Anda di halaman 1dari 17

SPRAIN, STRAIN, DAN KOMPARTEMEN SINDROM

FARA DEBRINA OKTAVIANI


FEBRY ANDIKA DWA PERMAYU
JOHANES PAOLUS PAOKUMA
KERIN NURUL RAMADHANTY
LILIS FRINANTI
MELFA SAFITRI
DEFINISI

Strain adalah luka pada otot atau tendon dikarenakan


penggunaan otot yang berlebihan, tekanan yang terlalu
besar, atau perengangan yang berlebihan.
Sprain merupakan luka pada beberapa struktur
ligamen yang mengelilingi sendi. Kerusakan ini dapat
mencakup luka robek pada ligamen atau ligamen
meregang. Sprain sering terkait degan ketidakmampuan
sendi dan memiliki luka yang lebih serius dibandingkan
dengan strain.
Sindrom kompartemen merupakan komplikasi akibat cedera
tertentu, baik yang berkaitan dengan otot ataupun tulang. Patah
tulang, luka tembak, luka tusuk, luka bakar, gigitan ular,
perdarahan, komplikasi operasi pembuluh darah, atau perban
yang dibebat terlalu ketat dapat menjadi pemicunya. Selain itu,
olahraga berlebihan juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab
sindrom kompartemen.
Sindrom kompartemen akut. Kondisi yang terjadi secara
mendadak, khususnya setelah mengalami cedera atau patah
tulang.
Sindrom kompartemen kronis (exertional). Kondisi yang
terjadi dikarenakan olahraga, terutama olahraga yang melibatkan
gerakan berulang seperti bersepeda atau berlari, dan dapat
mereda dalam beberapa saat setelah olahraga dihentikan.
KOMPARTEMEN SINDROM
Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting.
Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan
keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah
atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya).
Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala
yang spesifik dan sering.
a. Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke
daereah tersebut.
b. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi )
c. Parestesia (rasa kesemutan)
d. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya
sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi
bagian yang terkena kompartemen sindrom.
Penderita dapat mengalami gejala yang berbeda-
beda, tergantung keparahan kondisi. Gejala yang
biasanya muncul meliputi:
a. Nyeri hebat, khususnya saat otot digerakkan.
b. Rasa penuh pada otot dan nyeri bila ditekan.
c. Otot bengkak.
d. Kesemutan atau rasa seperti terbakar.
e. Kram otot saat berolahraga.
f. Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa
dingin.
g. Otot terasa lemas dan mati rasa.
Sindrom kompartemen jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera, akan
menimbulkan berbagai komplikasi antara lain:
a. Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen
b. Kontraktur volkman, merupakan kerusakan otot yang disebabkan oleh  terlambatnya
penanganan sindrom kompartemen sehingga timbul deformitas pada tangan, jari, dan
pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan bawa.
c. Trauma vascular
d. Gagal ginjal akut
e. Sepsis
f. Acute respiratory distress syndrome (ARDS
Jika sindrom kompartemen tidak segera ditangani, khususnya pada kasus sindrom
kompartemen akut, beberapa komplikasi berikut ini dapat terjadi:
g. Infeksi.
h. Muncul jaringan parut pada otot, sehingga otot menjadi tidak lentur dan berkurang
fungsinya.
i. Amputasi.
j. Kerusakan saraf permanen.
k. Rhabdomyolysis.
l. Gagal ginjal.
m. Kematian.
Pada kasus-kasus dengan sindrom kompartemen dapat dilakukan pemeriksaan penunjang, antara
lain :
Laboratorium
• Complete Metabolic Profile [CMP]
• Hitung sel darah lengkap
• Kreatinin fosfokinase dan urin myoglobin
• Serum myoglobin
• Toksikologi urin : dapat membantu menentukan penyebab, tetapi tidak membantu dalam
menentukan terapi pasiennya.
• Urin awal : bila ditemukan myoglobin pada urin, hal ini dapat mengarah ke diagnosis
rhabdomyolisis.
• Protombin time [PT] dan activated partial thromboplastin time [aPTTT]
 
Imaging
• Rongen : pada ekstremitas yang terkena.
• USG
• USG membantu untuk mengevaluasi aliran arteri dalam memvisualisasi Deep Vein Thrombosis
[DVT] .

Pemeriksaan lainnya
• Pengukuran tekanan kompartemen
• Pulse Oximetry
• Sangat membantu dalam mengidentifikasi hipoperfusi ekstremitas, namun tidak cukup sensitif.
Penatalaksanaan Kegawatdaruratan dan terapi pengobatan

• Singkirkan semua tekanan dari luar.


