Anda di halaman 1dari 33

RESUSITASI CAIRAN

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ANESTESIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2020
PENDAHULUAN
 Terapi cairan adalah tindakan yang dilakukan dengan
melakukan pemberian cairan untuk mengatasi syok,
dan menggantikan volume cairan yang hilang akibat
adanya perdarahan, atau dehidrasi.
 Tujuan dari resusitasi cairan adalah untuk mencegah
terjadinya hipoksia dan iskemik pada organ tubuh vital
terutama pada otak dan jantung melalui peningkatan
preload dan curah jantung untuk mengembalikan
volume sirkulasi efektif pada syok hipovolemik,
mengembalikan oxygen carrying capacity pada syok
hemoragik, dan mengoreksi gangguan metabolik.
PENILAIAN KLINIS KEADAAN SYOK

 Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi jika


sirkulasi darah arteri tidak mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan.
 Perfusi jaringan yang adekuat tergantung pada
tiga faktor utama yaitu curah jantung, volume
darah, dan tonus vasomotor perifer. Bila
terjadi gangguan pada salah satu dari ketiga
faktor di atas, dan faktor lainnya tidak dapat
melakukan kompensasi, maka akan terjadi syok.
Shock adalah kondisi saat mana transport
oksigen (DO2, delivery O2) ke jaringan gagal4
memenuhi kebutuhan metabolik di jaringan
tersebut.

DO2 < VO2


IT IS NOT LOW BLOOD PRESSURE !!!
IT IS HYPOPERFUSION…..
04/06/2020
PRE-LOAD CONTRACTILITY AFTER-LOAD

STROKE VOLUME HEART-RATE

CARDIAC OUTPUT TOTAL


PERIPHERAL
RESISTANCE

BLOOD Tissue
PRESSURE Perfusion
Classification of shock states
Type of shock Primary mechanism Clinical causes
Hypovolemic Volume loss Exogenous
Blood loss due to hemorrhage
Plasma loss due to burn, inflammation
Fluid and electrolyte loss due to vomiting, diarrhea,
dehydration, osmolal diuresis [diabetes]

Endogenous
Extravasation due to inflammation, trauma, anaphylaxis,
snake venom, pheochromocytoma

Cardiogenic Pump failure Myocardial infarction


Heart failure
Arrhythmia
Intracardiac obstruction

Distributive [vasomotor
dysfunction]
. High or normal Expanded venous capacitance Hypodynamic septic shock due to gram-negative enteric bacillary
resistance [pooling], CO normal or low Spinal shock, Narcotic over dose, barbiturate intoxication

. Low resistance Arteriovenous shunting Pneumonia, peritonitis, abscess, reactive hyperemia


CO normal or high
Obstructive Extracardiac obstruction of Vena caval obstruction, pericarditis [cardiac tamponade]
main channel of blood flow pulmonary embolism, aorta dissecting aneurysm
04/06/2020 6
Weil, MH et al : Cardiovascular System failure. In Principles and practice of
emergency medicine. Schwartz. GR [ed] WB. Saunders 1986
Approach to various etiologic types of shock
Hemorrhagic Cardiogenic Traumatic Septic

Sign & Symptoms Sign & Symptoms Sign & Symptoms Sign & Symptoms
Pallor, fainting Pallor, fainting History & Physical Fever, chills
Skin clammy, cold Skin clammy, cold evidence of injury Skin warm
Tachycardia Arrhythmias Oliguria Tachycardia
Oliguria Oliguria Tachycardia Oliguria
Collapse Collapse Collapse Altered mental status
Collapse
Laboratory Laboratory Laboratory Laboratory
Hct, Hb Cardiac enzymes X-Rays, CT-scan [+] smears & culture
ECG
Pathophysiology Pathophysiology Pathophysiology Pathophysiology
Blood volume Cardiac output Direct injury to organ Peripheral resistance

Therapy Therapy Therapy Therapy


1. Fluids 1. Antiarrhythmic 1. Repair injury 1. Antibiotics
2. Blood 2. Vasopressors 2. Fluids 2. Fluids
3. Control Bleeding 3. Vasodilators 3. Blood 3. Drain abscess
Shoemaker, Textbook of Critical Care, third ed. 1995
04/06/2020 7
CARDIOGENIC

OBSTRUCTIVE

O2
O2 SEPTIC

O2
HYPOVOLEMIK
PENILAIAN KLINIS KEADAAN SYOK

 Terjadinya syok dapat dilakukan dengan


melakukan penilaian terhadap tingkat
kesadaran pasien, penilaian tanda-tanda vital,
terjadinya hipoperfusi perifer, dan penurunan
jumlah urin (oliguria).
 Kesadaran (GCS) menurun sampai koma.
 Frekuensi nafas meningkat dari normal (lebih dari 20-
24 kali per menit pada dewasa, atau lebih dari 36 kali
per menit pada anak).
 Nadi tidak teraba, atau teraba halus namun tidak
penuh.
 Tekanan darah menurun dan terjadi takikardia (puncak
tekanan darah sistemik kurang dari 100 mmHg).
 Tanda-tanda hipoperfusi dan vasokonstriksi perifer
seperti kulit dingin, lembab, sianosis, dan
melambatnya capillary refill time (lebih dari 3 detik).
Capillary refill time dapat ditentukan dengan menekan
ujung kuku, kemudian dilepaskan.
 Turgor kulit menurun, mukosa mulut kering, ubun-
ubun kepala tampak cekung, dan kulit tampak keriput,
pada keadaan dehidrasi berat.
 Oligouria, ditanda dengan jumlah urin kurang dari 1
cc/kgBB/jam.
JALUR PEMBERIAN RESUSITASI
CAIRAN

