Anda di halaman 1dari 14

FIQIH NIAT

KELOMPOK : 6

1. ANNISA MAULINA : 1964201001


2. PUTRA MULIA : 1965201015

3. SULTAN AGAS : 1764201017

4. YUNI RAHMADINI : 1965201029

5. ZAINUL IKHWAN : 1965201030


A. Defenisi dan Hakikat Niat
Niat adalah maksud atau keinginan kuat didalam hati untuk
melakukan sesuatu. Dalam melaksanakan perbuatan atau
meninggalkannya. Niat termasuk perbuatan hati maka tempatnya
adalah didalam hati, bahkan semua perbuatan yang hendak
dilakukan oleh manusia, niatnya secara otomatis tertanam
didalam hatinya.
Aspek niat itu adal 3 hal :
1. Diyakini dalam hati.
2. Diucapkan dengan lisan (tidak perlu keras hingga dapat
mengganggu orang lain atau bahkan menjadi riya.
3. Dilakukan dengan amal perbuatan.
Dengan definisi niat yang seperti ini diharapkan orang Islam atau Muslim itu
tidak hanya 'bicara saja' karena dengan berniat berati bersatu padunya antara hati,
ucapan dan perbuatan. Niat baiknya seorang muslim itu tentu saja akan keluar
dari hati yang khusyu dan tawadhu, ucapan yang baik dan santun, serta tindakan
yang dipikirkan masak-masak dan tidak tergesa-gesa serta cermat. Karena
dikatakan dalam suatu hadits Muhammad apabila yang diucapkan lain dengan
yang diperbuat termasuk ciri-ciri orang yang munafik, Imam an-Nawawi berkata,
“Niat adalah fardhu, shalat tidak sah tanpanya”
Ibnul Mundzir, Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini, Qadhi Abu ath-Thayyib, dan
Muhammad bin Yahya dan lain-lainnya menukil ijma’ ulama bahwa “alat tidak
sah tanpa niat.”
Jadi para ulama telah berijma’ bahwa shalat tanpa niat tidak sah, ijma’ ini
berdasar kepada hadis yang disampaikan oleh Umar ibnul Khaththab
radliallahu anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi
wasallam bersabda :
“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya. Dan setiap
orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka
siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya
itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia
yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka
hijrahnya itu kepada apa yang dia tujukan/niatkan”.
B. Hadits Niat
Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia
berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam
bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap
orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang
berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-
Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau
karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang
menjadi tujuannya (niatnya).’”
(Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin
Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-
Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang
merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits).
C. Pendapat Para Ulama
1. Berkata Imam Ibnu Rajab : ”Para ulama sepakat atas keshohihannya dan ummat
telah bersepakat dalam menerimanya”.
2. Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata dalam Syarh Arbain An-Nawawi hal 9 : “Ini
adalah hadits shohih yang disepakati akan keshohihannya dan akan besarnya
kedudukan dan keagungannya serta banyaknya faedahnya”.
3. Berkata Abu Ubaid : ”Tidak ada satupun hadits Nabi Shollallahu ‘alai wa ‘ala
alihi wasallam yang lebih luas, lebih mencukupi dan lebih banyak faedahnya
dibandingkan hadits ini”.
4. Dan telah bersepakat para imam seperti Abdurrahman bin Mahdi, Asy-Sy
afi’iy, Ahmad bin Hanbal, ‘Ali Ibnul Madini, Abu Dawud As-Sijistani, At-
Tirmidzy, Ad-Daraquthny dan Hamzah Al-Kinani bahwa hadist ini adalah
sepertiga ilmu.5
5. Hal ini dikomentari oleh Imam Al-Baihaqi dengan perkataannya : ”Hal tersebut
dikarenakan sesungguhnya amalan seorang hamba adalah dengan hatinya,
lisannya dan anggota tubuhnya, sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga
bagian tersebut”
6. Abdurrahman bin Mahdiy berkata : ”Hadits niat ini bisa masuk ke dalam 30 bab
ilmu”. Sedangkan Imam Asy-Syafi’iy mengatakan bahwa hadits ini bisa masuk
ke dalam 70 bab fiqhi.
D. Penjelasan (syarah) Hadits
Hadits ini adalah salah satu dalil dari kaidah yang sangat agung dan
bermanfaat yang berbunyi “Al-Umuru bimaqoshidiha” (Setiap perkara
tergantung dengan maksudnya). Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin
Nashir As-Sa’diy rahimahullah dalam Manzhumahnya :
“Niat adalah syarat bagi seluruh amalan, pada niatlah benar atau rusaknya
amalan”.
1. Fungsi Niat
Niat memiliki 3 fungsi:
a. Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat
tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan
amal kebiasaan.
b. Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat
tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah
dengan amal ibadah yang lainnya.
c. Niat Merupakan pembeda antara ibadah dengan adat. Sebagai contoh
mandi dapat dilakukan untuk menghilangkan hadats, tetapi mandi
juga dapat dilakukan sebagai kebiasaan.
Menurut Hasbi AS-Shidiqi, niat itu terbagi 3 (tiga), yaitu :
d. Niat ibadah, yaitu menghinakan diri tunduk secara sangat sempurna,
untuk menyatakan ketundukan serta kehinaan.
e. Niat ta’at, yaitu melaksanakan apa yang Allah kehendaki.
f. Niat qurbah, yaitu melaksanakan ibadah dengan maksud memperoleh
pahala.
1. Pengaruh Niat yang Salah Terhadap Amal Ibadah
Jika para ulama berbicara tentang niat, maka mencakup 2 hal:
a. Niat sebagai syarat sahnya ibadah, yaitu istilah niat yang dipakai oleh
fuqoha’.
b. Niat sebagai syarat diterimanya ibadah, dengan istilah lain: Ikhlas.
Niat pada pengertian yang ke-2 ini, jika niat tersebut salah (tidak Ikhlas) maka
akan berpengaruh terhadap diterimanya suatu amal, dengan perincian sebagai
berikut:
c. Jika niatnya salah sejak awal, maka ibadah tersebut batal.
d. Jika kesalahan niat terjadi di tengah-tengah amal, maka ada 2 keadaan:
 Jika ia menghapus niat yang awal maka seluruh amalnya batal.
 Jika ia memperbagus amalnya dengan tidak menghapus niat yang awal, maka
amal tambahannya batal.

