Anda di halaman 1dari 24

ANTIINFLAMASI

KELOMPOK V
•AINIA PUTRI (1601102) • POPPY NUR AZIZAH
•ANNISA MARDHIYATUL (1601080)
HUMAIRA (1601103) • QONITA QOTRUN NADA
•NAQILAH RAMADHANI (1601081)
(1601079) • YOLLA HARYANTI
(1601098)
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
2018 D
(STIFARM) PADANG
KAMIS, 28 FEBRUARI 2020
08.00-10.00 WIB
SEJARAH INFLAMASI
Seiring perkembangan sediaan NSAID, para ahli mengupayakan
penyediaan obat ini dengan efek samping yang seminimal
mungkin, diantaranya merubah formulasi dan penemuan
sediaan NSAID baru. Akan tetapi ternyata sediaan terkini pun
tidak mampu memberikan solusi yang terbaik sebab di satu sisi
memberikan efek terapi terhadap suatu organ tubuh tertentu,
tetapi memberik efek samping terhadap organ tubuh lainnya.
INFLAMASI
Inflamasi adalah respon perlindungan normal terhadap cedera
jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, bahan kimia
berbahaya, atau agen mikrobiologi

Merupakan usaha tubuh untuk inaktifkan atau menghancurkan


organisme penginvasi, menghilangkan iritan, dan persiapan
untuk perbaikan jaringan.

Inflamasi distimulasi oleh faktor kimia (histamin, bradikinin,


serotonin, leukotrien, dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh
sel yang berperan sebagai mediator radang didalam sistem
kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran
infeksi.
• Penyebab: Mikroorganisme, trauma mekanis, zat-zat kimia,
dan pengaruh fisika.
• Tujuan respon inflamasi: menarik protein plasma dan fagosit
ke tempat yg mengalami cedera/terinvasi agar dpt
mengisolasi, menghancurkan/menginaktifkan agen yg masuk,
membersihkan debris dan mempersiapkan jaringan untuk
proses penyembuhan.
• Pembagian:
* Inflamasi non imunologis
Tidak melibatkan sistem imun (tidak ada reaksi alergi) misalnya
karena luka, cedera fisik, dsb.
* Inflamasi imunologis
Melibatkan sistem imun,terjadi reaksi antigen antibodi,Misalnya
pada asma.
Fase respon inflamasi:
• Fase akut: ciri vasodilatasi lokal dan peningkatan
permeabilitas kapiler
• Reaksi lambat: tahap subakut dgn ciri infiltrasi sel leukosit dan
fagosit
• Fase proliferatif kronik: ciri terjadinya degenerasi dan fibrosis

Gejala inflamasi
• Kemerahan (rubor)
• Rasa panas (kalor)
• Rasa sakit (dolor)
• Pembengkakan (tumor)
• Fungsiolaesa
Peran Prostaglandin Sebagai Mediator
Semua obat antiinflamasi bekerja dengan menghambat sistesis
prostaglandin.
Prostaglandin diproduksi dalam jumlah kecil pada semua jaringan,
biasanya prostaglandin bekerja secara lokal pada jaringan tempat
senyawa tersebut disintesis dan dimetabolisme secara cepat menjadi
produk inaktif pada lokasi kerjanya.
Efek: vasodilatasi, relaksasi otot polos, meningkatnya permeabilitas
kapiler dan sensitisasi sel-sel saraf terhadap nyeri.
Sintesis Prostaglandin
Asam arakhidonat merupakan prekursor utama prostaglandin.
Terdapat 2 jalur utama dalam sintesis eikosanoid dari asam
arakhidonat
Benang-Benang Fibrin
Sbg jaringan ikat yg saling berhubungan hingga tepi-tepi luka.
Berfungsi dlm proses pemulihan jaringan yg rusak akibat reaksi
inflamasi sehingga jaringan akan kembali ke bentuk semula.
Jalur Siklooksigenase & Jalur Lipooksigonase
Klasifikasi Obat Antiinflamasi

