Anda di halaman 1dari 40

PENCEGAHAN KORUPSI

DALAM PELAKSANAAN ANGGARAN


KORUPSI...???
CORRUPTION

Praktek
yang
sering
terjadi !
PENGERTIAN KORUPSI
MENURUT UU 31/99 JO UU 20/01
• Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara;
• Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang
lain atau suatu korporasi, menyalah-gunakan kewenangan, kesempatan
atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
• Setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 209, 210, 387, 388, 415, 416, 417, 418, 419, 420, 423, 425, 435
KUHP;
• Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri
dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan
atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat
pada jabatan atau kedudukan tersebut.

4
KORUPSI
UU No. 31 Tahun 1999
JO No. 20 Tahun 2001
Setiap orang dgn tujuan menguntungkan
diri sendiri, atau orang lain,
atau suatu korporasi

Menyalahgunakan
wewenang, kesempatan, Pasal 3
atau sarana

KORUPSI

Dapat merugikan keuangan negara,


atau perekonomian negara

Lihat Juga Pasal 5 s.d. 12


PENGERTIAN KORUPSI
MENURUT UU 31/99 JO UU 20/01 (lanjutan)

• Setiap orang yang melanggar ketentuan Undang2 yang secara


tegas menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan Undang-
undang tersebut sebagai tindak pidana korupsi;
• Setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan, atau
permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi;
• Setiap orang di luar wilayah negara Republik Indonesia yang
memberikan bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan untuk
terjadinya tindak pidana korupsi.

6
Perbuatan yang dapat dijerat dengan UU. 31 Tahun
1999 jo UU No. 20 Tahun 2001

• Merugikan Keuangan Negara


• Perbuatan Suap-menyuap
• Perbuatan penggelapan dalam Jabatan
• Perbuatan Pemerasan
• Perbuatan Curang
• Benturan Kepentingan dalam pengadaan
• Gratifikasi ( Hadiah, Imbalan, Insentif dll )
1. KERUGIAN KEUANGAN NEGARA
• Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (pasal
2).
• Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau
orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan,
kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau
kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara (pasal 3).
2. SUAP MENYUAP

• Memberi sesuatu atau hadiah atau janji kepada


pegawai negeri atau penyelenggara negara (dan
sebaliknya).
• Memberi sesuatu atau hadiah atau janji kepada hakim
atau advokat (dan sebaliknya).
3. PENGGELAPAN DALAM JABATAN
Pegawai negeri atau selain pegawai negeri yang :
• Menggelapkan, atau membiarkan orang lain mengambil atau
menggelapkan uang atau surat berharga, atau membantu dalam
melakukan perbuatan tersebut.
• Dengan sengaja memalsu buku atau daftar yang khusus untuk
pemeriksaan administrasi.
• Dengan sengaja atau membiarkan atau membantu orang lain dalam
menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak
dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan unutk
meyakinkan atau membuktikan dimuka pejabat berwenang.
4. PERBUATAN PEMERASAN
Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang :
• Menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu,
membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk
mengerjakan sesuatu bagi dirinya.
• Meminta atau menerima pekerjaan atau penyerahan barang, seolah-olah
merupakan utang kepada dirinya, padahal tahu bukan merupakan utang.
• Meminta, menerima, atau memotong pembayaran kepada pegawai negeri
atau penyelenggara negara lain atau kepada kas umum, seolah-olah
merupakan utang kepada dirinya, padahal tahu bukan merupakan utang.
5. PERBUATAN CURANG
• Pemborong, ahli bangunan, atau penjual bahan bangunan
melakukan perbuatan curang.
• Pengawas bangunan atau penyerahan bahan bangunan
membiarkan dilakukannya perbuatan curang.
• Melakukan perbuatan curang dalam menyerahkan barang
keperluan TNI / POLRI.
• Pegawai negeri atau penyelenggara negara menyerobot tanah
negara sehingga merugikan orang lain.
6. BENTURAN KEPENTINGAN DLM
PENGADAAN
• Pegawai negeri atau penyelenggara negara, langsung
atau tidak langsung, pada saat ditugaskan untuk
mengurus atau mengawasi, turut serta dalam
pemborongan, pengadaan, atau persewaan.
7. GRATIFIKASI

