Anda di halaman 1dari 33

Anggaran Laba

Anggaran Laba Dan Peran Pentingnya

Secara umum tujuan didirikannya setiap


perusahaan adalah untuk menghasilkan
laba. Untuk dapat menghasilkan laba
usaha, setiap perusahaan harus memiliki
produk yang dapat dijual kepada
masyarakat. Produk perusahaan adalah
segala sesuatu yang menjadi sumber
pendapatan perusahaan. Produk tersebut
dapat berupa barang berwujud atau jasa.
Jadi pada dasarnya produk perusahaan
hanyalah merupakan alat untuk mencapai
tujuan umum perusahaan.
Anggaran Laba

Anggaran laba adalah jumlah laba yang


ingin diperoleh perusahaan melalui
berbagai aktivitas operasional yang
mencakup kegiatan produksi dan
penjualan di dalam suatu periode
tertentu.
Metode

Secara umum, terdapat tiga metode yang dapat


digunakan di dalam menyusun anggaran laba
suatu perusahaan, yaitu:

1. Metode a posteriori

2. Metode a priori

3. Metode pragmatis
Metode A Posteriori

adalah metode penyusunan anggaran laba dimana


jumlah laba ditetapkan sesudah proses penetapan
rencana (planning) keseluruhan, termasuk
penyusunan anggaran operasional. Anggaran laba
merupakan bagian dari keseluruhan perencanaan
itu sendiri. Laba usaha akan diketahui dengan
sendirinya setelah anggaran operasional disusun
perusahaan. Itu berarti, metode ini menggunakan
anggaran penjualan sebagai titik tolak penyusunan
anggaran operasional.
METODE A POSTERIORI

Anggaran Biaya
Bahan

Anggaran Biaya
Tenaga Kerja

Anggaran Anggaran Anggaran


Penjualan Produksi Laba
Anggaran Biaya
Overhead

Anggaran Biaya
Operasional
Proses Metode A Posteriori

Di dalam metode A Posteriori, prosedur penyusunan


anggaran laba dimulai dengan menyusun anggaran
penjualan, lalu dilanjutkan dengan anggaran produksi,
anggaran biaya bahan baku, anggaran biaya tenaga
kerja langsung dan anggaran biaya operasional.

Setelah seluruh anggaran operasional tersebut disusun,


kemudian digabungkan menurut format anggaran laba
diatas, maka akan menghasilkan anggaran laba dengan
sendirinya. Artinya, perusahaan tidak menetapkan
anggaran laba dari awal penyusunan anggaran, tetapi
anggaran laba disusun setelah seluruh anggaran
operasional ditetapkan. Dan laba dianggarkan
merupakan hasil akhir dari seluruh anggaran
operasional tersebut.
Metode A Priori

adalah metode penyusunan anggaran laba dimana


jumlah laba ditentukan terlebih dulu pada awal
proses perencanaan (planning) secara
keseluruhan. Berdasarkan jumlah laba yang telah
ditentukan tersebut, perusahaan membuat
anggaran komprehensif. Jumlah laba yang
ditetapkan pada awal proses perencanaan, akan
berpengaruh secara langsung terhadap seluruh
anggaran operasional. Berarti, metode ini
menggunakan anggaran laba sebagai titik tolak
penyusunan anggaran operasional.
Anggaran Biaya
Bahan

Anggaran Biaya
Tenaga Kerja

Anggaran Anggaran Anggaran


Laba Penjualan Produksi
Anggaran Biaya
Overhead

Anggaran Biaya
Operasional
Proses Metode A Priori

Dengan metode A Priori, laba ditetapkan pada


tahap awal proses perencanaan, dan
berdasarkan laba yang dianggarkan tersebut,
perusahaan membuat anggaran operasional.
Tetapi anggaran operasional perusahaan dapat
pula disusun terlebih dulu, kemudian disusun
anggaran laba berdasarkan anggaran
operasional tersebut. Jika jumlah laba yang
dihasilkan di dalam anggaran tersebut tidak
sesuai dengan jumlah yang dikehendaki
perusahaan, maka anggaran operasionalnya
diubah dan disesuaikan lagi supaya target laba
yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Metode Pragmatis

adalah metode penyusunan anggaran laba,


dimana jumlah laba yang direncanakan
ditetapkan berdasarkan suatu standar
tertentu yang telah teruji secara empiris dan
didukung oleh pengalaman. Dengan
menggunakan suatu tingkat target laba yang
diperoleh dari pengalaman, pengharapan
atau perbandingan, pihak manajemen
menetapkan standar laba relatif yang
dianggap memadai bagi perusahaannya.
Anggaran Biaya
METODE PRAGMATIS Bahan