 Untuk mengatasi syok secepat mungkin, agar terhindar dari


kerusakan organ vital tubuh, pemberian resusitasi cairan
dilakukan secara parenteral (intravena), dan intraoseus.
 Pemberian secara intraoseus merupakan pilihan alternatif,
apabila akses intravena sulit didapatkan, terutama pada
keadaan kegawat daruratan pediatrik. Pada akses intraoseus,
cairan dimasukkan ke dalam tubuh secara langsung melalui
sumsum tulang.
 Pada keterampilan klinik ini akan dilatihkan bagaimana cara
melakukan resusitasi cairan secara intravena, adapun
resusitasi cairan melalui intraoseus akan dilatihkan pada
modul keterampilan klinik berikutnya.
Akses Resusitasi Intravena Akses Resusitasi Intraosseus

JALUR PEMBERIAN RESUSITASI CAIRAN


Physiologic
principles of fluid
management 15

TOTAL BODY WATER : 60% TOTAL BODY WEIGHT

60 36 L
kg

9L 3L 24 L
ISF
ISF IVF ICF
Physiologic
principles of fluid
management 16

Perdarahan

ISF IVF ICF


PERDARAHAN

HILANG VOLUME
HILANG ERITROSIT
CAIRAN RESUSITASI
 Terdapat dua jenis cairan yang digunakan pada
resusitasi cairan, yaitu cairan kristaloid dan
koloid.
 Perlu diingat bahwa pemberian cairan infus yang
mengandung dekstrosa (contoh dekstrosa 5%)
secara bolus intravena, tidak boleh diberikan
pada resusitasi cairan, karena dapat
menyebabkan diuresis osmotik, serta dapat
memperburuk defisit elektrolit kalium
(hipokalemia), dan iskemia pada otak.
CAIRAN KRISTALOID
 Cairan kristaloid adalah kelompok cairan non ionik yang pada umumnya bersifat isotonik
(isoosmolar).
 Cairan kristaloid tidak mengandung partikel onkotik sehingga tidak menetap di
intravaskular. Cairan ini baik untuk mengganti kehilangan volume, terutama cairan
intertistial.

KEUNTUNGAN KERUGIAN
• Pemberian cairan kristaloid adalah • Pemberian cairan kristaloid adalah
murah, mudah didapat, dan tidak hanya bertahan 15-30 menit di dalam
menimbulkan reaksi alergi. pembuluh darah, dan untuk
mengembalikan volume intravaskuler
yang hilang, diperlukan cairan
kristaloid dalam jumlah yang besar,
sekitar 2-3 kali volume cairan yang
hilang, sehingga bila tidak diberikan
dengan benar dapat menimbulkan
edema paru pada pasien.

Contoh cairan kristaloid adalah ringer laktat, ringer asetat (asering), dan NaCl 0,9% (normal saline).
Physiologic
principles of fluid
management
RL,NaCl
3L

9L 3L 24 L
2250ml 750 ml

ISF
ISF IVF ICF
CAIRAN KOLOID
 Cairan koloid adalah cairan yang mengandung partikel onkotik yang dapat
menyebabkan tekanan onkotik.

KEUNTUNGAN KERUGIAN
• Cairan ini sebagian besar • Pemberian cairan koloid
menetap di intravaskuler, dan adalah harganya yang mahal,
jenis plasma ekspander dapat dapat menyebabkan reaksi
menarik cairan ekstravaskuler anafilaktik, resiko terjadinya
ke intravaskuler. overload lebih besar, dan
pemberian secara berlebih
dapat menyebabkan edema
paru, tetapi tidak
mneyebabkan edema perifer.

Contoh cairan koloid adalah darah (packet red cell, dan whole blood), plasma darah dan komponennya
(albumin 5% dan 25%, fresh frozen plasmanate), dan koloid sintetik seperti poligelin (gelafundin,
haemacell), dekstran 10% dan 40%, dan hetastarch (expafusin 6%).
Physiologic
principles of fluid
management
Albumin-
5%
1L

9L 3L 24 L
1L

ISF
ISF IVF ICF
Physiologic
principles of fluid
management
HES-6%
1L

9L 3L 24 L
1000ml

ISF
ISF IVF ICF
Physiologic
principles of fluid
management
Albumin-
25%
Volume expander 100 cc

9L 3L 24 L
400 500

ISF
ISF IVF ICF
Physiologic
principles of fluid
management
Haemacel
1L

9L 3L 24 L
300ml 700ml

ISF
ISF IVF ICF
Cairan Kristaloid (NaCl 0,9%) Cairan Koloid (albumin 25%)