Pegawai negeri atau penyelenggara negara menerima


gratifikasi yang berhubungan dengan jabatan dan berlawanan
dengan kewajiban atau tugasnya, dan tidak melaporkan ke
KPK dalam waktu 30 hari sejak diterima gratifikasi tersebut
CONTOH BENTUK KORUPSI

1. Penyalahgunaan wewenang
2. Benturan Kepentingan
3. Pembayaran fiktif
4. Kolusi/persekongkolan
5. Biaya perjalanan dinas fiktif
6. Suap/uang pelicin
7. Pengutan tidak resmi
8. Penyalahgunaan fasilitas/inventaris kantor
9. Imbalan tidak resmi
10. Bekerja tidak sesuai ketentuan dan prosedur
11. Penerimaan/Komisi atas transaksi jual beli yang tidak disetor ke Kas Negara
12. Penyalahgunaan anggaran
13. Menerima hadiah, sumbangan/hibahberkaitan dengan tugas/jabatan
14. Mark up harga beli/menurunkan harga jual
15. Merubah dan memanfaatkan kelemahan sistem teknologi informasi
16. Menurunkan kualitas/spesifikasi teknis/mengurangi volume
17. Pertanggungjawaban tidak sesuai dengan realisasi.
BENTUK BENTURAN KEPENTINGAN
a. Penerimaan gratifikasi atau pemberian/penerimaan hadiah atas suatu
keputusan/jabatan;
b. Penggunaan aset jabatan/instansi untuk kepentingan pribadi/golongan;
c. Penggunaan informasi jabatan untuk kepentingan pribadi/golongan;
d. Proses pengawasan yang tidak mengikuti prosedur karena adanya pengaruh
dan harapan dari pihak yang diawasi;
e. Penyalahgunaan kewenangan dalam jabatan;
f. Perangkapan jabatan di beberapa instansi yang memiliki hubungan
langsung atau tidak langsung, sejenis atau tidak sejenis, sehingga
menyebabkan pemanfaatan suatu jabatan untuk kepentingan jabatan
lainnya; dan
g. Pemberian akses khusus kepada pihak tertentu oleh Penyelenggara Negara
tanpa mengikuti prosedur yang seharusnya.
MENGAPA PERLU PENCEGAHAN KORUPSI?

• Jika telah terjadi, korupsi mengakibatkan kerugian keuangan yang


besar
• Pengembalian atas uang negara yang dikorupsi sangat kecil
• Kasus korupsi, merusak reputasi baik institusi maupun individu
• Proses litigasi menyita waktu dan biaya, baik bagi aparat hukum
maupun calon tersangka
• Semakin lama kejadian korupsi tidak terungkap semakin memberi
peluang pelaku korupsi untuk menutup-nutupi tindakannya
dengan kecurangan yang lain

17
PENYEBAB KORUPSI
• Kurangnya keteladanan dari pimpinan
INSTITUSI/ • Sistem akuntabilitas kurang memadai
ADMINISTRASI
• Sistem pengendalian manajemen lemah
• Ketidakjelasan definisi dan standar operasi
• Prosedur administrasi yang berbelit-belit
• Kurangnya keterbukaan informasi
ASPEK
INDIVIDU SOSBUD

• Penghasilan kurang memadai • Hubungan antara politisi, pemerintah dan organisasi


• Kebutuhan hidup yang mendesak non pemerintah
• Gaya hidup konsumtif • Kultur yang cenderung permisif
• Malas atau tidak mau bekerja keras • Masyarakat kurang peduli terhadap permasalahan
• Sifat tamak manusia korupsi
• Ajaran agama kurang diterapkan • Pergeseran nilai logika, sosial dan ekonomi
FAKTOR PENDORONG KORUPSI