Anggaran Biaya
Tenaga Kerja

Anggaran Anggaran
Laba Empiris Penjualan Produksi
Anggaran Biaya
Overhead

Anggaran Biaya
Operasional
Proses Metode Pragmatis

Menyusun anggaran laba dengan metode


pragmatis dapat dimulai dengan
menetapkan laba yang ingin diraih terlebih
dulu, dan kemudian diikuti dengan
menyusun anggaran operasional, atau
dimulai dengan menyusun anggaran
penjualan terlebih dulu dan diikuti
anggaran operasional lainnya, yang akan
berujung pada anggaran laba. Titik tolak
penyusunan anggaran didasarkan pada
pengalaman, perbandingan atau suatu
standar tertentu yang dianggap layak bagi
perusahaan.
Perbedaan Pokok Ketiga Metode

Jadi perbedaan pokok dari metode


pragmatis dan metode a posteriori dan
metode a priori terletak pada titik tolak
penyusunan anggaran laba.

Titik tolak anggaran laba dengan metode a


posteriori dimulai dengan volume
penjualan yang disusul dengan anggaran
operasional lainnya, sedangkan metode
pragmatis dan metode a posteriori
menggunakan jumlah laba yang
diinginkan sebagai titik tolak.
Perbedaan Pokok
Metode A Priori dan Metode Pragmatis

Titik tolak anggaran laba dengan metode a priori


dimulai dengan laba yang ditargetkan terlebih dulu,
yang disusul dengan anggaran operasional lainnya.

Perbedaan pokok antara metode pragmatis dan


metode a priori adalah dari mana munculnya jumlah
atau nilai rupiah laba yang menjadi titik tolak
penyusunan seluruh anggaran tersebut.

Metode pragmatis menetapkan laba yang ditargetkan


untuk dicapai berdasarkan pengalaman masa
sebelumnya. Sedangkan metode A Priori
menggunakan laba yang memang dicanangkan
tanpa dasar pengalaman sebelumnya.
Format Dasar Anggaran Laba

Penjualan xxxxxxxx
Harga Pokok Penjualan :
Biaya Bahan Baku xxxx
Biaya Tenaga Kerja Langsung xxxx
Biaya Overhead xxxx
- Biaya Produksi xxxxxx
- Persediaan awal barang jadi xxxx
- Persediaan total barang jadi xxxxxx
- Persediaan akhir barang jadi (xxxx)
- Harga Pokok Penjualan (xxxxx)
Laba Kotor Xxxxx
- Biaya Komersial / Operasional (xxx)
Laba Usaha Sebelum Pajak xx
- Penjualan Xxxxxxx

- Harga Pokok Penjualan :

- Persediaan bahan baku, awal xxxxxx

- Pembelian bahan baku xxxxxx

- Persediaan total bahan baku xxxxxxxxx

- Persediaan bahan baku, akhir ( xxxxxxxx )

- Biaya bahan baku langsung xxxxxxxxx

- Biaya tenaga kerja langsung xxxxxxxx

- Biaya pabrikase lain :

- Biaya bahan penolong xxxxxxxx

- Biaya tenaga kerja penolong xxxxxxxx

- Biaya lain-lain xxxxxxxx xxxxxxxx

- Biaya pabrikase total xxxxxxxx

- Persediaan barang dalam proses, awal xxxxxxxx

- Persediaan barang dalam proses, total xxxxxxxxx

- Persediaan barang dalam proses, akhir ( xxxxxxxx )

- Harga Pokok Produksi xxxxxxxxx

- Persediaan barang jadi, awal xxxxxxxxx

- Persediaan barang jadi, total xxxxxxxxx

- Persediaan barang jadi, akhir (xxxxxxxxx)

- Harga Pokok Penjualan (xxxxxxxxx)

