Anda di halaman 1dari 27

ETIKA & NORMA

Dosen Pengampu :
Nur Afrinis,M.Si

Program Studi S1 Gizi


Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
2020
ETIKA
ETIKA (ETIK) DAN MORAL
Berasal dari bahasa Yunani:
Ethos (bentuk tunggal): kebiasaan, adat,
akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berfikir.
Ta etha (bentuk jamak): adat kebiasaan.
Etika (etimologis): ilmu tentang apa yang
biasa dilakukan atau ilmu tentang adat
kebiasaan.
Etika dan moral mempunyai kedekatan arti:
Moral berasal dari bahasa Latin (mos,
mores): kebiasaan, adat.
Secara etimologi kata etika = moral: adat
kebiasaan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
etika:
Nilai-nilai & norma-norma moral yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu
kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
 Sistem nilai yang berfungsi dalam hidup manusia
perorangan maupun pada taraf sosial.
 Contoh: etika agama Islam, etika suku-suku Indian.
Kumpulan asas atau nilai moral.
 Kode etik.
 Contoh: kode etik RS (Etika Rumah Sakit Indonesia =
ERSI)
Ilmu tentang yang baik atau buruk.
 Filsafat moral
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa
Indonesia, moral:
Arti moral = arti etika
Nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi
pegangan bagi seseorang atau suatu
kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Contoh: perbuatan seseorang yang tidak
bermoral, berarti perbuatan orang tersebut
melanggar nilai-nilai atau norma-norma etis
yang berlaku dalam masyarakat (nilai dan
norma yang tidak baik).
TIGA PENDEKATAN ETIKA DAN
MORAL
ETIKA DESKRIPTIF
Melukiskan tingkah laku moral dalam arti
luas
 Misalnya adat kebiasaan, anggapan-anggapan
tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang
diperbolehkan atau tidak.
Mempelajari moralitas yang terdapat pada
individu-individu tertentu dalam kebudayaan-
kebudayaan atau subkultur-subkultur tertentu
dalam suatu periode sejarah.
Hanya melukiskan, tidak memberi penilaian
(baik atau buruk), bersikap netral.
Contoh: adat mengayau kepala pada
masyarakat primitif.
ETIKA NORMATIF
Bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis
yang dapat dipertanggungjawabkan dengan
cara rasional dan dapat digunakan dalam
praktek.
Preskriptif (memerintahkan), menetukan
benar tidaknya tingkah laku atau anggapan
moral.
Dapat mengemukakan alasan-alasan
mengapa suatu tingkah laku harus disebut
baik atau buruk, mengapa suatu moral dapat
dianggap benar atau salah.
Pada akhirnya alasan-alasan tersebut akan
bertumpu pada norma-norma atau prinsip-
Etika normatif dibagi menjadi 2:
 Etika umum
 Dapat dianalogkan dengan ilmu pengetahuan
yang membahas mengenai pengertian umum dan
teori-teori.
 Etika khusus
 Merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar
dalam bidang kehidupan yang khusus.
METAETIKA
Pembahasan kepada ucapan-ucapan
dibidang moralitas, bahasa etis, bahasa di
bidang moral.
Mempelajari logika khusus dari ucapan-
ucapan etis.
Kalimat-kalimat etika pada umumnya bahasa
etika, mempunyai ciri-ciri tertentu yang tidak
dimiliki oleh kalimat-kalimat lain.
Contoh: kata “baik” yang sangat penting
dalam konteks etika.
 Tidak merujuk pada tingkah laku tertentu boleh
disebut baik atau tidak baik (menjadi donor organ
tubuh adalah perbuatan baik dari segi moral).
 Tapi merujuk pada apakah tingkah laku tertentu
boleh disebut baik atau tidak (apakah perbuatan
mendonor organ masih baik, jika organnya dijual?).
 Arti kata “baik” dalam konteks etis dengan
membandingkannya dalam kalimat:
 Menjadi donor organ tubuh adalah perbuatan baik
VS Mobil ini masih dalam keadaan baik.
ETIKA DAN ETIKET
Etika dan etiket merupakan 2 istilah yang
berbeda.
Etika: moral
Etiket: sopan santun
Etiket VS Etika (1)
Etiket menyangkut cara suatu perbuatan
harus dilakukan manusia.
 Contoh: menyerahkan sesuatu dengan tangan
kanan.
Etika
 Tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu
perbuatan
 Memberi norma tentang perbuatan itu sendiri
 Menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh
dilakukan atau tidak.
 Contoh:
 Mengambil barang milik orang lain tanpa izin,
tidak pernah diperbolehkan (tidak relevan,
mencuri dengan tangan kanan atau kiri)
Etiket VS Etika (2)
Etiket hanya berlaku dalam pergaulan, bila
