Anda di halaman 1dari 26

Kelompok 2

M. Iksan Akbar (02271711033)


Fadila Lestari U. Abas (02271711059)
Izmi Fahira H. Achmad (02271711053)
Febriana Nurdin (02271711149)
Delinda Taher Alim (02271411086)
AKUNTANSI AS
ET TETAP BER
WUJUD
Sub Pokok Pembahasan
A. PENDAHULUAN
B. PENGAKUAN ASET TETAP
C. PENGUKURAN BIAYA PEROLEHAN
D. PEROLEHAN ASET TETAP
E. ASET TETAP YANG DIHIBAHKAN
F. PENYUSUTAN ASET TETAP
G. METODE PENYUSUTAN SESUAI KETENTUAN KOMERSIAL
H. SAAT PENYUSUTAN ASET TETAP SESUAI KETENTUAN KOMERSIAL
I. HARGA PEROLEHAN ATAU HARGA PENJUALAN DALAM HAL TERJADI JUAL BELI HARTA
J. HARGA PEROLEHAN ATAU HARGA PENJUALAN DALAM HAL TUKAR MENUKAR HARTA
K. HARGA PEROLEHAN ASET MEMBANGUN SENDIRI
L. METODE PENYUSUSTAN SESUAI KETENTUAN PERPAJAKAN
M. PENYUSUTAN PADA AKHIR MASA MANFAAT
N. SAAT PENYUSUTAN ASET TETAP
O. PENARIKAN HARTA BUKAN BANGUNAN
P. PENGELOMPOKAN HARTA BERWUJUD BUKAN BANGUNAN UNTUK KEPERLUAN
PENYUSUTAN ATAS USAHA JASA TELEKOMUNIKASI SELULER
Q. PENGHITUNGAN PENYUSUTAN ATAS KOMPUTER, PRINTER, SCANNER, DAN SEJENISNYA
R. PENGHITUNGAN PENYUSUTAN ATAS TELEPON SELULER DAN KENDARAAN PERUSAHAAN
S. KETENTUAN LAIN
A. PENDAHULUAN
80

70
Aset tetap merupakan bagian dari neraca yang dilaporkan
60 oleh manajemen dalam setiap periode atau setiap tahun.
Aset ini digolongkan menjadi “Aset Tetap Berwujud”
50 (tangible fixed assets) dan “Aset Tetap Takberwujud”
(intangible fixed assets).
40
Aset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh dalam
30 bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu,
yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak
20
dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal
perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari
10
satu tahun (PSAK No. 16 Revisi Tahun 2007).
0
Text Text Text Text Text
B. PENGAKUAN ASET TETAP
80

Suatu aset tetap menuhi kualifikasi diakui sebagai aset pada awal harus
70
diukur sebesar biaya perolehan. Sebagai komponen biaya perolehan aset
tetap tersebut meliputi berikut ini (penerapan paragraf 16 PSAK No. 16
60
Revisi 2007).
1. Harga perolehan
50
Dalam komponen harga perolehan termasuk bea impor dan pajak pembelian yang

40 tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan-potongan


lain.
30 2. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke
lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan
20 dan maksud manajemen.

10 3. Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi
aset, kewajiban biaya-biaya tersebut timbul pada saat aset diperoleh atau karena
entitas menggunakan aset selam periode tertentu yang bertujuan selain menghasilkan
0 persediaan.
Text Text Text Text Text
C. PENGUKURAN BIAYA PEROLEHAN
80
Aset tetap merupakan bagian dari neraca yang dilaporkan
70
Perolehan aset tetap dapat beragam seperti diperoleh
60 karena pertukaran aset nonmoneter atau kombinasi aset
moneter dan nonmoneter. Biaya perolehan dari suatu aset
50
tetap diukur dengan menggunakan nilai wajar, tetapi
40 dikecualikan terhadap:
1. transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
30
2. nilai wajar dari suatu aset yang diterima dan diserahkan tidak
20 dapat diukur secara andal.

