidupan keluarga sedarah, akibat
perkawinan dan keturunan
Dalam KUHPerdata, hukum keluarga diatur dalam
buku pertama tentang orang, judul dan isinya
tidak sesuai dengan materi hukum perseorangan
karena ternyata juga diatur matri hukum
kekeluargaan.
PENGERTIAN PERKAWINAN
Bagian yang penting dalam hukum keluarga adalah
hukum perkawinan
Perkwinan adalah merupakan suatu kejadian yang
sangat memperngaruhi status hukum seseorang
dalam arti :
a. Timbul kedudukan sebagai suami dan sebagai
istri
b. Jika dalam perkawinan lahir anak, maka
timbul hubungan hukum antara orang tua dan
anak.
PENGATURAN HUKUM PERKAWINAN
a. Sebelum berlakunya UU no. 1 tahun 1974, hukum
perkawinan di Indonesia berbhineka (beraneka ragam),
1. berlaku HOCI
2. berlaku KUHPerdata
3. Hukum Islam
4. peraturan perkawinan campuran
b. Sesudah berlakunya UU perkawinan, berlaku :
1. UU No. 1 Tahun 1974
2. PP No. 9 tahun 1975
3. PP 10 tahun 1983
4. PP 45 tahun 1990
5. Kompilasi hukum Islam kepres No. 1 tahun 1991
PERKAWINAN DITINJAU DARI
KUHPERDATA
Pengertian perkawinan, UU tidak mengatur apa yang dimaksud
dengan perkawinan sehingga ilmu hukumlah yang
merumuskannya :
“Perkawinan adalah suatu pertalian antara seorang laki-laki
dengan seorang wanita yang diakui sah oleh undang-undang yang
bertujuan untuk menyelengarakan kesatuan hidup yan abadi”
Konsepsi perkawinan perdata dapat disimpulkan dari ketentuan
pasal 26 KUHperdata.
a. KUHPerdata hanya mengenal perkawinan yang dilangsungkan
menurut UU dan dihadapan pegawai catatan sipil.
b. Pejabat gereja baru boleh melangsungkan perkawinan apabila
perkawinan menurut UU sudah dilangsungkan di hadapan
pegawai catatan sipil (pasal 81 KUHPerdata)
SEGI NEGATIF DARI LEMBAGA PERKAWINAN
MENURUT KUHPERDATA

a. UU tidak mencampuri upacara-upacara gereja


(tidak diperhatikan aspek religius)
b. UU tidak memperhatikan larangan perkawinan
sebagai mana halnya dalam peraturan agama.
c. UU tidak memperhatikan faktor biologis
misalnya kemandulan.
d. UU tidak memperhatikan motif-motif yang
mendorong pihak-pihak yang melakukan
perkawinan.
SEGI POSITIF DARI LEMBAGA PERKAWINAN
MENURUT KUHPERDATA

a. Perkawinan berdasarkan asas monogami


b. Perkawinan harus berlangsung kekal hanya
putus karena kematian
c. Alasan perceraian ditentukan secara linitatif
oleh UU
PERBEDAAN ANTARA PERKAWINAN DAN
PERJANJIAN

1. Dilihat dari para pihak


2. Isi perjanjian ditentukan oleh para pihak
sedangkan isi perkawinan ditentukan oleh UU.
3. Peralihan hak, hak-hak dan kewajiban yang
timbul dari perjanjian dapat dialihkan
sedangkan hak-hak dan kewajiban yang timbul
dari perkawinan tdak dapat dialihkan.
4. Hapusnya perjanjian ditentukan oelh
kesepakatan para pihak sedangkan hapusnya
perkawinan/ putusnya perkawinan harus
berdasarkan alasan-alasan yang terbatas
dalam UU.
SYARAT-SYARAT PERKAWINAN
Menurut KUHPerdata terdiri dari syarat
materiil yang mengenai diri pribadi para
calon yang akan melangsungkan perkawinan.
Syarat Formil yaitu syarat2 yang mendahului
perkawinan dan pada saat melangsungkan
perkawinan
SYARAT MATERIIL
Syarat Materiil umum :
1. Kata sepakat
2. Batas usia
3. Asas monogami
4. Tenggang waktu tunggu
Syarat materiil Khusus :
5. Larangan perkawinan
6. Izin kawin
Syarat Formil :
7. Pemberitahuan akan berlangsungnya perkawinan (pasal
50 & 51 KUHPerdata)
8. Pengumuman (pasal 52, 53, 54 KUHPerdata)
9. Pelangsungan perkawinan (pasal 57 KUHPerdata)
PERKAWINAN DITINJAU DARI UU NO. 1
TAHUN 1974

