Anda di halaman 1dari 31

Lupus Eritematosus Sistemik

(LES)

dr. Andy Bariyadi, SpPK


Departemen Laboratorium Patologi Klinik
Definisi

Lupus Eritematosus Sistemik


(LES)

Penyakit autoimun sistemik dengan karakteristik patologik


heterogen, melibatkan hampir seluruh organ dalam tubuh
serta adanya produksi autoantibodi

Penyakit ini terjadi dalam tubuh


Disregulasi akibat system kekebalan tubuh salah
sistem imun menyerang jaringan sehat

Manifestasi klinis bervariasi dari nyeri sendi ringan,


kelainan kulit sampai kondisi berat yg menyebabkan
kematian karena adanya keterlibatan organ internal
Etiologi

Etiologi
 Etiologi pasti penyakit LES belum diketahui pasti
 Diduga faktor genetik melatarbelakangi terjadinya penyakit ini

10-15 kali lebih banyak mengenai


perempuan dari pada laki-laki

Orang dengan predisposisi genetik berisiko


Para ahli menduga mengalami LES bila terpapar faktor
pencetus
 pengaruh lingkungan : sinar matahari,
infeksi, obat
 perubahan hormon
SLE  penyakit kronis dengan tingkat keparahan yg bervariasi dlm
perjalanannya, dengan morbiditas yg signifikan, dapat berakibat fatal
jika tidak ditangani lebih awal
Patofisiologi LES
Dikutip dari : Mok CC, Lau CS
Faktor Genetik

Penelitian
Genome Wide Association Studies (GWAS)

Gen yg terkait dengan respon imun & peradangan

 Immune response and inflammation (HLA-DR,


PTPN22, STAT4, IRF5, BLK, OX40L, FCGR2A,
BANK1, SPP1, IRAK1, TNFAIP3, C2, C4, CIq, PXK)
 DNA repairs (TREX1)
 Adherence of inflammatory cells to the
endothelium (ITGAM)
 Tissue response to injury (KLK1, KLK3)
Faktor Lingkungan

Sinar matahari

Photosensitivity in Cutaneous Lupus ErythematosusAndrew Kim, BA and Benjamin F. Chong, MD, MSCS
Photodermatol Photoimmunol Photomed. 2013 February ; 29(1): 4–11
Faktor Lingkungan

Infeksi
Contoh: EBV

Epstein-Barr Virus and Systemic


Lupus Erythematosus
Anette Holck Draborg,Karen
Duus, and Gunnar Houen Clinical
and Developmental Immunology
Volume 2012
Faktor Hormonal
Observasi klinis
Hormone seks steroid penyebab SLE
kejadian yg lebih tinggi pada wanita usia produktif, peningkatan aktivitas SLE selama
kehamilan, & wanita pasca menopause yg menggunakan suplementasi estrogen

Updated advances of
linking psychosocial
factorsand sex hormones
with systemic lupus
erythematosus
susceptibility and
development 2019
Autoantibodies in SLE: Specificities, Isotypes and Receptors
Barbara Dema and Nicolas Charles, Januari 2016
Proses Dasar

Kemampuan seorang individu untuk membedakan antigen self & non-self


berperan penting pada mekanisme pertahanan tubuh terhadap patogen

Sistem imun tubuh dimulai dengan pengenalan antigen dengan reseptor sel imun

Menyebabkan aktivasi atau toleransi sel limfosit terhadap antigen

Kegagalan mekanisme toleransi tubuh terhadap self antigen akan


menyebabkan terjadinya penyakit autoimun
Patogenesis penyakit LES

Disregulasi sistem imun Defek klirens kompleks imun

 Hilangnya mekanisme toleransi sel


Kompleks imun terbentuk 
T & sel B, interaksi antigen antibody &
 Produksi autoantibodi
menyebabkan :
 Terbentuknya kompleks imun  Inflamasi,
 Aktivasi sistem komplemen
 Kerusakan jaringan
Normal
Kompleks imun juga dibentuk pada individu normal, namun pada individu
normal kompleks imun ini segera difagosit & dibersihkan dari sirkulasi
melalui sistem mononuklear fagosit

LES
Deposit kompleks imun pada LES terjadi karena
1) Pembentukan kompleks imun yg berlangsung kronis dan rekuren
2) Defek klirens kompleks imun yg disebabkan oleh berkurangnya
reseptor komplemen di eritrosit, hipokomplemenemia atau
hipersaturasi reseptor komplemen & reseptor fragment
crystallizable (Fc)
 Pembentukan kompleks imun in-situ memiliki peranan pada kerusakan
jaringan pada LES
 Pembentukan kompleks imun in-situ terjadi melalui 2 mekanisme :
1) ikatan antigen-antibodi pada jaringan (tissue tropism)
2) Reaksi ikatan langsung / reaksi silang antibodi dengan antigen
jaringan

