Anda di halaman 1dari 13

Filsafat Ketuhanan

A.    PEMIKIRAN PARA TOKOH FILSAFAT TENTANG TUHAN

Berikut adalah pemikiran dan pendapat beberapa tokoh filsafat


tentang Tuhan :
1.      Ludwig Wittgenstein
Tuhan adalah dzat transedental yang eksistensi-Nya melampaui
seluruh matra materi duniawi, Dia adalah mystic yang tidak pernah
dapat diekspresikan dengan bahasa duniawi. Namun demikian,
percaya akan adanya Tuhan itu berarti memahami berbagai
persoalan makna kehidupan.
2.      Al-Kindi
Tuhan adalah wujud yang hak. Ia ada dari semula dan ada untuk
selama-lamanya. Tuhan adalah wujud yang sempurna yang tidak
didahului oleh wujud lain. Wujudnya tidak berakhir dan tidak ada
wujud selain daripada-Nya.
3.      Al-Farabi
Tuhan Allah adalah wujud yang sempurna dan yang ada tanpa
sebab suatu sebab, karena kalau ada sebab bagi-Nya berarti ia
tidak sempurna, sebab tergantung kepada-Nya. Ia adalah wujud
yang paling mulia dan yang paling dulu adanya
4.      Aristoteles
Tuhan sebagai ‘Aktualitas Abadi’ yang menyebabkan perubahan
dan merupakan ‘Aktualitas Murni’ (Actus Purus) bukan benda
material, karena jika penggerak pertama sebagai benda material
berarti dia sebagai subjek yang berubah, padahal dia
adalah ‘Penyebab Awal’ yang tidak terciptakan dan bersifat abadi.
B.     ISTILAH-ISTILAH TENTANG FILSAFAT KETUHANAN
Berikut ini adalah beberapa istilah yang menyangkut tentang filsafat
ketuhanan :
1.      Teodise
Adalah pembenaran ajaran agama tentang kekuasaan dan aturan
Tuhan yang menyangkut masalah penderitaan dan adanya
kejahatan dalam berbagai bentuk.
2.      Theisma
Theisma mempercayai bahwa Theus (penamaan Tuhan dalam
bahasa Yunani) itu ialah awal dan akhir dari segala-galanya
3.      Henotheism
Masing-masing dewa memiliki kekuasaannya sendiri-sendiri,
misalnya Dewa Matahari kekuasaannya panas. Dewa hujan
kekuasaannya air. Ketika musim kemarau orang memuja Dewa
Hujan.
4.      Ketuhanan Maha Tiga (Trinitheisma)
istilah tersebut terkenal dalam agama Hindu dengan Trimurti, dalam
agama nasrani Trinitas atau Tritunggal. Trimurti lahir dari
Politheisma. Dari sekian banyak dewa, suatu ketika muncul tiga
dewa yang dipandang paling berkuasa atau paling diperlukan.
5.      Monotheisma Murni
Tuhan itu esa dalam jumlah, sifat dan perbuatan. Tuhan memiliki
sifat satu-satunya, tidak ada duanya. Tiap sifat yang ditemukan
pada alam, bukan sifat Tuhan. Tiap bentuk atau rupa yang
ditemukan dalam alam (termasuk dalam alam imajinasi pikiran
manusia), bukan bentuk atau rupa Tuhan.
Wujud Tuhan adalah wujud yang paling sempurna., karena wujud
yang sempurna itu, maka wujud tersebut tidak mungkin terdapat
sama sekali pada selain Tuhan, seperti halnya dengan sesuatu
yang sempurna indahnya ialah apabila tidak terdapat keindahan
semacam itu pada lainnya atau dengan kata lain Ia menyendiri
dengan keindahan-Nya itu.Karena itu Tuhan adalah Esa dan tidak
ada sekutu-Nya.
C.     SIFAT DAN HAKIKAT TUHAN DALAM ISLAM

Keberadaan Tuhan telah diyakini oleh sebagian besar umat


manusia. Namun masih terdapat sekelompok kecil dari mereka yang
merasa Tuhan itu tidak ada.
Al-Farabi, sebelum membicarakan tentang hakikat Tuhan dan
sifat-sifat-Nya, ia terlebih dahulu membagi wujud yang ada menjadi
dua bagian, yaitu :
1.      Wajibul wujud lighairihi. Yaitu wujud yang nyata karena lainnya.
Contohnya adalah wujud cahaya yang tidak akan ada kalau
sekiranya tidak ada matahari.
2.      Wajibul wujud li dzatihi. Yaitu wujud yang apabila diperkirakan
tidak ada, maka akan timbul kemuslihatan sama sekali. Kalau ia
tidak ada, maka yang lima pun tidak akan ada sama sekali. Ia
adalah sebab Yang Pertama bagi semua wujud. Wujud Yang Wajib
tersebut dinamakan Tuhan (Allah).
D.    HUBUNGAN KONSEPSI TUHAN DENGAN ILMU FILSAFAT

Dalam islam, konsep ilmu tidak dapat dipisahkan dari konsep


Tuhan, karena semua ‘ilmuberasal dari-Nya. Ilmu-Nya adalah
absolute dan menyeluruh, mencakup yang tampak maupun yang
tersembunyi. Tuhan mengetahui segalanya, tidak ada yang tidak
diketahui-Nya di dunia ini. Dia adalah awal dan akhir dari segala
pengetahuan.
Filsafat dan agama memiliki ‘permainan’ yang berbeda dalam hal
ketuhanan. Dalam perspektif filsafat, Tuhan merupakan ‘something
to be argued about’, sedangkan dalam perspektif agama Tuhan
merupakan ‘something to be sacrificed form’ yang tergambar di
dalam segenap aktivitas masyarakat.
Melalui filsafat orang akan mengerti bahwa kata Tuhan tidak
hanya memiliki satu arti, melainkan bermacam-macam arti. Sebagai
contoh, ‘Allah-nya orang Arab sebelum Islam berbeda dengan
‘Allah-nya islam. Perbedaan itu antara lain karena Allah-nya orang
orang Arab memiliki persekutuan dan anak yang semuanya minta
dilayani dalam bentuk sajian dan ketundukan dari manusia,
sedangkan ‘Allah-nya’ Islam, sebagaimana yang terekam singkat
dalam al-Qur’an Surat al-ikhlash berada dalam pengertian paham
monotheisme murni, karena Tuhan dalam Islam dipahamkan
sebagai Dzat Tunggal yang tidak sebanding dengan apapun, Dzat
yang tidak memerlukan persekutuan, Dzat yang tidak beranak dan
tidak pula diperanakkan, Dia adalah awal dan akhir dari segala
harapan.