Pengertian perkawinan : perkawinan adalah ikatan


lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang
wanita sebagai suami istri sebagai tujuan untuk
membentuk keluarga / rumah tangga yang
bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang
Maha Esa.
UNSUR-UNSUR PERKAWINAN
1. Unsur agama, dapat disimpulkan dari ketentuan
pasal 1, 2, 8, 51 UU No. 1 tahun 1974.
2. Unsur Biologis, dapat dilihat dari ketentuan
pasal 4 dan 7 UU No. 1 tahun 1974.
3. Unsur Sosiologis, batas umur untuk
melangsungkan perkawinan adalah untuk
mengurangi laju pertambahan penduduk karena
kelahiran, karena pertambahan penduduk
adalah masalah sosial
4. Unsur Yuridis, dapat disimpulkan dari ketentuan
pasal 2 ayat 2 UU No. 1 tahun 1974.
SYARAT-SYARAT PERKAWINAN MENURUT
UU PERKAWINAN

Syarat materiil umum :


1. Persetujuan bebas, pasal 6 ayat 1 UU
perkawinan
2. Syarat usia, pasal 7 ayat 1 UU perkawinan
3. Asas monogami relatif, pasal 9 dan 3 ayat 1
4. Berlakunya tenggang waktu tunggu, lihat
ketentuan pasal 39 PP No. 9 tahun 1975, cerai
mati 130 hari sejak tanggal kematian suami,
cerai hidup 3 kali suci sekurang-kurangnya 90
hari.
LANJUTAN…
Syarat Materiil Khusus :
1. Izin kawin, pasal 6 ayat 1 dan 2
2. Larangan tertentu untuk melangsungkan
perkawinan, pasal 8 UU No. 1 tahun 1974
Syarat Formal :
3. Pemberitahuan, pasal 3 ayat 2 PP 9 tahun 1975
4. Penelitian, pasal 6 ayat 1 PP 9 tahun 1975
5. Pencatatan, pasal 7 PP 9 tahun 1975
6. Pengumuman, pasal 8 PP 9 tahun 1975
7. Pelangsungan perkawinan, pasal 10 PP 9 tahun
1975
PERKAWINAN DILANGSUNGKAN
TERBUKA UNTUK UMUM
Dengan tujuan untuk :
1. Memberi kepastian tentang telah
dilangsungkannya perkawinan
2. Mencegah terjadinya perkawinan gelap
3. Mencegah perkawinan yang dilangsungkan
secara tergesa-gesa
4. Memberikan suasana yang khidmat dan sakral
5. Untuk menjamin pegawai pencatat berlaku
hati-hati
Kedua mempelai
Diatur dalam
Ps 11 (1,2,3) PP 9/75 Saksi – saksi

Pegawai pencatat perkawinan

Untuk yg beragama Islam  wali nikah

Ps 13 (1,2) UUP 1/74 Akte perkawinan 1. Disimpan pegawai


Dibuat rangkap 2 pencatat
Penandatanganan 2. Pengadilan ____
Akte Perkawinan 3. Kedua mempelai
Diberi kutipan

Termasuk dlm
Terhadap perkawinan
perjanjian pemberian
Dengan kuasa
kuasa
Ditandatangani oleh
penerima kuasa

16
Perkawinan dengan kuasa

Tidak diatur secara tegas

Terlihat dalam Ps 6 PP 9/75

_______

Terhadap kuasa autentik


Yang disahkan
Oleh pegawai pencatat Atau

Dibawah tangan

17
AKTE PERKAWINAN
PS 12 & 13 PP 9/75
1. Nama, tanggal, tempat lahir,
agama/kepercayaan, tempat kediaman
suami/istri, jika janda/duda: mantan
suami/istri disebutkan
2. Nama, agama/kepercayaan, pekerjaan, dan
tempat kediaman orang tua suami/istri
3. Ijin  ps. 6 (2,3,4,5) UU 1/74
4. Despensasi pengadilan  berkaitan dengan
batas umur  ps. 7 UU 1/74
5. Kata sepakat para pihak
6. Ijin pejabat
7. Perjanjian perkawinan
8. Identitas para saksi
18
Ps. 13 PP 9/75
Disimpan oleh ____ pencatat
Akte Perkawinan
--- dibuat rangkap 2 (dua) _____ ke PN di wilayah
hk perkawinan dilangsungkan