• Hilangkan hal-hal yang mengganggu sirkulasi
• Hindarkan penggunaan kompres es,karena akan
mengakibatkan vasokontriksi.
• Hindarkan meninggikan ekstermitas : bisa memperburuk
aliran arteri.
• Siapkan dan bantu hal-hal yang dapat meminimalisasi fraktur
jika diindikasikan.
• Berikan analgetik bila diinstruksikan.
• Siapkan untuk oprasi faciotomi untuk memperbaiki fungsi
neuromuscular.
• Berikan pengetahuan pada pasien dan keluarga. 
SRAIN DAN SPRAIN
Tanda dan Gejala Dari strain(kram)
• Kelemahan.
• Mati rasa.
• Nyeri.
• Odema.

Tanda dan Gejala Sprain


• Sama dengan strain namun lebih parah.
• Edema, perdarahan dan perubahan warna lebih nyata.
• Ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot, dan
tendon.
• Tidak dapat menyangga beban, nyeri lebih hebat dan konstan
Manifestasi Klinis Strain
Gejala dan tanda strain mencakup rasa sakit, bengkak,
dan spasmus pada otot. Penderita bisa atau tidak mengalami gejala
objektif langsung setelah strain. Geraka berikutnya dari bagian yang
mengalami hal ini akan menghasilkan rasa sakit yang akan
menghambat aktivitas fisiknya. Dalam beberapa contoh: penderita
mungkin akan berkata bahwa bagian yang menderita mengalami
“mati rasa”. Perubahan warna biasanya tidak terjadi kecuali jika
penderita mengalami kerusakan pada jaringan lunak.

Patofisiologi Strain
Adalah daya yang tidak semestinya yang diterapkan pada otot,
ligamen, atau tendon. Daya (force) tersebut akan meregangkan
serabut-serabut tersebut dan menyebabkan kelemahan dan mati rasa
temporer serta perdarahan jika pembuluh darah dan kapiler dalam
jaringan yang sakit tersebut mengalami regangan yang berlebihan.
Rencana Keperawatan Strain
• Kemoterapi: dengan analgetik seperti aspirin (300-
600mg/hari) atau acetaminophen (300-600mg/hari).
• Elektromekanis: penerapan dingin dengan kantong es,
pembalutan atau wrapping eksternal.
• Meninggikan posisi (diangkat).
• Latihan ROM
Patofisiolagi sprain
Kekoyaka (avulsion) seluruh atau sebagian dari dan
disekeliling sendi, yang disebabkan oleh daya yang
tidak semestinya, pemelintiran, atau
mendorong/mendesak pada saat berolahraga atau
aktivitas kerja.Kebanyakan keseleo terjadi pada
pergelangan kaki, jari-jari tangan dan kaki.Pada
trauma olah raga (sepak bola) sering terjadi robekan
ligamen pada sendi lutut. Sendi-sendi lain juga
dapat terkilir jika diterapkan daya tekanan atau
tarikan yang tidak semestinya tanpa diselingi
perbedaan.
Manifestasi Klinis
• Nyeri lokal
• Pembengkakan dan rasa hangat akibat inflamasi
• Gangguian mobilitas akibat rasa nyeri
• Perubahan warna kulit akibat ekstravasasi darah ke dalam
jaringan sekitarnya.

Komplikasi Sprain
• Dislokasi berulang akibat ligamen yang ruptur tersebut
tidak sembuh dengan sempurna sehingga diperlukan
pembedahan untuk memperbaikinya
• Gangguan fungsi ligamen
Rencana Perawatan
• Pembedahan: Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya;
penguragan-pengurangan perbaikan terbuka terhadap jaringan yang
terkoyak.

• Kemotherapi: Dengan analgetik aspirin (100-400 mg setiap 4 jam) untuk


meredakan nyeri dan peradangan. Kadang diperlukan narkotik
(codeine 30-60 mg peroral setiap 4 jam) untuk nyeri hebat.

• Elektromekanis, yaitu dengan: a) Penerapan dingin; b)


Pembalutan/wrappig external, dengan pembalutan, cast, atau
  pengendongan (sung); c) Peninggian posisi: Jika yang sakit bagian
extremitas; d) Latihan ROM: Tidak dilakukan latihan padasaat terjadi
nyeri hebat dan perdarahan. Latihan pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari
tergantung jaringan yang sakit; e) Penyangga beban: Menghentikan
penyangga beban dengan penggunaan kruk selama 7 hari atau lebih
tergantung jaringan yang sakit.
ASUHAN KEPERAWATAN