Deposit kompleks imun pada jaringan tidak menyebabkan kerusakan


jaringan secara langsung namun secara tidak langsung yaitu melalui
aktivasi komplemen. Sistem aktivasi komplemen terdiri dari 3 jalur
1) aktivasi klasik
2) Alternatif
3) mannose binding lectin. Aktivasi komplemen akan membentuk
berbagai mediator proinflamasi dan membrane attact complex (MAC)
yang berkontribusi pada kerusakan jaringan
Deposit kompleks imun pada jaringan tidak menyebabkan kerusakan
jaringan secara langsung namun secara tidak langsung yaitu melalui
aktivasi komplemen. Sistem aktivasi komplemen terdiri dari 3 jalur
1) aktivasi klasik
2) Alternatif
3) Mannose binding lectin
4) Aktivasi komplemen akan membentuk berbagai mediator proinflamasi
& membrane attact complex (MAC) yg berkontribusi pada kerusakan
jaringan

Aktivasi komplemen akan membentuk berbagai mediator proinflamasi &


membrane attact complex (MAC) yg berkontribusi pada kerusakan
jaringan
Jalur aktivasi komplemen
Dikuti dari : Wilde B, Paassen Pv, Witzke O,
Tervaert JWC
Manifestasi Klinis

Manifestasi Konstitusional

Beberapa manifestasi umum dijumpai pada LES : kelelahan, penurunan berat badan, &
demam. Demam sebagai salah satu gejala konstitusional LES sulit dibedakan dari sebab
lain seperti infeksi

Manifestasti Kulit / Cutaneous Lupus Erythematosus

Beberapa manifestasi umum dijumpai pada LES : kelelahan, penurunan berat badan, &
demam. Demam sebagai salah satu gejala konstitusional LES sulit dibedakan dari sebab
lain seperti infeksi
Manifestasti Kulit / Cutaneous Lupus Erythematosus

Subacute cutaneous lupus lesions

malar rash/butterfly rash


Manifestasi Muskuloskeletal
Lebih dari 90% penderita LES mengalami keluhan muskuloskeletal. Keluhan dapat berupa
nyeri otot (mialgia), nyeri sendi (artralgia) atau merupakan suatu artritis dimana tampak
jelas bukti inflamasi sendi

Deformities in the hands


Periungual erythema and nailfold vasculitis
Manifestasi Paru

 Manifestasi klinis pada paru, diantaranya adalah pneumonitis, emboli paru, hipertensi
pulmonum, perdarahan paru, & shrinking lung syndrome
 Pneumonitis lupus dapat terjadi akut atau berlanjut menjadi kronik
 Penderita akan merasa sesak, batuk kering, & dijumpai ronki di basal
 Keadaan ini terjadi sebagai akibat deposisi kompleks imun pada alveolus atau pembuluh
darah paru

Manifestasi Kardiovaskuler

 Kelainan kardiovaskular penyakit perikardial, dapat berupa perikarditis ringan, efusi


perikardial sampai penebalan perikardial
 Miokarditis ditandai oleh takikardia, aritmia, interval PR yg memanjang, kardiomegali
sampai gagal jantung.
 Perikarditis harus dicurigai apabila dijumpai keluhan nyeri substernal, friction rub,
gambaran silhouette sign pada foto dada, ataupun gambaran EKG serta Echokardiografi
yg mendukung
Manifestasi Ginjal

 Keterlibatan ginjal 40-75% sebagian besar terjadi setelah 5 tahun menderita LES.
 Gejala / tanda keterlibatan ginjal umumnya tdk tampak sebelum terjadi gagal ginjal
 Penilainan keterlibatan ginjal dilakukan dengan menilai ada / tidaknya hipertensi
 Pemeriksaan LAB  proteinuria & silinderuria, peningkatan nilai ureum & kreatinin,
adanya proteinuria kuantitatif, & penurunan nilai klirens kreatinin

Manifestasi Gastrointestinal

 Manifestasi gastrointestinal tdk spesifik karena dapat merupakan cerminan


keterlibatan berbagai organ pada penyakit LES atau sebagai akibat pengobatan
 Dispepsia dijumpai lebih kurang 50%, lebih banyak dijumpai pada mereka yg memakai
glukokortikoid serta didapatkan adanya ulkus
Manifestasi Hematologi