a. Senang untuk dipuji setelah amal selesai, maka tidak membatalkan amal.
Allah Swt. Menggambarkan keikhlasan dalam beramal ini seperti dimuat
keikhlasan dalam beramal ini seperti dimuat dalam Al-Qur an Surat Al-
Baqarah (2) ayat 265 sebagai berikut :
‫ أ ُ ُكلَهَا‬O‫ت‬ْ َ‫ٌل فَآت‬O ‫ابَهَا َوا ِب‬O‫ص‬ َ َ‫ أ‬O‫ بِ َر ْب َو ٍة‬O‫ َجنَّ ٍة‬O‫ ِه ْم َك َمثَ ِل‬O‫ أَ ْنفُ ِس‬O‫ا ِم ْن‬Oً‫ هَّللا ِ َوتَ ْث ِبيت‬O‫ضا ِة‬
َ ْ‫ َمر‬O‫ ا ْبتِ َغا َء‬O‫َن أَ ْم َوالَهُ ُم‬O ‫َن يُ ْنفِقُو‬O ‫ُل الَّ ِذي‬O َ‫َو َمث‬
‫صي ٌر‬ ِ َ‫ون ب‬ َ ُ‫طلٌّ َوهَّللا ُ ِب َما تَ ْع َمل‬
َ َ‫ص ْبهَا َوا ِب ٌل ف‬ ِ ُ‫ض ْعفَي ِْن فَإ ِ ْن لَ ْم ي‬ ِ
Artinya : Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena
mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun
yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka
hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
(Q.S. Al-Baqarah : 265)
1. Hijrah
Makna hijrah secara syariát adalah meninggalkan sesuatu demi Allah
dan Rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-
Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan
Rasul-Nya.
Bentuk-bentuk Hijrah:
 Meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid.
 meninggalkan negeri bidáh menuju negeri sunnah.
 Meninggalkan negeri penuh maksiat menuju negeri yang sedikit
kemaksiatan.
Ketiga bentuk hijrah tersebut adalah pengaruh dari makna hijrah.
1. Kandungan / Intisari Hadits
 Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan,
dan amal ibadah tidak akan amendatangkan pahala kecuali
berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
 Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya
di hati.
 Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala
dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
 Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar
niatnya.
 Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi
niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
 Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas)
adalah niat.
 Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman
karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman
Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan
dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan
Kesimpulan
Niat itu termasuk bagian dari iman karena niat termasuk amalan hati. Wajib bagi
seorang muslim mengetahui hukum suatu amalan sebelum ia melakukan amalan
tersebut, apakah amalan itu disyariatkan atau tidak, apakah hukumnya wajib atau
sunnah. Karena di dalam hadits ditunjukkan bahwasanya amalan itu bisa tertolak
apabila luput darinya niatan yang disyariatkan. Disyaratkannya niat dalam
amalan-amalan ketaatan dan harus dita`yin (ditentukan) yakni bila seseorang
ingin shalat maka ia harus menentukan dalam niatnya shalat apa yang akan ia
kerjakan apakah shalat sunnah atau shalat wajib, dhuhur, atau ashar, dst. Bila
ingin puasa maka ia harus menentukan apakah puasanya itu puasa sunnah, puasa
qadha atau yang lainnya.
Amal tergantung dari niat, tentang sah tidaknya, sempurna atau kurangnya, taat
atau maksiat. Seseorang mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan namun
perlu diingat niat yang baik tidaklah merubah perkara mungkar (kejelekan) itu
menjadi ma’ruf (kebaikan), dan tidak menjadikan yang bid`ah menjadi sunnah.