KESEMPATAN

FAKTOR

TEKANAN PEMBENARAN
UPAYA MENCEGAH KKN
1. Melakukan Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Zona Intergritas
2. Penegakan hukum yang tegas dan konsisten dengan sanksi berat kepada pelaku korupsi
3. Meningkatkan komitmen, konsisten dengan sanksi berat kepada pelaku korupsi
4. Menata kembali organisasi, memperjelas/mempertegas visi, misi, tugas dan fungsi yang
diemban oleh setiap instansi
5. Menyempurnakan sistem Ketatalaksanaan meliputi : perumusan kebijakan, perencanaan
penganggaran, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasipertanggungjawaban kinerja serta
kualitas pelayanan masyarakat.
6. Memperbaiki manajemen Kepegawaian (penerimaan, penempatan, pengembangan,
kesejahteraan, jaminan hari tua)
7. Mengembangkan budaya kerja/tertib/malu melakukan KKN
8. Melakukan evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)
9. Meningkatkan efektifitas pelaksanaan sistem Pengendalian Manajemen, Pengawasan
fungsional/berjenjang dan memperdayakan pengawasan masyarakat.
10.Meningkatkan transparansi, Akuntabilitas dan Pelayanan Prima.
UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI
UPAYA PREVENTIF
(Bagaimana mengendalikan faktor pendorong timbulnya korupsi)
1. Sistem Penerimaan Pegawai
2. Peningkatan Profesionalisme pegawai
3. Sistem reward & punishment yang jelas dan memadai
4. Sistem Karir yang jelas
5. Mengembangkan kajian resiko & Fraud Control Plan

UPAYA INVESTIGATIF
(Bagaimana mendeteksi, menginvestigasi dan tindak lanjut hasil investigasi atas dugaan korupsi)
6. Pengemb.saluran pelaporan
7. Pengemb.keahlian investigatif
8. Audit investigatif

UPAYA EDUKATIF
(Bagaimana meningkatkan public awareness ttg korupsi)
1) Memberikan pengertian,pemahaman kepada semua pihak (pegawai pemerintah) Contoh: sosialisasi
Gambaran Intensitas Kegiatan Mencegah Korupsi Pada
Masa Mendatang

Intensitas

Investigatif

Preventif dan Edukatif

Periode
PERAN SPI/DOSEN DALAM MEMENCEGAH
KORUPSI

• Keteladanan dalam hidup sederhana, kejujuran, dan idealisme.


• Pesan moral dan martabat kepada seluruh pegawai dan
mahasiswa.
• Profesionalisme dalam menjalankan tugas.
• Menjalankan aturan
• Menerapkan sanksi dengan tegas
• Menginformasikan kejadian berindikasi tindak pidana korupsi
yang ditemui dilingkungan perguruan tinggi yang akhir-akhir ini
semakin bermunculan sehubungan dengan pelaksanaan
otonomi perguruan tinggi kepada instansi yang berwenang

23
PERAN SPI/DOSEN DALAM MENCEGAH KORUPSI

• Melakukan penelitian-penelitian, kajian-kajian dan membuat


tulisan-tulisan tentang permasalahan korupsi serta upaya
pemberantasannya.

• Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan penelitian dan


pengkajian yang ditugaskan sesuai dengan prosedur dan aturan
yang telah ditetapkan serta dilaksanakan secara transparan dan
akuntabel.

• Membantu pihak penyidik dalam proses penyelidikan/penyidikan


di lingkungannya

24
PERAN SPI UNTUK MENCEGAH KORUPSI DALAM PELAKSANAAN ANGGARAN:

1. Perlu Dukungan Top Manajemen


2. Komitmen, kesadaran dan rasa tanggungjawab yang tinggi dari seluruh SPI untuk
mempertahankan opini WTP.
3. Meningkatkan monitoring dan Evaluasi atas Tindak Lanjut Temuan BPK
4. Melakukan pendampingan terhadap Unit yang membutuhkan
5. Meningkatkan kompetensi SDM SPI
6. Merubah pola audit dari post menjadi current (on going) audit
7. Membantu Menyelesaikan Masalah
8. Meningkatkan Pengawasan terhadap Anggaran mulai dari perencanaan,
pelaksanaan dan pertanggungjawaban.
9. Melalukan Reviu atas Laporan Keuangan secara berkelanjutan
10.Menjalin komunikasi dengan Itjen dan BPK tentang upaya TL dan konsultasi
tentang hambatan/permasalahan TL yang tidak ditindaklanjuti.
11.Membantu Penyusunan Action Plan TL Temuan BPK yang belum diselesaikan.
12.Peran assurance dan consulting atas efektivitas pelaksanaan pengendalian
intern, manajemen resiko, dan proses tata kelola PTN ditingkatkan
MENCEGAH FRAUD
• Davia et al. dalam tuanakotta (2010:272) mengelompokan fraud dalam tiga kelompok
sebagai berikut:
1. Fraud yang sudah ada tuntutan hukum (prosecution), tanpa memperhatikan bagaimana
keputusan pengadilan.
2. Fraud yang ditemukan, tetapi belum ada tuntutan hukum.
3. Fraud yang belum ditemukan.