- Laba Kotor xxxxxxxxx

- Biaya Operasional :

- Biaya Pemasaran xxxxxxxx

- Biaya Administrasi dan umum xxxxxxxx

- Biaya Operasional Total (xxxxxxxxx)

- Laba usaha sebelum pajak xxxxxxxx


Contoh Soal

• PT.Rakindo adalah sebuah perusahaan produsen rak


buku yang berlokasi di Makassar. Pada akhir tahun 2019,
perusahaan ini menyusun anggaran operasional untuk
tahun 2020. Dari anggaran operasional yang telah
disusun, dapat diringkas beberapa hal penting sebagai
berikut :
• perusahaan merencanakan menjual sebanyak 5.300 unit
rak dengan harga jual sebesar Rp 300.000 per unit,
sehingga nilai penjualan dianggarkan sebesar Rp
1.590.000.000., biaya bahan baku dianggarkan sebesar
Rp 776.500.000., biaya tenaga kerja langsung
dianggarkan sebesar Rp 152.000.000., dan biaya
overhead dianggarkan sebesar Rp 148.000.0000.
Sedangkan biaya operasional dianggarkan sebesar Rp
198.000.000. untuk biaya pemasaran dan sebesar Rp
90.500.000. untuk biaya administrasi dan umum. Pada
akhir tahun 2020 diperkirakan nilai persediaan yang ada
sebesar Rp 125.000.000. dan pada awal tahun 2020 nilai
persediaan diperkirakan sebesar Rp 73.500.000.
Anggaran Laba Tahun 2020 ( metode a posteriori )
1. Penjualan 1.590.000.000

2. Harga Pokok Penjualan :

Biaya Bahan Baku 776.500.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung 152.000.000

Biaya Overhead 148.000.000

- Biaya Produksi 1.076.500.000

- Persediaan awal barang jadi 73.500.000

- Persediaan total barang jadi 1.150.000.000

- Persediaan akhir barang jadi (125.000.000)

- Harga Pokok Penjualan (1.025.000.000)

3. Laba Kotor 565.000.000

- Biaya Komersial / Operasional (268.500.000)

4. Laba Usaha Dianggarkan 296.500.000


Jika perusahaan menganggarkan laba usaha sebesar Rp. 400.000.000
untuk tahun 2020 maka anggaran yang telah disusun dengan
menggunakan metode a posteriori tidak dapat mencapai laba yang telah
ditargetkan karena itu, komponen dalam anggaran laba harus diubah
supaya laba yang telah ditargetkan dapat dicapai. Jika perusahaan
menilai seluruh biaya dianggarkan sudah efisien maka pilihannya adalah
menaikkan harga jual dalam jumlah yang dianggap pantas yang tidak
mempengaruhi jumlah permintaan produk tanpa mengubah volume
penjualan, supaya target laba bisa tercapai.
Jika biaya total tidak diubah, sedangkan laba usaha dinaikkan maka
biaya total ditambah laba usaha akan menghasilkan nilai penjualan
total.
Keterangan Anggaran Laba Anggaran Baru
Penjualan 1.590.000.000 ??
HPP (1.025.000.000) (1.025.000.000)
Biaya Operasi (268.500.000) (268.500.000)
Laba Usaha 296.500.000 400.000.000
Untuk memperoleh nilai penjualan yang baru dengan target
laba sebesar Rp.400.000.000 adalah
Nilai Penjualan =1.025.000.000+268.500.000+400.000.000
= Rp.1.693.500.000
Dengan niai penjualan yang dianggarkan sebesar
Rp.1.693.500.000 dan jumlah produk yang dijual 5.300 unit,
maka harga jual produk yang baru Rp. 319.528,3atau
dibulatkan menjadi Rp.320.000/unit.
Maka nilai penjualan = 320.000x5.300 = Rp. 1.696.000.000
Berdasarkan harga jual dan nilai penjualan yang baru,
anggaran laba yang baru dapat disusun sbb:
Anggaran Laba Tahun 2020 ( metode a priori ) (1)
• Penjualan 1.696.000.000
• Harga Pokok Penjualan :
Biaya Bahan Baku 776.500.000

