Anda di halaman 1dari 23

ASKEP SINDROME

NEFROTIK
Oleh: Kelompok 1
DEFINISI SINDROM NEFROTIK

Sindroma Nefrotik adalah status klinis yang ditandai


dengan peningkatan permeabilitas membran glomerulus
terhadap protein yang mengakibatkan kehilangan
urinarius yang massif (Whaley & Wong, 2003).
Nefrotik sindrom merupakan gangguan klinis ditandai
oleh (1) peningkatan protein dalam urin secara
bermakna (proteinuria) (2) penurunan albumin dalam
darah (3) edema, dan (4) serum kolesterol yang tinggi
dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia).
Tanda-tanda tersebut dijumpai di setiap kondisi yang
sangat merusak membran kapiler glomerulus dan
menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus
(Brunner & Suddarth, 2001)
Whaley and Wong (1998) membagi tipe-tipe Sindrom
Nefrotik :
 Sindroma Nefrotik lesi minimal (MCNS : Minimal Change

Nefrotik Sindroma) : Merupakan kondisi yang tersering


yang menyebabkan sindroma nefrotik pada anak usia
sekolah.
 Sindroma Nefrotik Sekunder : Terjadi selama perjalanan
penyakit vaskuler kolagen, seperti lupus eritematosus
sistemik dan purpura anafilaktoid, glomerulonefritis,
infeksi sistem endokarditis, bakterialis dan neoplasma
limfoproliferatif.
 Sindroma Nefirotik Kongenital : Faktor herediter sindroma

nefrotik disebabkan oleh gen resesif autosomal. Bayi yang


terkena sindroma nefrotik, usia gestasinya pendek dan
gejala awalnya adalah edema dan proteinuria. Penyakit
ini resisten terhadap semua pengobatan dan kematian
dapat terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan bayi
jika tidak dilakukan dialisis.
ETIOLOGI

Penyebab sindrom nefrotik dibagi menjadi dua


menurut Muttaqin, 2012 adalah:
 Primer, yaitu berkaitan dengan berbagai
penyakit ginjal, seperti glomerulonefritis,
dan nefrotik sindrom perubahan minimal
 Sekunder, yaitu yang diakibatkan infeksi,
penggunaan obat, dan penyakit sistemik lain,
seperti diabetes mellitus, sistema lupus
eritematosus, dan amyloidosis
 
PATOFISIOLOGI
Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler
glomerular akan berakibat pada hilangnya protein plasma
dan kemudian akan terjadinya proteinuria. Kelanjutan
dari proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan
menurunya albumin, tekanan osmotic plasma menurun
sehingga cairan intravascular berpindah ke dalam
intertisial. Perpindahan cairan tersebut menjadikan
volume cairan intravascular berkurang, sehingga
menurunkan jumlah aliran darah ke renal karena
hipovolemi. Menurunya aliran darah ke renal, ginjal akan
melakukan kompensasi dengan merangsang produksi
renin angiotensin dan peningkatan sekresi antideuretik
hormone (ADH) dan sekresi aldosteron yang kemudian
menjadi retensi natrium dan air. Dengan retensi natrium
dan air, akan menyebabkan edema (Wati, 2012).
MANIFESTASI KLINIS

Adapun manifestasi klinis menurut Brunner &


Suddarth Edisi 8 Vol. 2 (2001), manifestasi
utama sindrom nefrotik adalah edema. Edema
biasanya lunak dan cekung bila ditekan
(pitting), dan umumnya ditemukan di sekitar
mata (periorbital), pada area ekstremitas
(sekrum, tumit, dan tangan), dan pada
abdomen (asites). Gejala lain seperti malese,
sakit kepala, iritabilitas dan keletihan
umumnya terjadi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Penegakan diagnosis sindrom nefrotik tidak


ditentukan dengan hanya penampilan klinis.
Diagnosis sindrom nefrotik dapat ditegakkan
melalui beberapa pemeriksaan penunjang
berikut yaitu urinalisis, pemeriksaan sedimen
urin, pengukuran protein urin, albumin serum,
pemeriksaan serologis untuk infeksi dan
kelainan immunologis, USG renal, biopsi ginjal,
dan darah
PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk
mempertahankan fungsi ginjal. Menjaga pasien
dalam keadaan tirah baring selama beberapa
hari mungkin diperlukan untuk meningkatkan
diuresis guna mengurangi edema. Masukan
protein ditingkatkan untuk menggantikan
protein yang hilang dalam urin dan untuk
membentuk cadangan protein di tubuh. Jika
edema berat, pasien diberikan diet rendah
natrium. Diuretik diresepkan untuk pasien
dengan edema berat, dan adrenokortikosteroid
(prednison) digunakan untuk mengurangi
proteinuria (Brunner & Suddarth, 2001).
Konsep Asuhan Keperawatan pada Sindrom Nefrotik