*Obat NSAID (Diflunisal, Aspirin, Diclofenas, Todolac, Fenamate,


Fenoprofen, Ibuprofen, Indometasin, Etarolac, Ketoprofen,
Meloxicam, Metilsalisilat, Nabumenton, Naproxen, Oxaprozin,
Piroxicam dan tolmetin, Celecoxib).
*Golongan steroid (hidrokortison, deksametasone, prednison)
*Analgesik lainnya (acetaminopen)
NSAIDs
Adalah satu agen yang berlainan secara kimiawi dan memiliki
perbedaan dalam aktivitas antipiretik, analgesik, dan
antiinflamasi. Obat ini bekerja terutama melalui penghambaatn
enzim COX yang mengatalisis dalam biosintesis prostanoid.

Bekerja dengan cara menghambat enzim siklooksigenase (COX 1


dan 2) untuk menghentikan stimulasi hormon prostalglandin,
karena hormon tersebut yang memicu peradangan dan
menguatkan impuls listrik yang terkirim dari saraf ke otak
sehingga meningkatkan rasa nyeri.
AntiInflamasi Steroid

• Obat yang menghambat enzim phospholipase A2 sehingga tdk


terbentuk asam arakidonat. Jika asam arakidonat tdk
terbentuk makan prostaglandin juga tdk akan terbentuk.
Aspirin
Mekanisme kerja : aspirin di-deasetilasi secara cepat oleh
esterase dalam tubuh yang menghasilkan salisilat yang berefek
antiinflamasi, antipiretik dan analgesik. Efek antipiretik dan
antiinflamasi salisilat terutama dihasilkan karena penghambatan
aktivitas COX yang menurunkan pembentukan prostaglandin
sehingga memodulasi aspek inflamasi. Aspirin menghambat
inflamasi pada artritis tetapi tidak menghentikan perjalanan
penyakit.
Indikasi
-Analgesi -Antipiretik
-Antiinflamasi -Antitrombotik
-Mengatasi peradangan dan penggumpalan darah pada jerawat.
Kontraindikasi Efek samping
1. Ulkus peptikum/tukak lambung. *Mual
2. Hemofilia/kelainan pendarahan. *Muntah
3. Alergi terhadap asetosal, NSAID *Depresi pernapasan
4. Berisiko mengalami pendarahan *Bronkontriksi
gastrointestinal atau stroke *Sindrom reye
hemoragik.
*Kategori kehamilan C
5. Peminum alkohol.
6. Sedang menjalani perawatan gigi
atau bedah, betapapun kecilnya. Interaksi Obat
7. Gangguan hati dan ginjal, *Alcohol *Allopurinol
penderita asma (tidak mutlak *Amlodipine *Atorvastatin
dilarang, namun perlu hati-hati). *Cyanocobalamin
Hydrochlorothiazide
*Ibuprofen *Metformin
*Metoprolol *Naproxen
Dosis
PASIEN PEDIATRIC
Nyeri
Anak-anak 2-11 tahun: Maksimum 2,5 g / m2 sehari.
Anak-anak ≥12 tahun: maksimum 4 g sehari .
Untuk pengobatan sendiri, tidak melebihi rekomendasi durasi
dosis sehari. Pengobatan sendiri untuk nyeri / sakit: ≤ 5 hari
DEWASA
Nyeri
Oral dan Rektal : Maksimal 4 g sehari ≤10 hari
> Nyeri Terkait dengan Migraine Headache
Oral: maksimal 500 mg (dalam kombinasi dengan acetaminophen
500 mg dan 130 mg kafein) dalam 24 jam
Natrium diklofenac
Farmakologi : Menghambat sintesis prostaglandin dgn
menghambat COX-1 & COX-2.
Aktivitas sebagai antiinflamasi, analgetik & antipiretik.
Metabolisme terutama melalui hati. Ekskresi pada orang dewasa
sehat kira-kira 50-70% melalui urin, 30-35% melalui feses.
Indikasi: 
sebagai terapi awal dan akut untuk rematik yang disertai
inflamasi dan degeneratif (artritis rematoid, ankylosing
spondylitis, osteoartritis dan spondilartritis), sindroma nyeri dan
kolumna vertebralis, rematik non-artikular, serangan akut dari