Kutipan akte perkawinan

Diberikan pada saksi – saksi  alat bukti

Tentang peristiwa  bahwa telah terjadi


pelangsungan perkawinan

UUP 1/74 tidak mengatur  BW 100 – 102

19
KUHPerdata
103
106 105
107 KUHPerdata
107
108
110

Akibat perkawinan
terhadap diri pribadi Hak & Kewajiban
masing-masing Suami-Istri
Suami/Istri
UU No.1/1974
30
31 - seimbang
32
33
34

20
AKIBAT PERKAWINAN TERHADAP PRIBADI SUAMI ISTRI
HAK & KEWAJIBAN SUAMI ISTRI

KUHPerdata UU No.1/1974
Ps. 103: Suami Istri harus tolong Ps.30 Suami Istri mempunyai
menolong dan saling membantu. kewajiban untuk menegakkan
Ps. 105: Setiap suami adalah kepala rumah tangga
persatuan suami/istri Ps. 31
Ps. 106: Istri harus patuh kepada (1) Kedudukan Suami Istri seimbang
suami (2) Masing-masing pihak berhak
Ps. 107: Suami wajib melindungi dan melakukan perbuatan hukum
memberi kepadanya segala apa (3) Suami sebagai kepala rumah
yang perlu dan berpatutan dengan
kedudukan dan kemampuannya tangga dan istri sebagai ibu
Ps. 108: Seorang istri tidak rumah tangga.
berwenang untuk bertindak dalam Ps. 32
hukum Ps. 33 Suami Istri saling menghormati
Ps. 110: Menghadap hakim harus Ps. 34 Suami wajib melindungi istri
didampingi suami

21
KUHPerdata
Harta persatuan/campur bulat
Pasal 124 : Kepengurusannya meliputi:
Tindakan BEHEER maupun BESCHIKING
- Pembatasan dalam pasal 124 (3)
Pasal 105 (3): Suami harus mengemudikan
urusan harta kekayaan milik pribadi istri
Pasal 105 (4): Untuk barang tetap, kepengurusan
suami bertanggung jawab terhadap istri
Pengelolaan harta Tindakan BEHEER
Bersama & BawaanPasal 105 (5): Barang bergerak: tindakan BEHEER
& BESCHIKING

UU No.1/1974
Pasal 36 (1): Terhadap harta bersama → suami atau istri
dapat bertindak atas persetujuan kedua
pihak.
Pasal 36 (2): Terhadap harta bawaan: masing-masing
suami istri memperoleh hak sepenuhnya untuk
melakukan perbuatan hukum

22
AKIBAT PERKAWINAN
TERHADAP HARTA BENDA SUAMI ISTRI
KUHPerdata UU No. 1 Tahun 1974

Harta campuran bulat → pasal 119 Pasal 35


→ harta benda yg diperoleh
sepanjang perkawinan menjadi Ayat (1)
harta
Harta bersama adalah harta benda
bersama meliputi seluruh harta yg diperoleh sepanjang perkawinan.
perkawinan:
harta yang sudah ada pada waktu
Ayat (2)
perkawinan
Harta bawaan adalah harta yg
harta yg diperoleh sepanjang dibawa masuk kedalam suatu
perkawinan perkawinan
Pengecualian: penguasaannya tetap pada masing-
1. Perjanjian kawin masing suami istri yg membawanya
2. Ada hibah/warisan yg ditetapkan kedalam perkawinan, sepanjang
oleh pewaris → pasal 120 para pihak tidak menentukan lain.
23
AKIBAT PERKAWINAN TERHADAP → ANAK KETURUNAN
→ ANAK YANG DILAHIRKAN → ANAK SAH

PASAL 250 KUHPerdata


Penyangkalan Anak
(Pasal 251, 252, 253, dan 254 KUHPerdata)
(1) Dilahirkan sebelum 180 hari sejak saat
perkawinan
(2) Jika masa 180+300 hari, belum pernah
berhubungan istri melahirkan
(3) Istri melakukan perzinahan
(4) Anak dilahirkan setelah lewat 300 hari keputusan
hakim sejak perpisahan meja dan tempat tidur.
24
Anak Sah