Biaya Tenaga Kerja


152.000.000
Langsung

Biaya Overhead 148.000.000


- Biaya Produksi 1.076.500.000
- Persediaan awal barang jadi 73.500.000
- Persediaan total barang jadi 1.150.000.000
- Persediaan akhir barang jadi (125.000.000)
- Harga Pokok Penjualan (1.025.000.000)
• Laba Kotor 671.000.000

- Biaya Komersial /
(268.500.000)
Operasional
• Laba Usaha Dianggarkan 402.500.000
Alternatif Lain
Jika perusahaan menyusun anggaran laba dengan metode a priori, dimana laba
telah ditentukan terlebih dulu dan anggaran operasional belum disusun, maka
metode untuk menentukan volume dan nilai penjualan, dimana jumlah laba
yang diinginkan ditentukan terlebih dulu, adalah serangkaian langkah berikut :
1. Menetapkan laba yang diinginka perusahaan
2. Membuat proyeksi biaya tetap total yang diperlukan untuk menghasilkan
produk dalam kapasitas produksi perusahaan.
3. Membuat proyeksi biaya variabel/unit produk.
4. Menghitung volume penjualan untuk mencapai jumlah laba yang telah
ditetapkan dengan rumus berikut :

Biaya tetap total + laba


Nilai Penjualan =
Biaya variabel /unit
1-
Harga jual/unit produk
PT. Mejaku adalah produsen meja kerja yang berlokasi gowa.
Untuk tahun 2020, perusahaan memasang target laba sebesar
Rp.1.000.000.000 kapasitas produksi perusahaan ini dalam 1
tahun sebesar 1.200 unit meja. Untuk menghasilkan produk
dengan volume tersebut, biaya tetap yang dikeluarkan terdiri
dari :
1. Biaya overhead tetap Rp.160.000.000
2. Biaya pemasaran tetap Rp. 55.000.000
3. Biaya adm dan umum Rp.145.000.000
Sedangkan biaya variabel yang dibutuhkan oleh setiap unit
produk terdiri dari :
4. Biaya bahan baku Rp.550.000
5. Biaya tenaga kerja langsung Rp.200.000
6. Biaya overhead variabel Rp.100.000
7. Biaya pemasaran variabel Rp.50.000
Pada tahun 2019 perusahaan menjual produknya dengan harga Rp.2.500 000/unit,
dan pada tahun 2020 perusahaan tidak berencana menaikkan harga jual
produknya.
Berdasarkan data tersebut, untuk memperoleh laba Rp.1.000.000.000 perusahaan
harus menjual produknya dengan harga Rp.2.500.000/unit sebanyak :