 Terjadi peningkatan Laju Endap Darah (LED)


 Anemia normositik normokrom yg terjadi akibat
• Penyakit kronik
• Penyakit ginjal kronik,
• Gastritis erosif dengan perdarahan
• Hemolitik autoimun

Manifestasi Neuropsikiatrik

 Keterlibatan neuropsikiatrik sulit ditegakkan karena gambaran klinis begitu luas


 Dapat berupa migrain, neuropati perifer, sampai kejang & psikosis.
 Kelainan psikiatrik sering ditemukan, mulai dari anxietas, depresi sampai psikosis
 Kelainan psikiatrik juga dapat dipicu oleh terapi steroid
 Analisis cairan serebrospinal seringkali tidak memberikan gambaran yg spesifik, kecuali
untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi
Pemeriksaan Laboratorium

Ujilaboratorium bertujuan untuk :

1) Menegakkan atau menyingkirkan


diagnosis
2) Mengikuti perkembangan penyakit
3) Mengidentifikasi efek samping terapi

Diagnosis LES menurut kriteria


American College of Rheumatology
(ARA) :
Pemeriksaan laboratorium
Parameter paling utama pada saat awal
LES
untuk menegakkan diagnosis LES adalah
pemeriksaan parameter Anti nuclear
antibody (ANA)
Pemeriksaan Imunoserologi:

Parameter Anti nuclear antibody (ANA)


 Pada penderita LES ditemukan pemeriksaan parameter ANA yg positif
sebesar 95-100%
 Parameter ANA hanya diperiksakan pada pasien dengan tanda & gejala
mengarah pada LES
 Hasil dapat positif pada beberapa penyakit lain yg mempunyai gambaran
klinis menyerupai LES misalnya penyakit autoimun lainnya (Mixed
connective tissue disease /MCTD, artritis reumatoid, tiroiditis
autoimun)
 Hasil dapat positif pada penyakit keganasan
Beberapa pemeriksaan lain yg perlu dikerjakan
setelah pemeriksaan parameter ANA positif

Pemeriksaan antibodi terhadap antigen nuklear


spesifik : anti-dsDNA, Sm, nRNP, Ro(SSA), La
(SSB), Scl-70 dan anti-Jo

 Antibodi anti-dsDNA merupakan pemeriksaan yg spesifik untuk LES


 Jarang pada penyakit lain & spesifitasnya hampir 100%
 Titer anti-ds DNA yg tinggi hampir pasti menunjukkan diagnosis LES
dibandingkan dengan titer yg rendah
Pemeriksaan Lab lainnya

Pemeriksaan Hematologi

Pemeriksaan darah rutin akan menunjukkan:


 Anemia normositik normokromik (anemia pada penyakit
kronik atau anemia akibat proses hemolitik otoimun)
 Trombositositopenia
 Leukopenia & limfopenia
 Petanda inflamasi yg sering dipakai adalah laju endap
darah(LED)
 LED dapat meningkat pada penyakit berat
 Retikulosit
Pemeriksaan Kimia Klinik

 Pemeriksaan fungsi ginjal:


• Ureum & kreatinin biasanya normal pada awal penyakit,
walaupun nefritis lupus telah terjadi
• Penurunan klirens kreatinin & EGFR
 Pemeriksaan fungsi hati (SGOT & SGPT) biasanya normal
 Penanda inflamasi  Peningkatan C-reactive protein/ CRP
biasanya lebih ringan pada SLE dibanding pada penyakit infeksi
 Urinalisis dapat menunjukkan proteinuria, hematuria, &
silinderuria mikroskopik  sedimen eritrosit merupakan tanda
glomerulonephritis berat
Kriteria Diagnosis LES

 Diagnosis LES ditentukan berdasarkan karakteristik gejala klinis &


karakteristik autoantibodi yg terbentuk

 American Rheumatism Association (ARA) tahun 1971
mempublikasikan kriteria klasifikasi LES dengan tujuan agar para
peneliti di berbagai tempat konsisten dalam menentukan kriteria LES

 American Rheumatism Association membuat revisi pertama dari


kriteria yag telah dibuat pada tahun 1982, & pada tahun 1997 kriteria
tersebut kembali direvisi

 Kriteria pasien LES menurut kriteria ARA tahun 1997 adalah


seseorang yg memenuhi 4 kriteria dari 11 kriteria
Dikutip dari: Tutuncu ZN, Kalunian KC
Terima Kasih