KUHPerdata
Pasal 250 : Tiap anak yg dilahirkan atau ditumbuhkan
sepanjang perkawinan. Memperoleh si suami sebagai
bapaknya.
Pasal 251 : Keabsahan seorang anak yg dilahirkan sebelum
hari ke 180 dalam perkawinan suami istri dapat
diingkari oleh si suami.
Pasal 252 : Suami boleh mengingkari keabsahan si anak,
apabila ia dapat membuktikan bahwa ia sejak 300-
108 hari
sebelum lahirnya anak itu berada dalam ketidak
maupun yg nyata untuk mengadakan hubungan
dengan istrinya.
Pasal 253: Istri menyembunyikan kelahiran anaknya, suami
dapat membuktikan dan dapat menyangkal
keabsahan anak.
25
(a) 1 bulan ia berada ditempat
DILAKUKAN OLEH
SUAMI SENDIRI
(b) 2 bulan sesudah ia
kembali dari bepergian

(c) Kehadiran
PROSES disembunyikan
2 bulan
PENYANGKALAN
ANAK

DILAKUKAN OLEH 2 bulan setelah suami


AHLI WARIS SUAMI meninggal

26
(1) Akte perkawinan → ibunya
Pembuktian anak sah
(2) Akte kelahiran → dari ibu mana ia dilahirkan

(1) Memakai nama keluarga


ayah
Dalam hal tidak ada
akte pembuktian (2) Masyarakat sekitar mengakui
dapat dilakukan
dari keadaan nyata (3) Ayah memperlakukan dengan baik
keluarga lainnya

27
1. Diakui → akte pengakuan anak
menimbulkan hubungan hukum dengan
Anak Luar Kawin suami/istri yg mengakui

2. Tidak diakui → tidak ada hubungan hukum

1. Akte pengesahan anak


Anak yg disahkan
2. Perkawinan kedua orang tuanya

Kekuasaan orang tua meliputi 2 hal:


1. Diri anak: kebutuhan fisik anak
2. Harta anak: pengurusan

28
1. KUHPerdata → kolektif

Dipegang ayah
Sifat Kekuasaan Orang Tua
2. UU No.1/1974 → Tunggal

Ada pada masing-masing pihak ayah ibu

1. Melalaikan kewajiban sebagai orang tua


Pencabutan Kekuasaan 2. Berkelakuan buruk
Orang Tua
3. Dihukum karena suatu kejahatan

29
MASALAH KEBAPAKAN DAN KETURUNAN
Anak Sah → pasal 42 UU No.1/1974

Anak sah adalah anak yg dilahirkan dalam atau sebagai akibat


dari perkawinan yg sah

Kata “atau” menunjukkan untuk sahnya seseorang anak


dapat diterimanya adalah:
1. Lahir dalam perkawinan yang sah
2. Akibat dari perkawinan yang sah
ad.1 “Lahir dalam perkawinan yg sah berarti dalam suatu
tenggang
waktu antara mulai suatu perkawinan”
“Ada suatu kemungkinan si anak dibenihkan bukan oleh
suami ibu”
ad.2 Sebagai akibat dari perkawinan yg sah.
Anak sah → anak yg dilahirkan sepanjang perkawinan
30
Masalahnya : Bagaimana jika dalam suatu “kasus” A
(istri) menikah dengan B (suami). A mengandung,
sebelum anak lahir B meninggal. Konsekuensi
perkawinan putus karena kematian, anak lahir di luar
perkawinan (lihat Pasal 42 UU No.1/1974)
Akibat perkawinan disini berarti “dibenihkan sepanjang
perkawinan”

Bandingkan dengan KUHPerdata


Pasal 250 KUHPerdata “Tiap-tiap anak yg dilahirkan atau
ditumbuhkan sepanjang perkawinan memperoleh suami
ibu sebagai bapaknya”

Lebih lanjut perhatikan:


Pasal 251 KUHPerdata
Pasal 252 KUHPerdata
Pasal 254 KUHPerdata
31
Anak terhadap orang tua
Anak yg sah mempunyai hubungan darah
yg sah baik dengan ayah maupun ibunya

Hubungan Anak terhadap ibunya Pasal 280 KUHPerdata


Darah KUHPerdata: anak luar kawin baru
mempunyai hubungan darah dengan
ibunya kalau si ibu mengakuinya secara sah
UU No.1/1974: setiap anak secara
otomatis mempunyai hubungan darah
dengan ibunya

Anak terhadap ayahnya


KUHPerdata: seorang anak luar
kawin baru mempunyai hubungan darah
dengan ayahnya kalau si ayah mengakui
secara sah
32