Anda di halaman 1dari 22

CHEMICAL

BURN

Oleh :
Andini Murtiningtyas
J520195056
Bioka Muthia Farah Mahardika
J520195057
Definisi
chemical burn adalah luka pada mukosa
mulut yang disebabkan oleh aplikasi
topikal bahan yang bersifat kaustik
Etiologi
berbagai bahan kimia atau obat ,
contohnya aspirin yang diletakkan
langsung pada bagian gigi yang sakit atau
area rongga mulut lain yang terasa sakit,
kemudian bahan kimia lain seprti silver
nitrat, hydrogen peroksida, natrium
perborat, perak nitrat, asam trikloroasetat,
cairan untuk etsa asam, bahan varnis
untuk kavitas gigi
Patogenesis
Pada pasien yang menderita chemical burn
disebabkan karena aspirin, aspirin diletakkan
langsung pada lesi dengan maksud untuk
menyembuhkan rasa tidak nyaman akibat
sakit yang dirasakan pada daerah tertentu.
pH rendah dari aspirin, mengakibatkan
eritema, dan nekrosis jaringan, dan dengan
meningkatnya waktu kontak, pada askhirnya
terbentuk kelupasan berwarna putih pada
permukaan mukosa oral.
Tanda Klinis
 Lesiputih di lapisan mukosa yang
terlokalisir. Biasanya di sulkus bukal dan
di dekat mukosa bukal, dan gingiva
cekat alveolar, terdapat lapisan
pseudomembranosa , irregular ,
simptomatik, meninggalkan eritema dan
ulserasi.
Diagnosis
 Penegakan diagnosis berdasarkan
pemeriksaan klinis dan riwayat apakah
sebelumnya pernah memakai tambalan
amalgam atau tidak.
 Different Diagnosis :