tidak ada orang lain hadir atau tidak ada
saksi mata, maka etiket tidak berlaku.
 Contoh: makan sendiri sambil mengangkat kaki.
Etika tidak tergantung pada hadir tidaknya
orang lain.
 Contoh: larangan mencuri selalu berlaku, baik ada
orang maupun tidak ada orang lain.
Etiket VS Etika (3)
Etiket bersifat relatif, yang dianggap tidak
sopan dalam satu kebudayaan, bisa saja
dianggap sopan dalam kebudayan lain.
 Contoh: makan dengan tangan
Etika bersifat absolut.
 Contoh: jangan mencuri merupakan prinsip-prinsip
etika yang tidak bisa ditawar atau diberi dispensasi.
Etika VS Etiket (4)
Etiket memandang manusia dari segi lahiriah
saja, sedangkan etika menyangkut manusia
dari segi batiniah.
 Contoh: “musang berbulu ayam”, mempunyai etiket
yang baik tetapi sekaligus munafik.
 Contoh: orang yang memegang teguh etika, tidak
mungkin munafik
Kesimpulan:
Etika dan Etiket Tidak Bisa
Dicampuradukkan
Persamaan etika dan etiket:
Etika dan etiket menyangkut perilaku
manusia.
Etika dan etiket mengatur perilaku manusia
secara normatif
 Memberi norma bagi perilaku manusia
 Menyatakan apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan
PERAN ETIKA DALAM DUNIA
MODERN
Masyarakat homogen dan agak tertutup
(masyarakat tradisional):
Nilai-nilai dan norma-norma tidak
dipersoalkan.
Orang menerima nilai dan norma yang
berlaku.
Sumber nilai dan norma
 Agama
 Kebudayaan
 Nasionalisme
Contoh: perpindahan dari suatu daerah ke
daerah lain dapat menyebabkan culture
shock.
Masa sekarang tidak terdapat lagi
masyarakat yang homogen dan tertutup.
Contoh: pemilihan jodoh oleh orang tua,
sekarang sudah mulai berkurang.
3 SITUASI ETIS DALAM DUNIA
MODERN
Pluralisme moral
Nilai dan norma yang berbeda
Masyarakat yang sama bisa ditandai dengan
pluralisme moral.
Terjadi karena hidup diera komunikasi
(internet), kemajuan bidang transportasi,
pariwisata, bisnis bahkan seksualitas.
Suka tidak suka, nilai dan norma dari
masyarakat lain akan mempengaruhi
kehidupan.
Timbulnya masalah-masalah etis baru
terutama perkembangan pesat dalam iptek
khususnya ilmu biomedis.
Suatu kepedulian etis yang universal.
Adanya gerakan-gerakan perjuangan moral
yang aktif dalam taraf internasional.
Kerjasama antar LSM, pemerintah, serikat
buruh, dll.
Contoh: deklarasi universal tentang HAM oleh
PBB pada 10 Desember 1948.
NORMA
NORMA MORAL
Norma: aturan atau kaidah yang kita pakai
sebagai tolok ukur untuk menilai sesuatu.
Macam-macam norma:
Norma yang menyangkut benda
 Norma-norma teknis yang dipakai untuk
menentukan kelaikan udara sebuah pesawat
terbang atau kelaikan laut sebuah kapal laut.
 Jika sesuai dengan norma, maka pesawat boleh
terbang dan kapal boleh berlayar.
 Jika tidak, maka harus diperbaiki dulu sehingga
sesuai dengan norma-norma yang berlaku
Norma yang menyangkut tingkah laku
manusia
 Norma umum: menyangkut tingkah laku manusia
sebagai keseluruhan
 Norma kesopanan (etiket)
 Norma hukum
 Norma moral
 Norma khusus: hanya menyangkut aspek tertentu
dari apa yang dilakukan manusia.
 Contoh: norma bahasa, menggunakan tata bahasa
yang baik, berarti sesuai dengan norma bahasa
dan sebaliknya.
Norma moral menentukan apakah perilaku
kita baik atau buruk dari sudut etis.
Karena norma moral adalah norma tertinggi
yang tidak bisa ditaklukkan pada norma
lain.
Norma moral menilai norma-norma lain
Contoh: norma etiket yang tidak bersifat
etis, misalnya diskriminasi terhadap wanita,
maka norma etiket harus kalah terhadap
norma moral.
Contoh: norma hukum yang tidak bersifat
etis misalnya undang-undang atau
peraturan daerah yang dianggap tidak etis,
maka undang-undang atau peraturan
daerah tersebut harus dihapus atau diubah.
Norma moral menilai norma-norma khusus
(norma khusus tunduk kepada norma
moral).
Contoh: seseorang memakai bahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Secara
norma khusus, orang tersebut benar. Tetapi
jika yang dikatakannya fitnah, maka dia
berbohong.
Norma moral bisa dirumuskan dalam
bentuk:
Positif: perintah yang menyatakan apa yang
harus dilakukan.
 Contoh: kita harus menghormati orang lain, kita
harus mengatakan yang benar.
Negatif: larangan yang menyatakan apa
yang tidak boleh dilakukan.
 Contoh: jangan membunuh, jangan berbohong.