 Pengkajian
 Identitas Klien
Umur: Lebih banyak pada anak-anak terutama pada
usia pra-sekolah (3-6 th). Ini dikarenakan adanya
gangguan pada sistem imunitas tubuh dan kelainan
genetik sejak lahir.
Jenis kelamin: Anak laki-laki lebih sering terjadi
dibandingkan anak perempuan dengan rasio 2:1.
Agama
Suku/bangsa
Status
Pendidikan
Pekerjaan
Identitas penanggung jawab
 Hal yang perlu dikaji meliputi nama, umur, pendidikan,
agama, dan hubungannya dengan klien.
Riwayat Kesehatan
 Keluhan utama: Kaki edema, wajah sembab,
kelemahan fisik, perut membesar (adanya acites)
 Riwayat Kesehatan Sekarang
 Untuk pengkajian riwayat kesehatan sekarang, perawatan
perlu menanyakan hal berikut:
 Kaji berapa lama keluhan adanya perubahan urine
output
 Kaji onset keluhan bengkak pada wajah atau kaki
apakah disertai dengan adanya keluhan pusing dan
cepat lelah
 Kaji adanya anoreksia pada klien
 Kaji adanya keluhan sakit kepala dan malaise
 Riwayat Kesehatan Dahulu
Perawat perlu mengkaji:
 Apakah klien pernah menderita penyakit edema?
 Apakah ada riwayat dirawat dengan penyakit
diabetes melitus dan penyakit hipertensi pada
masa sebelumnya?
 Penting juga dikaji tentang riwayat pemakaian
obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi
terhadap jenis obat
 Riwayat Kesehatan Keluarga
 Kaji adanya penyakit keturunan dalam keluarga
seperti DM yang memicu timbulnya manifestasi
klinis sindrom nefrotik
o Kebutuhan bio-psiko-sosio-spiritual
Pola nutrisi dan metabolisme: Anoreksia, mual, muntah.
Pola eliminasi: Diare, oliguria.
Pola aktivitas dan latihan: Mudah lelah, malaise
Pola istirahat tidur: Susah tidur
Pola mekanisme koping :  Cemas, maladaptif
Pola persepsi diri dan konsep diri : Putus asa, rendah
diri
Pemeriksaan Fisik

 Status kesehatan umum


 Keadaan umum: klien lemah dan terlihat sakit berat
 Kesadaran: biasanya compos mentis
 TTV: sering tidak didapatkan adanya perubahan.
 Pemeriksaan sistem tubuh
 Pemeriksaan Diagnostik
Urinalisis didapatkan hematuria secara
mikroskopik, proteinuria, terutama
albumin. Keadaan ini juga terjadi akibat
meningkatnya permeabilitas membran
glomerulus.
Diagnosa Keperawatan

 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan


gangguan mekanisme regulasi
 Batasan Karakteristik :
 Edema
 Ansietas
 Anasarka
 Gangguan pola nafas
 Oliguria
 Penambahan berat badan dalam waktu singkat
 Perubahan berat jenis urine

(NANDA, 2015)
 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis (hipoproteinemia) dan
kurang asupan makanan (anoreksia)
 Batasan Karakteristik :
 Cepat kenyang setelah makan
 Gangguan sensasi rasa
 Kurang minat pada makanan

(NANDA, 2015)
 Gangguan citra tubuh berhubungan
dengan penyakit (edema)
 Batasan Karakteristik :
 Berfokus pada penampilan masa lalu
 Menghindari melihat tubuh
 Menghindari menyentuh tubuh
 Menyembunyikan bagian tubuh
 Takut reaksi orang lain

(NANDA, 2015)
 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan mokus dengan
jumlah berlebihan (efusi pleura)
 Batasan Karakteristik :
Suara nafas tambahan
Perubahan frekuensi dan irama napas
Sianosis
Dipsneu
Gelisah

(NANDA, 2015)
 Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
berhubungan dengan penekanan tubuh terlalu
dalam akibat edema
 Batasan Karakteristik :
 Perubahan karakteristik kulit (warna,
elastisitas, rambut, kelembapan, kuku,
sensasi, suhu)
 Waktu pengisian kapiler > 3 detik
 Warna tidak kembali ke tungkai saat
tungkai diturunkan
 Edema
 Paresresia

(NANDA, 2015)
 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan
dengan nafas tidak adekuat
 Batasan Karakteristik :
 Perubahan kedalaman pernapasan
 Penurunan tekanan ekspirasi
 Bradipnea
 Dipsnea
 Penurunan ventilasi semeniit

(NANDA, 2015)
 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan umum
 Batasan Karakteristik :
 Ketidaknyamanan setelah beraktivitas
 Dipsnea setelah beraktivitas
 Menyatakan merasa letih
 Menyatakan merasa lemah

(NANDA, 2015)
 Penurunan curah jantung berhubungan
dengan perubahan frekuensi jantung
 Batasan Karakteristik :
 Bradikardia
 Palpitasi jantung
 Perubahan elektrokardiogram (EKG)
(mis., aritmia, abnormalitas konduksi,
iskemia)
 Takikardia

(NANDA, 2015)
INTERVENSI
1. Timbang berat badan setiap hari dan
monitor status pasien
2. Jaga intake/asupan yang akurat dan catat
output
3. Kaji lokasi dan luasnya edema
4. Berikan cairan dengan tepat
5. Berikan diuretik yang diresepkan oleh
dokter