10
Perolehan aset tetap juga diperoleh dari hibah pemerintah. Dalam
hal hibah pemerintah inilah tidak boleh diakui sampai diperoleh
0 keyakinan bahwa entitas tersebut akan memenuhi kondisi atau
Text Text Text Text Text
prasyarat hibah dan hibah diperoleh.
D. PEROLEHAN ASET TETAP

Perolehan Aset Tetap Secara Gabungan


Apabila aset diperoleh secara gabungan, maka harga perolehan
masing-masing aset tetap ditentukan dengan mengalokasikan harga
gabungan berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aset
yang bersangkutan.

Perolehan Aset Tetap Secara Angsuran


Terhadap aset tetap yang diperoleh secara angsuran, perlu
diperhatikan mengenai kontrak pembeliannya.

Perolehan Aset Tetap Secara Pertukaran


Menurut PSAK No. 16 (Revisi 2007), suatu aset tetap dapat
diperoleh dengan pertukaran atau pertukaran sebagian.
Dalam pertukaran sebagian dapat dilakukan untuk suatu aset
tetap yang tidak serupa aset lain. Biaya ini diukur pada nilai wajar
aset yang dipertukarkan atau diperoleh, yang paling andal,
sebanding dengan nilai wajar aset yang dipertukarkan setelah
disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang
ditransfer.
D. PEROLEHAN ASET TETAP
Perolehan Aset Tetap dengan Cara Membangun Sendiri
Sesuai akuntansi komersial, biaya perolehan suatu aset tetap terdiri
atas harga belinya dan setiap biaya dapat diatribusikan secara
langsung dalam membawa aset tersebut ke kondisi yang membuat
aset dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan. Demikian
pula dalam aset yang diperolehnya. Oleh karena membangun sendiri,
tentu saja menggunakan prinsip yang sama seperti aset yang
diperoleh, yaitu meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
pembangunan aset sampai siap pakai.

Perolehan Secara Hibah, Bantuan, dan Sumbangan


Dalam perolehan secara hibah, bantuan, dan sumbangan secara
langsung dihubungkan dengan perlakuan akuntansi pajak, karena
akuntansi komersial pada subbab pengukuran biaya perolehan telah
dijelaskan perolehan aset tetap yang diperoleh dari hibah pemerintah
yang intinya tidak boleh diakui sampai entitas memperoleh keyakinan
akan memenuhi kondisi atau prasyaratan hibah.
E. ASET TETAP YANG DIHIBAHKAN

Kembali seperti contoh terdahulu yang mangacu pada Pasal 4 ayat (3) Undang-Undang
Pajak Penghasilan, maka hibah pun dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1. Memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3)
Bila hibah yang diterima Wajib Pajak tidak dalam rangka hubungan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan, maka dipandang sebagai transaksi modal dengan sisa buku
menurut
pembukuan pemberi hibah yang digunakan sebagai dasar pengukurannya. Sebelumnya,
penerima hibah mengakuinya sebagai ekuitas, bukan sebagai penghasilan menurut fiskus.

2. Tidak memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3)


Dalam hal tidak memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3) pemberian hibah tersebut dimaksudkan
menjadi penghasilan bagi yang menerimanya karena ternyata pemberi hibah ini mempunyai
hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan dengan pihak penerima hibah.
Transaksi hibah ini dipandang sebagai transaksi pertukaran, sehingga dasar pengukurannya
harga pasar.
F. PENYUSUTAN ASET TETAP

Penyusutan dilakukan terhadap aset tetap berwujud dengan syarat aset tetap berwujud
tersebut:

1. diharapkan digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi;


2. memiliki suatu masa manfaat yang terbatas; dan
3. ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang dan
jasa untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Penyusutan atau jumlah disusutkan (depreciable amount) adalah biaya suatu aset atau jumlah
lain yang diatribusikan untuk biaya dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisa. Terdapat
istilah penghapusan yang pengertiannya berbeda dengan penyusutan. Penghapusan adalah
penghapusan nilai buku suatu aset yang dilakukan apabila nilai buku yang tercantum dalam
laporan keuangan tidak lagi menggambarkan manfaat dari aset yang bersangkutan.
Dalam praktik akuntansi komersial metode penyusutan dapat digunakan sesuai
pengelompokan menurut kroteria berikut ini.
1. Dasar Waktu
a. Metode garis lurus (straight line method)
Biaya Penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Perhitungan Penyusutan
b. Metode pembebanan menurun
1. Metode jumlah angka tahun (sum of the year digit method)
G. METODE PENYUSUT
AN SESUAI KETENTUAN Biaya Penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Penghitungan Penyusutan