gout; nyeri pascabedah
Kontraindikasi: Efek samping :
*Perokok *Sembelit
*Peny. Jantung *Diare
*Selesai operasi Bypass koroner *Perdarahan
*Hipertensi *Gastritis /tukak usus
*Konsumsi alkohol *Perut kembung
*Stroke *Mual
*Asma *Muntah
*Peny. Lambung *Sakit perut
*Gang. Hati *Pusing
*Gang. Ginjal *Kehamilan *Sakit kepala
*Menyusui *Anemia *Gatal
*Gang. Pembekuan darah *Telinga berdenging
*Alergi Salisilat, obat NSAID lainnya. *Ruam pada kulit.
Dosis: 
Oral: 75-150 mg/hari (2-3 dosis), sebaiknya setelah makan.
Injeksi intramuskular: untuk nyeri pascabedah dan kambuhan 75
mg (1x1), kasus berat 2x1, maks 2 hari.
Kolik ureter: 75 mg kemudian untuk 75 mg lagi 30 menit
berikutnya bila perlu.
Suppositoria: 75-150 mg/hari (dosis terbagi) maks sehari.
Anak 1-12 tahun, juvenil artritis, oral atau rektal, 1-3 mg/kg
bb/hari dalam dosis terbagi.
Metil Prednisolon
• Dosis: oral semula 2-60mg/hari, pemeliharaan 4mg sehari
• Kerja: menekan sistem imun sehingga tubuh tdk melepas senyawa
kimia yg memicu terjadinya peradangan.
• Kategori C pada ibu hamil dan menyusi
• KontraIndikasi: penderita infeksi jamur, DM, hipertensi, peny.ginjal,
hati, jantung, osteoporosis, hipotiroidisme, glaukoma, katarak dan TBC.
• Interaksi: Meningkatkan resiko kejang dgn ciclosporin, dgn
amphotericin B meningkatkan risiko hipokalemia, risiko aritmia
meningkat jika dgn digoxin, dll
• Efek samping: mudah terkena infeksi, naik kadar gula dlm darah, mual
dan muntah, sakit kepala, nafsu makan turun, sulit tidur, keringat
berlebih, maag, nyeri otot, gang.emosi dan suasana hati.
Deksamethasone
• Kerja: Menekan adrenal relatif kuat, maka risiko insufisiensi juga agak
besar.
• Indikasi: Zat diagnostik untuk menentukan hiperfungsi adrenal,
antialergi, imunosupresan, antiinflamasi dan anti shock yg sangat kuat.
• Penggunaan: topikal (tetes mata/telinga)
• Dosis: oral semula 0,5-9mg sehari sesudah makan pagi, pemeliharaan
0,5-1mg sehari. Pada shock i.v. 100-300mg lar. Na-fosfat
• KontraIndikasi: riwayat hipersensitif gol.kortikosteroid, pasien tukak
lambung, osteoporosis, DM, infeksi jamur sistemik, glaukoma, psikosis.
• Efek samping: meningkatkan pembentukan glukosa dr protein,
pengeroposan tulang, mempengaruhi proses metabolisme lemak,
menurunkan fungsi limfa
Daftar Pustaka
Corwin, E.J. 2008. Handbook of Pathophysiology. Edisi ketiga. Diterjemahkan
oleh: Surbekti, N.B., editor edisi Bahasa Indonesia: Yudha, E.K., Wahyuningsih,
E., Yulianti, D., dan Karyuni, P.E. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Edisik Ketiga.
Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC. Halaman. 240

Kee, J.L., dan Hayes, E.R. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, hal
140-145, 435-443. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

Tjay dan Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek
Sampingnya. Edisi V. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Wilmana, P.F. 2007. Analgesik-Antipiretik, Analgesik-Antiinflamasi Nonsteroid


dan Obat Gangguan Sendi Lainnya, Dalam Gunawam, S.G.,Setiabudy, R.,
Nafrialdi, Elysabet. Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran. Universitas
Indonesia pp. 207-220.
TERIMA KASIH