• Menurut Zabihollah Rezaee dan Richard Riley  (2005:7) menjelaskan ada tiga unsur  yang
harus diperhatikan oleh pihak manajemen perusahaan bila ingin mencegah terjadinya
tindakan fraud, yaitu:
1. Menciptakan dan mengembalikan budaya yang menghargai kejujuran dan nilai-nilai etika yang tinggi.
2. Penerapan dan evaluasi Proses Pengendalian anti kecurangan.
3. Pengembangan Proses Pengawasan (Oversight Process)
Pembahasan
• -     Gejala Gunung Es
• -     Pelajaran dari Report ot The Nation
• -     Pengendalian Intern
• -     Fraud Specific Internal Control
• -     Langkah – Langkah Pencegahan Fraud
1.    GEJALA GUNUNG ES
• Kecurangan bermula dari yang kecil, kemudian membesar dan pada akhirnya akan
mencelakakan. Untuk itu perlu ada semacam program yang terstruktur serta tertata baik
menekan praktik kecurangan. Tujuan utamanya mencegah dan mendeteksi kecurangan serta
melakukan langkah penyelamatan dari kerugian yang tidak diinginkan.
• Menurut Vona (2011:8) dalam mendefenisikan fraud maka tindakan tersebut harus
dikategorikan sebagai berikut:
• 1.     Tindakan yang dilakukan pada organisasi atau oleh organisasi atau untuk organisasi
• 2.     Tidakan yang dilakukan oleh sumber internal atau eksternal. skenario dapat mencakup
kedua belah pihak.
• 3.     Tindakan yang disengaja dan tersembunyi.
• 4.     Tindakan biasanya ilegal atau menunjukkan kesalahan.
• 5.     Tindakan menyebabkan hilangnya dana perusahaan, nilai perusahaan, atau reputasi
perusahaan, atau manfaat yang tidak sah apakah diterima secara pribadi atau oleh orang lain.
• Dari definisi ini memperlihatkan bahwa dalam kecurangan ada penyimpangan dan
atau tindakan illegal, penipuan yang disengaja yang menguntungkan individu
maupun organisasi, artinya dibalik itu ada pihak yang dirugikan, sedangkan
pelakunya bisa organisasi atau individu. Artinya ini dapat dilakukan untuk manfaat
dan/atau kerugian organisasi oleh orang di luar atau orang lain dalam organisasi.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kecurangan ini adalah suatu penyajian yang
palsu atau penyembunyian fakta yang material yang menyebabkan seseorang
memiliki sesuatu secara tidak sah.
• Meskipun belum ada penelitian mengenai besarnya fraud (termasuk korupsi) di
Indonesia sukar untuk menyebutkan suatu angka yang handal. Tetapi penelitian yang
dilakukan diluar negeri (dengan sampling) mengindikasikan bahwa fraud yang
terungkap, sekalipun secara absolute besar, namun dibandingkan dengan seluruh
fraud yang sebenarnya terjadi, relative kecil. Inilah gejala gunung es.
• Davia et al. dalam tuanakotta (2010:272) mengelompokan fraud dalam tiga
kelompok sebagai berikut:
1. fraud yang sudah ada tuntutan hukum (prosecution), tanpa memperhatikan
bagaimana keputusan pengadilan.
2. fraud yang ditemukan, tetapi belum ada tuntutan hukum.
3. fraud yang belum ditemukan.
• Yang bisa diketahui khalayak ramai adalah fraud dalam kelompok I. Dengan
dibukanya kepada umum laporan-laporan hasil pemeriksaan BPK, kelimpok II juga
bisa diketahui. Namun khusus untuk fraud yang berupa tindak pidana (korupsi
misalnya), hasil pemeriksaan tersebut masih berupa indikasi. Kalau sudah lebih
konkrit sekalipun, itu adalah khusus kasus-kasus yang berkenaan dengan keuangan
Negara.
• Fraud dalam kelompok II lebih sulit lagi diketahui karena adanya lembaga perlindungan
hukum yang sering dimanfaatkan tertuduh, yakni pencemaran nama baik (slander dan libel).
• Apalagi fraud dalam kelompok III, tertutup rapat, hanya diketahui Tuhan dan pelakunya. Oleh
karena itu, tidak mungkin kita dapat menjawab besar – besaran yang berhubungan dengan
fraud secara keseluruhan yang sesungguhnya terjadi (fraud universe) seperti berikut :
• Berapa di antara fraud universe yang sudah ditemukan ?
• Berapa dari fraud universe yang sudah ditemukan juga sudah ada tuntutan hukum ?
• Berapa dari fraud universe yang belum ditemukan ?
• Apakah fraud dalam Kelompok II dan III serupa atau sama sifatnya seperti fraud dalam
Kelompok I ? Ataukah “lebih gawat” ?
• Apakah kita (perusahaan, negara, lembaga – lembaga) perlu meningkatkan pencegahan dan
deteksi (penemuan) fraud ?
• Davia et al.. memperkirakan bahwa dari fraud universe, Kelompok I hanyalah 20%,
sedangkan kelompok II dan III masing-masing 40%. Kesimpulannya lebih banyak yang
tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui tentang fraud. Yang lebih gawat lagi,
fraud ditemukan secara kebetulan. Tidak jarang, indikasi – indikasi fraud yang dikaji
lebih dalam pada investigasi akhirnya diputuskan tidak terjadi fraud, padahal
sesungguhnya fraud sudah terjadi. Kasus – kasus semacam ini sering dialami pada
waktu indikasi fraud ditemukan oleh suatu tim, diinvestigasi oleh tim lain.
• Akan tetapi ada yang lebih gawat, kalau persentase fraud dari setiap kelompok tadi
benar. Kalau statistik itu benar, ini berarti pengetahuan atau awareness kita mengenai
fraud cukup rendah. Ketika kita membanggakan telah menemukan fraud berukuran
miliaran bahkan triliunan rupiah, di luar sana ada pelaku (yang belum ketahuan)
menertawakan pada investigator. Inilah implikasi yang paling menyedihkan dari gejala
gunung es.
2.    PELAJARAN DARI REPORT TO THE NATION
Tabel berikut menunjukkan penerapan perangkat kendali untuk mencegah fraud (anti fraud control) dan
besarnya kerugian yang dapat dicegah. Berikut ini penjelasan singkat dari anti fraud controls dan
pengurangan kerugian (dalam %) : Tabel 8.1. Anti Fraud Controls
Anti Fraud Controls (AFC) % Terjemahan dari AFC  