KOMERSIAL Dasar Penghitungan Penyusutan = Harga Perolehan – Nilai Residu

2. Metode saldo menurun/saldo menurun ganda (declining/double declining balance


method)
Biaya Penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Perhitungan Penyusutan

Dasar Perhitungan Penyusutan = Harga Sisa Buku Awal Periode


1. Dasar Penggunaan
a. Metode jam jasa (service hours method)
Pada metode ini besarnya penyusutan dihitung dengan mendasarkan
pada teori bahwa pembelian aset tetap ditunjukkan dari jumlah jam
jasa langsung dan dalam metode ini mengakui estimasi masa
manfaat aset yang diukur dalam jam jasa.
G. METODE PENYUSUT Tarif Penyusutan per jam dihitung:
AN SESUAI KETENTUAN Harga Prolehan – Nilai Residu
KOMERSIAL Tarif Penyusutan per jam =
Estimated Service Life

b. Metode unit produksi (productive output method)


Dalam metode unit produksi taksiran manfaat dinyatakan dalam
kapasitas produksi yang dapat dihasilkan. Kapasitas produksi ini
dapat pula dinyatakan dalam bentuk jam pemakaian atau urut-urut
kegiatan lainnya. Penghitungan besarnya biaya penyusutan dapat
dirumuskan:
Tarif Penyusutan = Produksi Sebenarnya / Kapasitas Produksi
Biaya Penuyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Penyusutan
Dasar Penyusutan = Harga Perolehan – Nilai Residu
Paragraf 58 SAK No. 16 (Revisi 2007) menyatakan bahwa penyusutan
H. SAAT PENYUSUTAN
aset dimulai pada saat aset berada pada lokasi dan kondisi yang
ASET TETAP SESUAI KE
TENTUAN KOMERSIAL diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan
maksud manajemen. Terjadinya perbedaan pengakuan tersebut
mengakibatkan perbedaan periode pengakuan aset tetap, sehingga
berakibat perbedaan saat diakuinya penyusutan aset tetap.
Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta
I. HARGA PEROLEHAN A yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud
TAU HARGA PENJUALA dalam Pasal 18 ayat (4) adalah jumlah yang sesungguhnya
N DALAM HAL TERJADI dikeluarkan atau diterima, sedangkan apabila terdapat hubungan
JUAL BELI HARTA istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima.
Contoh Kasus :
CV AXA menjual mobil kepada CV BETA dengan harga
Rp100.000.000, tetapi harga pasar/nilai wajar dari mobil tersebut
adalah Rp150.000.000. Nilai buku mobil tersebut bagi CV AXA adalah
Rp90.000.000.