JENIS CAIRAN RESUSITASI


PERSIAPAN ALAT & PENANGANAN
AWAL

 Persiapkan alat dan cairan yang akan digunakan untuk


melakukan resusitasi seperti infus set makro, atau
mikro, kateter i.v line disesuaikan dengan pasien,
pada anak-anak, digunakan nomor 22-24 (sediaan
berwarna biru, atau kuning).
 Setelah melakukan penilaian ada tidaknya tanda-
tanda syok, seperti tindakan resusitasi pada
umumnya, terlebih dahulu bebaskan dan
pertahankanlah jalan nafas (”clear and open airway”)
dengan cara ”head tilt-chin lift”, atau ”jaw thrust”.
PERSIAPAN ALAT & PENANGANAN
AWAL

 Selanjutnya berikanlah oksigenasi dan


ventilasi adekuat dengan menggunakan nasal
kanul.
 Untuk memperbaiki sirkulasi, pasanglah akses
intravena pada vena tubuh yang besar, dan
mudah dipasang i.v line, dan jangan lupa
untuk memasang kateter untuk memudahkan
penghitungan jumlah urin.
PROSEDUR RESUSITASI CAIRAN PADA ANAK

Setelah akses intravena terpasang, berikanlah cairan kristaloid dengan menggunakan


ringer laktat, atau asering sebanyak 20 ml/kgBB pada 5 menit pertama. Selanjutnya
lakukanlah penilaian ada tidaknya perbaikan klinis pasca resusitasi dengan cairan
kristaloid pada 5 menit pertama yang meliputi kesadaran, frekuensi nafas, denyut nadi,
tekanan darah, capillary refill time, dan jumlah urin.

Bila perbaikan klinis tidak ada berikan resusitasi cairan kristaloid sebanyak 20 ml/kg BB
pada 5 menit kedua. Selanjutnya lakukan penilaian lagi ada tidaknya perbaikan klinis
pasca resusitasi.

Bila perbaikan klinis tidak ada, berikan resusitasi cairan koloid (dekstran, HES, atau
haemacell) sebanyak 10 ml/kgBB, pada 5 menit ketiga. Selanjutnya lakukanlah penilaian
lagi ada tidaknya perbaikan klinis pasca resusitasi dengan cairan koloid.
KETETAPAN
1 cc = 20 tetes makro

1 cc = 60 tetes mikro

 SEMUA DIKONVERSI MENJADI …..tetes/menit


PROSEDUR RESUSITASI CAIRAN PADA ANAK

 Bila syok teratasi, diberikan cairan pemeliharaan menurut Holiday-


Segar dengan perhitungan jumlah cairan sebagai berikut :
 Bila berat badan pasien ≤ 10 kg, diberikan cairan pemeliharaan sebanyak
100 cc/kgBB.
 Bila berat badan pasien antara 11-20 kg, diberikan cairan pemeliharaan
dengan rumus 1000 + (BB-10) × 50.
 Bila berat badan pasien antara 21-30 kg, diberikan cairan pemeliharaan
dengan rumus 1500 + (BB-20) × 20
 Pada saat pemberian cairan pemeliharaan (maintenance),
lakukanlah pemantauan terhadap tanda-tanda vital, meliputi
kesadaran, pernafasan, denyut nadi, tekanan darah, perfusi
jaringan (bila perfusi baik kulit menjadi hangat, capillary refill
time kurang dari 3 detik), dan jumlah urin (jumlah urin yang
normal > 1 ml/kgBB/jam.
Estimated Fluid and Blood Losses Based on
Patient’s Initial Presentation

Class I Class II Class III Class IV


Blood-Loss[ml] ->750 750-1500 1500-2000 >2000

Blood-loss [%BV] ->15% 15-30% 30-40% >40%

Pulse-Rate [x/min.] <100 >100 >120 >140

Blood-Pressure Normal Normal Decreased Decreased

Pulse-Pressure N or Decreased Decreased Decreased


increased
Respiratory Rate 14-20 20-30 30-35 >35

Urine out-put [ml/hour] >30 20-30 5-15 Negligible

Mental status/CNS Slightly Midly Anxious and Confused and


anxious anxious confused lethargic

BV = 70 ml/kg
FLUID REPLACEMENT
3 : 1 Rule
Class I Crystalloid
Class II Crystalloid
+ Colloid ?
Class III Crystalloid
+Colloid, Blood
Class IV Crystalloid
+Colloid, Blood
Pola kerja penanganan
shock perdarahan
Hasanul, 2003

Penderita datang
dengan perdarahan

Pasang infus jarum Ukur tekanan darah,


kaliber besar (16G, hitung nadi, nilai perfusi,
18G), ambil sample produksi urine
darah

Tentukan estimasi
jumlah perdarahan,
minta darah
Guyur cepat Ringer Laktat atau
NaCl 0.9% [hangat, 390C] 3x
prakiraan lost-volume [1-2 evaluasi
liter]
TERIMA KASIH