360.000.000+1.000.000.000
Nilai Penjualan =
900.000
1-
2.500.000

= 2.125.000.000

Volume penjualan = Nilai penjualan : harga per unit


= 2.125.000.000
= 850 unit
Anggaran Laba Tahun 2020 ( metode a priori ) (2)
2.125.000.000
• Penjualan
• Harga Pokok Penjualan :
Biaya Bahan Baku 467.500.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung 170.000.000
Biaya Overhead 245.000.000
- Biaya Produksi 882.500.000
- Persediaan awal barang jadi 0
- Persediaan total barang jadi 882.500.000
- Persediaan akhir barang jadi 0
- Harga Pokok Penjualan (882.500.000)
• Laba Kotor 1.242.500.000
>> Biaya Operasional :
- Biaya Pemasaran 97.500.000
- Biaya Administrasi & Umum 145.000.000
(242.500.000)
Anggaran laba tersebut terdiri dari berbagai unsur yang saling
terkait, mulai anggaran penjualan hingga anggaran biaya
produksi dan anggaran biaya operasi dengan perincian sbb:
Penjualan 2.500.000 x 850 unit = 2.125.000.000
Biaya bahan baku 550.000 x 850 unit = 467.500.000
Biaya Tenaga kerja 200.000 x 850 unit = 170.000.000
Biaya Overhead 160.000.000 +(850x100.000) = 245.000.000
Biaya pemasaran 550.000 +(850x50.000) = 97.500.000
Biaya administrasi = 145.000.000
Dalam kasus PT. Mejaku terdahulu memiliki kapasitas produksi dalam satu tahun
sebesar 1.200 meja. Untuk menghasilkan produk dengan volume tersebut, biaya tetap
yang dikeluarkan terdiri dari :
1. Biaya overhead tetap Rp.160.000.000
2. Biaya pemasaran tetap Rp. 55.000.000
3. Biaya adm dan umum Rp.145.000.000
Sedangkan biaya variabel yang dibutuhkan oleh setiap unit produk terdiri dari :
4. Biaya bahan baku Rp.550.000
5. Biaya tenaga kerja langsung Rp.200.000
6. Biaya overhead variabel Rp.100.000
7. Biaya pemasaran variabel Rp.50.000
Data penjualan dan perolehan laba pada tahun sebelumnya sbb:
TAHUN VOLUME LABA USAHA
L PENJUALAN
D 2015 507 548.000.000
D 2016 596 762.000.000
D 2017 642 795.000.000
D 2018 705 875.000.000
D 2019 785 940.000.000
D
Berdasarkan data histori 5 tahun tersebut perusahaan akan menyusun
anggaran laba tahun 2020 seandainya perusahaan ingin menggunakan
vulume penjualan sebagai titik awal penyusunan anggaran dan
menggunakan metode least square maka dihasilkan volume penjualan sbb:
TAHUN TAHUN VOLUME Xi X i . Yi
KE PENJUALAN
2015
2015 0
0 507
507 -2
-2 (1.014)
(1.014) 4
4
2016 1 596 -1 (596) 1
2016 1 596 -1 (596) 1
2017 2 642 0 0 0
2017 2 642 0 0 0
2018 3 705 1 705 1
2018 3 705 1 705 1
2019 4 785 2 1.570 4
2019 4 785 2 1.570 4
TOTAL 3.235 665 10
TOTAL 3.235 665 10

a= 3.235:5 = 647
b= 665 : 10 = 66,5
x= 3
Penjualan tahun 2020 y = a+bx
=647+66,5(3)
=846,5 unit/ dibulatkan 847 unit.
Anggaran Laba Tahun 2020 ( metode pragmatis) (1)
 Penjualan 2.117.500.000
 Harga Pokok Penjualan :
Biaya Bahan Baku 465.850.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung 169.400.000
Biaya Overhead 244.700.000
- Biaya Produksi 879.950.000
- Persediaan awal barang jadi 0
- Persediaan total barang jadi 879.950.000
- Persediaan akhir barang jadi 0
- Harga Pokok Penjualan (879.950.000)
 Laba Kotor 1.237.550.000
>> Biaya Operasional :
- Biaya Pemasaran 97.350.000
- Biaya Administrasi & Umum 145.000.000
(242.350.000)

 Laba Usaha Dianggarkan 995.200.000


TUGAS
Menyiapkan Anggaran untuk direksi
Anggaran Parsial Jumlah
Biaya Iklan Rp. 42. 000 000
Gaji Wiraniaga Rp. 12. 000 000
Gaji karyawan administrasi Rp. 18. 000 000
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 52. 000 000
Biaya overhead Rp. 48. 000 000
Komisi wiraniaga Rp. 28. 000 000
Biaya angkut penjualan Rp. 34. 000 000
Pembelian Rp. 906 500 000
Biaya listrik, air,dan telepon kantor adm Rp. 12. 000 000
Biaya listrik, air,dan telepon kantor pemasaran Rp. 18. 000 000
Biaya penyusutan gedung pemasaran Rp. 24. 000 000
Biaya penyusutan gedung gedung kantor adm Rp. 30. 000 000
Biaya penyusutan kendaraan pemasaran Rp. 20. 000 000
Biaya penyusutan kendaraan adm Rp. 15. 000 000
Penjualan Rp. 1.450 000 000
Biaya bunga Rp. 15. 500 000
Persediaan barang jadi , awal tahun Rp. 73. 500 000
Persediaan barang jadi , akhir tahun Rp. 125 000 000
Persediaan bahan baku awal Rp. 220. 000 000
Persediaan bahan baku akhir tahun Rp. 350. 000 000
berdasarkan data tersebut, jika disusun anggaran laba pt. rakindo untuk
tahun 2020 dalam format panjang maka akan tersusun anggaran laba
dengan data yang lebih terinci.
DIMINTA :
Hitunglah laba usaha yang diperoleh PT.Rakindo