Jika CV AXA dan CV BETA ada hubungan istimewa. Harga penjualan


adalah harga pasar wajar yakni Rp150.000.000, sehingga keuntungan
yang diperoleh oleh CV AXA sebesar Rp50.000.000.
Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar
harta adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima
J. HARGA PEROLEHAN
ATAU HARGA PENJUAL berdasarkan harga pasar.
AN DALAM HAL TUKAR Contoh Kasus :
MENUKAR HARTA
PT AL menukarkan mobil “Blast” (Nilai Buku Rp100.000.000, Harga
Pasar Rp150.000.000) dengan mobil “Center” (Nilai Buku
Rp80.000.000, Harga Pasar Rp150.000.000) milik PT EL.
Dari transaksi tersebut, PT AL memperoleh keuntungan sebesar Rp
50.000.000 dan PT EL memperoleh keuntungan sebesar
Rp.70.000.000. Sehingga harga perolehan Mobil “Blast” dan Mobil
“Center” dari pertukaran tersebut adalah sebesar Harga Pasarnya yaitu
Rp150.000.000.
Harga perolehan aset tetap yang dibangun sendiri meliputi seluruh
biaya yang dikeluarkan sehubungan hingga siap pakai. Kemungkinan
K. HARGA PEROLEHAN masalah yang timbul meliputi pembebanan biaya tidak langsung
ASET MEMBANGUN SE
dengan alokasi secara proporsional, dan bunga selama masa
NDIRI
konstruksi dan penghemat biaya. Untuk kepentingan perpajakan
perlakuan akuntasi tetap dapat diikuti, tetapi bunga selama masa
konstruksi (pembangunan) akan di kapitalisasi yang nantinya secara
bertahap dibebankan sebagai biaya melalui penyusutan. Masalah
penghematan biaya misalnya dengan membangun sendiri menjadi
lebih murah, selisihnya tidak diakui sebagai penghasilan. Sedangkan
kerugian akibat nilai bangunan menjadi lebih tinggi diakui sebagai
beban kerugian.
Aset tetap kecuali tanah akan makin berkurang kemampuannya untuk
memberikan jasa bersamaan dengan berlakunya waktu. Jumlah yang
dapat disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntasi selama masa
manfaat aset dengan berbagai metode yang sistematis dan diterapkan
secara konsisten/taat asas, tanpa memandang tingkat profitabilitas
L. METODE PENYUSUST
perusahaan dan pertimbangan perpajakan, agar dapat menyediakan daya
AN SESUAI KETENTUAN
PERPAJAKAN banding hasil afiliasi perusahan dari periode ke periode penyusutan dapat
dilakukan dengan berbagai metode seperti yang telah dijelaskan pada
uraian terdahulu.
Metode penyusutan menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan
sebagaimana telah diatur dalam pasal 11 Undang-Undang Pajak
Penghasilan.
1. Metode garis lurus (straight line method), atau metode saldo menurun
(declining balance method) untuk aset tetap berwujud bukan bangunan.
2. Metode garis lurus untuk aset tetap berwujud berupa bangunan
M. PENYUSUTAN PADA Cara penghitungan penyusutan tersebut dilakukan untuk tahun-tahun
AKHIR MASA MANFAAT selanjutnya sampai dengan masa manfaat aset tetap tersebut berakhir.
Apabila wajib pajak menggunakan metode saldo menurun, besarnya
biaya penyusutan semakin lama semakin menurun.
Seperti pada akuntasi komersial bahwa penyusutan aset dimulai pada
saat aset tersebut siap untuk dugunakan yaitu saat aset berada pada
lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap untuk digunakan
sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen. Penyusutan
N. SAAT PENYUSUTAN
ASET TETAP menurut akuntasi pajak dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran.
Kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan,
penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta
tersebut sehingga penyusutan pada tahun pertama dihitung secara
prorata. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, penyusutan
dapat dilakukan pada saat bulan harta tersebut untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut
mulai menghasilkan. Mulai menghasilkan tersebut dikaitkan dengan
saat diterima atau diperolehnya penghasilan.
Aset tetap perusahan yang tidak terpakai lagi dapat ditarik dari
O. PENARIKAN HARTA pemakaian. Penarikan dapat dilakukan dengan menjual aset tetap
BUKAN BANGUNAN tersebut. Dalam akuntansi komersial, terhadap aset tetap yang dijual
nilai bukunya dihitung sampai dengan tanggal penjualan, sedangkan
dalam ketentuan perpajakan nilai sisa bukunya dihitung sampai
dengan akhir tahun sebelum aset tersebut dijual.
Terdapat pengelompokan harta berwujud bukan bangunan untuk
kepentingan penyusutan telah diatur dengan Keputusan Menteri
Keuangan. Acuan lain yang dapat digunakan adalah dengan
P. PENGELOMPOKAN H
dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 138
ARTA BERWUJUD BUKA
N BANGUNAN UNTUK K Tahun 2000 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan
EPERLUAN PENYUSUTA Peluasan Pajak Penghasilan dan biaya dalam hal-hal tertentu dan atau
N ATAS USAHA JASA TE
bagi Wajib Pajak tertentu sesuai kebijakan pemerintahan.
LEKOMUNIKASI SELUL
ER Dengan kewenangan tersebut keluarlah Keputusan Direktur Jenderal
Pajak No. Kep -520/PJ,/2002 Tanggal 11 Desember 2002 tentang
Jenis-Jenis Harta yang Dugunakan dalam Usaha Jasa Telekomunikasi
Seluler yang termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan
bangunan untuk keperluan penyusutan.
Dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan No. 138/KMK.03/2002
Tanggal 8 April 2002 sebagai pembaruan atas Keputusan Menteri
Keuangan No. 250/KMK.04/2000 Tanggal 14 Desember 2000 selanjutnya
diberikan penegasan pelaksanaannya.