Surprise audits 66,2 Audit dengan kunjungan mendadak  

Jobs rotation / mandatory vacation 61,0 Alih tugas / wajib ambil cuti  

Hotline 60,0 Saluran komunikasi khusus untuk melapor ketidakberesan  

Employee support programs 56,0 Program dukungan bagi karyawan  

Fraud training for managers / executives 55,9 Pelatihan mengenai fraud untuk manajer dan eksekutif  

Internal audit / FE department 52,8 Audit internal  

Fraud training for employees 51,9 Pelatihan mengenai fraud untuk karyawan  

Anti fraud policy 49,2 Kebijakan memberantas fraud  

External audit of ICOFR 47,8 Audit eksternal untuk pengendalian intern atas pelaporan
 
keuangan
Code of conduct 45,7 Aturan perilaku / kode etik
Management review of IC 45,0 Telaah manajemen atas pengendalian intern
External audit of F/S 40,0 Audit eksternal atas laporan keuangan
Independent Audit Committee 31,5 Komite Audit Independen
Management certification of F/S 29,5 Sertifikasi mengenai kewajaran laporan keuangan oleh manajemen
3.    PENGENDALIAN INTERN

• Pengendalian intern atau internal control mengalami perkembangan dalam


pemikiran dan praktiknya. Oleh karena itu, Davia et al. dalam tuanakotta
(2010:275) mengingatkan kita untuk meyakinkan apa yang dimaksud dengan
pengendalian intern, ketika orang menggunakannya dalam percakapann
sehari-hari. Mereka mencatat sedikitnya empat defenisi pengendalian intern
sebagai berikut:
• 1.     Definisi 1 (sebelum September 1992)
• The condition sought by, and/or resulting from, processes undertaken by an
entity to prevent and deter fraud, terjemahan: kondisi yang diinginkan, atau
merupakan hasil, dari berbagai proses yang dilaksanakan suatu entitas untuk
mencegah dan menimbulkan efek jera terhadap fraud (sebelum definisi COSO).
• 2.     Definisi 2 (sesudah tahun 1992)
• A process, effected by an entity’s board of directors, management, and other
personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the
achievement of effectiveness and afficiency of operations, reliability of financial
reporting, and compliance with applicable laws and regulations, terjemahan :
suatu proses yang dirancang dan dilaksanakan oleh Dewan, manajemen dan
pegawai untuk memberikan kepastian yang memadai dalam mencapai
kegiatan usaha yang efektif dan efisien, kehandalan laporan keuangan, dan
kepatuhan terhadap undang-undang dan peraturan lainnya yang relevan.
Definisi ini dikenal sebagai definisi COSO (the Committee of Sponsoring
Organizations of the Treaddway Commission) yang merambah ke spektrum
fungsi manajemen yang luas, dan bukan pada fraud semata-mata.
• Pertama, definisi COSO langsung menyinggung tujuan bisns yang paling mendasar yakni
pencapaian sasaran-sasaran kinerja dan profitabilitas, dan pengamanan sumber daya.
Kedua, berkenaan dengan pembuatan laporan keuangan yang handal, termasuk laporan-
laporan interim dan pengumuman kepada khalayak ramai seperti terbitan mengenai laba.
Ketiga, definisi ini menekankan ketaatan kepada ketentuan perundang-undangan. Definisi