Cheek biting, keratosis, necrotizing


ulcerative gingivitis dan stomatitis,
materia alba, kandidiasis, trauma
mekanis, penyakit bulosa
Tatalaksana
 Penyembuhan akan mulai sejak
pemberian obat-obat sperti aspirin tadi
dihilangkan, sampai sembuh dan
Memberi edukasi kepada pasien tentang
pentingnya menjaga kebersihan mulut.
Karsinoma Verukosa
 Karsinoma Verukosa adalah karsinoma
sel skuamosa kelas rendah neoplasma.
Penyakit ini biasa dijumpai pada orang
tua, terutama laki-laki dan berciirikan
memiliki kulit putih, karsinoma verukosa
membentuk tingkat mukosa di
sekitarnya.
Etiologi
 Etiologi: Karsinoma verukosa sering
terkait dengan kebiasaan tembakau
(merokok) dan Diperkirakan Human
Papiloma Virus (HPV) terlibat dalam
patogonesisnya.
Tanda Klinis
 Tanda klinis : lesi tampak putih yang
disebabkan oleh pantulan spektrum cahaya
oleh keratin abnormal dan jaringan
hyperkeratosis yang selalu basah terkena
saliva. Lesi ini terutama terdapat di lidah, dasar
mulut dan mukosa bukal. Berukuran lebih dari 1
cm dan lesi papillary putih pada varian
heterogen. Lesi putih dengan konsistensi Kenyal
dan tidak ada hubungannya dengan
limfadenopati. Lesi eksofilik dengan tepi
indurasi.
Pemeriksaan Penunjang
 Seiringdengan gambaran klinis yang
ditemukan, perlu dilakukan tindakan
biopsi dan pemeriksaan histopatoloi
untuk menyingkirkan kemungkinan
adanya pertumbuhan papilari lainnya.
Diferential Diagnosis
 Diagnosis banding : karsinoma sel
skuamosa, Leukoplakia verukosa,
papila, Xantoma Veruciform, white
sponge nevus, karsinoma sel squamous
 Perawatan : Enukleasi lesi sederhana
 Gambaran histopatologi : adanya para
keratin dan rete ridges lebar dan
memanjang
White Sponge Nevus
 White Sponge Nevus merupakan lesi keratotik pada mukosa yang tanpa
gejala, putih, berkerut dan seperti busa, seringkali lesinya
memperlihatkan pola gelombang yang simetris. Lokasi yang paling umum
pada epitel mukosa tidak berkeratin seperti di mukosa pipi, bilateral dan
selanjutnya di mukosa bibir, lingir alveolar dan dasar mulut. Keadaan ini
dapat mengenai seluruh mukosa mulut atau didistribusikan secara
universal sebagai bercak-bercak putih tertentu. Tepi gusi dan dorsal lidah
hampir tidak pernah terkena, meskipun palatum lunak dan ventral lidah
umum terlibat. Ukuran lesinya bervariasi dan satu pasien ke pasien lain
dan dan waktu ke waktu. Lesi ini menetap sepanjang hidup
 White Sponge Nevus terjadi akibat gangguan kongenital pada mukosa
oral yang secara genetika ditransmisi oleh suatu cara autosomal dominan
yang diturunkan, yang bermanifestasi pada masa anak-anak dan
meningkat sepanjang hidup. Nama Lain dari white sponge nevus adalah
Cannon’s disease, familial white folded dysplasia, hereditary
leukokeratosis, white gingivostomatitis, and exfoliative leukoedema
 White sponge nevus tidak menunjukkan
predileksi ras, jenis kelamin, tetapi
karena pola transmisi dominan
autosomal pada keadaan ini, maka
banyak anggota keluarga dapat
menderita kelainan tersebut. Daerah-
daerah mukosa ekstraoral yang dapat
terlibat adalah rongga hidung, esofagus,
larings, vagina dan rectum
Gb. 1. Gambaran Klinis White Sponge Nevus A. White Sponge Nevus pada mukosa bibir. B.
White Sponge Nevus pada lateral lidah. C. White Sponge Nevus pada mukosa bukal kanan.
D. White Sponge Nevus pada mukosa bukal kiri. E. White Sponge Nevus pada mukosa
dorsal lidah.
Diagnosis Banding
 Gambaran klinisnya sangat khas sehingga biopsi biasanya
tidak diperlukan. Diagnosis banding white sponge nevus
meliputi lesi oral leukoplakia, chemical burn, trauma, sifilis,
tembakau dan penggunaan sirih. white sponge nevus juga
biasanya disamakan dengan kandidiasis, tetapi pemeriksaan
jamur, histologi spesimen biopsi, dan respons terhadap agen
antijamur akan menjadi faktor pembeda. Check biting, lichen
planus, lupus erythematosus juga harus dikeluarkan, lesi
panchyonychia congenita, diskeratosis intraepitel jinak
herediter, penyakit Darier, dyskeratosis congenita mungkin
menyerupai lesi white sponge nevus. Kecuali lichen planus dan
lupus erythematosus yang mungkin terbatas pada rongga
mulut, gangguan ini dapat dibedakan secara klinis dari white
sponge nevus dengan lesi oral ekstra yang terkait.
Perawatan
 Meskipun pasien yang terkena tidak menunjukkan gejala,
mereka sering mengeluhkan tekstur yang berubah pada
mukosa mereka atau ketidaknyamanan dengan manifestasi
lesi. Banyak pasien yang terkena menjalani perawatan kuratif
dengan Nystatin, antihistamin, vitamin dan obat kumur.
Azitromisin, tetrasiklin, dan penisilin menunjukkan beberapa
efek klinis. Setelah pemberian penisilin, dan tetracycline,
serta pemberian obat kumur menunjukkan peningkatan yang
signifikan telah dilaporkan dalam sebuah kasus. Namun,
sampai saat ini belum ada protokol manajemen keunggulan
untuk white ssponge nevus. Sementara itu, pasien yang
terkena harus menjaga kebersihan mulut yang tepat untuk
mengurangi infeksi di rongga mulut.
Stomatitis Uremia
 Stomatitisuremia merupakan lesi yang
jarang terjadi, dapat ditemukan pada
pasien dengan gagal ginjak akut
maupun kronis.
etiologi
 Stomatitis uremia disebabkan oleh
metabolism urea saliva karena urease bakteri
mulut yang menghasilkan ammonia.
Peningkatan konsentrasi urea dan
produknya di dalam darah dan saliva.
Lesi biasanya timbul jika konsentrasi
urea dalam darah melebihi 30 mmoL/L.
degradasi urea dalam mulut oleh enzim
urease membentuk ammonia bebas yang
kemungkinan merusak mukosa mulut
Gambaran Klinis
 Gambaran klinis dari stomatitis uremia tipe
nonulseratif, pseudomembranosa adalah nyeri,
eritema difus, tertutup pseudomembran tebal
berwarna putih kelabu sedangkan untuk tipe
hiperkeratotik tampak sebagai lesi
hoerkeratotik multiple yang nyeri berwarna
putih disertai tonjollan tipis. Lidah dan dasar
mulut sering terkena, gejala yang umumnya
ditemukan adalah xerostomia , nafas berbau
urin , pengecapan terganggu dan senasasi
terbakar
Diagnosis Banding
 Kandidiasis, stomatitis kontak akibat kayumanis ,
hairy leukoplakia, white sponge nevus, reaksi
terhadap obat

 PERAWATAN
Lesi biasanya membaik setelah dilakukan
hemodialysis. Beberapa hal lain yang di anjurkan
adalah menjadi kebersihan mulut dengan baik,
menghunakan obat kumur yang dapat melepaskan
oksigen, juga saliva buatan. Jika perlu dapat
ditambahkan antimikotik, antiviral dan anti mikrobial