Q. PENGHITUNGAN PEN Khusus untuk penyusutan atas komputer, printer, scanner, dan sejenisnya
YUSUTAN ATAS KOMPU ditegaskan dalam SE-07/PJ.42/2002 sebagai berikut :
TER, PRINTER, SCANNE 1. Perubahan pengelompokan yang sebelumnya termasuk dalam
R, DAN SEJENISNYA
kelompok 2 selanjutnya berubah menjadi kelompok 1
2. Atas perubahan tersebut, maka perhitungan penyusutan atas komputer,
printer, scanner, dan sejenisnya yang telah dimiliki dan digunakan dalam
perusahan sebelum tanggal 1 April 2002 diatur :
a. Perhitungan penyusutannya berdasarkan ketentuan lama (Kelompok 2)
yang diberlakukan sampai dengan bulan Maret 2002
b. Perhitungan penyusutan berdasarkan ketentuan yang baru (Kelompok
1) berlaku mulai bulan April 2002 dengan tetap menggunakan sisa manfaat
semula yang akan mengalami penyesuian/percepatan secara otomatis.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak No Kep. -220/PI/2002 tentang
Perlakuan Pajak Penghasilan atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler dan
Kendaraan Perusahan tanggal 18 April 2002 mengatur pembebanan biaya
melalui penyusutan terhadap Telepon Seluler dan Kendaraan Perusahan,
Aturan tersebut, meliputi berikut ini.
R. PENGHITUNGAN PEN 1. Biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang dimiliki dan
YUSUTAN ATAS TELEPO
dugunakan perusahan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau
N SELULER DAN KENDA
RAAN PERUSAHAAN pekerjaannya, dapat dibebankan 50% (lima puluh persen) dari jumlah
biaya perolehan atau pembelian melalui penyusutan aset tetap (harta
berwujud bukan bangunan) kelompok 1 (perhatikan pengelompokan
sesuai Keputusan Menteri Keuangan terakhir No. 138/KMK.03/2002).
2. Biaya perolehan, pembelian atau perbaikan besar kendaraan bus,
minibus, atau sejenisnya yang dimiliki dan digunakan perusahan untuk
antar-jemput para pegawai, dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya
perusahan melalui penyusutan sebagai aset tetap kelompok 2 (perhatikan
pengelompokan sesuai Keputusan Menteri Keuangan terakhir No,
138/KMK. 03/2002)
3. Biaya perolehan pembelian atau perbaikan besar kendaraan bus,
minibus, atau sejenisnya yang dimiliki dan digunakan perusahan untuk
pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan
sebagai biaya perusahan sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah
biaya perolehan, pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan aset
R. PENGHITUNGAN PEN tetap (harta berwujud bukan bangunan) kelompok 2 (perhatikan
YUSUTAN ATAS TELEPO
pengelompokan sesuai Keputusan Menteri Keuangan terakhir No,
N SELULER DAN KENDA
RAAN PERUSAHAAN 138/KMK. 03/2002)
4. Dalam hal pembebanan biaya tersebut pada butir 1, butir 2, dan butir 3,
ternyata penghasilan Wajib Pajak dimaksud Pajak Penghasilan yang
bersifat final atau berdasarkan norma penghitungan khusus, maka
pembebanan biaya-biaya tersebut telah termasuk dalam penghitungan
Pajak Penghasilan yang bersifat final atau normal penghitungan khusus,
sehingga ketentuan pembebanan tidak diberlakukan. Demikian halnya
atas biaya-biaya yang dibebankan sebagai biaya perusahan maka juga
tidak dianggap sebagai penghasilan bagi pegawai perusahan yang
bersangkutan.
S, KETENTUAN LAIN Penyimpangan dari ketentuan Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Pajak
Penghasilan yang mengatur masalah penyusutan bahwa Menteri
Keuangan selanjutnya mempunyai kewenangan mengatur tersendiri
untuk penyusutan harta berwujud yang digunakan dalam rangka
menyesuaikan dengan karakteristik bidang-bidang usaha tertentu
seperti pertambangan minyak dan gas bumi, serta perkebunan
tanaman keras.
Thank you