COSO sangat luas, ingin mengatur segala-galanya sehingga kehilangan kekhasan, dalam
laporan COSO: Perspektif yang berbeda-beda mengenai pengendalian intern bukanlah
tidak perlu. Pengendalian intern berurusan dengan tujuan entitas dan kelompok yang
berbeda-beda tertarik dengan tujuan-tujuan yang berbeda dan untuk alasan yang
berbeda. Selanjutnya, laporan COSO menulis: definisi yang mempunyai tujuan khusus.
Meskipun suatu entitas mempertimbangkan efektivitas dari ketiga kelompok tujuan
bisnis,ia mungkin juga ingin memusatkan perhatian pada kegiatan atau tujuan tertentu.
Dengan menentukan dan menjelaskan tujuan-tujuan khusus, definisi pengendalian intern
dengan tujuan yang khas
• .     Definisi 3 (AICPA 1988)
• For the purposes of an audit of financial statement balances, an entity’s internal
control structure consists of the following three elements:the control
environment,the accounting system,and control procedures.—Statement on
Auditing Standards No.53, April 1988. Terjemahan: untuk tujuan audit saldo
laporan keuangan, struktur pengendalian intern suatu entitas terdiri atas tiga
unsur: lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan prosedur-prosedur
pengendalian.
• Definisi ini sederhana tetapi menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya,
terutama bagi anggota AICPA yang mengharapkan adanya petunjuk. Dengan
laporan COSO tahun 1992 yang dikutip di atas, maka profesi terbantu dengan
pengakuan bahwa special purpose definitions diperkenankan.
• SAS 53 agaknya memagari penerapan pengendalian intern untuk mencegah dan
mengungkapkan fraud pada fraud yang dilakukan karyawan, yang nilainya tidak besar:
kecurangan oleh karyawan biasanya tidak besar jumlahnya dan disembunyikan
dengan cara yang tidak membuat aktiva bersih dan laba bersih salah saji. Ketidak
beresan semacam ini lebih efisien dan efektif ditangani dengan struktur pengendalian
intern yang berfungsi dan dengan penutupan asuransi kerugian terhadap karyawan.
• Selanjutnya SAS menegaskan bahwa pengendalian intern jangan diharapkan
mencegah atau membuat jera terhadap fraud yang dilakukan manajemen:
penyimpangan yang besar-besar oleh manajemen di eselon atas jarang terjadi dan
tidak dapat dicegah oleh prosedur pengendalian tertentu karena manajemen tingkat
tinggi itu berada diatas pengendalian yang membuat jera pegawai (kecil) atau
manajemen senior dengan mudah mematikan atau mengabaikan pengendalian
tersebut.
4.     Definisi 4 (khusus untuk
mencegah fraud)
• A system of “special purpose” processes and procedures designed and
practiced for the primary if not sole purpose of preventing or deterring
fraud. Terjemahan: suatu sistem dengan proses dan prosedur yang
bertujuan khusus, dirancang dan dilaksanakan untuk tujuan utama,
kalau bukan satu-satunya tujuan untuk mencegah dan menghalangi
(dengan membuat jera) terjadinya fraud.
• Inilah definisi yang akan dipakai dalam pembahasan berikut, definisi
dari pengendalian intern yang secara khusus atau spesifik ditujukan
untuk menangani fraud atau fraud spesific internal control.